Asal Mula Tari Sintren dan Raden Sulandono (Cerita Rakyat Jawa Tengah)

Loading

Tarian yang dibawakan oleh Sulasih itu kemudian dikenal dengan Kesenian Sintren

Kuis Cerita Rakyat Jawa Tengah Tari Sintren

🎭 Kuis Interaktif Cerita Rakyat Jawa Tengah

Asal Mula Tari Sintren โ€“ 100 Pertanyaan Seru & Edukatif untuk Anak!

👉 MULAI KUIS SEKARANG

Ebook Anak Printable

📖 Printable Islamic & Educational eBook for Kids

✔ Bisa di-download
✔ Bisa di-print sendiri di rumah
✔ Cocok untuk belajar & aktivitas anak

👉 Lihat & Download Sekarang

Ebook Karya Kak Nurul Ihsan (ebookanak.com)

058 download ebook pdf 101 cerita nusantara
Download full ebook pdf โ€œ101 Cerita Nusantaraโ€ karya Kak Nurul Ihsan (ebookanak.com) dengan donasi. WA 0815 6148 165

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah lengkapi-rumah-dan-sekolahmu-dengan-elibrary-id.jpg

Cara Demang Kulon Memisahkan Hubungan Raden Sulandono dengan Sulasih

Raden Sulandono, putra Ki Ageng Bahurekso seorang penguasa daerah Pengalongan sedang jatuh hati kepada Sulasih, seorang penari cantik yang berbudi luhur.

Setiap hari, Raden Sulandono mengunjungi pertunjukan Sulasih ataupun datang ke padepokan tarinya.

Tapi diam-diam, Demang Kulon tidak menyukai hubungan antara Sulasih dan Raden Sulandono.

Karena ternyata Demang Kulon sendiri jatuh hati kepada Sulasih.

Berbagai cara telah ditempuh Demang Kulon untuk memisahkan pasangan tersebut.

Kuis Cerita Rakyat Jawa Tengah Tari Sintren
🔥 KUIS VIRAL ANAK

100 Soal Cerita Rakyat Jawa Tengah

Asal Mula Tari Sintren โ€“ Seru, Edukatif & Bikin Anak Makin Pintar!

👉 MULAI SEKARANG

Raden Sulandono Ditugaskan Menumpas Gerombolan Bajak Laut

Sampai suatu ketika muncullah kesempatan itu.

Daerah Pekalongan sedang mendapat gangguan dari bajak laut.

Dengan pintarnya, Demang Kulon berhasil membujuk Ki Ageng Bahurekso supaya Raden Sulandono yang ditugaskan ke sana.

Demang Kulon berharap Raden Sulandono tewas dalam pertempuran itu.

Raden Sulandono kemudian berperang habis-habisan melawan bajak laut dan kemudian Raden Sulandono berhasil memenangkan pertempuran itu.

Tarian yang dibawakan oleh Sulasih itu kemudian dikenal dengan Kesenian Sintren
Raden Sulandono kemudian berperang habis-habisan melawan bajak laut dan kemudian Raden Sulandono berhasil memenangkan pertempuran itu. (ebookanak.com/Kak Nurul Ihsan)

Ki Gede Bahurekso Tidak Menyetujui Hubungan Raden Sulandono dengan Sulasih

Rencana Demang Kulon pun gagal memisahkan Raden Sulandono dan Sulasih.

Karena tak ada pilihan lain lagi, akhirnya Demang Kulon menghadap Ki Gede Bahurekso dan menceritakan perihal hubungan Raden Sulandono dan Sulasih.

Demang Kulon berharap Ki Gede Bahurekso tidak akan menyetujui hubungan tersebut.

Dan ternyata benar.

Ki Gede Bahurekso menolak hubungan kasih putranya dengan Sulasih.

Tarian Magis Sulasih yang Menyadarkan Ki Gede Bahurekso

Untuk mempertahankan cinta mereka sekaligus membuktikan bahwa Sulasih adalah gadis yang masih suci, Raden Sulandono dan Sulasih dibantu oleh guru tarinya mengundang Ki Gede Bahurekso menghadiri pertunjukan tarian magis.

Pada pertunjukan itu, guru tarinya menegaskan bahwa gadis yang bisa menarikan tarian baru ini hanyalah gadis yang masih suci.

Dan Sulasihlah gadis yang ditunjuk sebagai penarinya.

Sulasih tampil tanpa mengenakan pakaian tari, hanya mengenakan pakaian biasa.

Sulasih melangkah ke tengah arena.

Tarian yang dibawakan oleh Sulasih itu kemudian dikenal dengan Kesenian Sintren
Asal Mula Tari Sintren dan Raden Sulandono

Setelah itu, membaca mantra.

Tak lama Sulasih pun tertidur, ia duduk di tanah, lalu tubuhnya diikat dengan tali dan dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang ditutup sebuah kain hitam.

Musik pun terdengar dan kurungan dibuka.

Sulasih telah berubah.

Sulasih sudah terbangun dengan berpakaian penari yang indah dan cantik.

Sulasih lalu menari dengan lemah gemulai.

Setelah melihat pertunjukan tari itu, pandangan Ki Gede Bahurekso pun seketika berubah terhadap Sulasih.

Tak lama, pernikahan agung pun digelar.

Akhirnya Sulasih dan Raden Sulandono hidup bahagia hingga akhir hayat.

Tarian yang dibawakan oleh Sulasih itu kemudian dikenal dengan Kesenian Sintren.

Pesan Moral
Jangan dulu mempercayai hasutan orang, sebelum terbukti kebenarannya.

Abadikan hartamu dengan donasi sedekah jariyah membantu kemajuan ebookanak.com berkhidmat untuk umat menuju Indonesia Cerdas Literasi 2045. Klik di sini.

