Selendang Terbang Putri Bidadari

11,495,732 kali dilihat, 3,452 kali dilihat hari ini

Suatu hari, Datu Awang Sukma melihat ada 7 bidadari cantik sedang mandi di telaga.

Dahulu kala, ada seorang pemuda tampan dan gagah bernama Datu Awang Sukma.

Suatu hari, Datu Awang Sukma melihat ada 7 bidadari cantik sedang mandi di telaga.

Para bidadari itu tidak tahu, jika Datu Awang Sukma sedang mengintip mereka.

Datu Awang Sukma juga melihat para bidadari membiarkan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga.     

Datu Awang Sukma lalu mencuri salah satu selendang terbang milik para bidadari itu.

Selesai mandi, para bidadari itu kemudian mengenakan selendangnya masing-masing.

Mereka bersiap-siap terbang pulang ke kahyangan.

Namun sayang, selendang milik Putri Bungsu sudah dicuri Datu Awang Sukma.

Sehingga Putri Bungsu tak bisa terbang kembali ke kahyangan.

Dengan sedih, keenam kakaknya pergi meninggalkan Putri Bungsu sendirian di bumi.

Datu Awang Sukma pun segera keluar menemui Putri Bungsu dan mengajaknya tinggal bersamanya.

Karena tidak ada pilihan lain lagi, maka Putri Bungsu akhirnya terpaksa menerima pertolongan Datu Awang Sukma.

Kemudian Putri Bungsu dinikahi Datu Awang Sukma dan melahirkan seorang bayi perempuan.

Namun suatu hari, Putri Bungsu dikejutkan oleh seekor ayam hitam yang naik ke atas peti berisi padi.

Ketika peti dibuka, Putri Bungsu kaget dan berseru gembira karena menemukan kembali selendangnya yang lama hilang.

Akhirnya, Putri Bungsu memutuskan untuk kembali ke kahyangan.

“Suamiku, jika anak kita merindukanku,” kata Putri Bungsu sebelum pergi.

“Ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling,” pesan Putri Bungsu pada Datu Awang Sukma.

“Pasti aku akan segera menengoknya kemari,” ujar Putri Bungsu sambil terbang ke kahyangan meninggalkan Datu Awang Sukma dan putrinya di bumi.

(Dongeng Rakyat Sumatera Barat)

Pesan Moral
Sesuatu yang diawali dengan perbuatan tidak baik bisa menjadi malapetaka di kemudian hari.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Rachman
  • Desainer dan layouter: Kamil Supriatna
  • Penerbit: Transmedia Pustaka (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

Social Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *