Legenda Momotarō: Kisah Anak dari Buah Persik yang Menaklukkan Raksasa Jepang
- Updated: Maret 2, 2026
![]()
Download 200+ Ebook Anak Bergambar Islami & Edukasi Printable PDF

Selamat datang, para petualang cilik!
Apakah kalian pernah membayangkan menemukan seorang bayi di dalam sebuah buah? Atau berteman dengan seekor anjing, monyet, dan burung pegar yang bisa berbicara? Di negeri Sakura, Jepang, ada sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal tentang seorang pemberani bernama Momotarō, atau yang berarti “Anak Laki-Laki Persik”. Kisahnya penuh dengan petualangan, persahabatan, dan keberanian. Mari kita ikuti perjalanan serunya!
Bagian 1: Hadiah dari Sungai
Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang damai di pedalaman Jepang, hiduplah sepasang kakek dan nenek yang sudah tua. Mereka tinggal sederhana di sebuah pondok kecil di tepi hutan. Setiap hari, sang Kakek pergi ke gunung untuk mencari kayu bakar, sementara sang Nenek pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Mereka hidup rukun, namun hati mereka selalu diliputi kesedihan karena tidak memiliki seorang anak pun untuk menemani hari tua mereka.
Pada suatu hari yang cerah, saat sang Nenek sedang asyik membanting pakaian di tepi sungai yang jernih, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh. Sebuah benda besar berwarna merah muda terombang-ambing di atas permukaan air, perlahan-lahan menghampirinya.
“Wah, benda apa itu?” gumam sang Nenek sambil mengernyitkan matanya yang mulai rabun.
Semakin dekat, benda itu ternyata sebuah buah persik! Bukan persik biasa, melainkan persik raksasa, lebih besar dari kedua tangannya jika dijuntaikan. Warnanya merah merona, tampak segar dan menggiurkan. “Astaga, buah persik yang besar sekali! Pasti rasanya manis dan lezat. Ini akan menjadi oleh-oleh yang bagus untuk Kakek,” pikir sang Nenek dengan hati gembira.
Dengan susah payah, ia meraih buah persik itu dan membawanya pulang ke pondok. Ia meletakkannya di atas meja dapur dan tak sabar menunggu sang Kakek pulang. Menjelang sore, sang Kakek pulang sambil memikul seikat kayu bakar. Ia terkejut melihat buah persik sebesar itu.
🛒 Beli Sekarang Sebelum Kehabisan di Shopee

“Wah, Nenek! Dari mana kau dapatkan buah persik raksasa ini?” tanyanya takjub.
“Aku menemukannya terapung di sungai, Kek. Sepertinya ini kiriman dari langit untuk kita,” jawab sang Nenek dengan wajah berseri-seri.
Mereka berdua pun bersiap untuk menyantap buah tersebut. Sang Kakek mengambil pisau besar dan mulai mengupasnya. Namun, baru saja pisau itu menyentuh kulit buah, krekk… buah persik itu terbelah dengan sendirinya menjadi dua. Dan betapa terkejutnya mereka! Dari dalam buah persik itu, muncul cahaya keemasan yang menyilaukan. Di tengah belahan buah, duduklah seorang bayi laki-laki yang montok, lucu, dan sehat.
Bayi itu tersenyum lebar kepada mereka dan berkata dengan suara yang jelas, “Para dewa di kayangan tahu betapa baik hati dan sedihnya kalian karena tidak memiliki anak. Maka mereka mengirimku untuk menjadi putra kalian.”
Sang Kakek dan Nenek terharu setengah mati. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka yang keriput. Mereka menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang. Mereka menamainya Momotarō. Momo berarti “persik”, dan Tarō adalah panggilan umum untuk anak laki-laki sulung di Jepang. Sejak hari itu, kehidupan mereka dipenuhi dengan tawa dan kebahagiaan.
Bagian 2: Momotarō Tumbuh Menjadi Pemuda Pemberani
Momotarō tumbuh dengan sangat cepat. Ia bukan hanya anak yang lucu, tetapi juga sangat kuat, pemberani, dan berhati baik. Ia selalu membantu orang tuanya. Konon, di usianya yang baru menginjak lima tahun, ia sudah bisa menebang pohon besar yang lebat hanya dengan kapak tua milik kakeknya. Berita tentang kekuatan dan kebaikan Momotarō menyebar ke seluruh desa. Semua orang menyukainya.
Tahun berganti tahun, Momotarō tumbuh menjadi seorang pemuda yang tegap dan gagah. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya. Sejak kecil, ia sering mendengar cerita dari penduduk desa tentang sekelompok Oni (raksasa jahat atau iblis) yang tinggal di sebuah pulau bernama Onigashima (Pulau Iblis). Oni-Oni itu sering datang ke daratan, menyerang desa-desa, mencuri harta benda, menculik orang, dan membuat semua penduduk ketakutan. Mereka bertanduk di kepala, bertaring tajam, dan berkulit merah atau biru.
Suatu malam, Momotarō berkata kepada orang tuanya, “Ayah, Ibu, aku sudah dewasa. Aku tidak tahan melihat penderitaan penduduk desa kita. Aku harus pergi ke Onigashima untuk mengalahkan Oni-Oni jahat itu dan membawa pulang kedamaian.”
Sang Kakek dan Nenek awalnya terkejut dan sedih. Mereka khawatir Momotarō akan terluka. Namun, mereka tahu bahwa Momotarō telah dewasa dan memiliki tekad yang bulat. Mereka pun merestuinya.
“Izamu, anakku,” kata sang Nenek sambil menyiapkan perbekalan. “Ibu akan membuatkanmu kibi dango (onde-onde atau pangsit dari jawawut) yang paling enak di seluruh Jepang. Ini adalah makanan special yang akan memberimu kekuatan.”
Sang Kakek menghadiahinya sebuah pedang pusaka keluarga. “Bawalah pedang ini, Nak. Gunakanlah untuk menumpas kejahatan.”
Keesokan paginya, dengan berbekal sekantong kibi dango di pinggang dan pedang terselip di pinggang, Momotarō berpamitan. “Ayah, Ibu, doakan aku. Aku akan segera kembali sebagai pemenang!” serunya penuh semangat. Sang Kakek dan Nenek melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca hingga bayangan Momotarō hilang di ujung jalan.
Bagian 3: Tiga Orang Sakti Pengikut Setia
Momotarō berjalan sendirian menyusuri jalan setapak menuju arah timur, di mana legenda mengatakan Onigashima berada. Perjalanannya melewati hutan lebat dan lembah yang dalam.
Saat ia beristirahat di bawah pohon rindang, tiba-tiba seekor anjing besar muncul dari semak-semak. Anjing itu menggeram, memperlihatkan taringnya yang tajam. Namun, Momotarō tidak gentar.
“Guk guk! Dasar manusia! Berikan aku semua bekal makananmu, atau aku akan menggigitmu!” hardik anjing itu dengan galak.
Momotarō tersenyum tenang. “Tenanglah, kawan. Aku Momotarō. Aku sedang dalam perjalanan penting untuk mengalahkan Oni di Onigashima. Jika kau mau melepaskan niat jahatmu dan bergabung denganku, aku akan memberimu kibi dango paling lezat ini. Satu butir saja akan membuatmu kuat seperti seratus ekor anjing!”
Mendengar nama Momotarō dan mencium aroma kibi dango, anjing itu langsung berubah sikap. Ekornya bergoyang riang. “Momotarō? Yang ksatria dari desa seberang itu? Baiklah, aku akan mengikutimu! Beri aku dango-nya!” kata si anjing. Momotarō memberinya satu butir kibi dango. Setelah memakannya, si anjing menjadi teman setianya yang pertama.
Mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, seekor monyet coklat melompat dari dahan pohon dan menghadang mereka. Monyet itu meminta kibi dango dengan cara yang sedikit nakal. Momotarō pun kembali menjelaskan tujuannya. Monyet yang cerdik itu langsung tertarik.
“Petualangan melawan Oni? Kedengarannya seru! Aku punya teman di Onigashima, yaitu para burung. Tapi untuk urusan bertarung, aku ikut! Beri aku satu dango!” Maka bergabunglah si monyet sebagai pengikut kedua.
Kini rombongan kecil mereka bertiga. Mereka berjalan hingga tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba, seekor burung pegar jantan dengan bulu ekor yang indah terbang rendah dan hinggap di depan mereka. Burung pegar itu menatap kantong di pinggang Momotarō.
Momotarō, yang sudah berpengalaman, langsung menawarkan, “Hai, burung pegar yang gagah. Mau ikut denganku ke Onigashima? Aku punya kibi dango yang bisa membuatmu terbang lebih tinggi dari awan.”
Si burung pegar berkokok setuju. “Kurrr… aku bisa terbang tinggi dan melihat pulau itu dari kejauhan. Aku akan menjadi pengintaimu! Aku ikut!” Maka lengkaplah sudah tiga orang sahabat setia Momotarō: si Anjing yang setia, si Monyet yang lincah, dan si Burung Pegar yang waspada.
Bagian 4: Pertempuran di Pulau Onigashima
Dengan dipandu oleh si Burung Pegar dari udara, mereka berlayar menggunakan perahu kecil yang mereka temukan di tepi pantai. Setelah menempuh ombak besar dan angin kencang, akhirnya mereka tiba di sebuah pulau gelap yang diselimuti kabut. Di tengah pulau itu, berdiri sebuah benteng besar dengan pintu gerbang besi yang kokoh. Itulah Onigashima.
Di dalam benteng, terdengar suara ribut-ribut dan nyanyian mabuk dari para Oni yang sedang berpesta pora merayakan hasil jarahan mereka.
Momotarō segera menyusun strategi. “Burung Pegar, kau terbang masuk dari atas dan mengacak-acak pesta mereka dari atap! Monyet, kau memanjat pagar dan membuka pintu gerbang dari dalam! Anjing, kau ikut aku menerjang dari depan!” perintah Momotarō penuh semangat.
Serangan pun dimulai! Si Burung Pegar terbang rendah dan mematuki mata para Oni yang sedang berjaga di menara. Si Monyet dengan lincah memanjat tembok benteng, lalu membuka pintu gerbang besar dari dalam. Kreeeak! Pintu terbuka.
“Serbuuu!” teriak Momotarō sambil menghunus pedangnya. Ia bersama si Anjing yang ganas menerobos masuk ke halaman benteng. Para Oni yang sedang mabuk terkejut bukan kepalang. Mereka meraih pentung besi masing-masing dan mencoba melawan.
Terjadilah pertarungan sengit. Namun, berkat kekuatan kibi dango dan kerja sama tim yang kompak, para penyerbu kecil itu mampu mengalahkan Oni satu per satu. Si Monyet mencakar-cakar muka mereka, si Anjing menggigit kaki mereka hingga terjatuh, si Burung Pegar mematuk dari atas, dan Momotarō mengayunkan pedangnya dengan gagah berani memukul mundur setiap serangan.
Melihat pasukannya kocar-kacir, pemimpin para Oni, raksasa jahat paling besar dan mengerikan, maju ke depan. Tubuhnya tinggi menjulang, matanya melotot merah, dan ia mengacung-acungkan pentung besi raksasa. Namun, Momotarō tidak gentar. Ia menghadapi pemimpin Oni itu dengan gagah berani. Pertarungan satu lawan satu pun tak terhindarkan.
Dengan kelincahan dan kecerdikannya, Momotarō berhasil menghindari setiap ayunan pentung raksasa itu. Hingga akhirnya, ia menemukan celah. Byuur! Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan pedangnya dan berhasil memotong salah satu tanduk pemimpin Oni itu — sumber kekuatan para Oni.
“Aduuuuh!” raung pemimpin Oni itu kesakitan sambil terjatuh. Tanduknya patah, kekuatannya pun lenyap.
Bagian 5: Kemenangan dan Pulang ke Rumah
Pemimpin Oni itu menyerah kalah. Para Oni lainnya yang melihat pemimpin mereka tak berdaya segera meletakkan senjata dan bersimpuh di hadapan Momotarō.
“Ampuni kami, Momotarō yang agung!” pinta pemimpin Oni itu. “Kami berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu desa-desa di daratan. Ambillah semua harta kami sebagai ganti rugi!”
Momotarō, yang berhati mulia, bersedia memaafkan mereka asalkan mereka benar-benar bertobat. Para Oni pun menyerahkan peti-peti harta karun yang penuh dengan emas, perak, permata, dan benda-benda pusaka berharga lainnya yang telah mereka rampas selama bertahun-tahun.
Momotarō dan ketiga sahabatnya membawa harta karun itu dan kembali ke desa mereka. Kedatangan mereka disambut dengan suka cita yang luar biasa oleh seluruh penduduk desa. Sang Kakek dan Nenek berlari memeluk Momotarō dengan air mata haru.
Momotarō tidak hanya membawa pulang harta karun, tetapi yang terpenting adalah kedamaian dan kebahagiaan bagi desa dan orang tuanya. Seluruh penduduk desa mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kepulangan sang pahlawan.
Sang Anjing, Monyet, dan Burung Pegar pun ikut tinggal bersama Momotarō dan menjadi bagian dari keluarga besar yang bahagia. Mereka hidup dengan makmur dan damai untuk selama-lamanya. Legenda Momotarō, si Anak Persik yang pemberani, diceritakan turun-temurun hingga sekarang sebagai simbol keberanian, kebaikan hati, dan kekuatan persahabatan.
Pesan Moral dari Cerita Momotarō:
- Keberanian dan Keteguhan Hati: Momotarō mengajarkan kita untuk tidak takut menghadapi tantangan dan membela kebenaran, meskipun musuh yang dihadapi tampak lebih besar dan kuat.
- Bakti kepada Orang Tua: Momotarō adalah anak yang berbakti. Ia pergi berjuang bukan hanya untuk desanya, tetapi juga untuk melindungi orang tua yang sangat menyayanginya.
- Kekuatan Persahabatan dan Kerja Sama: Dengan bersahabat dan bekerja sama, meskipun berbeda (manusia, anjing, monyet, burung), mereka bisa mengalahkan musuh yang jauh lebih besar. Tidak ada yang mustahil jika dilakukan bersama-sama.
- Kebaikan Hati: Kebaikan Momotarō dalam berbagi kibi dango dan memperlakukan hewan-hewan sebagai teman, membawanya pada kesuksesan.
Apakah kalian juga ingin menjadi pemberani seperti Momotarō? Mulailah dengan hal-hal kecil di sekitarmu, ya!
25 Soal Tanya Jawab (Q&A) Seputar Cerita Momotarō
Legenda Anak dari Buah Persik yang Paling Terkenal di Jepang
A. Pertanyaan tentang Tokoh dan Karakter
1. Siapakah tokoh utama dalam cerita Momotarō?
Jawaban: Tokoh utama dalam cerita ini adalah Momotarō, seorang anak laki-laki pemberani yang lahir dari dalam buah persik.
2. Apa arti nama “Momotarō” dalam bahasa Jepang?
Jawaban: Momotarō terdiri dari dua kata, yaitu “Momo” yang berarti buah persik, dan “Tarō” yang merupakan panggilan umum untuk anak laki-laki sulung di Jepang. Jadi, Momotarō berarti “Anak Laki-Laki Persik”.
3. Siapa yang pertama kali menemukan buah persik raksasa di sungai?
Jawaban: Sang Nenek yang sedang mencuci pakaian di sungai adalah orang yang pertama kali melihat dan menemukan buah persik raksasa itu.
4. Siapa nama orang tua angkat Momotarō?
Jawaban: Orang tua angkat Momotarō adalah sepasang kakek dan nenek yang sudah tua dan tinggal di desa kecil di pedalaman Jepang. Mereka tidak disebutkan namanya secara spesifik dalam cerita, hanya dipanggil “Kakek” dan “Nenek”.
5. Siapakah musuh yang ingin dikalahkan oleh Momotarō?
Jawaban: Musuh yang ingin dikalahkan oleh Momotarō adalah para Oni, yaitu raksasa jahat atau iblis yang tinggal di pulau bernama Onigashima. Mereka sering menyerang desa, mencuri harta, dan menculik orang.
B. Pertanyaan tentang Alur Cerita
6. Di mana kakek dan nenek tinggal?
Jawaban: Kakek dan nenek tinggal di sebuah desa kecil yang damai di pedalaman Jepang, tepatnya di sebuah pondok sederhana di tepi hutan.
7. Apa pekerjaan kakek setiap hari?
Jawaban: Setiap hari, sang Kakek pergi ke gunung untuk mencari dan mengumpulkan kayu bakar.
8. Apa pekerjaan nenek setiap hari?
Jawaban: Setiap hari, sang Nenek pergi ke sungai untuk mencuci pakaian.
9. Bagaimana cara bayi Momotarō ditemukan?
Jawaban: Bayi Momotarō ditemukan setelah nenek membawa pulang buah persik raksasa. Saat kakek hendak memotong buah tersebut, buah persik itu terbelah dengan sendirinya dan mengeluarkan cahaya keemasan, lalu tampaklah bayi laki-laki di dalamnya.
10. Apa yang dikatakan bayi Momotarō saat pertama kali ditemukan?
Jawaban: Bayi Momotarō berkata, “Para dewa di kayangan tahu betapa baik hati dan sedihnya kalian karena tidak memiliki anak. Maka mereka mengirimku untuk menjadi putra kalian.”
11. Mengapa Momotarō memutuskan untuk pergi ke Onigashima?
Jawaban: Momotarō memutuskan pergi ke Onigashima karena ia tidak tahan melihat penderitaan penduduk desa yang selalu diteror oleh para Oni. Ia ingin mengalahkan Oni-Oni jahat itu dan membawa pulang kedamaian.
12. Apa bekal yang diberikan nenek kepada Momotarō sebelum berangkat?
Jawaban: Sang Nenek memberikan kibi dango, yaitu onde-onde atau pangsit yang terbuat dari jawawut. Makanan ini diyakini dapat memberikan kekuatan.
13. Apa hadiah dari kakek untuk Momotarō?
Jawaban: Sang Kakek memberikan sebuah pedang pusaka keluarga untuk digunakan Momotarō menumpas kejahatan.
C. Pertanyaan tentang Pengikut Momotarō
14. Siapa pengikut pertama yang bergabung dengan Momotarō?
Jawaban: Pengikut pertama Momotarō adalah seekor anjing yang awalnya bersikap galak dan ingin merampas makanan Momotarō.
15. Bagaimana cara Momotarō mendapatkan kesetiaan si anjing?
Jawaban: Momotarō menawarkan kibi dango kepada si anjing dan mengajaknya bergabung dalam misi mengalahkan Oni di Onigashima. Setelah memakan kibi dango, si anjing menjadi teman setianya.
16. Siapa pengikut kedua yang bergabung?
Jawaban: Pengikut kedua Momotarō adalah seekor monyet coklat yang cerdik dan lincah.
17. Siapa pengikut ketiga yang bergabung?
Jawaban: Pengikut ketiga Momotarō adalah seekor burung pegar jantan dengan bulu ekor yang indah.
18. Apa peran burung pegar dalam tim Momotarō?
Jawaban: Burung pegar berperan sebagai pengintai karena ia bisa terbang tinggi dan melihat pulau Onigashima dari kejauhan. Saat pertempuran, ia juga menyerang dari atas.
19. Apa peran monyet dalam tim Momotarō saat menyerang benteng?
Jawaban: Monyet bertugas memanjat pagar benteng dan membuka pintu gerbang dari dalam agar Momotarō dan anjing bisa masuk.
D. Pertanyaan tentang Pertempuran dan Akhir Cerita
20. Di manakah para Oni tinggal?
Jawaban: Para Oni tinggal di sebuah pulau bernama Onigashima, yang berarti “Pulau Iblis”. Pulau ini digambarkan gelap dan diselimuti kabut, dengan benteng besar di tengahnya.
21. Apa yang dilakukan para Oni saat Momotarō dan pasukannya tiba?
Jawaban: Para Oni sedang berpesta pora, mabuk-mabukan, dan merayakan hasil jarahan mereka, sehingga mereka lengah dan tidak siap diserang.
22. Bagaimana cara Momotarō mengalahkan pemimpin para Oni?
Jawaban: Momotarō berhasil memotong salah satu tanduk pemimpin Oni dengan pedangnya. Tanduk itu merupakan sumber kekuatan para Oni, sehingga setelah patah, pemimpin Oni menjadi lemah dan menyerah.
23. Apa yang diminta para Oni setelah kalah?
Jawaban: Para Oni meminta ampun kepada Momotarō dan berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu desa-desa di daratan. Mereka juga menawarkan semua harta karun mereka sebagai ganti rugi.
24. Apa yang dibawa pulang Momotarō ke desanya?
Jawaban: Momotarō membawa pulang harta karun berupa emas, perak, permata, dan benda-benda pusaka yang telah dirampas para Oni. Yang terpenting, ia membawa pulang kedamaian bagi desa dan orang tuanya.
25. Apa pesan moral utama dari cerita Momotarō?
Jawaban: Pesan moral utama dari cerita Momotarō antara lain:
- Keberanian untuk menghadapi tantangan dan membela kebenaran.
- Bakti kepada orang tua dengan melindungi mereka.
- Kekuatan persahabatan dan kerja sama tim yang solid dapat mengalahkan musuh yang lebih besar.
- Kebaikan hati dalam memperlakukan makhluk lain akan membawa kebaikan pula.
E. Pertanyaan Bonus (Pemahaman Lebih Dalam)
26. Menurutmu, mengapa para dewa memilih buah persik sebagai tempat lahir Momotarō?
Jawaban: (Jawaban dapat bervariasi) Di Jepang dan banyak budaya Asia, buah persik sering dianggap sebagai buah suci yang melambangkan umur panjang, kesuburan, dan keberuntungan. Memilih buah persik sebagai tempat lahir menunjukkan bahwa Momotarō adalah anak istimewa yang membawa berkah dan keberuntungan.
27. Apa yang membuat Momotarō berbeda dari anak-anak seusianya?
Jawaban: Momotarō tumbuh dengan sangat cepat dan memiliki kekuatan luar biasa. Bahkan di usia lima tahun, ia sudah bisa menebang pohon besar. Ia juga memiliki jiwa kepemimpinan, keberanian, dan kebaikan hati yang besar.
28. Mengapa para hewan mau mengikuti Momotarō?
Jawaban: Selain karena iming-iming kibi dango yang lezat, para hewan juga terinspirasi oleh tekad mulia Momotarō untuk mengalahkan kejahatan. Mereka melihat kebaikan hati dan keberaniannya, sehingga termotivasi untuk membantu.
29. Apa yang akan terjadi jika Momotarō bertarung sendirian tanpa bantuan hewan-hewan itu?
Jawaban: (Jawaban dapat bervariasi) Momotarō mungkin tetap bisa bertarung karena ia kuat, tetapi akan jauh lebih sulit. Ia tidak memiliki pengintai seperti burung pegar, tidak bisa membuka pintu gerbang dengan cepat seperti monyet, dan tidak memiliki penyerang tambahan seperti anjing. Kerja sama tim membuat misi mereka lebih mudah dan efektif.
30. Perubahan apa yang terjadi di desa setelah Momotarō kembali?
Jawaban: Desa menjadi damai dan bahagia karena tidak ada lagi teror dari para Oni. Penduduk desa mengadakan pesta besar untuk merayakan kepulangan Momotarō. Mereka hidup makmur dengan harta karun yang dibagikan dan kehidupan menjadi lebih tenteram.
Selamat! Kamu sudah menyelesaikan semua pertanyaan tentang legenda Momotarō. Semoga semakin paham dan terinspirasi dengan kisahnya, ya!




















































