Al Farabi Sang Mahaguru dan Aristoteles Muslim

11,499,445 kali dilihat, 7,165 kali dilihat hari ini

Al Farabi sampai disebut sebagai Aristoteles kedua atau Mahaguru Kedua.

Filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles berpengaruh besar terhadap pemikiran Al Farabi, seorang ahli falsafah Islam yang lahir pada tahun 874 M (260 H) di Turki. 

Al Farabi seorang ilmuwan besar yang amat sederhana.

Al Farabi menjadi filsuf Islam pertama yang berhasil memadukan filsafat Barat klasik atau Yunani dengan filsafat Islam.

Selain seorang ilmuwan, Al Farabi juga juga seorang seniman.

Al Farabi mahir memainkan alat musik.

Al Farabi berhasil menciptakan banyak instrumen musik dan tangga nada arab, yang sampai kini masih tetap digunakan.

Bagi Al Farabi, musik bukan hanya sekedar hiburan saja.

Tapi juga bisa dipakai sebagai media pengobatan.

Filsuf Serba bisa

Al Farabi menguasai berbagai bahasa, sains, matematika, dan sejarah.

Namun, keahlian utama Al Farabi di bidang ilmu filsafat.

Bahkan, kehebatan Al Farabi dalam bidang filsafat ini, disebut-disebut melebihi ahli filsuf Islam besar lainnya, seperti Al-Kindi dan Ibnu Rusyd.

Sehingga Al Farabi sampai disebut sebagai Aristoteles kedua atau Mahaguru Kedua.

Kajian Al-Farabi

Al-Farabi banyak mengkaji pemikiran filsafat teori Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Maka tidak heran, jika Al-Farabi dikenal sebagai orang yang paling memahami filsafat Aristoteles.

Al Farabi bahkan juga dikenal sebagai orang pertama, yang menulis ilmu logika Yunani secara teratur dalam bahasa Arab.

Meskipun pemikiran filsafat Al Farabi banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani.

Tetapi, Al Farabi menentang pendapat Plato, yang menganjurkan konsep pemisahan dalam kehidupan manusia.

Pandangan filsafat Al Farabi yang kritis telah mensejajarkannya dengan para ahli filsuf Yunani.

Karya-karya Al-Farabi

Al Farabi telah menulis ratusan kitab.

Di antaranya “Madinah al-Fadhilah”, kitab tentang pemikiran, ide, dan pandangan Al-Farabi mengenai falsafah politik.

Sedangkan Al-Musiqa, yaitu buku mengenai teori musik Islam.

Al-Farabi lebih mengutamakan untuk mencari ilmu daripada mendapatkan kekayaan duniawi.

Pada siang hari, Al Farabi bekerja sebagai penjaga kebun.

Sedang pada malam hari, Al Farabi habiskan untuk membaca dan menulis karya-karya filsafat. 

Oleh karena itulah, Al-Farabi hidup amat sederhana, sampai beliau wafat pada tahun 970 M  di Damaskus.

Al Farabi kemudian dimakamkan di dekat pemakaman Muawiyah, pendiri Dinasti Muawiyah.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Uci Ahmad Sanusi
  • Desainer dan layouter: Yuyus Rusamsi
  • Penerbit: Qultum Media (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

 

Social Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *