Ummu Ashim binti Asyim Gadis Saleha Pemerah Susu

11,499,125 kali dilihat, 6,845 kali dilihat hari ini

“Campurkan susu itu dengan air, agar kita mendapat banyak untung. Khalifah Umar bin Khattab, tentu tidak akan melihat kita!”

Seperti biasa setiap malam, Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling ke berbagai pelosok kota dan desa untuk memeriksa kondisi terkini rakyatnya.

Suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab kembali berjalan mengelilingi Madinah yang sepi.

Khalifah Umar bin Khattab ingin tahu, apakah ada rakyatnya yang masih belum tidur karena lapar dan butuh pertolongan.

Di sebuah rumah tempat pemerah susu yang miskin, Khalifah Umar bin Khattab mendengar wanita pemilik rumah berkata pada putrinya.

“Campurkan susu itu dengan air, agar kita mendapat banyak untung. Khalifah Umar bin Khattab, tentu tidak akan melihat kita!”

Putrinya, Gadis Pemerah Susu menjawab, “Ibu, Khalifah Umar bin Khattab, bisa jadi tidak melihat perbuatan kita.”

“Tetapi Allah melihat perbuatan kita! Aku tidak akan melakukan hal itu!” tolak Gadis Pemerah Susu dengan sopan pada ibunya.

Wanita Paling Mulia Akhlaknya

Khalifah Umar bin Khattab pun sampai menangis mendengar kejujuran Gadis Pemerah Susu.

Khalifah Umar bin Khattab segera pulang ke rumah.

Khalifah Umar bin Khattab meminta putranya, Ashim, yang sudah ingin menikah untuk melamar Gadis Pemerah Susu itu.

Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Wahai putraku. Pergilah dan nikahi dia. Ayah tidak melihatnya, kecuali mendapat keberkahan.”

“Semoga ia melahirkan anak yang memimpin Arab,” doa Khalifah Umar bin Khattab.

Ashim yang taat, tanpa banyak bertanya segera menikahi Gadis Pemerah Susu itu.

Dari pernikahan mereka kemudian lahirlah Laila binti Ashim, yang dikenal dengan nama Ummu Ashim.

Sejak kecil, Ummu Ashim giat belajar dan sangat taat kepada Allah Swt.

Ketika dewasa, Ummu Ashim dikenal sebagai wanita yang paling mulia akhlaknya.

Ummu Ashim meriwayatkan banyak hadits.

Menangis karena Mengingat Kematian

Suatu ketika Abdul Aziz bin Marwan ingin menikah.

Abdul Aziz adalah bangsawan dan calon gubernur.

Abdul Aziz berkata kepada bendaharanya.

“Ambil 400 dinar dari harta terbaikku, aku akan menikah dengan wanita dari keluarga yang memiliki keshalihan.”

Pilihannya pun jatuh pada Ummu Ashim.

Dari pernikahan ini, lahirlah Umar bin Abdul Aziz yang kelak akan menjadi khalifah.

Meskipun hanya memerintah selama 3 tahun lebih, tapi Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah paling santun, jujur, bijaksana, dan sederhana.

Ummu Ashim adalah ibu yang sangat baik.

Ummu Ashim berhasil mendidik putranya menjadi orang shalih sejak kecil.

Suatu saat, Ummu Ashim melihat Umar bin Abdul Aziz kecil menangis.

Saat Ummu Ashim bertanya, Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Wahai ibu, tidak apa-apa. Hanya mengingat mati, Ibu.”

Mendengar itu, Ummu Ashim pun ikut menangis.

Ketika Ummu Ashim wafat, seorang pengemis menangis karena selama hidupnya Ummu Ashim selalu memberinya sedekah.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Uci Ahmad Sanusi
  • Desainer dan layouter: Yuyus Rusamsi
  • Penerbit: Qultum Media (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

Social Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *