📖 Naskah Dongeng: Anak Gembala dan Serigala
Di sebuah desa kecil di lereng bukit yang subur, hiduplah seorang anak gembala muda. Setiap hari, tugasnya adalah membawa kawanan domba milik warga desa ke padang rumput yang luas untuk mencari makan. Pekerjaan ini sebenarnya sangat penting, namun sang anak gembala sering merasa bosan karena harus duduk sendirian seharian memperhatikan domba-domba yang sedang merumput.
Pada suatu hari, ketika rasa bosannya sudah tidak tertahankan lagi, timbul gagasan jahil di pikirannya untuk mengerjai para penduduk desa. Ia berlari kencang menuju tepi bukit yang menghadap ke pemukiman dan berteriak sekuat tenaga:
Mendengar teriakan panik tersebut, para warga desa langsung menghentikan pekerjaan mereka. Dengan membawa cangkul, kayu, dan sabit, mereka berlari terengah-engah mendaki bukit untuk mengusir serigala dan menyelamatkan anak gembala tersebut.
Namun, ketika warga tiba di puncak bukit dengan napas terengah-engah, mereka tidak menemukan serigala sama sekali. Anak gembala itu justru tertawa terbahak-bahak melihat wajah panik para warga desa. “Kalian tertipu! Aku hanya bercanda!” serunya sambil tertawa seraya menunjuk ke arah warga. Penduduk desa menggerutu kesal dan kembali ke desa dengan perasaan kecewa.
Beberapa hari kemudian, anak gembala itu mengulangi lelucon yang sama. Ia kembali berteriak histeris berpura-pura diserang serigala. Warga desa kembali berlari mendaki bukit untuk menolongnya, tetapi lagi-lagi mereka hanya mendapati sang anak gembala tertawa terbahak-bahak atas kebohongan keduanya. Warga amat marah dan mengingatkannya agar tidak bermain-main dengan peringatan bahaya.
Hingga pada suatu sore ketika matahari mulai terbenam, serigala yang sebenarnya benar-benar muncul dari balik semak-semak hutan. Serigala itu menggeram kelaparan dan mulai menerkam domba-domba. Sang anak gembala menjadi sangat ketakutan. Dengan gemetar dan panik, ia berteriak sekencang-kencangnya:
Warga desa mendengar teriakan itu dari kejauhan. Namun kali ini, mereka saling berpandangan dan menggelengkan kepala. “Ah, anak itu pasti berbohong lagi seperti biasanya. Jangan pedulikan dia,” kata salah seorang warga. Tidak ada satu pun penduduk desa yang datang mendaki bukit.
Akibatnya, serigala itu dengan bebas memangsa banyak domba dan melukai sisanya. Anak gembala itu hanya bisa menangis ketakutan dari atas pohon tanpa ada yang menolong. Malam itu, ia menyadari penyesalan mendalam atas perbuatannya: akibat kebohongan yang terus diulangnya, kata-kata jujurnya tidak lagi dipercayai siapa pun.



















