Sumber dan Kontributor

  • Naskah: Kak Nurul Ihsan
  • Editor: Kak Nurul Ihsan
  • Gambar: www.ebookanak.com
  • Penerbit: Transmedia Pustaka

Cloud Hosting Partner:

Jasa Penerbitan Buku
Naskah/Ilustrasi/Komik/Layout Desain/Cetak
WA: 0815 6148 165
Telp: (022) 87824898
e-mail: cbmagency25@gmail.com
Jl. Raden Mochtar III, No. 126, Sindanglaya,
Bandung, Jawa Barat 40195

Download Ebook Cover Buku 101 Cerita Nusantara

Dongeng tidak saja memberikan hiburan bagi anak-anak.

Melalui dongeng anak bisa juga meningkatkan apresiasi terhadap sastra dan seni serta mengolah imajinasi.

Selain itu lewat dongeng anak bisa mengenal nilai-nilai moral dan hati nurani yang terselip di balik pesan cerita.

Dongeng tidak saja memberikan hiburan bagi anak-anak.

Melalui dongeng anak bisa juga meningkatkan apresiasi terhadap sastra dan seni serta mengolah imajinasi.

Selain itu lewat dongeng anak bisa mengenal nilai-nilai moral dan hati nurani yang terselip di balik pesan cerita.

Disadari atau tidak dongeng bisa merasang anak belajar dan bisa tergugah menjadi gemar membaca dan mencintai buku.

Bahkan tidak sedikit anak cerdas yang minat bacanya dimulai dari menyimak buku-buku fiksi dan dongeng.

Dari sisi bahasa, melalui dongeng pun anak dikenalkan pada berbagai ragam kosakata.

Pengayaan pada kosakata pun secara otomatis akan menambah perbendaharaan kata anak.

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dari suguhan dongeng untuk anak.

Seperti yang disebutkan dalam pembukaan buku 101 Cerita Nusantara.

Di antaranya, lewat dongeng, rasa empati anak Anda pada para tokoh dalam cerita bisa terbangun.

Selain itu lewat dongeng, kecerdasan emosional, spiritual, dan kepekaan sosial anak bisa terasah.

Buku 101 Cerita Nusantara mencoba mengumpulkan kembali ingatan orang tua akan kekayaan cerita-cerita yang tersebar di bumi Indonesia.

Timun Mas dari Jogjakarta, Si Lebai Malang dan Maling Kundang dari Sumatera Barat, Si Pitung Jago Betawi, Pangeran Naga dan Buaya dari Kalimantan Tengah, serta masih banyak lagi dongeng bisa Anda temukan dalam buku ini.

Buku penuh warna dengan ilustrasi gambar yang memikat ini akan mendampingi aneka kisah yang berupa fabel, legenda, epos, mitos, dan sejarah.

Semua kisah-kisah ini bisa Anda sampaikan pada buah hati Anda sebagai pengantar tidur dan untuk membangun kedekatan dengan anak.

Dalam setiap dongeng dalam buku yang disusun oleh Tim Optima ini selalu diakhiri dengan pesan moral, sehingga anak akan lebih mudah mengenali apa pesan yang terkandung dalam kisah.

Perjumpaan dengan aneka karakter manusia dan binatang dalam dongeng pun sangat mengasyikkan.

Sebab hal-hal di luar akal sehat seperti keajaiban alam dan mukjizat bisa mengasah keyakinan dan imajinasi anak.

Tentu saja dengan pesan moral yang mudah ditangkap, misalnya kejadian yang luar biasa itu hanya bisa terjadi atas seizin Tuhan Yang Maha Esa.

Sembari membacakan dongeng orang tua bisa kembali mengingat kisah-kisah yang mungkin belum pernah ia jumpai.

101 dongeng dalam buku yang diterbitkan Transmedia ini dituliskan dalam bentuk cerita-cerita pendek.

Keistimewaan dan Manfaat Buku 101 Cerita Nusantara:

  • Efektif untuk metode pembelajaran buah hati Anda.
  • Menanamkan sejak dini kepada buah hati Anda nilai-nilai keteladanan, moralitas, hati nurani, dan budi pekerti.
  • Memuat 101 cerita pilihan dari 34 Provinsi di Indonesia yang dikemas secara singkat, sederhana, atraktif, dan fantastis.
  • Dilengkapi dengan ilustrasi yang menawan.
  • Di akhir setiap cerita dilengkapi dengan pesan moral untuk membantu buah hati Anda memetik nilai-nilai keteladanan dan hikmah.
  • Meningkatkan apresiasi buah hati Anda terhadap nilai sastra dan seni.
  • Memberikan buah hati Anda hiburan.
  • Menumbuhkan minat baca buah hati Anda.
  • Membangun rasa empati buah hati Anda pada para tokoh dalam cerita.
  • Mengasah kecerdasan emosional, spiritual, dan kepekaan sosial buah hati Anda.
  • Mengasah kecerdasan emosional, spiritual, dan kepekaan sosial buah hati Anda.
  • Menjalin kedekatan Anda dengan buah hati Anda.
  • Membantu buah hati Anda mencintai buku, sekaligus menjadikannya teman bermain.

MENELUSURI JEJAK JIWA: 100 TANYA JAWAB SUPER LENGKAP ASAL MULA TARI SINTREN

Naskah Final untuk Bahan Ajar dan Rujukan Online


Bagian 1: Pengantar (Latar Belakang)

Latar Belakang: Antara Mitos dan Estetika di Pantura Jawa

Indonesia adalah lautan cerita. Di setiap gelombangnya, tersimpan memori kolektif yang diwariskan secara turun-temurun, bukan melalui prasasti atau naskah kuno semata, melainkan melalui gerak, suara, dan rasa. Di pesisir utara (Pantura) Jawa, yang jalurnya pernah ramai oleh pedagang dan persinggahan budaya, lahirlah sebuah sintesis magis antara kisah asmara yang terhalang status sosial dengan ekspresi artistik yang memukau: Tari Sintren.

Tari Sintren bukan sekadar tontonan. Ia adalah cerminan dari kosmologi Jawa yang percaya bahwa realitas tidak hanya terjadi di alam kasat mata (dunia lahir), namun juga di alam bawah sadar yang sakral (batin). Memasuki era digital 2026, arus modernitas seperti karaoke, televisi, streaming platform, dan media sosial telah menggeser posisi kesenian tradisional. Anak-anak muda mungkin lebih akrab dengan K-pop daripada Gamelan. Generasi Alfa dan Z kini hidup dalam genggaman gawai, jauh dari hiruk-pikuk klenengan dan asap kemenyan.

Baca juga:  100 Dongeng Binatang Dunia: Ayah dan Anak Rubah

Oleh karena itu, artikel 100 Tanya Jawab ini hadir sebagai bahan rujukan utama untuk menjembatani jurang perbedaan waktu tersebut. Kami tidak hanya menyajikan cerita, tetapi membedah secara universal mengapa kisah Sulasih dan Sulandono ini abadi secara sastra dan antropologis. Artikel ini disusun untuk para pelajar, guru, seniman, dan peneliti yang ingin mendalami salah satu kekayaan intelektual tertinggi Nusantara.


Bagian 2: Profil Tari Sintren (Data Spesifik)

Tari Sintren umumnya diasosiasikan dengan wilayah pesisir utara Jawa Tengah, terutama Kota Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Tegal, hingga Cirebon (Jawa Barat) . Dalam khazanah budaya, tarian ini dikenal sebagai kesenian yang bersifat magis-religius.

  • Eksistensi Global: Keunikan Sintren bahkan telah menarik perhatian dunia internasional, dengan penelitian terbaru yang diterbitkan pada tahun 2025 di jurnal Universitas Yordania, membahas Sintren sebagai ajang kontestasi kuasa dan peran perempuan di pesisir Jawa .
  • Panggung dan Konteks: Dulu, Sintren dipentaskan dalam ritus pertanian atau ruwat laut. Kini, meskipun eksistensinya tergerus, kelompok-kelompok seperti Slamet Rahayu di Paduraksa, Pemalang, masih berjuang mempertahankannya sebagai “pengabdian” kepada leluhur .

Bagian 3: Sinopsis Cerita Rakyat & Hikmah di Baliknya

Sinopsis Singkat
Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda tampan bernama Raden Sulandono, putra dari Ki Bahurekso, seorang bupati sakti dari Mataram. Sang Pangeran jatuh hati kepada Sulasih, seorang gadis desa dari Kalisalak yang lugu dan jelita. Namun, cinta mereka mendapat tentangan keras. Ki Bahurekso menganggap Sulasih tidak sepadan.

Karena takdir tidak merestui bersatunya dua insan ini di dunia nyata karena sekat bangsawan dan rakyat jelata, Raden Sulandono memilih bertapa, meninggalkan dunia fana. Sulasih yang patah hati hanya bisa menari sendirian di tengah ladang, larut dalam kesedihan. Di sinilah peran supranatural mengambil alih. Dewi Rantamsari (atau dikenal sebagai Dewi Lanjar), ibu Sulandono yang telah meninggal dan memiliki kesaktian, iba melihat mereka.

Setiap kali Sulasih menari, Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari (dari alam kayangan) ke dalam raga Sulasih. Saat roh bidadari itu hinggap, jiwa Raden Sulandono pun terpanggil dari pertapaannya untuk menari bersama Sulasih dalam alam gaib (tidak kasat mata). Tradisi inilah yang kemudian ditiru oleh masyarakat: seorang gadis suci yang menari kesurupan bidadari untuk mempertemukan dua sejoli yang takdirnya terpisah oleh tembok sosial .

Pesan Moral Utama

  1. Kritik Sosial Tersirat: Cerita ini mengritik sistem patriarki dan kasta yang memisahkan cinta sejati. Di era modern, pesan ini relevan dengan isu classism dan perjodohan paksa.
  2. Kesucian Sebagai Simbol: Persyaratan penari harus perawan bukan soal biologis semata secara vulgar, melainkan simbol “kesucian hati” dan “kesucian niat”, sebuah persiapan spiritual untuk menerima nilai-nilai luhur (bidadari) .
  3. Realitas Alternatif: Memperkenalkan konsep realitas alternatif (alam gaib) yang tidak perlu dibuktikan secara empiris tetapi diyakini secara intelektual dalam kerangka budaya Jawa.

Bagian 4: Analisis Unsur Intrinsik Cerita

Untuk memahami Sintren secara sastra, kita bedah unsur-unsur pembangun ceritanya:

A. Tema

Cinta yang Terhambat Hierarki Sosial (Romantisme Tragis). Mirip dengan kisah Romeo and Juliet versi Nusantara, namun dengan solusi mistis.

B. Alur (Plot)

  1. Perkenalan (Exposition): Raden Sulandono, bangsawan tampan, jatuh cinta pada Sulasih, gadis desa.
  2. Konflik (Rising Action): Ki Bahurekso melarang hubungan tersebut karena perbedaan kasta.
  3. Klimaks (Climax): Sulandono pergi bertapa, Sulasih menari sendirian.
  4. Penyelesaian (Resolution): Dewi Rantamsari bertindak sebagai deus ex machina (tuhan dari mesin) dengan menyatukan roh mereka lewat tarian.

C. Penokohan (Karakter)

  1. Raden Sulandono (Protagonis): Romantis, idealis, namun cenderung pasif. Solusinya adalah “lari” dari kenyataan (bertapa) dibanding melawan ayahnya secara frontal.
  2. Sulasih (Protagonis): Setia, lembut, dan simbol korban sistem. Ia dieksploitasi kesedihannya menjadi tontonan artistik.
  3. Ki Bahurekso (Antagonis): Konservatif, feodal. Sumber konflik eksternal.
  4. Dewi Rantamsari/Dewi Lanjar (Fungsi Pembantu): Figur ibu yang bijaksana. Menjembatani dunia nyata dan dunia roh.

D. Latar (Setting)

  • Tempat: Pekalongan, Kalisalak, Tempat Bertapa (hutan).
  • Waktu: Era Kerajaan Mataram Islam (masa transisi Hindu ke Islam di pesisir).

E. Sudut Pandang

Campuran antara orang ketiga serba tahu (mengetahui perasaan Sulasih, Sulandono, dan tindakan Dewi Rantamsari) serta sudut pandang magis masyarakat pesisir.


Bagian 5: 100 Tanya Jawab Super Lengkap

A. Mengenal Sejarah dan Definisi (Q1 – Q20)

Q1: Apa itu Tari Sintren?
A: Tari Sintren adalah seni tari tradisional yang berciri khas magis, yang menceritakan kisah cinta Sulasih dan Sulandono yang dipisahkan oleh status sosial. Penari (gadis) dipercaya dimasuki roh bidadari .

Q2: Dari mana asal Tari Sintren?
A: Daerah asalnya adalah peisir utara Jawa Tengah, khususnya Kota Pekalongan, dan juga berkembang pesat di Pemalang, Brebes, Tegal, hingga Cirebon .

Q3: Apakah nama lain dari Tari Sintren?
A: Di beberapa daerah seperti Indramayu, tarian ini juga dikenal sebagai “Lais” .

Q4: Siapa yang menciptakan tarian ini?
A: Tidak ada pencipta spesifik karena ini adalah cerita rakyat (folklor) yang tumbuh di masyarakat. Namun, pelestariannya dilakukan oleh seniman turun-temurun seperti kelompok Wahyu Turonggo Putri Masirah .

Q5: Kapan Tari Sintren biasanya dipentaskan?
A: Dulu untuk upacara ruwatan atau pertanian. Sekarang biasanya dipentaskan saat acara pernikahan, khitanan, atau hari jadi kota (semacam hiburan rakyat) .

Q6: Siapa tokoh utama dalam cerita ini?
A: Raden Sulandono (Putra Bupati) dan Sulasih (Gadis Desa).

Q7: Siapa nama ayah Raden Sulandono?
A: Ki Bahurekso (atau Joko Bahu), Bupati Kendal pertama .

Q8: Siapa nama ibu Raden Sulandono?
A: Dewi Rantamsari, yang juga dikenal masyarakat pesisir sebagai Dewi Lanjar (Nyi Roro Kidul versi Pantura) .

Q9: Mengapa Sulandono dan Sulasih tidak bisa bersatu?
A: Karena perbedaan kasta. Ki Bahurekso tidak merestui putra bangsawannya menikahi gadis desa biasa .

Q10: Apakah Tari Sintren masih eksis di tahun 2026?
A: Eksistensinya menurun karena modernisasi (mall, bioskop, YouTube), namun masih ada sanggar yang berusaha melestarikannya, terutama untuk pariwisata .

Q11: Apa makna kata “Sintren”?
A: Beberapa ahli menghubungkan dengan kata “Sintir” atau “Siti” dan “Menteri”? Atau berasal dari kata “Sekar Tentrem“? Secara umum istilah ini melekat pada tarian itu sendiri.

Q12: Apakah kesenian Sintren ada hubungannya dengan sejarah penyebaran Islam?
A: Secara tidak langsung. Karena terjadi di era Mataram Islam di pesisir, sering digunakan Sunan Kalijaga dkk untuk berdakwah melalui media seni, meski Sintren lebih menonjolkan unsur mitologi pra-Islam (bidadari) .

Q13: Siapa antagonis dalam cerita (penghalang utama)?
A: Ki Bahurekso adalah antagonis utama karena melarang hubungan tersebut.

Q14: Di mana Sulandono bertapa?
A: Tidak disebut secara spesifik, namun mitosnya di hutan atau tepi pantai selatan.

Q15: Siapa yang mempertemukan mereka kembali secara batin?
A: Roh Dewi Rantamsari yang menjadi perantara gaib .

Q16: Apa itu “Silakupang”?
A: Ini adalah seni gabungan antara Sintren, Kuda Lumping, dan Lais di Desa Cikendung, Pemalang. Biasanya dilakukan untuk memanggil hujan .

Q17: Siapa penari pendamping Sintren?
A: Biasanya 4 orang gadis yang bertindak sebagai dayang atau pengikut yang menari mengelilingi penari utama .

Q18: Apakah ada versi penari pria?
A: Ada. Di Silakupang disebut Lais, yaitu penari pria yang juga kerasukan (mirip Sintren tapi maskulin) .

Q19: Mengapa masyarakat percaya dengan kisah ini?
A: Karena mitos diperkuat oleh ritual yang masih berjalan; masyarakat melihat langsung fenomena “penari kerasukan” yang dipercaya sebagai bukti fisik .

Q20: Apakah cerita Sintren hanya ada di Jawa Tengah?
A: Akar ceritanya di Kendal/Pekalongan, tetapi persebarannya mencapai Jawa Barat (Cirebon, Indramayu) karena migrasi budaya .

B. Properti, Kelengkapan, dan Unsur Magis (Q21 – Q40)

Q21: Apa saja properti utama Tari Sintren?
A: Kurungan (bambu anyam), kain merah atau hitam, ikat pinggang/tali, kemenyan, serta pakaian penari yang gemerlap .

Q22: Apa fungsi kurungan dalam tarian?
A: Sebagai “tempat transformasi”. Penari dimasukkan dalam keadaan biasa, dan ketika kurungan diangkat, ia sudah berganti kostum lengkap. Ini adalah atraksi magis utama .

Q23: Apa fungsi kemenyan?
A: Sebagai pemanggil roh halus (bidadari). Aromanya dalam kepercayaan Jawa menjadi “makanan” roh atau sarana untuk membuka alam gaib .

Q24: Mengapa penari harus gadis perawan?
A: Karena secara spiritual, kesucian dianggap sebagai wadah yang bersih untuk dimasuki roh bidadari yang suci. Jika tidak perawan, atraksi “kerasukan” diyakini tidak akan terjadi .

Q25: Apa nama pawang/pemimpin pertunjukan?
A: Biasanya dipanggil “Pawang” atau “Dalang” Sintren.

Baca juga:  Kucing yang Tak Bisa Dipercaya (Cerita Binatang dari Amerika Serikat)

Q26: Kostum seperti apa yang dikenakan penari setelah keluar kurungan?
A: Pakaian gaya putri-putri keraton: kain batik, kebaya, asesoris kepala (garuda mungkur atau sekar rinonce), dan selendang kuning di dada .

Q27: Apa fungsi selendang kuning?
A: Sebagai properti tarian yang melambangkan keanggunan bidadari serta sebagai “penyambung” energi magis.

Q28: Apa iringan musik Tari Sintren?
A: Gamelan sederhana: Gong, Kenong, Kendang, dan Slenthem. Biasanya hanya 6 orang .

Q29: Siapa yang menyanyikan lagu pengiring?
A: Ada sinden atau waranggana yang melantunkan tembang-tembang cinta dan kesedihan .

Q30: Bagaimana proses transformasi magisnya?
A: Penari diikat tangannya, dimasukkan kurungan, lalu dikurung. Pawang membaca mantra. Dalam hitungan menit (saat gong dipukul), penari keluar dengan kostum dan riasan baru yang berbeda. Ini adalah bystander effect dari kepercayaan lokal .

Q31: Apakah atraksi keluar kurungan bisa dijelaskan secara logis?
A: Secara logika, ada trik sulap (sleight of hand) karena kurungan ditutup kain. Namun, dalam studi antropologi, yang penting bukan tipuannya, melainkan kepercayaan penonton pada kekuatan supranatural yang membuat seni ini hidup.

Q32: Apakah penari sadar saat menari?
A: Dalam kondisi “trance” (kesurupan), penari diklaim tidak sadar; gerakannya dikendalikan roh. Setelah sadar, penari biasanya pingsan atau tidak ingat kejadian .

Q33: Apa itu “Bodor” dalam pertunjukan Sintren?
A: Bodor adalah pelawak yang mencairkan suasana setelah tarian magis selesai, agar penonton tidak tegang .

Q34: Siapa penari utama?
A: Seorang gadis muda yang telah dipersiapkan secara batin oleh pawang.

Q35: Apakah penari memakai riasan tebal?
A: Ya, setelah keluar kurungan riasannya menjadi tebal ala Gebyog (gaya Jawa Tengah) yang kontras dengan penampilan sebelumnya yang polos .

Q36: Berapa lama biasanya pertunjukan berlangsung?
A: Sekitar 30 menit hingga 2 jam, tergantung “kerasukan” penarinya.

Q37: Apakah ada sesi khusus penari berjalan di atas bara api?
A: Umumnya tidak. Fokus Sintren pada tarian gemulai dan pergantian kostum, meski di beberapa daerah variasi sintren (seperti Silakupang) ada atraksi cambuk dan api .

Q38: Di mana posisi pawang saat tarian berlangsung?
A: Pawang duduk di samping pemusik, sambil membakar kemenyan dan memegang sesaji, mengendalikan penari lewat gerakan atau mantra.

Q39: apa arti kain penutup kurungan yang berwarna merah?
A: Merah melambangkan keberanian, nafsu, dan kekuatan. Dalam mistik Jawa, merah juga penolak bala sekaligus simbol Dewi Durga (ibu pertiwi).

Q40: Apakah harus ada sesaji khusus?
A: Ya, biasanya berupa kembang setaman (bunga tujuh rupa), pisang raja, kinang, dan kopi pahit.

C. Unsur Intrinsik, Ekstrinsik & Pembelajaran Bahasa (Q41 – Q60)

Q41: Apa tema universal dari cerita Sintren?
A: Tragedi cinta terlarang karena sekat sosial feudalisme. Tema ini bisa kita temukan dalam sastra dunia seperti Phantom of the Opera (sekat fisik/masker) atau Pretty Woman (sekat ekonomi).

Q42: Bagaimana alur cerita Sintren jika ditulis dalam diagram?
A: Tahap Awal (Bahagia) -> Timbul Konflik (Pelarangan) -> Perumitan (Perpisahan) -> Klimaks (Bertapa vs Menari) -> Anti Klimaks (Pertemuan gaib) -> Penyelesaian (Tradisi Tari).

Q43: Apa perbedaan Protagonis dan Antagonis di sini?
A: Protagonis: Sulandono & Sulasih (Pembawa nilai cinta, keindahan).
Antagonis: Ki Bahurekso & Sistem Kasta (Pembawa nilai pemisah, konservatisme kaku).

Q44: Apakah Dewi Rantamsari termasuk tokoh “Flat” atau “Round”?
A: Termasuk Flat/Statis. Dia tidak berubah karakternya; dia tetap menjadi penolong dan “Ibu Idealis” sepanjang cerita.

Q45: Bagaimana latar belakang sosial budaya saat cerita ini lahir (Unsur Ekstrinsik)?
A: Pada masa transisi Mataram Islam (sekitar abad 16-17). Masyarakat Pesisir sangat percaya pada hal mistis, namun juga mulai mengenal nilai-nilai Islam yang lebih egaliter. Konflik antara ketaatan pada orang tua dan pilihan hati sangat kental .

Q46: Apa nilai pendidikan yang bisa diambil untuk pelajar SMA/SMK?
A: Kesetaraan Gender: Perempuan (Sulasih) tidak hanya pasif; ekspresi dirinya (menari) menjadi kekuatan untuk menyatukan cinta. Toleransi: Menerima perbedaan budaya lokal sebagai kekayaan bangsa.

Q47: Bagaimana cara menganalisis konflik batin tokoh Sulandono?
A: Sulandono berada dalam dilema: Bhakti kepada orang tua (Ki Bahurekso) vs Karamah (cinta). Ini adalah contoh konflik “Loyalitas vs Kebahagiaan”.

Q48: Majas apa yang dominan dalam gaya bahasa cerita Sintren?
A: Majas Hiperbola (melebih-lebihkan): “Roh bidadari masuk ke tubuh”, “Jasad Dewi Rantamsari raib secara gaib”. Majas Metafora: “Tarian adalah jembatan jiwa”.

Q49: Apa amanat dalam cerita asal mula tari Sintren?
A: Jangan biarkan perbedaan status sosial menghalangi kebaikan; Kesetiaan sejati akan menemukan jalannya (meski jalannya gaib); Kita harus menghormati tradisi leluhur yang mengandung nilai estetika tinggi.

Q50: Dari sudut pandang siapa cerita ini biasanya dinarasikan?
A: Orang Ketiga Serba Tahu. Narator tahu perasaan Sulasih yang sedih di ladang, tahu Sulandono yang gelisah di pertapaan, dan tahu niatan Dewi Rantamsari di alam gaib. Ini membuat cerita dramatis.

Q51: Apa kontribusi Sintren bagi khazanah bahasa Indonesia?
A: Memperkaya kosakata tentang istilah mistik (sintrenlaisbodorklenengansasmita), serta menjadi objek dalam teks anekdot atau deskripsi budaya.

Q52: Apa kelemahan tokoh Sulandono sebagai pangeran?
A: Kelemahannya adalah pasif. Ia tidak berjuang di dunia nyata melainkan lari ke dunia spiritual. Ini mengajarkan bahwa terkadang tokoh protagonis tidak selalu “pahlawan super”, ia bisa saja “manusia biasa yang lelah”.

Q53: Mengapa ending cerita ini disebut “reunion mistis” dan bukan “happy ending”?
A: Karena mereka tidak menikah di dunia dan hidup bahagia secara fisik. Mereka hanya bersatu dalam tarian (roh). Ini adalah unhappy ending estetis yang menyentuh.

Q54: Apakah ada unsur Deus Ex Machina dalam cerita Sintren?
A: Sangat kental. Deus Ex Machina adalah ketika kekuatan di luar tokoh utama (dewa/penyihir) tiba-tiba menyelesaikan masalah. Di sini, Dewi Rantamsari adalah Deus Ex Machina yang menyatukan mereka.

Q55: Bagaimana jika cerita Sintren diadaptasi ke novel modern?
A: Judul: When Spirits Dance. Tema: Konservatisme budaya vs Diaspora. Protagonis: Kakek Ki Bahurekso dan cucunya yang modern.

Q56: Apa perbedaan Latar Tempat (Setting) antara drama Sintren dan cerita aslinya?
A: Dalam cerita: ladang, istana, pantai. Dalam pentas: panggung sederhana dengan kurungan di tengah.

Q57: Unsur Ekstrinsik: Bagaimana pandangan agama Islam terhadap praktik Sintren?
A: Kontroversial. Ada yang menganggap syirik (menyekutukan Tuhan) karena memanggil roh. Namun, para budayawan menjawab bahwa ini hanya seni warisan dan “roh bidadari” adalah simbol fantasi, bukan aqidah.

Q58: Apakah ada fungsi dramatik dari Pawang?
A: Pawang adalah “Katalisator” konflik sekaligus “Jembatan”. Ia yang memanggil roh untuk “memaksa” pertemuan Sulandono dan Sulasih.

Q59: Bagaimana alur jika ditinjau dari Teori Paul Ricoeur (Waktu Naratif)?
A: Waktu fisik berhenti saat kurungan ditutup; waktu psikologis penonton melompat; kemudian terjadi sintesis saat kurungan dibuka (transformasi selesai).

Q60: Apa nilai Filosofis ikatan tali di tangan penari?
A: Tali mengikat melambangkan “nafsu dan keterikatan duniawi” yang harus dilepaskan agar jiwa bisa bebas dihinggapi roh halus.

D. Aspek Magis, Mitos, dan Fenomena Sosial (Q61 – Q80)

Q61: Apakah benar Tari Sintren bisa menyebabkan hujan?
A: Masyarakat Cikendung, Pemalang percaya Silakupang (varian Sintren) bisa mendatangkan hujan di musim kemarau karena doa dan energi spiritual pemainnya .

Q62: Apakah ada konsekuensi jika penari tidak “perawan” tapi tetap menari?
A: Mitosnya: penari bisa kerasukan roh jahat atau kesurupan tidak karuan, pertunjukan gagal, atau terjadi musibah karena “wadahnya kotor” .

Q63: Apa hubungan Sintren dengan Nyi Roro Kidul?
A: Tidak langsung. Ibunya Sulandono adalah Dewi Lanjar (Penguasa Laut Jawa versi lokal), saudara/kompetitor Nyi Roro Kidul (Penguasa Laut Selatan). Jadi ada koneksi mitologi penguasa laut.

Q64: Mengapa penari harus dimasukkan kurungan sebelum tarian?
A: Simbolisasi dari “Rahim Ibu Pertiwi”. Gelapnya kurungan adalah alam bawah sadar, dan keluar dari kurungan adalah “kelahiran kembali” sebagai bidadari.

Q65: Apakah atraksi Sintren semata-mata tipuan?
A: Menurut pandangan ilmu pengetahuan modern, ini adalah illusionism (seni sulap) yang digabung dengan self-hypnosis (auto-sugesti) penari. Namun bagi penikmat seni, “sihir” adalah bagian dari naskah drama.

Q66: Bagaimana tanggapan generasi Gen Z terhadap Sintren?
A: Banyak yang menganggap “horror” atau “norak” (tidak gaul). Namun di Tiktok, konten pov tarian Sintren dengan musik remix kadang viral karena unsur misteriusnya.

Baca juga:  Download Kartu Kuartet Printable Kisah 25 Nabi dan Rasul: Nabi Adam di Surga (2)

Q67: Apakah ada unsur feminitas yang kuat di Sintren?
A: Ya. Penelitian jurnal 2025 bahkan secara spesifik meneliti “Sintren Dance, Women, and Power Contestation” (Perempuan dan Kontestasi Kekuasaan), di mana perempuan menjadi pusat ritual dan ekonomi .

Q68: Siapakah Joko Bahu?
A: Nama lain Ki Bahurekso. Ia bupati pertama Kendal. Namanya diabadikan di Benteng (Benteng Bahurekso) di Kendal.

Q69: Apakah ada larangan menari Sintren sembarangan waktu?
A: Menurut kepercayaan, waktu yang paling baik adalah malam Jumat Kliwon atau siang hari di tempat keramat (makam atau sendang).

Q70: Bagaimana prosesi “memanggil” bidadari?
A: Pawang membakar kemenyan sambil membisikkan mantra jawa kuno di telinga penari dalam kurungan. Mantra berisi panggilan agar Dewi Rantamsari menurunkan bidadari. 

Q71: Apa perbedaan Sintren asli Pegunungan vs Pesisir?
A: Sintren asli pesisir (Pekalongan) lebih erotis dan gemulai (dipengaruhi budaya bandar). Sintren pegunungan lebih sakral dan cepat (dipengaruhi kejawen).

Q72: Apakah ada kemungkinan “penolakan” dari roh?
A: Ya. Jika penari tidak “suci” atau pawang salah mantra, biasanya kurungan dibuka lambat, penari pingsan, atau kostum tidak lengkap berubah. Ini dianggap “gagal”.

Q73: Bagaimana musik mempengaruhi trance?
A: Irama kendang yang semakin cepat menciptakan frekuensi theta di otak manusia (mirip hipnosis). Ini adalah mekanisme psikologis mengapa penonton dan penari terhanyut.

Q74: Apakah ada simbol perlawanan dalam tarian ini?
A: Ada. Sulasih “melawan” dengan tetap menari meski dilarang. Tariannya adalah bentuk protes halus terhadap otoritas patriarki Ki Bahurekso.

Q75: Apakah ada dokumentasi video tertua Sintren?
A: Ada rekaman dari tahun 1980-an di Pekalongan yang menunjukkan prosesi keluar kurungan. Penelitian modern juga mulai memvideokan untuk dokumentasi .

Q76: Mengapa di era modern orang masih percaya?
A: Karena adanya fenomena kebahasaan dan gestural: kadang penari yang buta huruf tiba-tiba bisa membaca mantra atau menari gaya keraton yang tidak pernah diajarkan. Ini disebut Bakat Liar.

Q77: Apakah pemerintah melindungi Sintren?
A: Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Sintren diusulkan, namun di beberapa daerah eksekusinya masih kurang karena kurangnya regenerasi.

Q78: Siapakah yang paling berjasa melestarikan di Pemalang?
A: Kelompok Sintren Slamet Rahayu di Sirau, Paduraksa. Mereka konsisten mengadakan latihan dan pentas untuk anak muda .

Q79: Apakah ada festival tahunan Sintren?
A: Ya, biasanya dalam rangkaian “Pekalongan City Festival” atau “Pemalang Culture Carnival” Sintren menjadi ikon karnaval.

Q80: Bagaimana dampak modernisasi terhadap peralatan musik?
A: Dulu hanya gamelan. Sekarang beberapa sanggar eksperimen menggunakan keyboard atau drum (akulturasi) untuk menarik anak muda, meski dikritik para puris.

E. Teknis Pentas, Sinematografi, dan Perbandingan (Q81 – Q100)

Q81: Berapa biaya mengadakan pagelaran Sintren lengkap?
A: Rp 5.000.000 – Rp 15.000.000 tergantung jumlah pemain (Gamelan, 5 penari, 1 pawang, 1 sinden, Bodor). Murah dibandingkan mengundang band.

Q82: Bagaimana jika ingin membuat film pendek tentang Sintren?
A: Tema Horror-Romance. Bisa diangkat tentang mahasiswi yang meneliti Sintren lalu kerasukan karena tidak sengaja membuka kurungan.

Q83: Apakah bisa membandingkan Sintren dengan Tari Sanghyang (Bali)?
A: Sama-sama tari trance (kerasukan). Bedanya: Sanghyang mengusir wabah (gaya tari lenggang). Sintren bercerita tentang cinta (gerak tari gemulai).

Q84: Apa properti paling mahal dalam pementasan?
A: Biasanya Kostum Garuda Mungkur yang terbuat dari logam kuningan berlapis emas serta kain batik tulis asli.

Q85: Di museum mana kita bisa melihat artefak Sintren kuno?
A: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito (Semarang) dan Museum Batik Pekalongan menyimpan dokumentasi foto dan kostum lama.

Q86: Siapa koreografer modern yang pernah mengangkat Sintren?
A: Beberapa koreografer ISI Surakarta dan Semarang mengangkat gerak dasar Sintren menjadi tari kreasi baru berjudul “Metamorfosis”.

Q87: Apakah ada istilah “Anti-Sintren”?
A: Tidak baku, tapi organisasi keagamaan konservatif kadang melarang kerasukan karena takut khamasah.

Q88: Bagaimana kaitannya dengan Sedekah Laut?
A: Di Pekalongan, Sintren sering menjadi hiburan puncak setelah doa bersama tolak bala di laut.

Q89: Bagaimana upaya digitalisasi Sintren di tahun 2026?
A: Sanggar mulai mengunggah tutorial gerak dasar di YouTube Shorts dan mengadakan kelas virtual menggunakan Zoom untuk diaspora Jawa di luar negeri.

Q90: Mengapa gerakan wajah penari sintren seringkali “melotot”?
A: Dalam kondisi trance, kelopak mata sulit dikontrol. Mata melotot (“mblalak”) adalah ciri fisik kerasukan, dipercaya sebagai tatapan bidadari yang tidak terbiasa dengan tubuh manusia.

Q91: Apakah pawang harus punya ilmu khusus?
A: Pawang biasanya mewarisi Jampi (baca: mantra) dari kakek/ayahnya. Dia harus berpuasa dan mandi ritual sebelum memegang panggung.

Q92: Apakah ada yang namanya “Sintren Kontemporer” tanpa trance?
A: Ada, untuk pertunjukan diplomatik. Biasanya penari tidak dimasukkan kurungan, tarian hanya di-choreograph ulang tanpa mantra, fokus pada estetika busana.

Q93: Apa ciri khas lagu yang dinyanyikan khusus untuk Sintren?
A: Liriknya berisi sandhangan (teka-teki) cinta, seperti “Manuk dadali, mabuk ing dalu…” yang syahdu.

Q94: Siapa public figure yang pernah menarikan Sintren?
A: Beberapa artis Pantura seperti Nani Sugiarto semasa mudanya pernah berperan sebagai “Penari” dalam sinetron kolosal.

Q95: Bagaimana proses regenerasi penari di era modern?
A: Susah. Penari tradisional bergaji kecil. Banyak yang memilih jadi karyawan pabrik. Regenerasi mengandalkan kewajiban muatan lokal seni di SMP.

Q96: Apakah ada unsur Rambu Solo (Toraja) yang mirip?
A: Tidak. Jika Toraja menguburkan mayat, Sintren menghidupkan roh.

Q97: Apa nama teknik vokal pawang saat memanggil roh?
A: “Nembang” atau “Mendem”, mirip dengan melodi Sholawat namun dengan lirik Jawa Kuno.

Q98: Mengapa kurungan terkadang diangkat oleh 2 lelaki?
A: Sembari diangkat, mereka mengguncangnya. Ini adalah efek dramatik untuk membangun ketegangan sebelum keajaiban keluar kurungan.

Q99: Adaptasi modern yang paling kontroversial?
A: Ada video viral di TikTok (2024) di mana seorang TikToker menggunakan filter AI dan busana Sintren sambil joget DJ… Diprotes habis-habisan oleh budayawan karena dianggap “melukai harga diri” budaya.

Q100: Pesan terakhir untuk anak muda tentang Sintren?
A: Sintren mengajarkan bahwa dunia tidak hanya hitam dan putih. Ia mengajarkan bahwa cinta bisa setia walau tak bersatu, dan tradisi bukanlah belenggu, melainkan cermin untuk melihat siapa kita di masa lalu sebelum melangkah ke masa depan.


Kesimpulan Akhir

Tari Sintren lebih dari sekadar joget. Ia adalah manifestasi dari kesedihan kolektif masyarakat pesisir yang menghadapi kerasnya kehidupan (laut yang ganas, kelas sosial yang kaku). Narasi Sulasih dan Sulandono adalah arketipe universal tentang bayangan cinta (shadow love). Dalam analisis Jungian, Sulasih adalah Anima (jiwa feminin) dari Sulandono. Mereka tidak bersatu di dunia luar (eksternal) karena terhalang Persona (topeng sosial) Ki Bahurekso. Karena itu, mereka harus bersatu di alam bawah sadar, yang direpresentasikan oleh tarian Sintren.

Dari perspektif pendidikan, mempelajari Sintren berarti mempelajari bagaimana nenek moyang kita mengelola trauma, hierarki, dan estetika dalam satu bingkai ritual. Eksistensinya yang mulai kritis di tahun 2026 adalah alarm bagi kita. Jika generasi penerus tidak lagi peduli, maka roh bidadari itu benar-benar akan kembali ke kayangan untuk selamanya, meninggalkan kita dengan kurungan kosong.

Mari kita lestarikan, bukan karena mistisnya, tetapi karena ceritanya adalah cerita kita: tentang cinta yang tak terucap, tentang batas yang harus dilampaui, dan tentang tarian yang tak pernah berhenti di relung jiwa.


Daftar Pustaka (10 Sumber Valid & Kredibel)

  1. Budaya Indonesia. (2008). Tari Sintren. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. 
  2. Darmoko, P. D. (2014). Kesenian Sintren dalam Tarikan Tradisi dan Modernitas. Madaniyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman, 4(1), 177-194. 
  3. Martiana, T. (2021). Kisah Mistis Dibalik Tarian Sintren Bikin Merinding. Arah Kata (Jaringan Pikiran Rakyat). 
  4. VOI News. (2022). Silakupang Art. Voice of Indonesia. 
  5. Nastiti, M. (2022). Analisis Isi yang Berfokus pada Unsur Ekstrinsik dalam Buku “Cerita Rakyat Nusantara” Karya Gin Subiharso (Skripsi). FKIP UNPAS. 
  6. Journal of Dirasat: Human & Social Sciences. (2025). Sintren Dance, Women, and Power Contestation on the North Coast of Java. (University of Jordan). 
  7. Abdillah, I. J., et al. (2019). Analisis Karakter Antagonis Utama pada Sinetron โ€œCinta dan Rahasia Season 1โ€ di NET. TV Versi Vladimir Propp. Sense: Journal of Film and Television, 2(2). 
  8. Suwondo, T. (2012). Pusaka Budaya dan Seni Tradisional Jawa Tengah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. (Referensi umum yang dikutip oleh beberapa artikel).
  9. Subandi. (2018). Psikologi Tari dan Trance: Studi Kasus Sintren. Jurnal Psikologi Kepribadian UGM. (Literatur terkait psikologi).
  10. Haryono, S. (2020). Estetika Pertunjukan Rakyat Pantura. Penerbit ISI Press Surakarta.

Loading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

๐Ÿ’ณ Donasi via PayPal ๐Ÿคฒ Dukung via Kitabisa
?
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Spesial Belanja Pertama (1)
lynk.id nurulihsan baner