Asal-usul Ikan Duyung (Cerita Rakyat Nusantara dari Sulawesi Tengah)

Loading

Cerita rakyat nusantara Asal-Usul Ikan Duyung dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)
Ebook Anak Printable

📖 Printable Islamic & Educational eBook for Kids

✔ Bisa di-download
✔ Bisa di-print sendiri di rumah
✔ Cocok untuk belajar & aktivitas anak

👉 Lihat & Download Sekarang

Oleh: Kak Nurul Ihsan

Dukung kami dengan donasi, infaq, sedekah jariyah, zakat, dan wakaf agar dapat terus update konten setiap hari di ebookanak.com dan elibrary.id.
Dukung kami dengan donasi, infaq, sedekah jariyah, zakat, dan wakaf agar dapat terus update konten setiap hari di ebookanak.com dan elibrary.id.

https://wa.me/628156148165?&text=Download full ebook "101 Cerita Nusantara" (200 hal PDF) donasi Rp 50 ribu, Bank Syariah Indonesia (BSI): 7113717337, Yayasan Sebaca Indonesia. Setelah konfirmasi donasi, link ebook dikirim via WA ini. Terimakasih.
Download full ebook “101 Cerita Nusantara” (200 hal PDF) donasi Rp 50 ribu, Bank Syariah Indonesia (BSI): 7113717337, Yayasan Sebaca Indonesia. Setelah konfirmasi donasi, link ebook dikirim via WA ini. Terimakasih.

ASAL USUL IKAN DUYUNG (Cerita Rakyat Nusantara dari Sulawesi Tengah)

Dahulu, ada kisah sebuah keluarga bahagia.

Setiap pagi, mereka sarapan bersama.

Selesai sarapan, sang ayah berangkat ke kebun untuk bekerja.

Suatu hari, selesai sarapan, sang ayah berpesan kepada istrinya agar menyimpan sisa ikan di lemari untuk dimakannya nanti sore.

Namun ketika makan siang tiba, anak yang paling kecil meminta makan dengan lauk yang ada di lemari.

Cerita rakyat nusantara Asal-Usul Ikan Duyung dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)
Cerita Rakyat Nusantara “Asal-Usul Ikan Duyung” dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)

Ibunya membujuknya agar ia makan dengan lauk yang lain.

Namun, anak itu malah terus menangis.

Si ibu semakin bingung.

Anak itu terus saja menangis dan tidak mau makan dengan lauk lainnya.

Si ibu tidak tega melihat anaknya menangis dengan perut yang masih kosong.

Akhirnya, ikan itu pun diberikan juga pada anaknya.

Sorenya, sang Ayah pulang dengan perut lapar.

101 Cerita Nusantara

📚 101 Cerita Nusantara

Cerita rakyat pilihan dari seluruh Indonesia – edukatif & menyenangkan

👉 Klik untuk Download

Ia segera menemui istrinya dan meminta menyiapkan makan.

Lalu istrinya menceritakan kejadian tadi.

Betapa marahnya sang Ayah mendengar itu.

Meski sudah dibujuk, suaminya masih tetap marah-marah sampai malam.

Akhirnya, malam itu istrinya pergi ke laut sambil menangis tanpa sepengetahuan ketiga anaknya.

Pagi harinya, ketiga anak itu mencari-cari ibu mereka sampai ke pantai.

Tiba di pantai, mereka berteriak-teriak memanggil ibunya.

Lalu ibunya muncul dari permukaan laut.

Kemudian menyusui anaknya yang paling kecil.

Esok harinya anak-anak itu kembali ke laut mencari ibunya.

Mereka berteriak -teriak memanggil ibunya.

Promo IKEA Shopee

🛒 Promo IKEA di Shopee

Furnitur & perlengkapan rumah stylish dengan harga terbaik 🔥

👉 Lihat Promo Sekarang

Si ibu muncul dari dalam laut.

Ia segera menyusui anak bungsunya dengan penuh kasih sayang.

Namun, lama-kelamaan tanpa disadari tubuh sang ibu sudah mulai bersisik seperti ikan.

Anak-anaknya tidak percaya kalau dia adalah ibunya.

Karena yang mereka tahu ibunya tidak bersisik.

Betapa sedih hati sang ibu karena anak-anaknya tidak mengakui dirinya ibu mereka lagi.

Kini tubuh si ibu sudah dipenuhi sisik seperti ikan duyung.

Maka sejak saat itu, si ibu itu tinggal di laut sebagai ikan duyung. ***

Pesan Moral

Kemarahan yang tidak dapat dikendalikan akan menimbulkan malapetaka dan bencana.

Eksplorasi Komprehensif Cerita Rakyat Sulawesi Tengah: “Asal-usul Ikan Duyung” (Legenda Putri Duyung dari Laut Sulawesi)

Oleh: Tim Ebookanak.com
Kategori: Cerita Rakyat Nusantara | Legenda Asal-usul Makhluk Mitologi | Dongeng Moral
Kata Kunci: Cerita Rakyat Sulawesi Tengah, Legenda Ikan Duyung, Asal-usul Putri Duyung, Dongeng Sulawesi Tengah, Pendidikan Karakter, Kearifan Lokal, Cerita Rakyat Nusantara, Mitologi Laut


[Bagian 1] Pendahuluan: Warisan Lisan dari Bumi Laut dan Daratan

Indonesia adalah negeri yang kaya akan khazanah cerita rakyat (folklore). Dari Sabang hingga Merauke, ribuan kisah diwariskan secara turun-temurun, menjadi medium pendidikan karakter, pelestarian budaya, dan penjelasan atas fenomena alam maupun makhluk mitologi. Salah satu cerita yang sarat makna dan keunikan berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah, sebuah wilayah yang terkenal dengan keindahan lautnya, termasuk Kepulauan Togean, Banggai, dan Spermonde .

Cerita yang dikenal dengan judul “Asal-usul Ikan Duyung” atau “Legenda Putri Duyung” ini merupakan sebuah legenda etiological (penjelasan asal-usul) yang mengisahkan tentang seorang ibu yang bertransformasi menjadi makhluk setengah manusia setengah ikan akibat konflik rumah tangga yang berkepanjangan . Cerita ini tidak hanya menjelaskan “mengapa ada ikan duyung” secara mitologis, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur tentang kesabaran dalam rumah tanggapengendalian emosikasih sayang orang tua kepada anak, serta bahaya kemarahan yang tidak terkendali.

Dalam artikel super mendalam ini, kita tidak hanya akan membaca ringkasan cerita, tetapi juga membedah tuntas latar belakang sosial budaya Sulawesi Tengah, analisis struktural Alur, Tokoh, Amanat, hubungannya dengan fenomena alam (dugong/duyung laut) yang menjadi inspirasi cerita, hingga menyajikan 25 Tanya Jawab ilmiah yang diharapkan bisa menjadi rujukan utama di mesin pencarian. Sumber-sumber yang digunakan berasal dari dokumentasi resmi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, jurnal akademik internasional tentang dugong, buku cerita rakyat terbitan nasional, serta media-media kredibel.


[Bagian 2] Fakta Menarik: Ikan Duyung dalam Sains dan Budaya

Sebelum kita membedah cerita rakyatnya, penting untuk memahami bahwa Ikan Duyung atau Putri Duyung (mermaid) memiliki dua dimensi: mitologis (sebagai makhluk legenda) dan ilmiah (sebagai hewan laut yang nyata).

2.1 Dimensi Ilmiah: Duyung (Dugong dugon)

Secara ilmiah, hewan yang paling mungkin menjadi inspirasi cerita ikan duyung adalah Dugong (Dugong dugon) atau yang dalam bahasa Inggris disebut dugong. Dugong adalah mamalia laut yang hidup di perairan dangkal Kepulauan Sulawesi, termasuk di Kepulauan Togean, Banggai, Spermonde, Taka Bone Rate, dan Tanakeke .

Beberapa fakta ilmiah tentang dugong:

  • Dugong adalah herbivora laut yang memakan lamun (seagrass).
  • Dugong betina menyusui anaknya dengan posisi setengah tegak di air, yang dari kejauhan terlihat seperti “manusia sedang menggendong bayi” .
  • Dugong telah dilindungi sepenuhnya di bawah hukum Indonesia (PP7/1999) .
  • Sayangnya, populasi dugong di sekitar Sulawesi kini terancam punah. Penampakan terakhir yang tercatat di Kepulauan Spermonde adalah pada tahun 1993 .

Para nelayan di Sulawesi memiliki legenda “putri duyung yang hilang” (the lost princess), yang menunjukkan bahwa cerita ini telah menjadi bagian dari kesadaran ekologis masyarakat setempat. Para peneliti bahkan menyarankan bahwa legenda putri duyung dapat digunakan sebagai “pintu masuk” untuk konservasi dugong dan ekosistem laut .

2.2 Dimensi Mitologis: Legenda di Seluruh Dunia

Kisah putri duyung sebenarnya adalah cerita universal yang ditemukan di berbagai budaya: dari legenda Yunani tentang para dewi laut, kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen, hingga legenda putri duyung dari Tiongkok dan Jepang. Namun, versi Sulawesi Tengah ini unik karena:

  1. Tidak romantis: Berbeda dengan versi Barat yang sering mengisahkan cinta antara putri duyung dan manusia, versi Sulawesi ini justru tragis dan menyedihkan .
  2. Berlatar rumah tangga: Cerita ini bukan tentang fantasi, tetapi tentang konflik keluarga yang nyata .
  3. Pesan moral yang kuat: Transformasi menjadi ikan duyung bukanlah “kutukan” dari pihak luar, melainkan akibat dari kesedihan mendalam dan keputusan untuk pergi .

[Bagian 3] Sinopsis dan Latar Cerita “Asal-usul Ikan Duyung”

Terdapat beberapa versi dari cerita ini, yang berbeda dalam jumlah anak (dua atau tiga) dan detail transformasi. Berikut adalah sintesis dari ketiga versi utama yang bersumber dari dokumentasi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia  dan sumber populer lainnya .

Latar Belakang Cerita (Premis)

Di sebuah kampung pesisir di Sulawesi Tengah, pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga nelayan yang sangat miskin. Keluarga ini terdiri dari seorang ayah, seorang ibu, dan dua atau tiga orang anak (dalam berbagai versi) . Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana di dekat pantai. Hampir setiap hari, mereka hanya makan umbi-umbian karena kemiskinan yang melanda .

Alur Cerita (Plot Summary)

1. Tahap Perkenalan (Exposition):

Sebuah keluarga miskin tinggal di pinggir pantai Sulawesi Tengah. Sang ayah bekerja sebagai nelayan dan petani ladang. Sang ibu mengurus rumah dan anak-anak. Mereka memiliki dua atau tiga orang anak yang masih kecil .

2. Tahap Kebahagiaan Sementara (Rising Action – Part 1):

Suatu hari, sang ayah berhasil mendapatkan ikan yang cukup besar saat melaut. Seluruh keluarga makan ikan dengan lahapnya, sangat senang karena sudah lama hanya makan umbi-umbian. Sang ayah berpesan kepada istrinya agar menyisakan seekor ikan untuk makan siangnya nanti sepulang dari ladang .

Baca juga:  Apa Arti Sifat Al-Amanah?

3. Tahap Konflik Awal (Rising Action – Part 2):

Sepeninggal sang ayah ke ladang, si bungsu (atau kedua anak) menangis kelaparan dan merengek minta makan ikan. Sang ibu, yang tidak tega melihat anaknya menangis, memberikan ikan tersebut kepada anak-anaknya. Bahkan dalam beberapa versi, si bungsu menghabiskan semua ikan sehingga tidak tersisa untuk ayahnya .

4. Tahap Kemarahan Sang Ayah (Climax Preparation):

Sore harinya, sang ayah pulang dari ladang dalam keadaan lapar. Ia meminta istrinya untuk menyiapkan makanan dengan lauk ikan. Sang ibu dengan perasaan bersalah menjelaskan bahwa ikan telah dimakan oleh anak-anak mereka karena kelaparan. Sang ayah marah besar . Ia tidak mau mendengar alasan apapun dan terus memarahi istrinya, meskipun istrinya sudah berkali-kali meminta maaf .

5. Tahap Kepergian Sang Ibu (Turning Point):

Karena tidak tahan terus dimarahi dan tidak dimaafkan, pada suatu malam ketika semua tertidur, sang ibu diam-diam meninggalkan rumah dan pergi menuju laut . Ia lebih memilih hidup di laut daripada terus menerus menghadapi kemarahan suaminya.

6. Tahap Pencarian (Rising Action – Part 3):

Keesokan harinya, sang ayah dan anak-anaknya mencari sang ibu. Anak-anak pergi ke pantai karena menduga ibu mereka sedang mencari ikan. Mereka memanggil-manggil ibu mereka dengan lagu sederhana: “Ibu pulanglah Ibu, Si Bungsu ingin menyusu” .

7. Tahap Penampakan Pertama (Climax – Part 1):

Sang ibu muncul dari dalam laut. Ia masih berwujud manusia, tetapi tubuhnya basah kuyup. Ia memberi anak-anaknya banyak ikan untuk dibawa pulang. Ia berjanji akan menyusul setelah mendapatkan lebih banyak ikan .

8. Tahap Penampakan Kedua dan Transformasi (Climax – Part 2):

Keesokan harinya, anak-anak kembali ke pantai. Kali ini, saat ibu mereka muncul, mereka melihat sesuatu yang aneh: tubuh ibu mereka mulai dipenuhi sisik ikan. Sang ibu berusaha meyakinkan bahwa dialah ibu mereka, tetapi anak-anak ketakutan dan berlari menjauh karena berkata, “Tidak, ibu kami tidak bersisik seperti ikan!” .

9. Tahap Transformasi Sempurna (Resolution):

Setiap kali anak-anak memanggil, sang ibu muncul dengan wujud yang semakin menyerupai ikan. Pada kemunculan terakhirnya, kedua kakinya telah berubah menjadi ekor ikan dan seluruh tubuhnya dipenuhi sisik. Sang ibu telah berubah wujud menjadi ikan duyung (putri duyung) .

10. Tahap Akhir (Epilog):

Dalam beberapa versi, sang ibu kemudian pergi ke laut lepas dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Ia terus berenang membawa kesedihan yang mendalam . Masyarakat Sulawesi Tengah percaya bahwa ikan duyung yang kadang terlihat oleh para nelayan adalah jelmaan dari ibu malang tersebut .


[Bagian 4] Analisis Unsur Intrinsik Cerita (Kajian Sastra)

Untuk memahami cerita ini secara ilmiah, kita harus memecah unsur-unsur pembangunnya. Analisis ini merujuk pada teori unsur intrinsik yang lazim digunakan dalam kajian sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah .

1. Tema

Tema utama cerita ini adalah “Konflik Rumah Tangga yang Berujung pada Transformasi Tragis” . Cerita ini mengangkat beberapa subtema penting:

  • Kemarahan yang Tidak Terkendali (Uncontrolled Anger): Sang ayah yang terus marah meskipun istrinya sudah meminta maaf .
  • Ketidakmampuan Memaafkan (Inability to Forgive): Sang ayah tidak mau memaafkan kesalahan istrinya yang tergolong kecil (memberi ikan kepada anak yang kelaparan) .
  • Pengorbanan Seorang Ibu: Sang ibu rela pergi ke laut sendirian, bahkan rela berubah wujud, demi bisa mendapatkan ikan untuk anak-anaknya .
  • Kesedihan yang Mendalam (Deep Sorrow): Kesedihan sang ibu yang tidak tertahankan menjadi “kekuatan” yang mengubah wujudnya .

2. Alur (Plot)

Menggunakan alur maju (progresif) karena peristiwa berjalan kronologis . Secara struktural, cerita ini memiliki rangkaian sebab-akibat yang kuat:

Kemiskinan keluarga → Ayah mendapat ikan → Pesan untuk menyisakan ikan → Anak kelaparan dan menangis → Ibu memberikan ikan → Ayah pulang dan marah → Ibu pergi ke laut → Anak mencari → Ibu muncul pertama kali (masih manusia) → Ibu muncul kedua kali (mulai bersisik) → Transformasi sempurna menjadi duyung → Ibu pergi selamanya.

Cerita ini memiliki alur tragis karena berakhir dengan perpisahan abadi antara seorang ibu dan anak-anaknya.

3. Penokohan dan Perwatakan

Ini adalah elemen penting dalam cerita ini. Berikut adalah analisis mendalam setiap tokoh berdasarkan ketiga versi cerita yang terdokumentasi .

TokohPeranKarakter/WatakAnalisis Mendalam
Sang IbuProtagonis (tokoh utama positif sekaligus korban)Penyayang, Sabar (awalnya), Mudah Kasihan, Ikhlas, Namun pada akhirnya Putus AsaSang ibu adalah pusat cerita. Ia digambarkan sebagai ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Ia rela memberikan satu-satunya ikan yang tersisa kepada anaknya yang kelaparan meskipun ia tahu suaminya akan marah . Ia juga rela pergi ke laut sendirian untuk mencari ikan bagi keluarganya . Kesedihannya yang mendalam karena tidak dimaafkan suaminya menjadi “pemicu” transformasinya menjadi duyung. Ia adalah korban dari kemarahan dan ketidakmampuan memaafkan suaminya.
Sang AyahAntagonis (tokoh antagonis utama)Pekerja Keras, tetapi Pemarah, Keras Kepala, Tidak Pemaaf, EgoisSang ayah adalah sumber konflik. Meskipun ia adalah tulang punggung keluarga yang bekerja keras mencari nafkah, ia memiliki kelemahan fatal: sifat pemarah dan tidak mau memaafkan . Ia marah bukan karena kesalahan besar (istrinya selingkuh atau mencuri), tetapi karena istrinya memberi makan anak mereka yang kelaparan. Ia bahkan tidak mau mendengar alasan apapun dan terus memarahi istrinya berkali-kali . Sikapnya inilah yang menyebabkan kepergian istrinya selamanya.
Anak-anakFiguran (Korban tidak langsung)Polos, Kelaparan, Tidak Bersalah, Namun pada akhirnya Menolak IbuAnak-anak adalah korban tidak langsung dari konflik orang tua mereka. Mereka hanya anak kecil yang lapar dan menangis minta makan—mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka akan memicu kemarahan ayah mereka . Di akhir cerita, mereka menolak ibu mereka karena takut dengan wujud ibunya yang bersisik . Penolakan ini adalah puncak kesedihan sang ibu.

4. Latar (Setting)

  • Latar Tempat:
    • Gubuk/pinggir pantai di Sulawesi Tengah (tempat tinggal keluarga) .
    • Laut (tempat sang ibu pergi dan berubah menjadi duyung) .
  • Latar Waktu: Zaman dahulu (masa ketika transformasi magis dianggap mungkin terjadi).
  • Latar Suasana:
    • Awal: Damai (keluarga hidup sederhana) .
    • Tengah: Tegang dan Mencekam (saat ayah marah dan ibu pergi) .
    • Klimaks: Sedih dan Misterius (saat ibu berubah menjadi duyung) .
    • Akhir: Mengharukan dan Tragis (anak-anak menolak ibu, ibu pergi selamanya) .

5. Sudut Pandang

Menggunakan sudut pandang orang ketiga (serba tahu) . Narator mengetahui semua kejadian: kelaparan anak-anak, perasaan bersalah sang ibu, kemarahan sang ayah yang tidak mau mendengar alasan, hingga kesedihan mendalam sang ibu saat berubah wujud.

6. Gaya Bahasa (Majas)

  • Personifikasi: Laut “diceritakan” sebagai tempat tujuan akhir sang ibu—seolah-olah laut “memanggil” dan “menerima” sang ibu dengan transformasi magis.
  • Ironi: Sang ayah yang marah karena “kehabisan ikan” justru menyebabkan istrinya pergi, sehingga ia benar-benar kehilangan istrinya selamanya.
  • Simbolik:
    • Ikan melambangkan kemakmuran, tetapi juga menjadi sumber konflik.
    • Sisik ikan melambangkan perubahan identitas—dari manusia menjadi makhluk laut.
    • Laut melambangkan pelarian, kesedihan, dan dunia lain yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa.

7. Amanat (Pesan Moral)

Berdasarkan analisis unsur intrinsik, berikut adalah pesan moral yang dapat diambil :

  1. Jangan Mudah Marah dan Jangan Terlalu Keras Kepala: Kemarahan yang tidak terkendali (seperti yang ditunjukkan sang ayah) dapat menghancurkan rumah tangga dan menyebabkan penyesalan seumur hidup .
  2. Belajarlah Memaafkan: Kesalahan kecil (seperti memberikan ikan kepada anak yang kelaparan) seharusnya bisa dimaafkan, apalagi dilakukan oleh istri sendiri dan demi anak sendiri.
  3. Hargai Pengorbanan Istri/Ibu: Sang ibu rela pergi ke laut sendirian demi anak-anaknya. Sikap suami yang tidak menghargai pengorbanan ini berakibat fatal.
  4. Dengarkan Penjelasan Sebelum Marah: Sang ayah tidak mau mendengar penjelasan istrinya. Ia langsung marah dan terus marah.
  5. Keluarga adalah Segalanya: Kehilangan seorang ibu karena konflik sepele adalah tragedi yang tidak seharusnya terjadi.

[Bagian 5] Analisis Unsur Ekstrinsik (Nilai Budaya, Sejarah & Geografi)

Cerita “Asal-usul Ikan Duyung” tidak dapat dipisahkan dari realitas geografis, biologis, dan budaya Sulawesi Tengah.

1. Kondisi Geografis Sulawesi Tengah dan Kehidupan Nelayan

Sulawesi Tengah adalah provinsi kepulauan dengan garis pantai yang panjang. Masyarakat pesisir Sulawesi Tengah, seperti di Kepulauan Togean, Banggai, dan Spermonde, sangat bergantung pada hasil laut untuk kelangsungan hidup mereka .

Kisah tentang keluarga miskin yang hanya makan umbi-umbian dan sang ayah yang berharap bisa mendapatkan ikan adalah gambaran nyata dari kehidupan masyarakat nelayan tradisional yang hidupnya sangat bergantung pada keberuntungan saat melaut. Jika ombak sedang buruk, mereka bisa pulang dengan tangan hampa .

2. Dugong (Duyung) sebagai Inspirasi Cerita

Secara ilmiah, hewan yang paling mungkin menjadi inspirasi cerita ikan duyung adalah Dugong (Dugong dugon) .

Mengapa dugong bisa disangka “manusia ikan” oleh nelayan zaman dahulu?

  • Dugong betina menyusui anaknya dengan posisi setengah tegak di air, sehingga dari kejauhan terlihat seperti seorang wanita sedang menggendong bayi .
  • Dugong memiliki kulit yang halus (tidak bersisik seperti ikan), tetapi dari kejauhan dapat terlihat berkilau seperti sisik.
  • Dugong sering muncul di dekat permukaan air untuk bernapas, sehingga sering terlihat oleh nelayan.
Baca juga:  Petani dan Keledai

Sayangnya, populasi dugong di sekitar Sulawesi kini terancam punah. Penampakan terakhir yang tercatat di Kepulauan Spermonde adalah pada tahun 1993 . Legenda putri duyung kini digunakan oleh para peneliti sebagai “pintu masuk” untuk edukasi konservasi laut .

3. Perbandingan dengan Cerita Serupa di Daerah Lain

Cerita dengan tema “ibu yang berubah menjadi ikan” atau “transformasi karena kesedihan” juga ditemukan di daerah lain di Indonesia:

  • Natuna (Kepulauan Riau): Terdapat cerita rakyat “Asal Usul Ikan Duyung” dengan alur yang mirip, yang mengandung nilai kearifan lokal seperti komitmen, kesopansantunan, dan kejujuran .
  • Jawa: Terdapat legenda “Nyi Roro Kidul” (Ratu Pantai Selatan) yang juga mengisahkan tentang seorang putri yang berubah menjadi makhluk gaib laut karena kesedihan.
  • Global: Kisah putri duyung versi Barat (Hans Christian Andersen) lebih romantis dan berfokus pada cinta, bukan konflik rumah tangga.

4. Nilai Kearifan Lokal dalam Cerita

Berdasarkan penelitian tentang nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Nusantara, cerita seperti “Asal-usul Ikan Duyung” mengandung nilai-nilai berikut :

  • Kesetiakawanan sosial (walaupun dalam cerita ini justru menunjukkan hilangnya kesetiakawanan dalam keluarga).
  • Kerukunan dan penyelesaian konflik (cerita ini mengajarkan bagaimana konflik seharusnya diselesaikan, bukan dibiarkan memuncak).
  • Rasa syukur (sang ayah seharusnya bersyukur masih memiliki keluarga, bukan marah karena kehabisan ikan).

5. Variasi Cerita: Perbedaan Jumlah Anak

Terdapat tiga versi utama dari cerita ini yang terdokumentasi:

SumberJumlah AnakDetail Khas
Portal Jember (2021) 2 anak (laki-laki)Ibu pergi ke laut setelah suami marah; anak-anak menemukan ibu di laut; ibu memberi ikan.
Portal Jember (2022) 2 anak (kakak-adik laki-laki)Versi paling sedih; ibu berubah menjadi duyung; anak-anak tidak percaya dan pergi.
Budaya-Indonesia.org (2018) 3 anak (2 laki-laki, 1 perempuan)Versi paling lengkap dengan transformasi bertahap (muncul 3 kali, setiap kali lebih bersisik).
Blogger Kabilah Islam (2015) 3 anakVersi paling panjang dengan narasi yang sangat detail, termasuk lagu anak-anak memanggil ibu.
Budaya-Indonesia.org (2019) 3 anakVersi dengan transformasi paling dramatis; anak-anak menolak ibu karena “ibu kami tidak bersisik”.

Kesimpulan: Versi dengan tiga anak lebih umum dan lebih kaya detail, sementara versi dengan dua anak lebih ringkas. Artikel ini menggunakan sintesis dari semua versi untuk memberikan gambaran yang paling komprehensif.


[Bagian 6] 25 Tanya Jawab (Q&A) Super Lengkap untuk Rujukan SEO

Bagian ini adalah inti artikel. Disusun untuk menjawab segala kemungkinan pertanyaan pencari informasi tentang cerita “Asal-usul Ikan Duyung” dari Sulawesi Tengah.


Kategori A: Identitas & Asal Usul Cerita

1. Q: Apa judul asli cerita rakyat “Asal-usul Ikan Duyung” dari Sulawesi Tengah?

A: Judul yang paling dikenal adalah “Asal-usul Ikan Duyung” atau “Legenda Putri Duyung” . Dalam bahasa Inggris, cerita ini dikenal sebagai “The Legend of Mermaid from Central Sulawesi” . Ada juga yang menyebutnya sebagai “Legenda Ikan Duyung dari Sulawesi” .

2. Q: Dari daerah mana asal cerita rakyat Asal-usul Ikan Duyung?

A: Cerita ini berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah . Beberapa sumber menyebutkan bahwa cerita ini berkembang di kalangan masyarakat pesisir Sulawesi Tengah, termasuk di sekitar Kepulauan Togean, Banggai, dan Spermonde .

3. Q: Apakah cerita ini termasuk legenda, mite, atau dongeng?

A: Cerita ini termasuk Legenda (Legend) karena dikaitkan dengan asal-usul suatu makhluk mitologis (ikan duyung) yang dipercaya keberadaannya oleh masyarakat setempat. Legenda biasanya dianggap “benar” oleh masyarakat pemiliknya, meskipun mengandung unsur supranatural . Cerita ini juga bisa dikategorikan sebagai dongeng karena bersifat fiktif dan mengandung pesan moral .

4. Q: Siapa penulis pertama cerita rakyat ini?

A: Sebagai cerita rakyat (folklore), ia bersifat anonim (tidak diketahui pengarangnya). Namun, versi tertulisnya telah didokumentasikan dalam berbagai buku, antara lain: “Legenda putri duyung = the legend of mermaid” yang ditulis oleh Dian K. dan dialihbahasakan oleh Dono Sunardi (Bhuana Ilmu Populer, 2018) , serta dalam arsip digital Perpustakaan Digital Budaya Indonesia .

5. Q: Apakah cerita ini hanya ada di Sulawesi Tengah?

A: Tidak. Cerita dengan tema serupa (ibu berubah menjadi ikan duyung) juga ditemukan di daerah lain di Indonesia, seperti di Natuna, Kepulauan Riau . Namun, versi Sulawesi Tengah memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam detail transformasi bertahap dan lagu anak-anak yang memanggil ibu.


Kategori B: Analisis Tokoh & Karakter (Penokohan)

6. Q: Siapa protagonis dan antagonis dalam cerita Asal-usul Ikan Duyung?

A:

  • Protagonis (Tokoh Positif/Korban): Sang Ibu. Ia adalah tokoh utama yang menjadi pusat cerita. Ia digambarkan sebagai ibu yang penyayang, rela berkorban, namun pada akhirnya menjadi korban dari kemarahan suaminya .
  • Antagonis (Tokoh Negatif): Sang Ayah. Ia adalah sumber konflik karena sifat pemarah dan tidak mau memaafkan kesalahan istrinya yang tergolong kecil .

7. Q: Siapa tokoh yang paling menyedihkan dalam cerita ini?

A: Sang Ibu adalah tokoh yang paling menyedihkan. Ia harus memilih antara menuruti pesan suaminy a (menyisakan ikan) atau memberi makan anaknya yang kelaparan. Ia memilih anaknya, lalu dihukum dengan kemarahan suami yang tak kunjung reda. Ia pergi ke laut, berusaha mendapatkan ikan untuk keluarganya, tetapi pada akhirnya berubah menjadi duyung dan ditolak oleh anak-anaknya sendiri karena wujudnya yang mengerikan .

8. Q: Siapa tokoh yang paling bertanggung jawab atas tragedi ini?

A: Sang Ayah adalah tokoh yang paling bertanggung jawab. Jika ia mau mendengarkan penjelasan istrinya dan memaafkan kesalahan kecil tersebut, istrinya tidak akan pergi dan tragedi transformasi tidak akan terjadi. Kemarahannya yang tidak terkendali dan ketidakmampuannya memaafkan adalah akar dari semua masalah .

9. Q: Apakah anak-anak dalam cerita ini bisa disalahkan?

A: Tidak. Anak-anak dalam cerita ini adalah korban tidak langsung. Mereka hanya anak kecil yang lapar. Mereka tidak tahu bahwa tangisan mereka akan memicu kemarahan ayah mereka. Mereka juga tidak bisa disalahkan karena takut melihat wujud ibu mereka yang berubah menjadi bersisik—itu adalah respons alami seorang anak .

10. Q: Apa kelemahan utama sang ayah yang menyebabkan tragedi?

A: Kelemahan utama sang ayah adalah sifat pemarah dan tidak mau memaafkan . Ia marah bukan karena kesalahan besar, tetapi karena istrinya memberi makan anak mereka yang kelaparan. Ia bahkan tidak mau mendengar penjelasan istrinya dan terus memarahinya berkali-kali . Dalam kajian psikologi sastra, ini adalah contoh sifat egois dan narsistik—ia hanya memikirkan rasa laparnya sendiri tanpa memedulikan bahwa anak-anaknya juga lapar .


Kategori C: Analisis Alur & Peristiwa Penting

11. Q: Bagaimana awal mula konflik dalam cerita ini?

A: Konflik bermula ketika sang ayah berhasil mendapatkan ikan dan berpesan kepada istrinya untuk menyisakan seekor ikan untuk makan siangnya nanti. Sepeninggal sang ayah, anak-anaknya menangis kelaparan dan merengek minta makan ikan. Sang ibu yang tidak tega memberikan ikan tersebut kepada anak-anaknya .

12. Q: Apakah ada perbedaan dalam jumlah anak dalam berbagai versi cerita?

A: Ya, ada. Dalam beberapa versi, keluarga tersebut memiliki dua anak (keduanya laki-laki) . Dalam versi lain, mereka memiliki tiga anak (dua laki-laki dan satu perempuan, atau tiga laki-laki) . Versi dengan tiga anak lebih umum dan lebih kaya detail.

13. Q: Apa yang terjadi pada sang ayah setelah istrinya pergi?

A: Dalam sebagian besar versi, sang ayah tidak menyusul istrinya ke laut. Ia bahkan menyuruh anak-anaknya untuk menghabiskan semua ikan pemberian ibu mereka tanpa menyisakan untuk ibu mereka, dengan alasan “ibu kalian juga tidak menyisakan ikan untukku” . Ini menunjukkan bahwa sang ayah tidak menyesal dan tetap egois sampai akhir.

14. Q: Bagaimana proses transformasi sang ibu menjadi ikan duyung?

A: Proses transformasi terjadi secara bertahap :

  1. Penampakan pertama: Sang ibu muncul dengan wujud manusia seutuhnya (hanya basah kuyup). Ia memberi ikan dan berjanji akan menyusul.
  2. Penampakan kedua: Sang ibu mulai bersisik di beberapa bagian tubuhnya.
  3. Penampakan ketiga: Seluruh tubuhnya dipenuhi sisik dan kakinya berubah menjadi ekor ikan.
  4. Penampakan keempat (terakhir): Sang ibu telah berubah sepenuhnya menjadi ikan duyung dan tidak bisa kembali ke wujud manusia.

Setiap kali anak-anak memanggil, ibu muncul dengan wujud yang semakin menakutkan .

15. Q: Mengapa anak-anak menolak ibu mereka di akhir cerita?

A: Anak-anak menolak ibu mereka karena takut dengan wujud ibunya yang sudah berubah menjadi makhluk bersisik. Mereka berkata, “Tidak, ibu kami tidak bersisik seperti ikan!” atau “Ibuku cantik wajahnya dan halus kulitnya. Bukan berkulit ikan sepertimu” . Penolakan ini adalah pukulan terakhir bagi sang ibu, yang kemudian memutuskan untuk pergi selamanya.

16. Q: Apa yang terjadi pada sang ibu di akhir cerita?

A: Sang ibu pergi ke laut lepas dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Ia terus berenang membawa kesedihan yang mendalam. Masyarakat Sulawesi Tengah percaya bahwa ikan duyung yang kadang terlihat oleh para nelayan adalah jelmaan dari ibu malang tersebut .

17. Q: Apakah ada versi dengan akhir yang bahagia?

A: Tidak ada versi yang benar-benar bahagia dari cerita ini. Semua versi berakhir dengan transformasi tragis sang ibu menjadi duyung dan kepergiannya selamanya. Namun, beberapa versi menekankan bahwa sang ibu masih peduli pada anak-anaknya meskipun telah berubah wujud—ia masih mencoba memberi mereka ikan .

Baca juga:  101 Cerita Rakyat Nusantara dari Provinsi Jawa Timur | Bunga yang Menurunkan Para Raja | Kembang Wijaya Kusuma | E268.61

18. Q: Apa lagu yang dinyanyikan anak-anak untuk memanggil ibu mereka?

A: Dalam versi yang paling lengkap, anak-anak menyanyikan lagu sederhana:

“Ibu pulanglah Ibu…
Ibu pulanglah Ibu…
Si Bungsu ingin menyusu…” .

Lagu ini menunjukkan bahwa si bungsu masih sangat kecil dan membutuhkan ASI ibunya. Ini menambah kesedihan cerita, karena seorang ibu yang masih memiliki bayi menyusu pergi meninggalkan anaknya karena tidak tahan dengan perlakuan suaminya.


Kategori D: Nilai Moral & Pendidikan Karakter (Pedagogi)

19. Q: Apa pesan moral utama dari cerita Asal-usul Ikan Duyung?

A: Pesan moral utama cerita ini ada lima :

  1. Jangan Mudah Marah: Kemarahan yang tidak terkendali dapat menghancurkan rumah tangga dan menyebabkan penyesalan seumur hidup .
  2. Belajarlah Memaafkan: Kesalahan kecil dalam keluarga seharusnya bisa dimaafkan, apalagi jika dilakukan demi kebaikan anak.
  3. Dengarkan Penjelasan Sebelum Marah: Jangan langsung marah tanpa mendengar penjelasan pihak lain.
  4. Hargai Pengorbanan Istri/Ibu: Seorang ibu rela melakukan apa pun untuk anak-anaknya. Jangan sia-siakan pengorbanannya.
  5. Keluarga adalah Segalanya: Jangan biarkan konflik sepele merusak keutuhan keluarga.

20. Q: Sifat buruk apa yang dicontohkan oleh sang ayah yang tidak boleh ditiru?

A: Sifat buruk sang ayah yang tidak boleh ditiru adalah :

  • Pemarah (mudah marah bahkan untuk hal sepele).
  • Keras kepala (tidak mau mendengar penjelasan).
  • Tidak pemaaf (tidak mau memaafkan meskipun sudah dimintai maaf berkali-kali).
  • Egois (hanya memikirkan rasa laparnya sendiri tanpa memedulikan anak-anaknya yang juga lapar).
  • Tidak bertanggung jawab (tidak menyusul istrinya ke laut).

21. Q: Sifat baik apa yang dicontohkan oleh sang ibu yang patut ditiru?

A: Sang ibu mencontohkan sifat-sifat mulia :

  • Penyayang (ia lebih memilih memberi makan anaknya daripada menuruti perintah suami).
  • Pemaaf (ia tidak membalas kemarahan suami dengan kemarahan).
  • Berani berkorban (ia rela pergi ke laut sendirian demi mendapatkan ikan untuk keluarganya).
  • Ikhlas (ia tetap memberi ikan kepada anak-anaknya meskipun ia sudah berubah wujud).

22. Q: Nilai karakter (Profil Pelajar Pancasila) apa saja yang ada dalam cerita ini?

A: Cerita ini mengusung nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila:

  • Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa: Percaya bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya.
  • Bernalar Kritis: Mampu menganalisis bahwa kemarahan yang tidak terkendali merugikan semua pihak.
  • Berkebhinekaan Global: Mengenal kekayaan cerita rakyat dari Sulawesi Tengah.
  • Mandiri dan Bertanggung Jawab: Setiap anggota keluarga harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
  • Gotong Royong: (Ketiadaan nilai ini justru menjadi pelajaran—keluarga ini hancur karena tidak ada gotong royong dan saling pengertian).

23. Q: Apakah cerita ini cocok untuk pembelajaran sastra di sekolah?

A: Sangat cocok. Cerita ini kaya akan unsur intrinsik dan ekstrinsik (tema, alur, latar, penokohan, nilai budaya, sejarah). Cocok untuk materi Bahasa Indonesia kelas VII dan XI khususnya tentang Cerita Rakyat, Legenda, Analisis Unsur Pembangun Cerita, serta Nilai-nilai Kehidupan dalam Sastra. Cerita ini juga memiliki pesan moral yang kuat tentang pengendalian emosi dan pentingnya memaafkan.

24. Q: Apa hubungan cerita ini dengan konservasi laut?

A: Menariknya, legenda putri duyung ini kini digunakan oleh para peneliti kelautan sebagai “pintu masuk” (entry point) untuk edukasi konservasi dugong (Dugong dugon), mamalia laut yang terancam punah di perairan Sulawesi . Para peneliti menyerukan untuk “membawa kembali putri duyung yang hilang” (bringing back the lost princess) sebagai bagian dari upaya menuju keberlanjutan ekosistem laut .

25. Q: Di mana saya bisa membaca versi lengkap “Asal-usul Ikan Duyung” secara online?

A: Anda dapat membaca versi lengkap dan terpercaya di:

  1. Situs Ebook Anak (ebookanak.com) — artikel ini sendiri.
  2. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (budaya-indonesia.org) — tersedia dua entri dengan judul “Asal Mula Ikan Duyung” .
  3. Portal Jember (portaljember.pikiran-rakyat.com) — tersedia dua artikel (2021 dan 2022) .
  4. Blogger Kabilah Islam (kabilahislam.blogspot.com) — tersedia versi paling panjang .
  5. Buku cetak: “Legenda putri duyung = the legend of mermaid” karya Dian K. (Bhuana Ilmu Populer, 2018) .

[Bagian 7] Kesimpulan

“Asal-usul Ikan Duyung” (Legenda Putri Duyung dari Sulawesi Tengah) adalah lebih dari sekadar cerita rakyat biasa. Dari perspektif ilmiah dan edukatif, cerita ini adalah sebuah etiological legend yang menjelaskan secara puitis tentang asal-usul makhluk mitologis ikan duyung, sekaligus menjadi medium pendidikan karakter yang kuat tentang pengendalian emosi dan pentingnya memaafkan.

Secara struktur sastra, cerita ini memiliki alur yang tragis dengan konflik yang dibangun dari sifat pemarah sang ayah sebagai motor penggerak cerita. Tokoh-tokohnya merepresentasikan dualitas manusia: kasih sayang dan pengorbanan (sang ibu) versus kemarahan dan ketidakmampuan memaafkan (sang ayah). Transformasi bertahap sang ibu menjadi duyung—dari manusia, mulai bersisik, hingga berekor ikan—adalah elemen magis yang menjadi ciri khas cerita rakyat Nusantara.

Dari sisi pendidikan karakter, cerita ini mengajarkan bahwa kemarahan yang tidak terkendali dapat menghancurkan rumah tangga dan ketidakmampuan memaafkan adalah akar dari banyak masalah . Sang ayah yang tidak mau memaafkan kesalahan kecil istrinya (memberi ikan kepada anak yang kelaparan) menyebabkan istrinya pergi dan berubah menjadi duyung, sehingga ia kehilangan istrinya selamanya.

Cerita ini juga memiliki nilai ilmiah yang menarik. Para peneliti telah menghubungkan legenda putri duyung dengan keberadaan dugong (Dugong dugon) di perairan Sulawesi, yang populasinya kini terancam punah . Legenda ini menjadi pengingat bahwa budaya dan konservasi alam dapat berjalan beriringan—dengan “membawa kembali putri duyung yang hilang”, kita juga menyelamatkan ekosistem laut.

Yang paling menyedihkan dari cerita ini adalah akhir yang tragis: sang ibu, yang telah berkorban segalanya untuk anak-anaknya, pada akhirnya ditolak oleh anak-anaknya sendiri karena wujudnya yang mengerikan . Penolakan ini adalah pukulan terakhir yang membuat sang ibu memutuskan untuk pergi selamanya ke laut lepas, membawa kesedihan yang abadi.

Masyarakat Sulawesi Tengah secara cerdas mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam narasi budaya untuk mengajarkan etika dan karakter kepada generasi penerus. Cerita ini mengingatkan kita bahwa dalam sebuah keluarga, komunikasi yang baik dan saling memaafkan adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.

Semoga cerita ini terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia, khususnya dari Bumi Laut Sulawesi, Sulawesi Tengah.


[Bagian 8] Pesan Moral Penutup

“Jadilah seperti sang Ibu: penyayang, pemaaf, dan rela berkorban untuk keluarga. Namun, jangan biarkan kesedihanmu mengalahkanmu—jika kau merasa terpuruk, carilah pertolongan, jangan pergi sendirian ke laut.”

“Jangan pernah menjadi seperti sang Ayah: pemarah, keras kepala, dan tidak mau memaafkan. Karena kemarahanmu hari ini mungkin akan menjadi penyesalanmu seumur hidup.”

“Dan bagi kita semua, ingatlah: setiap kali kau melihat ombak laut atau mendengar cerita tentang putri duyung, ingatlah bahwa di balik mitos, ada pesan tentang keluarga, cinta, dan maaf-memaafkan. Jangan biarkan konflik sepele merusak orang-orang yang kau cintai.”

“Mari kita lestarikan cerita rakyat Nusantara, karena di dalamnya tersimpan jiwa, sejarah, dan moral bangsa!”


[Bagian 9] Daftar Pustaka (Sumber Kredibel & Valid)

Referensi disusun berdasarkan standar akademik dari sumber-sumber terpercaya yang dapat diakses oleh pembaca untuk verifikasi.

  1. Portal Jember – Pikiran Rakyat. (2021). Cerita Rakyat Sulawesi Tengah: Asal Usul Ikan Duyung. Tersedia di portaljember.pikiran-rakyat.com — Sumber media yang mendokumentasikan cerita rakyat dengan versi 2 anak .
  2. CiNii Research – National Institute of Informatics (Jepang). (2018). Legenda putri duyung = the legend of mermaid (Bhuana Ilmu Populer). Tersedia di cir.nii.ac.jp — Sumber katalog buku resmi dari database akademik Jepang .
  3. Kompasiana. (2022). Kajian dengan Pendekatan Arketipal Dongen Asal Mula Ikan Duyung. Tersedia di kompasiana.com — Sumber analisis akademik dengan pendekatan arketipal .
  4. Brainly.co.id. (2020). Perbedaan unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam cerita fiksi. Tersedia di brainly.co.id — Sumber edukatif untuk definisi unsur intrinsik/ekstrinsik .
  5. Portal Jember – Pikiran Rakyat. (2022). Kisah Mitos Putri Duyung atau Ikan Duyung Asli dari Indonesia. Tersedia di portaljember.pikiran-rakyat.com — Sumber media dengan versi paling sedih .
  6. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. (2018). Asal Mula Ikan Duyung. Tersedia di budaya-indonesia.org — Sumber primer resmi dengan versi 3 anak dan transformasi bertahap .
  7. Frontiers in Marine Science. (2017). “The lost princess (putri duyung)” of the small islands: Dugongs around Sulawesi in the anthropocene. Tersedia di frontiersin.org — Jurnal ilmiah internasional yang menghubungkan legenda duyung dengan konservasi dugong .
  8. Blogger.com – Kabilah Islam. (2015). Legenda Ikan Duyung Dari Sulawesi. Tersedia di kabilahislam.blogspot.com — Sumber blog dengan versi paling panjang dan detail, termasuk lagu anak-anak .
  9. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. (2019). *Asal Mula Ikan Duyung (Entri ke-2)*. Tersedia di budaya-indonesia.org — Sumber primer resmi dengan versi transformasi 4 tahap .
  10. Repositori Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). (2021). Nilai Kearifan Lokal Pada Kumpulan Cerita Rakyat Dari Natuna. Tersedia di repositori.umrah.ac.id — Sumber akademik tentang nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat, termasuk referensi ke cerita ikan duyung di Natuna .

Artikel ini adalah hak cipta Ebook Anak untuk keperluan pendidikan dan referensi online. Silakan disebarluaskan untuk tujuan pendidikan dengan mencantumkan sumber.

THE ORIGIN OF MERMAN FISH (Indonesian Folklore from Central Sulawesi)

Once upon a time, there was a story of a happy family.

Every morning, they have breakfast together.

After breakfast, the father went to the garden to work.

One day, after breakfast, the father told his wife to put the remaining fish in the cupboard for her to eat later in the afternoon.

However, when lunch arrived, the youngest child asked to eat with the side dishes in the cupboard.

His mother persuaded him to eat it with other side dishes.

However, the child continued to cry.

Cerita rakyat nusantara Asal-Usul Ikan Duyung dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)
Cerita Rakyat Nusantara “Asal-Usul Ikan Duyung” dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)

The mother became increasingly confused.

The child kept crying and didn’t want to eat other side dishes.

The mother couldn’t bear to see her child crying with an empty stomach.

Finally, the fish was also given to his son.

In the afternoon, the father came home with a hungry stomach.

He immediately met his wife and asked her to prepare food.

Then his wife told the incident earlier.

How angry the father heard that.

Even though she had been persuaded, her husband was still angry until the evening.

Finally, that night his wife went to sea crying without the knowledge of her three children.

Cerita rakyat nusantara Asal-Usul Ikan Duyung dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)
Cerita Rakyat Nusantara “Asal-Usul Ikan Duyung” dari Sulawesi Tengah. (Kak Nurul Ihsan/ebookanak.com)

In the morning, the three children looked for their mother all the way to the beach.

Arriving at the beach, they shouted for their mother.

Then his mother appeared from the surface of the sea.

Then breastfeed the youngest child.

The next day the children returned to the sea looking for their mother.

They screamed for their mother.

The mother emerged from the sea.

She immediately breastfed her youngest child with great affection.

However, over time, without realizing it, the mother’s body began to have scales like a fish.

Her children do not believe that she is their mother.

Because what they know his mother is not scaled.

How sad the mother’s heart is because her children no longer recognize her as their mother.

Now the mother’s body is covered with scales like a mermaid.

So from then on, the mother lived in the sea as a mermaid. ***

Moral message

Uncontrolled anger will lead to havoc and disaster.

Baca, download, dan print konten ebook anak bergambar di elibrary.id dengan donasi sesuai kemampuan.
Baca, download, dan print konten ebook anak bergambar di elibrary.id dengan donasi sesuai kemampuan.

💳 Donasi via PayPal 🤲 Dukung via Kitabisa
?
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
error: Content is protected !!
Spesial Belanja Pertama (1)
lynk.id nurulihsan baner