Ditemukan di Taman Istana: Awal Takdir Besar
- Updated: Februari 12, 2026
![]()

Ditemukan di Taman Istana: Awal Takdir Besar
Keranjang kecil itu akhirnya tersangkut di antara bunga-bunga teratai di taman istana yang megah. Taman itu berada di tepi Sungai Nil, tempat keluarga kerajaan biasa berjalan menikmati pagi. Siapa sangka, di tempat semewah itu, sebuah keranjang sederhana membawa rahasia besar.
Asiyah, istri Fir’aun yang dikenal berhati lembut, sedang berjalan bersama seorang pelayannya. Ia menikmati udara pagi yang segar ketika pandangannya tertuju pada sesuatu yang tidak biasa di antara dedaunan sungai.
“Apa itu?” tanyanya pelan. Keranjang kecil tampak terjepit di antara batang teratai. Asiyah merasa penasaran dan memerintahkan pelayannya untuk mengambilnya dengan hati-hati.
Pelayannya pun turun mendekat ke tepian sungai. Dengan perlahan, ia menarik keranjang itu ke daratan. Keranjang itu tampak tertutup rapat dan dilapisi dengan baik, seolah dibuat dengan penuh perhatian.
Ketika tutupnya dibuka, mereka terkejut. Di dalamnya terbaring seorang bayi laki-laki yang tampan dan bersih. Bayi itu adalah Musa kecil, yang dihanyutkan atas perintah Allah demi keselamatannya.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa keluarga Fir’aun memungutnya dari sungai, agar kelak ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka, tanpa mereka sadari (QS. Al-Qasas: 8). Ini menunjukkan bahwa rencana Allah selalu berjalan, bahkan melalui tangan orang-orang yang tidak mengetahui maksud-Nya.
Hati Asiyah langsung tersentuh. Dalam ayat berikutnya disebutkan bahwa ia berkata, “Ia penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia sebagai anak.” (QS. Al-Qasas: 9).
Kalimat itu menunjukkan kelembutan hati Asiyah. Di tengah istana yang dipenuhi kekuasaan dan kesombongan, Allah menumbuhkan kasih sayang dalam hatinya. Ini mengajarkan bahwa kebaikan dapat tumbuh di mana saja, bahkan di lingkungan yang penuh kezaliman.
Fir’aun mungkin tidak mengetahui bahwa bayi yang kini berada di istananya adalah anak dari kaum yang ia tindas. Ia juga tidak menyadari bahwa kelak bayi itu akan menjadi nabi yang menentangnya.
Peristiwa ini memberi pelajaran besar tentang takdir. Manusia boleh merasa paling kuat, tetapi Allah mampu membalikkan keadaan dengan cara yang tidak terduga.
Bagi anak-anak, kisah ini mengajarkan bahwa Allah dapat mengangkat seseorang dari keadaan paling sulit menuju tempat yang aman. Musa yang tadinya berada di tengah ancaman, kini berada di dalam istana.
Kisah Asiyah juga mengajarkan nilai kasih sayang. Ia tidak memandang bayi itu sebagai musuh atau ancaman. Ia melihatnya sebagai makhluk kecil yang membutuhkan perlindungan.
Dalam sejarah Islam, Asiyah dikenal sebagai wanita salehah yang beriman kepada Allah. Bahkan ia termasuk salah satu wanita terbaik yang disebut dalam hadis sahih. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh lingkungan, tetapi oleh iman dan keteguhan hati.
Keranjang yang awalnya hanyut tanpa arah kini telah sampai pada tujuan yang Allah tetapkan. Sungai Nil menjadi jalan pertemuan antara seorang bayi nabi dan seorang wanita berhati lembut di dalam istana.
Dari taman istana itulah, babak baru kehidupan Musa dimulai. Allah telah memindahkannya dari pelukan ibunya menuju perlindungan yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.
Dan dari peristiwa ini kita belajar bahwa ketika Allah menjaga seseorang, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalangi. Rencana-Nya selalu lebih besar, lebih bijaksana, dan penuh hikmah. (ebookanak.com)



















































