Ebook Anak

Anak Durhaka yang Dikutuk Jadi Batu

 11,773,448 total views,  129 views today

Namun, sebelum berubah menjadi batu, Malin Kundang sempat berteriak, “Ibu, maafkan aku. Aku memang Malin anakmu.”

Di sebuah desa nelayan, hidup seorang ibu dengan seorang anak lelakinya, bernama Malin Kundang.

Hidup mereka sangat miskin.

Ayah Malin Kundang sudah lama meningggal dunia.

Ketika kecil, Malin Kundang senang mengejar dan suka memukul ayam-ayam tetangga.

Suatu hari, Malin Kundang jatuh terpeleset ketika mengejar-ngejar ayam.

Lengannya luka dan meninggalkan bekas yang tidak dapat hilang.

Ketika dewasa, Malin Kundang pergi bekerja ke negeri seberang.

Setelah berhasil menjadi pedagang kaya, suatu hari Malin Kundang singgah di kampung halamannya.

Dengan penuh suka cita, ibunya segera pergi ke pelabuhan menyambut Malin Kundang.

Sampai di pelabuhan, sang ibu melihat Malin Kundang keluar dari kapal besar dan mewah dengan pakaian yang sangat indah.

“Ya Tuhan…. Itu Malin….” seru sang ibu bangga dan bahagia.

Tapi, tidak disangka.

Malin Kundang tiba-tiba mendorong ibunya sampai tersungkur ke tanah.

Ibunya kaget, “Aku ibumu Malin.”

“Biar kulihat, apakah kau Malin Kundang anakku atau bukan,“ kata sang ibu sambil segera menyingkap pakaian Malin Kundang.

Tampak sebuah bekas luka di lengannya yang sama persis dengan luka Malin Kundang kecil, ketika ia jatuh mengejar-ngejar ayam.

“Lancang benar wanita tua ini!” seru Malin Kundang dengan marah.

“Mana mungkin kamu ibuku! Pakaianmu compang camping begitu! Ibuku sudah lama meninggal,” hardik Malin Kundang pada ibunya.

Betapa sakitnya ibu Malin Kundang.

Tak disangka, Malin Kundang kini telah berubah menjadi durhaka.

“Kenapa kamu tega berkata seperti itu anakku?” seru ibunya sambil menangis sedih.

“Baiklah, jika kamu benar anakku, aku kutuk kau menjadi batu,” sumpah sang ibu sambil tetap menangis.

Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang.

Badai pun datang menghancurkan kapal Malin Kundang yang besar dan mewah.

Perlahan tubuh Malin Kundang menjadi kaku.

Namun, sebelum berubah menjadi batu, Malin Kundang sempat berteriak, “Ibu, maafkan aku. Aku memang Malin anakmu.”

Penyesalan Malin Kundang sudah terlambat.

Malin Kundang pun berubah menjadi batu.

(Dongeng Rakyat Sumatera Barat)

Pesan Moral
Tuhan sangat murka pada anak yang suka bersikap kasar.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Rachman
  • Desainer dan layouter: Kamil Supriatna
  • Penerbit: Transmedia Pustaka (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *