Ebook Anak

Putri Kaki Biru

 12,094,826 total views,  2,192 views today

Putri Doris pernah mengecat kakinya dengan warna hijau.

Penduduk Pulau Bunga berkaki hijau. Ya, kecuali Putri Doris. Entah mengapa kakinya berwarna biru.

Putri Doris malu dengan keadaannya. Ia telah berusaha untuk mengubah warna kakinya. Ia pernah mengecat kakinya dengan warna hijau. Sayang, cat itu hanya bertahan seminggu.

Putri Doris tidak berputus asa. Ia terus berusaha. Setiap hari ia belajar tentang warna di perpustakaan istana. Sayang, usahanya belum berhasil.

Suatu hari, Putri Doris berjalan-jalan ke desa. Di sana, ia melihat pembuat karpet tengah bekerja. Karpet-karpet itu berwarna-warni.

Putri Doris tertarik melihatnya. Ia duduk mengamati pembuat karpet bekerja. Ternyata, karpet itu dicelup ke dalam ember besar berisi cairan pewarna.

Putri Doris melihat ada tiga ember besar berisi cairan berwarna merah, biru, dan kuning.

“Maaf, Pembuat Karpet. Aku ingin tahu bagaimana caramu mewarnai karpet dengan aneka warna. Kulihat kau hanya memiliki pewarna merah, biru, dan kuning,” kata Putri Doris kepada Pembuat Karpet.

Kakek Pembuat Karpet menjawab, “Aku tidak perlu banyak pewarna, Putri. Aku bisa mencampur ketiga warna ini untuk mendapatkan warna yang baru.”

Pembuat Karpet mencontohkan dengan mencampur warna kuning dan merah. Putri Doris takjub ketika melihat campuran kedua warna itu menghasilkan warna jingga.

Jika warna-warna dicampur, pasti akan menghasilkan warna lain. Juga, warna hijau, pikirnya senang. Putri Doris segera pamit. Ia kembali ke istana dan segera melakukan percobaan warna.

Putri Doris mencampurkan warna merah dan biru. Ia mencampur sedikit warna kuning dan banyak warna merah. Lalu, ia pun mencampurkan warna biru dan kuning. Berhasil!

Campuran kedua warna itu menghasilkan warna hijau. Putri Doris sangat senang. Ia mencoba merendam kakinya dalam cairan sari buah kunyir yang berwarna kuning pekat. Lama-kelamaan kaki Putri Doris berwarna hijau. Alangkah senangnya sang Putri. Ia telah berhasil mendapatkan kaki hijau yang sangat diinginkannya. (Tamat)

Pesan moral: Jangan pernah berputus asa dalam menghadapi suatu masalah.

Kontributor:

  • Penulis: Mitha Yanuarti
  • Ilustrator: Nonoy
  • Desainer dan layouter: Yuyus Rusamsi
  • Penerbit: Transmedia Pustaka, Jakarta, Indonesia

 1,364 total views,  1 views today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *