Si Bungsu Menikah dengan Ular Gaib

11,528,090 kali dilihat, 4,866 kali dilihat hari ini

Menurut kutukan dari pamannya yang mengambil alih kerajaan, barang siapa yang membakar kulit ular gaib dengan sukarela, maka terbebaslah kutukannya itu.

Dahulu kala, di kaki sebuah gunung di Bengkulu, hiduplah seorang ibu tua dengan tiga orang putrinya.

Suatu hari, ibu tua itu sakit keras.

Dukun di desanya mengatakan, bahwa ibu tua itu baru akan sembuh.

Jika diobati dengan dedaunan hutan, yang dimasak dengan bara gaib di puncak gunung.

Bara gaib itu konon dijaga oleh seekor ular gaib.

Ular gaib itu akan memangsa siapa saja yang berani mendekatinya.

Di antara ketiga anak ibu tua itu, hanya si bungsu yang berani mengambil bara gaib itu.

Esoknya, si bungsu berangkat ke puncak gunung yang sangat menakutkan.

Tiba-tiba, terdengar gemuruh dan raungan yang amat keras.

Bumi bergetar hebat, pertanda si ular gaib mencium manusia di dekatnya.

Si bungsu sangat ketakutan.

Tapi, si bungsu tak sampai hati untuk lari karena ingin mengobati ibunya.

Si bungsu mendekati ular gaib untuk meminta sebutir bara gaib.    

Tanpa diduga, ular gaib itu memberikan bara itu apabila si bungsu mau menjadi istrinya.

Si bungsu pun menyanggupinya.

Kemudian, pulanglah si bungsu membawa sebutir bara gaib untuk memasak obat-obatan bagi ibunya.

Setelah mengobati ibunya, si bungsu pun kembali ke sarang ular gaib tersebut.

Ibunya berangsur-angsur sembuh.

Tetapi dua kakak si bungsu penasaran, mengapa si bungsu kembali lagi ke puncak gunung itu.

Pada malam harinya, betapa terkejutnya si bungsu!

Si bungsu melihat ular gaib itu, menjelma menjadi seorang pangeran yang gagah dan tampan!

Tetapi pada pagi harinya, pangeran yang gagah dan tampan itu kembali menjadi ular.

Semua itu disaksikan pula oleh kedua kakak si bungsu.

Suatu malam, kedua kakak si bungsu mencuri kulit ular gaib dan membakarnya.

Mereka berharap, si ular gaib akan marah dan menyakiti si bungsu.

Namun, ternyata malah sebaliknya.

Karena kulitnya dibakar, justru pangeran itu tak bisa lagi berubah menjadi ular gaib.

Menurut kutukan dari pamannya yang mengambil alih kerajaan, barang siapa yang membakar kulit ular gaib dengan sukarela, maka terbebaslah kutukannya itu.

Kemudian ular gaib yang telah menjadi manusia, mengambil alih kerajaan dan menikahi si bungsu.

Ibunya diajak tinggal di istana.

Sementara kedua kakaknya, menolak karena mereka malu atas perbuatan jahatnya pada si bungsu.

(Dongeng Rakyat Provinsi Bengkulu)

Pesan Moral
Kebajikan pada orangtua, akan berbuah kebaikan di dunia dan akhirat.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Rachman
  • Desainer dan layouter: Kamil Supriatna
  • Penerbit: Transmedia Pustaka (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

Social Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *