50 Kuis Keutamaan Sedekah: Dalil, Hikmah, dan Rahasia Pahala Berlipat dalam Islam
- Updated: Februari 23, 2026
![]()
Download 200+ Ebook Anak Bergambar PDF Printable

Abadikan hartamu dengan donasi, infaq, dan sedekah jariyah membantu ebookanak.com dan elibrary.id update konten setiap hari.
Seorang pengemis menemui Rasulullah Saw. “Berilah hamba sedekah.”
Rasul Saw. lalu memberinya makanan.
Keesokan harinya ia datang lagi meminta sedekah.
Kali ini Rasul Saw. memberinya beberapa uang dirham.
Keesokan harinya, pengemis itu datang lagi meminta sedekah dan kali ini Rasulullah memberinya sebuah kapak.
Pengemis itu keheranan.

“Gunakan kapak ini untuk menebang pohon, membelah kayu, dan pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu bisa menghasilkan nafkah bagimu dan keluargamu,” kata Rasul Saw.
Pengemis itu pergi.
Ia merasa malu menjadi pengemis.
Sejak saat itu ia tidak pernah mengemis lagi.
Ia menggunakan kapak itu untuk bekerja mencari nafkah. ***
Keutamaan Bekerja
- Nafkah kepada keluarga lebih utama dari sedekah sunnah.
- Jika mencari nafkah dengan ikhlas, akan menuai pahala besar.
- Memberi nafkah termasuk sedekah.
- Harta yang dinafkahi semakin barokah dan akan diberi ganti.
- Memperhatikan nafkah keluarga akan mendapat penghalang dari siksa neraka.
Sumber dan Kontributor:
- Naskah: Kak Nurul Ihsan
- Ilustrasi: Uci Ahmad Sanusi
- Desain layout: Yuyus Rusamsi
- Penerbit: Smart Books, Bandung, Indonesia
- Copyright/hak cipta: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

25 KUIS TANYA JAWAB: KEUTAMAAN SEDEKAH DALAM ISLAM
Disclaimer: Seluruh materi dalam kuis ini disusun berdasarkan sumber-sumber kredibel seperti Al-Qur’an, kitab hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim, serta portal keislaman terpercaya (BAZNAS, MUI, NU Online). Tujuan pembuatan kuis ini adalah untuk edukasi dan pembelajaran tentang keutamaan sedekah bagi seluruh anggota keluarga.
KATA PENGANTAR
Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ia tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga memberikan berbagai manfaat spiritual bagi pemberinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas, serta berbagai keutamaan lainnya baik di dunia maupun di akhirat.
Buku kuis ini hadir untuk menguji sekaligus menambah wawasan kita tentang keutamaan sedekah dalam Islam. Melalui 25 pertanyaan tanya jawab yang dilengkapi pembahasan mendalam, pembaca diajak untuk memahami berbagai aspek terkait sedekah, mulai dari pengertian, keutamaan, prioritas penerima, hingga adab-adab dalam bersedekah.
Setiap soal telah disusun berdasarkan sumber-sumber yang valid dan kredibel, merujuk pada Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, serta pendapat para ulama terpercaya. Dengan demikian, selain berfungsi sebagai alat evaluasi pemahaman, buku ini juga dapat menjadi media pembelajaran yang efektif bagi seluruh anggota keluarga.
Selamat mengerjakan kuis, semoga bertambah kecintaan kita untuk bersedekah dan meraih keutamaan-keutamaannya.
PANDUAN MENGGUNAKAN KUIS
- Setiap soal terdiri dari satu pertanyaan yang harus Anda jawab
- Bacalah pertanyaan dengan seksama, kemudian pikirkan jawabannya
- Setelah itu, bacalah pembahasan untuk memahami dalil dan penjelasan lengkapnya
- Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di bagian akhir
- Hitung skor Anda dan lihat kategori penguasaan materi di bagian rangkuman
SOAL 1-10: PENGERTIAN DAN KEUTAMAAN DASAR SEDEKAH
Soal 1
Pertanyaan: Apa pengertian sedekah dalam Islam?
Jawaban:
Sedekah secara bahasa berasal dari kata “shadaqah” yang berarti kebenaran atau pemberian ikhlas dari hati yang bersih . Secara istilah, sedekah adalah pemberian hak milik ketika hidup tanpa mengharapkan pembalasan, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencari keridhaan-Nya .
Pembahasan:
Ibn Manzur dalam Lisan al-‘Arab mendefinisikan sedekah sebagai satu pemberian yang diniatkan karena Allah SWT kepada golongan fakir yang memerlukan . Sedekah secara umum mencakup amalan sunnah maupun yang fardhu. Jika bersifat fardhu, ia dikenal dengan istilah zakat. Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bukti kebenaran iman seseorang, karena ia rela mengorbankan harta yang dicintainya demi mengharap ridha Allah .
Soal 2
Pertanyaan: Bagaimana ganjaran orang yang bersedekah di jalan Allah menurut Al-Qur’an?
Jawaban:
Allah akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah di jalan-Nya hingga 700 kali lipat, bahkan lebih sesuai kehendak Allah .
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan melipatgandakan pahala sedekah dengan perbandingan 1:700, bahkan bisa lebih dari itu sesuai kehendak Allah. Ini adalah bentuk kemurahan Allah kepada hamba-Nya yang mau berinfak di jalan-Nya .
Soal 3
Pertanyaan: Apa fungsi sedekah terhadap dosa-dosa kecil?
Jawaban:
Sedekah dapat menghapus dosa-dosa kecil sebagaimana air memadamkan api .
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadits ini memberikan motivasi besar bagi kaum muslimin untuk memperbanyak sedekah. Setiap kali seseorang berbuat dosa, maka sedekah dapat menjadi pembersih dan penghapus dosa tersebut, tentunya dengan disertai taubat dan istighfar. Semakin ikhlas seseorang dalam bersedekah, maka semakin besar pula manfaat yang akan ia dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat .
Soal 4
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan sedekah jariyah?
Jawaban:
Sedekah jariyah adalah sedekah yang pahalanya terus mengalir meskipun pemberinya telah meninggal dunia, karena manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain .
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud sedekah jariyah dalam hadits ini adalah wakaf . Contoh sedekah jariyah antara lain: membangun masjid, sekolah, rumah sakit, sumur, menanam pohon yang bermanfaat, atau mewakafkan Al-Qur’an. Semua amalan ini pahalanya akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain.
Soal 5
Pertanyaan: Apakah sedekah dapat melindungi seseorang dari api neraka?
Jawaban:
Ya, sedekah dapat menjadi pelindung dari api neraka, meskipun hanya dengan sedekah sebiji kurma atau sesuatu yang kecil .
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa sekecil apapun sedekah yang diberikan, ia memiliki nilai besar di sisi Allah dan dapat menjadi penyebab seseorang terhindar dari siksa neraka. Ini adalah bentuk kemurahan Allah yang memberikan pahala besar untuk amalan yang tampaknya kecil. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi dalam bersedekah, meskipun dengan jumlah yang sedikit .
Soal 6
Pertanyaan: Apa hukum bersedekah bagi orang yang masih memiliki utang?
Jawaban:
Orang yang memiliki utang dianjurkan untuk mendahulukan pelunasan utangnya sebelum bersedekah. Bahkan sebagian ulama menyatakan haram bersedekah jika dapat menyebabkan tidak mampu membayar utang .
Pembahasan:
Para ulama sepakat bahwa membayar utang harus didahulukan daripada sedekah sunnah. Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya menyatakan:
“Barangsiapa yang bersedekah sementara dia membutuhkan, keluarganya membutuhkan atau dia memiliki utang, maka utangnya lebih layak dia lunasi sebelum sedekah… Maka sedekah ini tertolak baginya.”
Ibnu Qudamah juga menegaskan: “Siapa yang memiliki utang, tidak boleh bersedekah yang menyebabkan dia tidak bisa membayar utang. Karena membayar utang itu wajib yang tidak boleh dia tinggalkan.”
Namun jika utangnya jatuh tempo masih jauh dan ada kepastian bisa melunasinya, maka bersedekah diperbolehkan. Ini berdasarkan prinsip “mendahulukan yang wajib sebelum yang sunnah” .
Soal 7
Pertanyaan: Kapan waktu terbaik untuk bersedekah?
Jawaban:
Waktu terbaik untuk bersedekah adalah ketika seseorang dalam keadaan sehat, masih sangat menginginkan harta tersebut, dan khawatir akan kemiskinan di masa depan .
Pembahasan:
Dalam hadits disebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah dari orang yang serba kekurangan atau sedekah di masa sulit . Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah yang paling utama adalah yang dikeluarkan ketika keadaan sehat, masih sangat menginginkan harta, dan khawatir miskin. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Bukhari no. 1426 dan Muslim no. 1034)
Hadits ini mengajarkan bahwa bersedekah ketika kita masih sehat dan kuat lebih utama daripada bersedekah saat menjelang ajal atau saat sudah tidak mampu memanfaatkan harta. Ini menunjukkan keutamaan bersegera dalam kebaikan.
Soal 8
Pertanyaan: Mana yang lebih utama, sedekah secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan?
Jawaban:
Sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama karena lebih mendekati keikhlasan dan menjauhkan dari riya. Namun sedekah terang-terangan juga baik jika bertujuan untuk mengajak orang lain bersedekah .
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 271:
إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Dalam hadits tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, disebutkan salah satunya:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
“Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa bersedekah secara terang-terangan diperbolehkan bahkan bernilai tambah jika ada tujuan maslahat seperti mengajak orang lain untuk bersedekah. Yang terpenting adalah niat ikhlas karena Allah .
Soal 9
Pertanyaan: Apakah sedekah dapat memperpanjang umur dan menambah rezeki?
Jawaban:
Ya, sedekah dapat menjadi sebab bertambahnya umur dan rezeki, serta mencegah dari kematian dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang buruk) .
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتَزِيدُ فِي الْعُمُرِ وَتَمْنَعُ مِيتَةَ السُّوءِ
“Sesungguhnya sedekah dapat menambah umur dan mencegah dari mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang buruk).” (HR. Thabrani)
Secara logika, sedekah tidak mengubah takdir yang telah ditetapkan Allah. Namun para ulama menjelaskan bahwa sedekah termasuk amalan yang dapat menjadi sebab Allah memberikan keberkahan dalam hidup, termasuk keberkahan umur dan rezeki. Sedekah juga dapat menjadi penghalang dari berbagai musibah dan keburukan .
Rasulullah juga bersabda: “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan.” (HR. Thabrani)
Soal 10
Pertanyaan: Apa fungsi sedekah terhadap panasnya kubur?
Jawaban:
Sedekah dapat memadamkan panasnya kubur bagi orang yang melakukannya .
Pembahasan:
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Amir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ
“Sesungguhnya sedekah pasti bisa meredam orang-orang yang melaksanakannya dari hawa panasnya kubur.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Kubur adalah alam barzah yang penuh dengan berbagai ujian dan kesulitan. Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas di dunia akan menjadi penerang dan pendingin bagi penghuninya di alam kubur. Ini menunjukkan betapa besar manfaat sedekah, tidak hanya untuk kehidupan dunia tetapi juga untuk kehidupan setelah mati.
SOAL 11-20: PRIORITAS PENERIMA SEDEKAH
Soal 11
Pertanyaan: Kepada siapakah sedekah sebaiknya diprioritaskan?
Jawaban:
Sedekah sebaiknya diprioritaskan kepada keluarga terdekat yang menjadi tanggungan nafkah, kemudian kerabat, baru kemudian orang lain .
Pembahasan:
Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab menyatakan:
أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْأَقَارِبِ أَفْضَلُ مِنْ الْأَجَانِبِ
“Ulama sepakat bahwa sedekah kepada sanak kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain.”
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya sedekah apa yang paling utama:
جُهْدِ الْمُقِلِّ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah orang sedikit harta. Utamakanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Prioritas sedekah berdasarkan hadits-hadits adalah: diri sendiri, keluarga (istri dan anak), kerabat, kemudian orang lain. Memberi nafkah kepada keluarga adalah sedekah yang paling utama karena merupakan kewajiban .
Soal 12
Pertanyaan: Berapa pahala yang didapat jika bersedekah kepada kerabat?
Jawaban:
Orang yang bersedekah kepada kerabat akan mendapatkan dua pahala sekaligus: pahala sedekah dan pahala menjaga silaturahim .
Pembahasan:
Dalam hadits riwayat Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
“Sedekah kepada orang miskin (bernilai) satu sedekah. Tetapi sedekah kepada kerabat (bernilai) dua sedekah, pertama pahala sedekah, kedua pahala (menjaga) silaturahim.” (HR. Nasa’i dan Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa bagi mereka yang memberikan sedekah kepada kerabatnya. Selain mendapatkan pahala sedekah, ia juga mendapatkan pahala tambahan karena telah menyambung tali persaudaraan. Ini adalah motivasi agar kita tidak melupakan keluarga dan kerabat dalam berbagi rezeki.
Soal 13
Pertanyaan: Dalam sebuah hadits, Zainab istri Abdullah bin Mas’ud bertanya tentang sedekah kepada suami dan anaknya. Apa jawaban Rasulullah?
Jawaban:
Rasulullah membenarkan pernyataan Ibnu Mas’ud bahwa suami dan anaknya lebih berhak menerima sedekah daripada orang lain, dan mereka akan mendapat dua pahala sekaligus .
Pembahasan:
Kisah lengkapnya diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud, datang kepada Rasulullah untuk bertanya tentang sedekah. Ia berkata:
“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan bersedekah hari ini. Aku memiliki perhiasan, dan aku ingin mensedekahkannya. Namun Ibnu Mas’ud (suamiku) mengira bahwa dia dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku daripada orang lain.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ
“Benar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud. Suami dan anakmu lebih berhak engkau beri sedekah daripada orang lain.” (HR. Bukhari no. 1462)
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa mereka akan mendapat dua pahala: pahala sedekah dan pahala menjaga kekerabatan .
Soal 14
Pertanyaan: Apakah suami termasuk orang yang berhak menerima sedekah dari istrinya?
Jawaban:
Ya, suami berhak menerima sedekah dari istrinya, bahkan lebih utama daripada diberikan kepada orang lain .
Pembahasan:
Hadits tentang Zainab istri Abdullah bin Mas’ud yang telah disebutkan sebelumnya menjadi dalil utama bahwa suami berhak menerima sedekah dari istrinya. Dalam hadits tersebut, Rasulullah menyatakan bahwa suami dan anak lebih berhak menerima sedekah daripada orang lain .
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah istri kepada suami termasuk dalam kategori sedekah kepada keluarga yang paling utama, karena suami adalah kepala keluarga yang menanggung nafkah. Dengan memberikan sedekah kepada suami, istri turut membantu meringankan beban keluarganya.
Namun perlu dipahami bahwa sedekah ini dilakukan setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga dan dengan kerelaan suami .
Soal 15
Pertanyaan: Apakah orang yang sedikit hartanya dianjurkan untuk bersedekah?
Jawaban:
Ya, orang yang sedikit hartanya tetap dianjurkan untuk bersedekah sesuai kemampuannya, bahkan sedekahnya memiliki keutamaan tersendiri .
Pembahasan:
Dalam hadits riwayat An-Nasa’i, dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Hubsyi Al-Khots’ami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang sedekah yang paling utama. Beliau menjawab:
جُهْدُ الْمُقِلِّ
“Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR. An-Nasa’i no. 2526, dishahihkan Al-Albani)
Dalam hadits lain disebutkan perumpamaan tentang satu dirham yang mengungguli seratus ribu dirham. Rasulullah menjelaskan:
“Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2527)
Hadits ini menunjukkan bahwa nilai sedekah tidak diukur dari jumlahnya, tetapi dari pengorbanan dan keikhlasan pemberinya. Orang yang bersedekah di saat ia sendiri membutuhkan memiliki nilai lebih di sisi Allah.
Soal 16
Pertanyaan: Apakah sedekah bisa diberikan kepada non-muslim?
Jawaban:
Ya, sedekah sunnah boleh diberikan kepada non-muslim sebagai bentuk kebaikan dan dakwah, selama tidak berkaitan dengan hal-hal yang dilarang syariat .
Pembahasan:
Tidak ada larangan dalam Al-Qur’an dan hadits untuk memberikan sedekah sunnah kepada non-muslim. Bahkan Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua manusia tanpa memandang agama. Dalam konteks dakwah, bersedekah kepada non-muslim dapat menjadi sarana untuk menunjukkan keindahan Islam dan menarik hati mereka.
Namun untuk sedekah wajib seperti zakat, umumnya para ulama membatasi hanya untuk muslimin berdasarkan keumuman ayat tentang mustahik zakat. Yang terpenting dalam bersedekah adalah niat ikhlas karena Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau keuntungan duniawi .
Soal 17
Pertanyaan: Apakah pahala sedekah bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal?
Jawaban:
Ya, pahala sedekah dapat sampai kepada orang yang telah meninggal dunia berdasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama .
Pembahasan:
Dalam sebuah hadits, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ أَبِي مَاتَ وَ تَرَكَ مَالًا وَ لَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ
“Sesungguhnya ayahku sudah wafat, dia meninggalkan harta dan belum diwasiatkannya, apakah jika disedekahkan untuknya maka hal itu akan menghapuskan kesalahannya? Rasulullah menjawab: ‘Ya’.” (HR. Muslim no. 1630)
Imam An-Nawawi menjelaskan:
“Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan semua ini adalah ijma’ (kesepakatan) semua kaum muslimin.”
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang bersedekah untuk orang tuanya yang telah wafat akan mendapat pahala seperti pahala orang tuanya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun .
Soal 18
Pertanyaan: Apakah orang yang bersedekah untuk orang yang telah meninggal tetap mendapatkan pahala?
Jawaban:
Ya, orang yang bersedekah untuk mayit tetap mendapatkan pahala. Ada perbedaan pendapat apakah pahalanya sama seperti pahala sedekah biasa atau pahala karena berbuat baik .
Pembahasan:
Dalam Irsyadul Ibad disebutkan riwayat dari Ibnu Umar:
“Tidak ada salahnya salah seorang dari kalian jika ingin bersedekah sunnah karena Allah, lalu menjadikannya untuk kedua orang tuanya jika keduanya muslim. Maka pahala sedekah itu untuk mereka berdua, dan untuknya juga seperti pahala mereka berdua tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”
Sementara dalam kitab I’anatuth Thalibin disebutkan:
نَعَمْ، الصَّدَقَةُ يَصِلُ نَفْسُ ثَوَابِهَا لِلْمُتَصَدَّقِ عَنْهُ إِجْمَاعًا وَكَأَنَّهُ هُوَ المُتَصَدِّقُ. وَ يُثَابُ المُتَصَدِّقُ ثَوَابَ الْبَرِّ لَا عَلَى الصَّدَقَةِ
“Ya, pahala sedekah itu sampai kepada orang yang disedekahi (mayit) secara ijma’, seolah-olah dialah yang bersedekah. Dan orang yang bersedekah (yang hidup) diberi pahala karena kebaikannya (al-birr), bukan karena sedekah itu sendiri.”
Jadi kesimpulannya, orang yang bersedekah untuk mayit tetap mendapat pahala dari Allah, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang jenis pahalanya .
Soal 19
Pertanyaan: Apakah bersedekah dapat membersihkan harta dan jiwa?
Jawaban:
Ya, sedekah dapat membersihkan harta dari hak orang lain dan menyucikan jiwa dari sifat kikir dan materialisme .
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Meskipun ayat ini berbicara tentang zakat, para ulama menjelaskan bahwa sedekah sunnah juga memiliki fungsi serupa. Dengan bersedekah, seseorang membersihkan hartanya dari unsur-unsur yang tidak baik dan mensucikan jiwanya dari penyakit hati seperti kikir, tamak, dan cinta dunia berlebihan. Sedekah mengajarkan untuk berbagi dan peduli terhadap sesama .
Soal 20
Pertanyaan: Bagaimana kedudukan orang yang bersedekah di hari kiamat?
Jawaban:
Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan dari sedekahnya di hari kiamat yang sangat panas .
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ
“Pada hari kiamat, orang yang beriman akan mendapat naungan (berteduh) di bawah sedekahnya (saat di dunia).” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat dan panas. Matahari akan didekatkan hingga satu mil dari manusia, dan mereka akan berkeringat sesuai dengan amalnya. Dalam kondisi seperti itu, orang-orang yang gemar bersedekah akan mendapatkan naungan dari sedekah mereka. Ini menunjukkan betapa besar pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang dermawan.
SOAL 21-25: ADAB DAN HIKMAH SEDEKAH
Soal 21
Pertanyaan: Apa yang harus dihindari agar sedekah tidak hilang pahalanya?
Jawaban:
Agar sedekah tidak hilang pahalanya, seseorang harus menghindari menyebut-nyebut sedekah (menyinggung perasaan penerima) dan menyakiti hati penerima sedekah .
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 264:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini memberikan peringatan keras agar tidak merusak pahala sedekah dengan dua hal:
- Al-Mannu: Menyebut-nyebut sedekah yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang dapat menyakiti hati penerima.
- Al-Adza: Menyakiti perasaan penerima, misalnya dengan mencela, menghina, atau memandang rendah.
Sedekah yang diiringi dengan perbuatan tersebut tidak akan diterima Allah dan pahalanya hilang sia-sia.
Soal 22
Pertanyaan: Apa niat yang benar dalam bersedekah?
Jawaban:
Niat yang benar dalam bersedekah adalah ikhlas karena Allah semata, mengharap ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau mendapatkan keuntungan duniawi .
Pembahasan:
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang sifat orang-orang yang beriman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharap ridha Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula (ucapan) terima kasih darimu’.” (QS. Al-Insan: 8-9)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluruskan niat sebelum bersedekah, yaitu hanya untuk mencari ridha Allah SWT.
Soal 23
Pertanyaan: Apakah boleh mempublikasikan sedekah di media sosial?
Jawaban:
Boleh, selama tujuannya untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan dan tidak mengurangi keikhlasan. Namun tetap harus diingat bahwa sedekah sembunyi-sembunyi lebih utama .
Pembahasan:
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa mempublikasikan sedekah di media sosial hukumnya boleh. Tujuannya adalah untuk mengajak orang lain bersedekah (konten dakwah). Selama tidak mengurangi keikhlasan, tetap mendapat pahala .
Beliau juga menegaskan bahwa ikhlas itu adalah urusan hati (amrun qalbiyyah) yang tidak bisa diucapkan. Seseorang bisa saja bersedekah secara terang-terangan untuk tujuan dakwah, namun hatinya tetap ikhlas karena Allah. Yang terpenting adalah niatnya .
Namun perlu diingat bahwa sedekah secara sembunyi-sembunyi tetap lebih utama karena lebih menjauhkan dari riya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 271 .
Soal 24
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan tingkatan ikhlas dalam bersedekah?
Jawaban:
Ada tiga tingkatan ikhlas dalam bersedekah: tertinggi adalah beramal semata-mata karena Allah tanpa mengharap surga atau takut neraka; menengah adalah beramal karena Allah juga karena ingin surga dan selamat dari neraka; terendah adalah beramal karena Allah namun masih ada keinginan dipuji .
Pembahasan:
KH Abdul Muiz Ali menjelaskan tiga tingkatan ikhlas:
- Ikhlas tertinggi: Menjalankan perintah Allah SWT semata-mata untuk-Nya, bukan karena ingin pahala dan masuk surga, dan juga bukan bertujuan karena takut dosa masuk neraka .
- Ikhlas menengah: Menjalankan ibadah seperti shalat, sedekah, dan lainnya dilakukan selain karena Allah SWT juga dilakukan bertujuan ingin dimasukkan ke surga dan selamat dari siksa neraka .
- Ikhlas terendah: Beramal selain karena Allah SWT juga ingin disanjung atau didengar oleh orang lain .
Beliau menekankan bahwa yang terpenting adalah tetap mau beramal dan melakukan kebaikan, sekalipun belum bisa ikhlas sepenuhnya, ketimbang tidak mau beramal sama sekali. Kita harus terus belajar untuk ikhlas .
Soal 25
Pertanyaan: Apa hikmah bersedekah bagi kehidupan sosial masyarakat?
Jawaban:
Sedekah memiliki banyak hikmah sosial, antara lain: membantu fakir miskin memenuhi kebutuhan dasar, membangun kepedulian sosial, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan mengurangi kesenjangan sosial .
Pembahasan:
Beberapa manfaat sosial dari sedekah antara lain:
- Membantu fakir miskin: Sedekah membantu mereka yang hidup dalam kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal .
- Membangun kepedulian sosial: Bersedekah menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama dan memperkuat hubungan dalam masyarakat .
- Mengurangi kesenjangan: Sedekah berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin dapat dikurangi.
- Menumbuhkan solidaritas: Ketika masyarakat terbiasa berbagi, solidaritas dan rasa persaudaraan akan semakin kuat.
- Membersihkan lingkungan dari kejahatan: Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, potensi kejahatan akibat kemiskinan dapat diminimalisir.
Dengan demikian, sedekah tidak hanya bermanfaat bagi pemberi dan penerima secara individual, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan .
KUNCI JAWABAN
| No Soal | Jawaban | No Soal | Jawaban |
| 1 | Pemberian ikhlas karena Allah | 14 | Ya, bahkan lebih utama |
| 2 | 700 kali lipat atau lebih | 15 | Ya, bahkan lebih utama |
| 3 | Menghapus dosa seperti air memadamkan api | 16 | Boleh, sebagai bentuk kebaikan |
| 4 | Sedekah yang pahalanya terus mengalir | 17 | Ya, berdasarkan ijma’ ulama |
| 5 | Ya, meski hanya sebiji kurma | 18 | Ya, tetap mendapat pahala |
| 6 | Dahulukan membayar utang | 19 | Ya, membersihkan harta dan jiwa |
| 7 | Saat sehat dan masih menginginkan harta | 20 | Mendapat naungan dari sedekahnya |
| 8 | Sembunyi-sembunyi lebih utama | 21 | Menyebut-nyebut dan menyakiti |
| 9 | Ya, dapat menjadi sebab bertambahnya | 22 | Ikhlas karena Allah |
| 10 | Memadamkan panasnya kubur | 23 | Boleh, untuk mengajak kebaikan |
| 11 | Keluarga dan kerabat terdekat | 24 | Ada tiga tingkatan ikhlas |
| 12 | Dua pahala: sedekah dan silaturahim | 25 | Membangun kepedulian dan solidaritas |
| 13 | Suami dan anak lebih berhak |
RANGKUMAN NILAI
| Jumlah Benar | Kategori | Keterangan |
| 23-25 | Mutqin (Sangat Menguasai) | Anda memiliki pemahaman yang sangat baik tentang keutamaan sedekah. Pertahankan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. |
| 18-22 | Mutawassith (Cukup Menguasai) | Pemahaman Anda cukup baik, namun masih perlu meningkatkan wawasan tentang beberapa aspek sedekah. |
| 10-17 | Muhtaj lil Muroja’ah (Perlu Review) | Anda perlu mempelajari kembali materi tentang keutamaan sedekah. Bacalah pembahasan dengan lebih teliti. |
| < 10 | Dha’if (Kurang) | Anda disarankan untuk membaca ulang seluruh materi dan mencari referensi tambahan untuk memperkuat pemahaman. |
PENUTUP
Demikian 25 kuis tanya jawab tentang keutamaan sedekah dalam Islam. Semoga melalui kuis ini, kita semakin memahami betapa besar keutamaan dan manfaat sedekah, baik bagi pemberi, penerima, maupun masyarakat secara keseluruhan.
Sedekah bukan sekadar transfer harta dari orang kaya kepada orang miskin. Ia adalah ibadah mulia yang membersihkan jiwa, melipatgandakan pahala, menjadi pelindung dari api neraka, dan naungan di hari kiamat. Ia juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membuktikan kebenaran iman kita.
Mari kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan sehari-hari, sesuai dengan kemampuan kita. Jangan merasa kecil atau malu dengan jumlah yang sedikit, karena di sisi Allah, nilai sedekah diukur dari keikhlasan dan pengorbanan, bukan dari jumlahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah amal ibadah kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’an Al-Karim.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari.
- Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim.
- Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats. Sunan Abu Dawud.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi.
- An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib. Sunan An-Nasa’i.
- Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah.
- BAZNAS RI. “Menurut Islam, Bersedekah Harus Mengharap Ridha Allah, Bukan Sekadar Dunia”.
- Majelis Ulama Indonesia. “Keutamaan Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi dan Batasan Mempublikasikannya”.
- NU Online. “Mana Utama Sedekah kepada Saudara Sendiri atau Orang Lain?”.
- NU Online. “Lebih Utama Mana, Sedekah kepada Keluarga atau Orang Lain?”.
- Rumah Zakat. “Inilah Keutamaan Sedekah Menurut Al-Qur’an dan Hadis”.
- Rumah Zakat. “Sedekah di Masa Sulit”.
- Eramuslim. “Mana yang Didahulukan, Bersedekah apa Bayar Hutang?”.
- Syaamil Quran. “Tiga Keutamaan Sedekah untuk Orangtua yang Telah Meninggal Dunia”.
- NU Online Sumenep. “Bersedekah Untuk Orang Yang Meninggal, Apakah Mendapat Pahala?”.
- Zulkifli Al-Bakri. “Maksud Perkataan Sedekah”.
Tim Penyusun
Ebookanak.com – Menyajikan Konten Islami Berkualitas untuk Keluarga Muslim Indonesia
© 2024 Ebookanak.com. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
25 KUIS PILIHAN BERGANDA: KEUTAMAAN SEDEKAH DALAM ISLAM
Konten Pilar untuk Ebookanak.com
Disclaimer: Seluruh materi dalam kuis ini disusun berdasarkan sumber-sumber kredibel seperti Al-Qur’an, kitab hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim, serta portal keislaman terpercaya (BAZNAS, MUI, NU Online). Tujuan pembuatan kuis ini adalah untuk edukasi dan pembelajaran tentang keutamaan sedekah bagi seluruh anggota keluarga.
KATA PENGANTAR
Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ia tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga memberikan berbagai manfaat spiritual bagi pemberinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas, serta berbagai keutamaan lainnya baik di dunia maupun di akhirat.
Buku kuis pilihan berganda ini hadir untuk menguji sekaligus menambah wawasan kita tentang keutamaan sedekah dalam Islam. Melalui 25 pertanyaan pilihan berganda yang dilengkapi pembahasan mendalam, pembaca diajak untuk memahami berbagai aspek terkait sedekah, mulai dari pengertian, keutamaan, prioritas penerima, hingga adab-adab dalam bersedekah.
Setiap soal telah disusun berdasarkan sumber-sumber yang valid dan kredibel, merujuk pada Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, serta pendapat para ulama terpercaya. Dengan demikian, selain berfungsi sebagai alat evaluasi pemahaman, buku ini juga dapat menjadi media pembelajaran yang efektif bagi seluruh anggota keluarga.
Selamat mengerjakan kuis, semoga bertambah kecintaan kita untuk bersedekah dan meraih keutamaan-keutamaannya.
PANDUAN MENGGUNAKAN KUIS
- Setiap soal terdiri dari satu pertanyaan dengan empat pilihan jawaban (A, B, C, D)
- Pilihlah satu jawaban yang paling benar
- Setelah memilih jawaban, bacalah pembahasan untuk memahami dalil dan penjelasan lengkapnya
- Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di bagian akhir
- Hitung skor Anda dan lihat kategori penguasaan materi di bagian rangkuman
SOAL 1-10: PENGERTIAN DAN KEUTAMAAN DASAR SEDEKAH
Soal 1
Pertanyaan: Secara bahasa, kata “sedekah” berasal dari bahasa Arab “shadaqah” yang berarti…
A. Pemberian wajib
B. Kebenaran atau pemberian ikhlas dari hati yang bersih
C. Harta yang dikeluarkan
D. Bantuan sosial
Jawaban: B. Kebenaran atau pemberian ikhlas dari hati yang bersih
Pembahasan:
Secara bahasa, sedekah berasal dari kata “shadaqah” yang berarti kebenaran atau pemberian ikhlas dari hati yang bersih . Ibn Manzur dalam Lisan al-‘Arab mendefinisikan sedekah sebagai satu pemberian yang diniatkan karena Allah SWT kepada golongan fakir yang memerlukan . Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bukti kebenaran iman seseorang, karena ia rela mengorbankan harta yang dicintainya demi mengharap ridha Allah .
Soal 2
Pertanyaan: Dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan balasan bagi orang yang bersedekah di jalan-Nya sebanyak…
A. 10 kali lipat
B. 100 kali lipat
C. 700 kali lipat
D. 1000 kali lipat
Jawaban: C. 700 kali lipat
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan melipatgandakan pahala sedekah dengan perbandingan 1:700, bahkan bisa lebih dari itu sesuai kehendak Allah. Ini adalah bentuk kemurahan Allah kepada hamba-Nya yang mau berinfak di jalan-Nya .
Soal 3
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat Tirmidzi, sedekah diibaratkan dapat memadamkan dosa sebagaimana…
A. Air memadamkan api
B. Hujan membasahi tanah
C. Angin meniup debu
D. Cahaya menerangi kegelapan
Jawaban: A. Air memadamkan api
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadits ini memberikan motivasi besar bagi kaum muslimin untuk memperbanyak sedekah. Setiap kali seseorang berbuat dosa, maka sedekah dapat menjadi pembersih dan penghapus dosa tersebut, tentunya dengan disertai taubat dan istighfar. Semakin ikhlas seseorang dalam bersedekah, maka semakin besar pula manfaat yang akan ia dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat .
Soal 4
Pertanyaan: Sedekah yang pahalanya terus mengalir meskipun pemberinya telah meninggal dunia disebut…
A. Sedekah sunnah
B. Sedekah wajib
C. Sedekah jariyah
D. Sedekah fardhu
Jawaban: C. Sedekah jariyah
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud sedekah jariyah dalam hadits ini adalah wakaf . Contoh sedekah jariyah antara lain: membangun masjid, sekolah, rumah sakit, sumur, menanam pohon yang bermanfaat, atau mewakafkan Al-Qur’an. Semua amalan ini pahalanya akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain.
Soal 5
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menganjurkan untuk bersedekah meskipun hanya dengan…
A. Sebutir kurma
B. Seteguk air
C. Sehelai pakaian
D. Sekeping uang logam
Jawaban: A. Sebutir kurma
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa sekecil apapun sedekah yang diberikan, ia memiliki nilai besar di sisi Allah dan dapat menjadi penyebab seseorang terhindar dari siksa neraka. Ini adalah bentuk kemurahan Allah yang memberikan pahala besar untuk amalan yang tampaknya kecil. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi dalam bersedekah, meskipun dengan jumlah yang sedikit .
Soal 6
Pertanyaan: Menurut para ulama, hukum bersedekah bagi orang yang memiliki utang adalah…
A. Wajib
B. Sunnah
C. Mubah
D. Lebih utama mendahulukan pelunasan utang
Jawaban: D. Lebih utama mendahulukan pelunasan utang
Pembahasan:
Para ulama sepakat bahwa membayar utang harus didahulukan daripada sedekah sunnah. Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya menyatakan:
“Barangsiapa yang bersedekah sementara dia membutuhkan, keluarganya membutuhkan atau dia memiliki utang, maka utangnya lebih layak dia lunasi sebelum sedekah… Maka sedekah ini tertolak baginya.”
Ibnu Qudamah juga menegaskan: “Siapa yang memiliki utang, tidak boleh bersedekah yang menyebabkan dia tidak bisa membayar utang. Karena membayar utang itu wajib yang tidak boleh dia tinggalkan.”
Namun jika utangnya jatuh tempo masih jauh dan ada kepastian bisa melunasinya, maka bersedekah diperbolehkan. Ini berdasarkan prinsip “mendahulukan yang wajib sebelum yang sunnah” .
Soal 7
Pertanyaan: Waktu terbaik untuk bersedekah menurut hadits adalah ketika…
A. Sudah tua dan tidak produktif
B. Menjelang kematian
C. Sehat, masih menginginkan harta, dan khawatir miskin
D. Mendapatkan warisan
Jawaban: C. Sehat, masih menginginkan harta, dan khawatir miskin
Pembahasan:
Dalam hadits disebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah dari orang yang serba kekurangan atau sedekah di masa sulit . Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah yang paling utama adalah yang dikeluarkan ketika keadaan sehat, masih sangat menginginkan harta, dan khawatir miskin. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Bukhari no. 1426 dan Muslim no. 1034)
Hadits ini mengajarkan bahwa bersedekah ketika kita masih sehat dan kuat lebih utama daripada bersedekah saat menjelang ajal atau saat sudah tidak mampu memanfaatkan harta. Ini menunjukkan keutamaan bersegera dalam kebaikan.
Soal 8
Pertanyaan: Manakah yang lebih utama menurut Al-Qur’an dan hadits antara sedekah sembunyi-sembunyi atau terang-terangan?
A. Terang-terangan lebih utama
B. Sembunyi-sembunyi lebih utama
C. Sama saja
D. Tergantung situasi
Jawaban: B. Sembunyi-sembunyi lebih utama
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 271:
إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Dalam hadits tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, disebutkan salah satunya:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
“Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa bersedekah secara terang-terangan diperbolehkan bahkan bernilai tambah jika ada tujuan maslahat seperti mengajak orang lain untuk bersedekah. Yang terpenting adalah niat ikhlas karena Allah .
Soal 9
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat Thabrani, sedekah disebut dapat…
A. Menambah umur dan mencegah kematian buruk
B. Menyembuhkan penyakit
C. Membuat kaya raya
D. Mendapatkan jabatan
Jawaban: A. Menambah umur dan mencegah kematian buruk
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتَزِيدُ فِي الْعُمُرِ وَتَمْنَعُ مِيتَةَ السُّوءِ
“Sesungguhnya sedekah dapat menambah umur dan mencegah dari mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang buruk).” (HR. Thabrani)
Secara logika, sedekah tidak mengubah takdir yang telah ditetapkan Allah. Namun para ulama menjelaskan bahwa sedekah termasuk amalan yang dapat menjadi sebab Allah memberikan keberkahan dalam hidup, termasuk keberkahan umur dan rezeki. Sedekah juga dapat menjadi penghalang dari berbagai musibah dan keburukan .
Rasulullah juga bersabda: “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan.” (HR. Thabrani)
Soal 10
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat Baihaqi, sedekah berfungsi untuk…
A. Mendinginkan panasnya kubur
B. Menerangi kegelapan kubur
C. Memperluas kubur
D. Menghilangkan siksa kubur
Jawaban: A. Mendinginkan panasnya kubur
Pembahasan:
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Amir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ
“Sesungguhnya sedekah pasti bisa meredam orang-orang yang melaksanakannya dari hawa panasnya kubur.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Kubur adalah alam barzah yang penuh dengan berbagai ujian dan kesulitan. Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas di dunia akan menjadi penerang dan pendingin bagi penghuninya di alam kubur. Ini menunjukkan betapa besar manfaat sedekah, tidak hanya untuk kehidupan dunia tetapi juga untuk kehidupan setelah mati.
SOAL 11-20: PRIORITAS PENERIMA SEDEKAH
Soal 11
Pertanyaan: Menurut ijma’ (kesepakatan) ulama, sedekah yang paling utama diberikan kepada…
A. Anak yatim di panti asuhan
B. Fakir miskin di jalanan
C. Sanak kerabat
D. Guru ngaji
Jawaban: C. Sanak kerabat
Pembahasan:
Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab menyatakan:
أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْأَقَارِبِ أَفْضَلُ مِنْ الْأَجَانِبِ
“Ulama sepakat bahwa sedekah kepada sanak kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain.”
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya sedekah apa yang paling utama:
جُهْدِ الْمُقِلِّ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah orang sedikit harta. Utamakanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Prioritas sedekah berdasarkan hadits-hadits adalah: diri sendiri, keluarga (istri dan anak), kerabat, kemudian orang lain. Memberi nafkah kepada keluarga adalah sedekah yang paling utama karena merupakan kewajiban .
Soal 12
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat Nasa’i dan Tirmidzi, orang yang bersedekah kepada kerabat akan mendapatkan…
A. Satu pahala sedekah
B. Dua pahala: sedekah dan silaturahim
C. Tiga pahala berlipat
D. Pahala seperti haji
Jawaban: B. Dua pahala: sedekah dan silaturahim
Pembahasan:
Dalam hadits riwayat Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
“Sedekah kepada orang miskin (bernilai) satu sedekah. Tetapi sedekah kepada kerabat (bernilai) dua sedekah, pertama pahala sedekah, kedua pahala (menjaga) silaturahim.” (HR. Nasa’i dan Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa bagi mereka yang memberikan sedekah kepada kerabatnya. Selain mendapatkan pahala sedekah, ia juga mendapatkan pahala tambahan karena telah menyambung tali persaudaraan. Ini adalah motivasi agar kita tidak melupakan keluarga dan kerabat dalam berbagi rezeki.
Soal 13
Pertanyaan: Ketika Zainab istri Abdullah bin Mas’ud bertanya tentang sedekah kepada suaminya, Rasulullah menjawab bahwa…
A. Suami tidak berhak menerima sedekah istri
B. Suami dan anak lebih berhak daripada orang lain
C. Suami termasuk orang yang dilarang menerima sedekah
D. Sedekah kepada suami tidak mendapatkan pahala
Jawaban: B. Suami dan anak lebih berhak daripada orang lain
Pembahasan:
Kisah lengkapnya diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud, datang kepada Rasulullah untuk bertanya tentang sedekah. Ia berkata:
“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan bersedekah hari ini. Aku memiliki perhiasan, dan aku ingin mensedekahkannya. Namun Ibnu Mas’ud (suamiku) mengira bahwa dia dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku daripada orang lain.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ
“Benar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud. Suami dan anakmu lebih berhak engkau beri sedekah daripada orang lain.” (HR. Bukhari no. 1462)
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa mereka akan mendapat dua pahala: pahala sedekah dan pahala menjaga kekerabatan .
Soal 14
Pertanyaan: Hukum suami menerima sedekah dari istrinya adalah…
A. Haram
B. Makruh
C. Boleh dan lebih utama
D. Tidak sah
Jawaban: C. Boleh dan lebih utama
Pembahasan:
Hadits tentang Zainab istri Abdullah bin Mas’ud yang telah disebutkan sebelumnya menjadi dalil utama bahwa suami berhak menerima sedekah dari istrinya. Dalam hadits tersebut, Rasulullah menyatakan bahwa suami dan anak lebih berhak menerima sedekah daripada orang lain .
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah istri kepada suami termasuk dalam kategori sedekah kepada keluarga yang paling utama, karena suami adalah kepala keluarga yang menanggung nafkah. Dengan memberikan sedekah kepada suami, istri turut membantu meringankan beban keluarganya.
Namun perlu dipahami bahwa sedekah ini dilakukan setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga dan dengan kerelaan suami .
Soal 15
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat An-Nasa’i, sedekah yang paling utama adalah sedekah dari…
A. Orang kaya yang berlimpah hartanya
B. Orang yang serba kekurangan
C. Pejabat yang berkuasa
D. Pedagang yang sukses
Jawaban: B. Orang yang serba kekurangan
Pembahasan:
Dalam hadits riwayat An-Nasa’i, dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Hubsyi Al-Khots’ami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang sedekah yang paling utama. Beliau menjawab:
جُهْدُ الْمُقِلِّ
“Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR. An-Nasa’i no. 2526, dishahihkan Al-Albani)
Dalam hadits lain disebutkan perumpamaan tentang satu dirham yang mengungguli seratus ribu dirham. Rasulullah menjelaskan:
“Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2527)
Hadits ini menunjukkan bahwa nilai sedekah tidak diukur dari jumlahnya, tetapi dari pengorbanan dan keikhlasan pemberinya. Orang yang bersedekah di saat ia sendiri membutuhkan memiliki nilai lebih di sisi Allah.
Soal 16
Pertanyaan: Hukum memberikan sedekah sunnah kepada non-muslim adalah…
A. Haram
B. Makruh
C. Boleh sebagai bentuk kebaikan dan dakwah
D. Tidak sah
Jawaban: C. Boleh sebagai bentuk kebaikan dan dakwah
Pembahasan:
Tidak ada larangan dalam Al-Qur’an dan hadits untuk memberikan sedekah sunnah kepada non-muslim. Bahkan Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua manusia tanpa memandang agama. Dalam konteks dakwah, bersedekah kepada non-muslim dapat menjadi sarana untuk menunjukkan keindahan Islam dan menarik hati mereka.
Namun untuk sedekah wajib seperti zakat, umumnya para ulama membatasi hanya untuk muslimin berdasarkan keumuman ayat tentang mustahik zakat. Yang terpenting dalam bersedekah adalah niat ikhlas karena Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau keuntungan duniawi .
Soal 17
Pertanyaan: Menurut ijma’ ulama, pahala sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia hukumnya…
A. Tidak sampai
B. Sampai dan bermanfaat baginya
C. Sampai tapi tidak bermanfaat
D. Diperdebatkan
Jawaban: B. Sampai dan bermanfaat baginya
Pembahasan:
Dalam sebuah hadits, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ أَبِي مَاتَ وَ تَرَكَ مَالًا وَ لَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ
“Sesungguhnya ayahku sudah wafat, dia meninggalkan harta dan belum diwasiatkannya, apakah jika disedekahkan untuknya maka hal itu akan menghapuskan kesalahannya? Rasulullah menjawab: ‘Ya’.” (HR. Muslim no. 1630)
Imam An-Nawawi menjelaskan:
“Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan semua ini adalah ijma’ (kesepakatan) semua kaum muslimin.”
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang bersedekah untuk orang tuanya yang telah wafat akan mendapat pahala seperti pahala orang tuanya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun .
Soal 18
Pertanyaan: Orang yang bersedekah untuk mayit, apakah ia mendapatkan pahala?
A. Tidak mendapat pahala sama sekali
B. Mendapat pahala karena kebaikannya (al-birr)
C. Mendapat pahala seperti sedekah biasa
D. Pahalanya diberikan kepada mayit saja
Jawaban: B. Mendapat pahala karena kebaikannya (al-birr)
Pembahasan:
Dalam Irsyadul Ibad disebutkan riwayat dari Ibnu Umar:
“Tidak ada salahnya salah seorang dari kalian jika ingin bersedekah sunnah karena Allah, lalu menjadikannya untuk kedua orang tuanya jika keduanya muslim. Maka pahala sedekah itu untuk mereka berdua, dan untuknya juga seperti pahala mereka berdua tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”
Sementara dalam kitab I’anatuth Thalibin disebutkan:
نَعَمْ، الصَّدَقَةُ يَصِلُ نَفْسُ ثَوَابِهَا لِلْمُتَصَدِّقِ عَنْهُ إِجْمَاعًا وَكَأَنَّهُ هُوَ المُتَصَدِّقُ. وَ يُثَابُ المُتَصَدِّقُ ثَوَابَ الْبَرِّ لَا عَلَى الصَّدَقَةِ
“Ya, pahala sedekah itu sampai kepada orang yang disedekahi (mayit) secara ijma’, seolah-olah dialah yang bersedekah. Dan orang yang bersedekah (yang hidup) diberi pahala karena kebaikannya (al-birr), bukan karena sedekah itu sendiri.”
Jadi kesimpulannya, orang yang bersedekah untuk mayit tetap mendapat pahala dari Allah, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang jenis pahalanya .
Soal 19
Pertanyaan: Fungsi sedekah terhadap harta dan jiwa menurut Surat At-Taubah ayat 103 adalah…
A. Menambah kekayaan
B. Membersihkan dan mensucikan
C. Menjaga dari kebangkrutan
D. Melipatgandakan harta
Jawaban: B. Membersihkan dan mensucikan
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Meskipun ayat ini berbicara tentang zakat, para ulama menjelaskan bahwa sedekah sunnah juga memiliki fungsi serupa. Dengan bersedekah, seseorang membersihkan hartanya dari unsur-unsur yang tidak baik dan mensucikan jiwanya dari penyakit hati seperti kikir, tamak, dan cinta dunia berlebihan. Sedekah mengajarkan untuk berbagi dan peduli terhadap sesama .
Soal 20
Pertanyaan: Dalam hadits riwayat Baihaqi, orang yang beriman akan mendapat naungan di hari kiamat dari…
A. Amal shalatnya
B. Sedekahnya
C. Puasanya
D. Hajinya
Jawaban: B. Sedekahnya
Pembahasan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ
“Pada hari kiamat, orang yang beriman akan mendapat naungan (berteduh) di bawah sedekahnya (saat di dunia).” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat dan panas. Matahari akan didekatkan hingga satu mil dari manusia, dan mereka akan berkeringat sesuai dengan amalnya. Dalam kondisi seperti itu, orang-orang yang gemar bersedekah akan mendapatkan naungan dari sedekah mereka. Ini menunjukkan betapa besar pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang dermawan.
SOAL 21-25: ADAB DAN HIKMAH SEDEKAH
Soal 21
Pertanyaan: Dua hal yang dapat membatalkan atau menghilangkan pahala sedekah menurut Surat Al-Baqarah ayat 264 adalah…
A. Riya dan sombong
B. Menyebut-nyebut dan menyakiti penerima
C. Terlalu sedikit dan terlalu banyak
D. Memberi di tempat umum
Jawaban: B. Menyebut-nyebut dan menyakiti penerima
Pembahasan:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 264:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini memberikan peringatan keras agar tidak merusak pahala sedekah dengan dua hal:
- Al-Mannu: Menyebut-nyebut sedekah yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang dapat menyakiti hati penerima.
- Al-Adza: Menyakiti perasaan penerima, misalnya dengan mencela, menghina, atau memandang rendah.
Sedekah yang diiringi dengan perbuatan tersebut tidak akan diterima Allah dan pahalanya hilang sia-sia.
Soal 22
Pertanyaan: Niat yang benar dalam bersedekah adalah…
A. Agar dipuji orang
B. Agar mendapat imbalan dunia
C. Ikhlas karena Allah semata
D. Agar dicatat sebagai dermawan
Jawaban: C. Ikhlas karena Allah semata
Pembahasan:
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang sifat orang-orang yang beriman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharap ridha Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula (ucapan) terima kasih darimu’.” (QS. Al-Insan: 8-9)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluruskan niat sebelum bersedekah, yaitu hanya untuk mencari ridha Allah SWT.
Soal 23
Pertanyaan: Hukum mempublikasikan sedekah di media sosial menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI adalah…
A. Haram
B. Makruh
C. Boleh dengan tujuan dakwah
D. Tidak boleh karena riya
Jawaban: C. Boleh dengan tujuan dakwah
Pembahasan:
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa mempublikasikan sedekah di media sosial hukumnya boleh. Tujuannya adalah untuk mengajak orang lain bersedekah (konten dakwah). Selama tidak mengurangi keikhlasan, tetap mendapat pahala .
Beliau juga menegaskan bahwa ikhlas itu adalah urusan hati (amrun qalbiyyah) yang tidak bisa diucapkan. Seseorang bisa saja bersedekah secara terang-terangan untuk tujuan dakwah, namun hatinya tetap ikhlas karena Allah. Yang terpenting adalah niatnya .
Namun perlu diingat bahwa sedekah secara sembunyi-sembunyi tetap lebih utama karena lebih menjauhkan dari riya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 271 .
Soal 24
Pertanyaan: Berapa tingkatan ikhlas dalam bersedekah menurut para ulama?
A. Satu tingkatan
B. Dua tingkatan
C. Tiga tingkatan
D. Empat tingkatan
Jawaban: C. Tiga tingkatan
Pembahasan:
KH Abdul Muiz Ali menjelaskan tiga tingkatan ikhlas:
- Ikhlas tertinggi: Menjalankan perintah Allah SWT semata-mata untuk-Nya, bukan karena ingin pahala dan masuk surga, dan juga bukan bertujuan karena takut dosa masuk neraka .
- Ikhlas menengah: Menjalankan ibadah seperti shalat, sedekah, dan lainnya dilakukan selain karena Allah SWT juga dilakukan bertujuan ingin dimasukkan ke surga dan selamat dari siksa neraka .
- Ikhlas terendah: Beramal selain karena Allah SWT juga ingin disanjung atau didengar oleh orang lain .
Beliau menekankan bahwa yang terpenting adalah tetap mau beramal dan melakukan kebaikan, sekalipun belum bisa ikhlas sepenuhnya, ketimbang tidak mau beramal sama sekali. Kita harus terus belajar untuk ikhlas .
Soal 25
Pertanyaan: Manakah yang BUKAN merupakan hikmah sosial dari sedekah?
A. Membantu fakir miskin memenuhi kebutuhan dasar
B. Membangun kepedulian sosial
C. Memperkuat ukhuwah Islamiyah
D. Menambah kekayaan orang kaya
Jawaban: D. Menambah kekayaan orang kaya
Pembahasan:
Beberapa manfaat sosial dari sedekah antara lain:
- Membantu fakir miskin: Sedekah membantu mereka yang hidup dalam kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal .
- Membangun kepedulian sosial: Bersedekah menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama dan memperkuat hubungan dalam masyarakat .
- Memperkuat ukhuwah Islamiyah: Sedekah mempererat tali persaudaraan antara sesama muslim .
- Mengurangi kesenjangan: Sedekah berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin dapat dikurangi.
- Menumbuhkan solidaritas: Ketika masyarakat terbiasa berbagi, solidaritas dan rasa persaudaraan akan semakin kuat.
Sedekah justru mengurangi kekayaan orang kaya secara materi, tetapi menambah keberkahan dan pahala di sisi Allah. Dengan demikian, pilihan D “Menambah kekayaan orang kaya” bukanlah hikmah sosial dari sedekah, melainkan justru sedekah mengurangi harta secara fisik namun menambah keberkahan.
KUNCI JAWABAN
| No Soal | Jawaban | No Soal | Jawaban |
| 1 | B | 14 | C |
| 2 | C | 15 | B |
| 3 | A | 16 | C |
| 4 | C | 17 | B |
| 5 | A | 18 | B |
| 6 | D | 19 | B |
| 7 | C | 20 | B |
| 8 | B | 21 | B |
| 9 | A | 22 | C |
| 10 | A | 23 | C |
| 11 | C | 24 | C |
| 12 | B | 25 | D |
| 13 | B |
RANGKUMAN NILAI
| Jumlah Benar | Kategori | Keterangan |
| 23-25 | Mutqin (Sangat Menguasai) | Anda memiliki pemahaman yang sangat baik tentang keutamaan sedekah. Pertahankan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. |
| 18-22 | Mutawassith (Cukup Menguasai) | Pemahaman Anda cukup baik, namun masih perlu meningkatkan wawasan tentang beberapa aspek sedekah. |
| 10-17 | Muhtaj lil Muroja’ah (Perlu Review) | Anda perlu mempelajari kembali materi tentang keutamaan sedekah. Bacalah pembahasan dengan lebih teliti. |
| < 10 | Dha’if (Kurang) | Anda disarankan untuk membaca ulang seluruh materi dan mencari referensi tambahan untuk memperkuat pemahaman. |
PENUTUP
Demikian 25 kuis pilihan berganda tentang keutamaan sedekah dalam Islam. Semoga melalui kuis ini, kita semakin memahami betapa besar keutamaan dan manfaat sedekah, baik bagi pemberi, penerima, maupun masyarakat secara keseluruhan.
Sedekah bukan sekadar transfer harta dari orang kaya kepada orang miskin. Ia adalah ibadah mulia yang membersihkan jiwa, melipatgandakan pahala, menjadi pelindung dari api neraka, dan naungan di hari kiamat. Ia juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membuktikan kebenaran iman kita.
Mari kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan sehari-hari, sesuai dengan kemampuan kita. Jangan merasa kecil atau malu dengan jumlah yang sedikit, karena di sisi Allah, nilai sedekah diukur dari keikhlasan dan pengorbanan, bukan dari jumlahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah amal ibadah kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’an Al-Karim.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari.
- Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim.
- Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats. Sunan Abu Dawud.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi.
- An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib. Sunan An-Nasa’i.
- Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah.
- BAZNAS RI. “Menurut Islam, Bersedekah Harus Mengharap Ridha Allah, Bukan Sekadar Dunia”.
- Majelis Ulama Indonesia. “Keutamaan Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi dan Batasan Mempublikasikannya”.
- NU Online. “Mana Utama Sedekah kepada Saudara Sendiri atau Orang Lain?”.
- NU Online. “Lebih Utama Mana, Sedekah kepada Keluarga atau Orang Lain?”.
- Rumah Zakat. “Inilah Keutamaan Sedekah Menurut Al-Qur’an dan Hadis”.
- Rumah Zakat. “Sedekah di Masa Sulit”.
- Eramuslim. “Mana yang Didahulukan, Bersedekah apa Bayar Hutang?”.
- Syaamil Quran. “Tiga Keutamaan Sedekah untuk Orangtua yang Telah Meninggal Dunia”.
- NU Online Sumenep. “Bersedekah Untuk Orang Yang Meninggal, Apakah Mendapat Pahala?”.
- Zulkifli Al-Bakri. “Maksud Perkataan Sedekah”.
Tim Penyusun
Ebookanak.com – Menyajikan Konten Islami Berkualitas untuk Keluarga Muslim Indonesia
© 2024 Ebookanak.com. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.




















































