Nabi Sulaiman dan Pesan Sang Semut: Kisah Teladan tentang Rendah Hati dan Kepedulian untuk Anak
- Updated: Februari 9, 2026
![]()

Allah memberinya mukjizat yang luar biasa: Nabi Sulaiman ‘alaihis salam mampu memahami bahasa segala jenis hewan. Mukjizat ini bukanlah hasil belajar atau kekuatan sihir, melainkan karunia langsung dari Allah. Dalam Al-Qur’an, Nabi Sulaiman sendiri mengakui nikmat tersebut dengan penuh syukur, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Naml ayat 16, bahwa beliau diajarkan manthiq ath-thair—bahasa burung. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu sejati datang dari Allah dan harus disikapi dengan kerendahan hati.
Dengan izin Allah, Nabi Sulaiman dapat memahami suara dan maksud berbagai makhluk ciptaan-Nya. Dari singa yang mengaum di darat, hingga burung-burung yang berkicau di angkasa, semuanya berada dalam pengetahuan Allah dan dapat dipahami oleh Nabi Sulaiman sesuai kehendak-Nya. Namun, kemampuan ini tidak menjadikan Nabi Sulaiman merasa lebih tinggi dari makhluk lain. Justru, beliau semakin sadar bahwa manusia hanyalah hamba yang diberi amanah.
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah ketika Nabi Sulaiman mendengar perkataan seekor semut yang mengingatkan kaumnya agar segera masuk ke sarang supaya tidak terinjak pasukan beliau tanpa sengaja. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah An-Naml ayat 18–19. Mendengar hal itu, Nabi Sulaiman tersenyum lalu berdoa kepada Allah, memohon agar selalu mampu bersyukur dan berbuat kebaikan. Sikap ini menunjukkan betapa lembutnya hati seorang nabi, bahkan terhadap makhluk yang sangat kecil.
Selain semut, Al-Qur’an juga mengisahkan burung Hud-hud yang menjadi bagian dari pasukan Nabi Sulaiman. Burung ini menyampaikan kabar tentang negeri Saba’ dan Ratu Balqis. Nabi Sulaiman tidak serta-merta marah atau sombong, melainkan mendengarkan, memeriksa kebenaran berita, lalu bertindak dengan penuh hikmah. Dari sini, kita belajar bahwa kebijaksanaan sejati adalah mendengar dengan adil, meskipun yang berbicara adalah seekor burung.
Para ulama tafsir dan penulis sirah menjelaskan bahwa mukjizat memahami bahasa hewan adalah ujian keimanan dan akhlak, bukan sekadar keajaiban. Nabi Sulaiman lulus dalam ujian itu karena beliau tidak menggunakan kekuasaannya untuk kesombongan, melainkan untuk menegakkan keadilan dan mengajak manusia kepada Allah. Kisah ini mengajarkan bahwa semakin besar nikmat yang diberikan Allah, semakin besar pula tanggung jawab untuk bersikap rendah hati dan bersyukur.



















































