Langkah Sunyi Maryam di Tepi Sungai Nil

Loading

Langkah Sunyi Maryam di Tepi Sungai Nil
Download ebook anak PDF bergambar: Janji di Tepian Nil: Kisah Keberanian Ibu Nabi Musa (ebookanak.com)

Langkah Sunyi Maryam di Tepi Sungai Nil

Maryam tidak membiarkan adiknya sendirian. Setelah keranjang kecil itu mulai menjauh mengikuti arus Sungai Nil, ia segera bergerak pelan menyusuri tepi sungai. Dengan hati-hati ia melangkah di antara alang-alang yang tinggi agar tubuhnya tidak terlihat.

Pagi itu sungai tampak tenang, tetapi hati Maryam berdebar kencang. Ia tahu tugasnya sangat penting. Ibunya telah memintanya untuk mengamati dari kejauhan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa saudara perempuan Musa berkata, “Ikutilah dia,” lalu ia mengawasinya dari jauh tanpa mereka sadari (QS. Al-Qasas: 11).

Maryam bukan sekadar kakak. Ia adalah penjaga kecil yang penuh tanggung jawab. Meski usianya masih muda, keberaniannya tumbuh dari iman yang kuat kepada Allah.

Baca juga:  Saat Usia Berapa Tahun, Nabi Muhammad Ditinggal Wafat Ibundanya?

Ia berjalan perlahan agar kakinya tidak menimbulkan suara. Di sekitar sungai mungkin saja ada prajurit Fir’aun yang berpatroli. Sedikit kesalahan bisa membahayakan dirinya dan Musa.

Angin pagi menggerakkan alang-alang, membantu menyamarkan langkahnya. Maryam memanfaatkan keadaan dengan cerdas. Kisah ini mengajarkan bahwa tawakal harus disertai usaha dan kewaspadaan.

Dari balik rerumputan tinggi, ia melihat keranjang itu tetap mengapung dengan stabil. Hatinya sedikit lega. Ia yakin Allah sedang menjaga adiknya melalui cara yang tidak terlihat.

Dalam kehidupan, sering kali Allah menolong hamba-Nya melalui sebab-sebab kecil yang tampak biasa. Alang-alang yang bergoyang, arus sungai yang tenang, dan langkah hati-hati seorang kakak menjadi bagian dari rencana besar-Nya.

Maryam terus mengikuti arah keranjang itu. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lengah. Ketekunannya menunjukkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian.

Baca juga:  Nabi Zakaria Diberi Keturunan Anak di Usia Tua

Sikap Maryam memberi pelajaran berharga bagi anak-anak. Kita mungkin merasa kecil dan tidak berdaya, tetapi ketika kita bertindak dengan niat baik dan kepercayaan kepada Allah, peran kita bisa menjadi sangat berarti.

Di kejauhan, keranjang itu mulai mendekati wilayah taman istana. Maryam semakin waspada. Ia tahu daerah itu dijaga ketat oleh para pelayan dan penjaga kerajaan.

Namun ia tidak menyerah. Ia tetap mengikuti dari jarak aman. Keberanian Maryam bukanlah keberanian yang gegabah, melainkan keberanian yang disertai kebijaksanaan.

Dalam tafsir dijelaskan bahwa Allah menguatkan hati ibunda Musa agar tetap beriman, dan melalui pengawasan Maryam inilah Allah menyiapkan sebab agar Musa kelak kembali kepada ibunya (QS. Al-Qasas: 12–13). Semua berjalan sesuai ketentuan Ilahi.

Baca juga:  Kisah Asmaul Husna Al-Mushowwir: Nabi Daud dan Seekor Ulat

Maryam mungkin belum sepenuhnya memahami rencana besar Allah saat itu. Tetapi ia percaya pada pesan ibunya: percaya pada janji Allah. Dan keyakinan itulah yang membuatnya tetap teguh.

Kisah ini mengajarkan nilai tanggung jawab dalam keluarga. Seorang kakak bisa menjadi pelindung, penolong, dan sumber kekuatan bagi adiknya. Dalam Islam, kerja sama dan saling menjaga adalah bagian dari akhlak mulia.

Langkah-langkah sunyi Maryam di tepi Sungai Nil menjadi saksi bahwa keberanian tidak selalu harus terlihat besar dan dramatis. Terkadang, keberanian adalah kesetiaan dalam diam dan kesabaran dalam pengawasan.

Dan dari keteguhan seorang kakak kecil itu, Allah melanjutkan rencana-Nya yang agung—mengembalikan Musa kepada ibunya dan menjadikannya kelak seorang nabi yang membebaskan kaumnya dari kezaliman. (ebookanak.com)

Loading

💳 Donasi via PayPal 🤲 Dukung via Kitabisa
error: Content is protected !!
Soundbook Learning How to Do Shalat