Ebook Anak

Atu Belah, Batu Ajaib yang Menelan Bu Tani

 12,032,673 total views,  902 views today

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba langit gelap dan hujan turun dengan lebat. Bumi bergetar menyaksikan Atu Belah menelan manusia.

Di desa Penurun di Tanah Gayo, hidup keluarga petani yang sangat miskin dengan dua anaknya.

Setiap hari, Pak Tani berburu di hutan dan menangkap belalang di sawah.

Belalang-belalang itu disimpannya dalam lumbung untuk diolah Bu Tani menjadi makanan.

Suatu hari, Pak Tani belum juga pulang dari berburu.

Kedua anaknya merengek-rengek kelaparan.

Di dapur sudah tidak ada makanan apapun.

Bu Tani kemudian menyuruh anaknya untuk mengambil belalang di lumbung dekat rumah mereka.

Ternyata, ketika berada di lumbung, sang anak lupa menutup pintu lumbung sehingga semua belalangnya lepas beterbangan.

Sang anak kembali ke rumah sambil menangis tersedu.

Ia berterus terang kepada Bu Tani.

Ya Tuhan!

Bu Tani amat terkejut.

Bu Tani tahu Pak Tani akan marah besar.

Pak Tani pun pulang tanpa membawa seekor hewan buruan.

Bu Tani lalu berterus terang apa yang terjadi dengan mengatakan semua itu karena kecerobohannya.

Mendengar hal itu, Pak Tani sangat murka dan mengusir Bu Tani.

Sambil menangis, Bu Tani pergi menuju ke Atu Belah, sebuah batu yang dipercaya dapat menelan orang yang bernyanyi dengan bahasa Gayo.

Tekad Bu Tani untuk dimakan Atu Belah sudah kuat.

Di depan Atu Belah, Bu Tani bernyanyi berkali-kali menggunakan bahasa Gayo.

Ajaib, tidak berapa lama kemudian batu itu terbuka.

Bu Tani pun masuk ke dalam mulut batu yang menganga lebar.

Perlahan-lahan, tubuh Bu Tani ditelan Atu Belah sampai tak terlihat lagi.

“Ibu…. Ibu…Ibu!!! jangan tinggalkan kami!” jerit kedua anaknya.

Tapi, tubuh Bu Tani sudah terlanjur ditelan oleh Atu Belah.

Hanya tujuh helai rambut Bu Tani saja yang tersisa.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba langit gelap dan hujan turun dengan lebat.

Bumi bergetar menyaksikan Atu Belah menelan manusia.

Tujuh helai rambut Bu Tani kemudian dijadikan sebagai jimat oleh anak-anaknya.

Pesan Moral
Sesuatu yang diputuskan di saat marah, biasanya akan menjadi sebuah keputusan yang keliru.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Rachman
  • Desainer dan layouter: Kamil Supriatna
  • Penerbit: Transmedia Pustaka (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.
    

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *