Tanya Jawab Adab dan Sunnah di Kamar Mandi dalam Islam: Panduan Lengkap untuk Anak dan Keluarga Muslim
- Updated: Oktober 30, 2025
![]()
Pendahuluan
Kamar mandi adalah tempat yang memiliki aturan khusus dalam Islam. Meskipun terlihat sederhana, ada banyak adab dan sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika kita masuk ke dalamnya. Mengikuti adab-adab ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga melindungi kita dari gangguan setan dan mendatangkan pahala dari Allah SWT. Yuk, kita pelajari bersama!
100 Tanya Jawab Adab di Kamar Mandi
Dasar Hukum dan Pentingnya Adab
- Mengapa kita perlu belajar adab ke kamar mandi?
Jawaban: Karena kamar mandi adalah tempat kotor dan sering dijadikan tempat setan, sehingga perlu menjaga adab untuk perlindungan diri.
(Sumber: HR. Muslim no. 605) - Apa hukum mempelajari adab ke kamar mandi?
Jawaban: Wajib, karena termasuk bagian dari menyempurnakan thaharah (bersuci) yang merupakan syarat sah shalat.
(Sumber: Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi) - Apakah adab ke kamar mandi diajarkan dalam Al-Quran?
Jawaban: Ya, meskipun tidak detail, prinsip kebersihan dan kesucian banyak disebutkan dalam Al-Quran.
(Sumber: QS. Al-Muddatstsir: 4) - Siapa yang mengajarkan adab detail ke kamar mandi?
Jawaban: Rasulullah ﷺ melalui hadis-hadis beliau.
(Sumber: HR. Bukhari no. 144 dan Muslim no. 605) - Apakah anak-anak juga wajib mengikuti adab ini?
Jawaban: Ya, sejak usia mumayyiz (sekitar 7 tahun) sudah harus diajarkan.
(Sumber: Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud karya Ibnu Qayyim)
Doa Sebelum Masuk Kamar Mandi
- Apa doa yang dibaca sebelum masuk kamar mandi?
Jawaban: “Bismillah, Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khabaits.”
(Sumber: HR. Bukhari no. 139) - Apa arti doa sebelum masuk kamar mandi?
Jawaban: “Dengan nama Allah, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar) - Mengapa kita minta perlindungan dari setan ketika masuk kamar mandi?
Jawaban: Karena kamar mandi adalah tempat berkumpulnya setan.
(Sumber: HR. Muslim no. 605) - Kapan doa ini dibaca?
Jawaban: Sebelum kaki melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
(Sumber: Syarh Riyadhus Shalihin karya Ibnu Utsaimin) - Apakah doa ini dibaca dengan suara keras?
Jawaban: Tidak, cukup dibaca dalam hati atau berbisik.
(Sumber: Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi)

Kaki yang Dimasukkan Pertama
- Kaki mana yang dimasukkan pertama kali ke kamar mandi?
Jawaban: Kaki kiri.
(Sumber: HR. Muslim no. 605) - Mengapa kaki kiri yang didahulukan?
Jawaban: Karena kamar mandi termasuk tempat yang tidak baik, sehingga kita masuk dengan kaki kiri.
(Sumber: Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi) - Apakah ada dalil khusus tentang ini?
Jawaban: Ya, dari Aisyah RA bahwa Nabi ﷺ masuk kamar mandi dengan kaki kiri.
(Sumber: HR. Ibnu Majah no. 303) - Bagaimana jika terbalik memasukkan kaki?
Jawaban: Tidak membatalkan, tapi menyelisihi sunnah.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah) - Apakah aturan ini berlaku untuk semua jenis kamar mandi?
Jawaban: Ya, baik WC modern maupun tradisional.
(Sumber: Al-Mulakhkhash al-Fiqhi karya Shalih al-Fauzan)

Larangan Membawa Barang Bertuliskan Allah
- Bolehkah membawa Al-Quran ke kamar mandi?
Jawaban: Tidak boleh, karena menghormati kalam Allah.
(Sumber: HR. An-Nasai no. 37) - Bagaimana dengan kalung atau gelang bertuliskan Allah?
Jawaban: Sebaiknya dilepas, karena termasuk mengagungkan nama Allah.
(Sumber: Fatawa Ibnu Baz 10/37) - Apakah boleh membawa handphone yang ada ayat Al-Quran?
Jawaban: Tidak boleh, jika takut tidak bisa menjaganya dari najis.
(Sumber: Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibnu Utsaimin) - Mengapa tidak boleh membawa nama Allah ke kamar mandi?
Jawaban: Karena tidak pantas nama Allah dibawa ke tempat kotor.
(Sumber: Tafsir Ibnu Katsir 4/465) - Bagaimana jika lupa membawa ayat Al-Quran?
Jawaban: Segera keluar dan letakkan di tempat yang layak.
(Sumber: Al-Mughni karya Ibnu Qudamah)
Larangan Berbicara di Dalam
- Bolehkah berbicara atau menjawab salam di kamar mandi?
Jawaban: Tidak boleh, kecuali dalam keadaan darurat.
(Sumber: HR. Abu Dawud no. 16) - Mengapa dilarang berbicara di kamar mandi?
Jawaban: Karena tidak pantas menyebut nama Allah di tempat kotor.
(Sumber: Syarh Sunan Abu Dawud karya al-Azhari) - Bagaimana jika ada yang memberi salam?
Jawaban: Tidak perlu menjawab, nanti dijawab setelah keluar.
(Sumber: HR. Muslim no. 708) - Apakah boleh berzikir dalam hati?
Jawaban: Boleh, asalkan tidak dilisankan.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/99) - Bolehkah mengucapkan “Alhamdulillah” setelah bersin?
Jawaban: Tidak, tunggu sampai keluar dari kamar mandi.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 7/25)
Menutup Aurat di Kamar Mandi
- Apakah harus menutup aurat meski sendirian di kamar mandi?
Jawaban: Ya, karena masih mungkin dilihat oleh jin atau setan.
(Sumber: HR. Abu Dawud no. 4013) - Bagaimana batasan aurat di kamar mandi?
Jawaban: Sama seperti di tempat lain, bagi laki-laki antara pusar sampai lutut, bagi perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
(Sumber: Al-Mughni karya Ibnu Qudamah) - Apakah boleh mandi telanjang bulat?
Jawaban: Tidak boleh, karena Rasulullah ﷺ melarangnya.
(Sumber: HR. Muslim no. 588) - Mengapa aurat harus tetap ditutup?
Jawaban: Untuk menjaga kesopanan dan menghindari pandangan jin.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar) - Bagaimana jika kamar mandi tertutup rapat?
Jawaban: Tetap harus menutup aurat, karena masih ada kemungkinan dilihat makhluk gaib.
(Sumber: Syarh Riyadhus Shalihin karya Ibnu Utsaimin)
Posisi Buang Air
- Bagaimana posisi yang disunnahkan ketika buang air?
Jawaban: Berjongkok, tidak sambil berdiri.
(Sumber: HR. Bukhari no. 140) - Mengapa tidak boleh buang air sambil berdiri?
Jawaban: Karena bisa terkena percikan najis, dan itu tidak sopan.
(Sumber: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi) - Apakah ada keadaan yang membolehkan buang air sambil berdiri?
Jawaban: Ada, jika ada uzur seperti luka atau sakit.
(Sumber: HR. Muslim no. 389) - Ke mana arah menghadap ketika buang air?
Jawaban: Tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya.
(Sumber: HR. Bukhari no. 144) - Mengapa tidak boleh menghadap kiblat?
Jawaban: Untuk mengagungkan kiblat umat Islam.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar)
Larangan Menghadap Kiblat
- Apakah larangan menghadap kiblat berlaku di semua tempat?
Jawaban: Di tempat terbuka mutlak dilarang, di dalam bangunan ada perbedaan pendapat.
(Sumber: HR. Muslim no. 619) - Bagaimana jika terpaksa menghadap kiblat?
Jawaban: Usahakan mengubah arah, jika tidak bisa maka dimaafkan.
(Sumber: Al-Majmu’ karya an-Nawawi) - Apakah larangan ini berlaku untuk buang air kecil dan besar?
Jawaban: Ya, untuk keduanya.
(Sumber: Fatawa Ibnu Taimiyah 21/459) - Mengapa Rasulullah melarang menghadap kiblat?
Jawaban: Sebagai bentuk penghormatan kepada Ka’bah.
(Sumber: Syarh Sunan an-Nasai karya as-Suyuthi) - Bagaimana cara mengetahui arah kiblat di kamar mandi?
Jawaban: Bisa dengan kompas atau aplikasi kiblat sebelum masuk.
(Sumber: Al-Mulakhkhash al-Fiqhi karya Shalih al-Fauzan)
Menjaga Kebersihan dan Istinja
- Apa yang dimaksud istinja?
Jawaban: Membersihkan bekas buang air kecil dan besar.
(Sumber: Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh karya Wahbah az-Zuhaili) - Dengan apa kita beristinja?
Jawaban: Dengan air, atau dengan batu/tisu jika tidak ada air.
(Sumber: HR. Bukhari no. 150) - Berapa kali minimal membersihkan dengan batu?
Jawaban: Minimal tiga kali usapan.
(Sumber: HR. Muslim no. 605) - Mengapa harus dibersihkan sampai benar-benar bersih?
Jawaban: Karena najis dapat membatalkan shalat.
(Sumber: QS. Al-Muddatstsir: 4) - Bagaimana cara istinja yang benar?
Jawaban: Dengan tangan kiri, dari depan ke belakang.
(Sumber: HR. Abu Dawud no. 32)
Beristinja dengan Tangan Kiri
- Mengapa harus menggunakan tangan kiri untuk istinja?
Jawaban: Karena tangan kanan untuk hal-hal yang baik.
(Sumber: HR. Muslim no. 605) - Apakah boleh menggunakan tangan kanan?
Jawaban: Tidak boleh, kecuali dalam keadaan terpaksa.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar) - Bagaimana jika kidal?
Jawaban: Tetap menggunakan tangan kiri untuk istinja.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 29/43) - Mengapa tangan kanan dijaga untuk hal baik?
Jawaban: Untuk menghormati tangan yang digunakan makan dan berjabat tangan.
(Sumber: Syarh Sunan Abu Dawud karya al-Azhari) - Apakah boleh memegang keran dengan tangan kanan?
Jawaban: Boleh, karena tidak langsung bersentuhan dengan najis.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/108)
Larangan Kencing di Air Tergenang
- Mengapa dilarang kencing di air tergenang?
Jawaban: Karena dapat menajiskan air dan menyebarkan penyakit.
(Sumber: HR. Muslim no. 423) - Apakah larangan ini berlaku untuk kolam renang?
Jawaban: Ya, lebih-lebih lagi karena digunakan orang banyak.
(Sumber: Fatawa Ibnu Baz 10/41) - Bagaimana dengan kencing di bak mandi?
Jawaban: Sangat dilarang, karena najis akan bercampur dengan air.
(Sumber: Al-Mughni karya Ibnu Qudamah) - Apa hikmah larangan ini?
Jawaban: Menjaga kebersihan air dan kesehatan masyarakat.
(Sumber: Tafsir al-Qurthubi 5/168) - Bagaimana jika terpaksa tidak ada toilet?
Jawaban: Cari tempat yang tidak mengganggu orang lain dan tidak mencemari air.
(Sumber: Al-Majmu’ karya an-Nawawi)
Doa Keluar Kamar Mandi
- Apa doa ketika keluar kamar mandi?
Jawaban: “Ghufranak, alhamdulillahilladzi adzhaba ‘annil adza wa ‘afani.”
(Sumber: HR. Abu Dawud no. 30) - Apa arti doa keluar kamar mandi?
Jawaban: “Aku minta ampunan-Mu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan menyehatkanku.”
(Sumber: ‘Aunul Ma’bud karya al-Azhim Abadi) - Kaki mana yang keluar lebih dulu?
Jawaban: Kaki kanan.
(Sumber: HR. Ibnu Majah no. 303) - Mengapa kaki kanan didahulukan?
Jawaban: Karena keluar dari tempat kotor menuju tempat bersih.
(Sumber: Syarh Sunan Ibnu Majah karya as-Suyuthi) - Kapan doa ini dibaca?
Jawaban: Setelah keluar dari kamar mandi sebelum melakukan aktivitas lain.
(Sumber: Al-Adzkar karya an-Nawawi)
Mencuci Tangan Setelah Keluar
- Apakah wajib mencuci tangan setelah dari kamar mandi?
Jawaban: Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
(Sumber: HR. Abu Dawud no. 32) - Berapa kali mencuci tangan?
Jawaban: Minimal sekali, tapi lebih baik tiga kali.
(Sumber: Al-Majmu’ karya an-Nawawi) - Mengapa harus mencuci tangan?
Jawaban: Untuk menghilangkan bau dan bekas najis.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar) - Apakah dengan sabun?
Jawaban: Lebih baik, meskipun dengan air saja sudah cukup.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 11/235) - Kapan mencuci tangan?
Jawaban: Setelah keluar dari kamar mandi, sebelum beraktivitas.
(Sumber: Syarh Riyadhus Shalihin karya Ibnu Utsaimin)
Adab Buang Air Kecil
- Bagaimana cara buang air kecil yang benar?
Jawaban: Sambil duduk, tidak berbicara, dan tidak menghadap kiblat.
(Sumber: HR. Bukhari no. 140) - Mengapa lebih baik duduk ketika buang air kecil?
Jawaban: Agar lebih bersih dan terhindar dari percikan.
(Sumber: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi) - Apakah boleh buang air kecil sambil berdiri?
Jawaban: Boleh jika ada kebutuhan, seperti tempat yang kotor.
(Sumber: HR. Muslim no. 389) - Bagaimana memastikan bersih dari najis?
Jawaban: Dengan beristibra (mengeluarkan sisa air kencing).
(Sumber: Al-Mughni karya Ibnu Qudamah) - Apa itu istibra?
Jawaban: Membersihkan sisa air kencing dengan batuk atau berdeham.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar)
Adab di Kamar Mandi Umum
- Bagaimana adab menggunakan kamar mandi umum?
Jawaban: Sama seperti kamar mandi pribadi, plus tidak mengotori tempat.
(Sumber: Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh 1/265) - Apakah boleh berlama-lama di kamar mandi umum?
Jawaban: Tidak, karena mengganggu antrian orang lain.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/112) - Bagaimana menjaga privasi di kamar mandi umum?
Jawaban: Tidak mengintip atau mengganggu orang lain.
(Sumber: HR. Bukhari no. 5789) - Apakah boleh bernyanyi di kamar mandi umum?
Jawaban: Tidak boleh, karena termasuk berbicara yang dilarang.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 7/28) - Bagaimana jika kamar mandi umum kotor?
Jawaban: Bersihkan tempat yang akan digunakan, atau cari yang lain.
(Sumber: Fatawa Ibnu Utsaimin 11/109)
Larangan Menghadap Matahari dan Bulan
- Mengapa dilarang menghadap matahari/bulan ketika buang air?
Jawaban: Karena matahari dan bulan adalah makhluk Allah yang dimuliakan.
(Sumber: HR. Muslim no. 623) - Apakah larangan ini masih berlaku?
Jawaban: Ya, meskipun di dalam kamar mandi tertutup.
(Sumber: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi) - Bagaimana jika terpaksa?
Jawaban: Usahakan menghadap arah lain, jika tidak bisa dimaafkan.
(Sumber: Al-Majmu’ karya an-Nawawi) - Apakah larangan ini untuk buang air besar dan kecil?
Jawaban: Ya, untuk keduanya.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar) - Mengapa kita harus menghormati matahari dan bulan?
Jawaban: Karena keduanya adalah tanda kebesaran Allah.
(Sumber: QS. Fussilat: 37)
Adab Membuang Kotoran Hidung
- Bagaimana adab membuang kotoran hidung di kamar mandi?
Jawaban: Dengan tangan kiri, dan dibuang ke tempat yang disediakan.
(Sumber: HR. Abu Dawud no. 32) - Mengapa harus dengan tangan kiri?
Jawaban: Karena kotoran hidung termasuk najis.
(Sumber: Syarh Sunan Abu Dawud karya al-Azhari) - Apakah boleh membuangnya di lantai?
Jawaban: Tidak boleh, karena dapat mengotori tempat.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 11/240) - Bagaimana jika tidak ada tissue?
Jawaban: Bisa dengan air, lalu dibersihkan.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/115) - Apakah membuang ingus termasuk berbicara?
Jawaban: Tidak, karena bukan perkataan yang bermakna.
(Sumber: Al-Mughni karya Ibnu Qudamah)
Larangan Makan dan Minum di Kamar Mandi
- Bolehkah makan atau minum di kamar mandi?
Jawaban: Tidak boleh, karena tempatnya kotor.
(Sumber: HR. Muslim no. 605) - Mengapa dilarang makan di kamar mandi?
Jawaban: Karena setan ikut makan bersama.
(Sumber: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi) - Bagaimana dengan minum obat?
Jawaban: Boleh jika sangat terpaksa, lalu cepat keluar.
(Sumber: Fatawa Ibnu Baz 10/45) - Apakah boleh mengunyah permen karet?
Jawaban: Tidak boleh, karena termasuk makan.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 7/30) - Bagaimana jika lupa dan minum?
Jawaban: Segera berhenti dan keluar dari kamar mandi.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/118)
Adab Mandi dan Berwudhu
- Bagaimana adab mandi di kamar mandi?
Jawaban: Diawali dengan membaca bismillah, menutup aurat, dan tidak menghadap kiblat.
(Sumber: HR. Bukhari no. 139) - Apakah boleh berwudhu di dalam kamar mandi?
Jawaban: Boleh, asalkan tidak dekat dengan tempat buang air.
(Sumber: Al-Majmu’ karya an-Nawawi) - Mengapa tidak boleh dekat tempat buang air?
Jawaban: Khawatir terkena percikan najis.
(Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar) - Bagaimana jika kamar mandi sempit?
Jawaban: Berwudhu di tempat yang paling jauh dari kloset.
(Sumber: Fatawa Ibnu Utsaimin 11/112) - Apakah boleh membaca doa wudhu di kamar mandi?
Jawaban: Boleh, asalkan tidak keras.
(Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah 7/32)
Penutup Adab di Kamar Mandi
- Apa hikmah mengikuti adab ke kamar mandi?
Jawaban: Mendapatkan pahala, terhindar dari setan, dan menjaga kesehatan.
(Sumber: Syarh Riyadhus Shalihin karya Ibnu Utsaimin) - Apakah anak kecil akan dapat pahala?
Jawaban: Ya, sejak usia mumayyiz (bisa membedakan baik-buruk).
(Sumber: Tuhfatul Maudud karya Ibnu Qayyim) - Bagaimana jika lupa melakukan adab-adab ini?
Jawaban: Tidak apa-apa, tapi usahakan untuk selalu mengingatnya.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/120) - Kapan mulai mengajarkan adab ini kepada anak?
Jawaban: Sejak usia 3 tahun dengan cara yang menyenangkan.
(Sumber: Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Abdullah Nasih Ulwan) - Apa nasihat untuk selalu ingat adab ke kamar mandi?
Jawaban: Jadikan sebagai kebiasaan, karena Islam mengajarkan kesempurnaan dalam segala hal.
(Sumber: HR. Muslim no. 605)
Penutup Materi
Demikianlah adab-adab yang diajarkan Islam ketika kita masuk ke kamar mandi. Meskipun terlihat sederhana, mengikuti adab-adab ini memiliki banyak hikmah dan manfaat. Mari kita biasakan diri dan anak-anak kita untuk selalu mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam setiap aktivitas, termasuk ketika ke kamar mandi. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga kesucian dan kebersihan.
Sumber Referensi Utama
- Al-Quran Al-Karim
- Shahih Bukhari – Imam Bukhari
- Shahih Muslim – Imam Muslim
- Sunan Abu Dawud – Imam Abu Dawud
- Sunan at-Tirmidzi – Imam at-Tirmidzi
- Sunan an-Nasai – Imam an-Nasai
- Sunan Ibnu Majah – Imam Ibnu Majah
- Fathul Bari – Ibnu Hajar al-Asqalani
- Syarh Shahih Muslim – Imam an-Nawawi
- Al-Majmu’ – Imam an-Nawawi
- Al-Mughni – Ibnu Qudamah al-Maqdisi
- Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah – Kementerian Waqaf Kuwait
- Fatawa al-Lajnah ad-Daimah – Komite Fatwa Saudi Arabia
- Majmu’ Fatawa – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
- Fatawa Ibnu Baz – Abdul Aziz bin Baz
- Fatawa Ibnu Utsaimin – Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
- Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh – Wahbah az-Zuhaili
- Tuhfatul Maudud – Ibnu Qayyim al-Jauziyah
- Syarh Riyadhus Shalihin – Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
- Tarbiyatul Aulad fil Islam – Abdullah Nasih Ulwan
Semua sumber di atas merupakan referensi terpercaya dalam Islam yang diakui oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah di seluruh dunia.






















































