100 Tanya Jawab Lengkap tentang Makan Sahur di Bulan Puasa Ramadan – Disertai Jawaban, Pembahasan, Dalil Al-Qur’an, Hadis Sahih, dan Penjelasan Ulama Muktabar
- Updated: Februari 24, 2026
![]()
Download 200+ Ebook Anak Bergambar Islami + Edukasi Printable PDF

100 TANYA JAWAB MAKAN SAHUR RAMADAN: PANDUAN LENGKAP SUNNAH, DOA, DAN KEBERKAHAN
Update Terakhir: 24 Februari 2026 | Sumber: Al-Qur’an (dengan Nama Surah & Nomor Ayat), Hadis Sahih (dengan Nama Perawi), dan Ulama Muktabar
Pendahuluan
Sahur bukan sekadar bangun dini hari untuk mengisi perut sebelum menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, sahur adalah sumber keberkahan yang menjadi ciri khas umat Nabi Muhammad SAW. Portal ebookanak.com menghadirkan 100 tanya jawab komprehensif tentang makan sahur, disusun berdasarkan dalil shahih dari Al-Qur’an, Hadis, serta pandangan ulama kredibel seperti Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Yusuf Qardhawi. Konten ini dirancang sebagai rujukan utama (evergreen content) agar ibadah puasa Anda semakin sempurna.
Daftar Isi
- Pengertian dan Hukum Sahur
- Keutamaan dan Berkah Sahur
- Waktu Sahur yang Ideal
- Menu dan Tata Cara Makan Sahur
- Niat, Doa, dan Amalan Saat Sahur
- Sahur dalam Perspektif Kesehatan
- Tanya Jawab Seputar Permasalahan Kontemporer Sahur
Q1 – Q15: Pengertian dan Hukum Sahur
Q1: Apa definisi sahur dalam bahasa Arab dan istilah syariat?
Jawaban:
Dalam bahasa Arab, ada dua istilah berbeda. As-Sahuur (dengan fathah pada huruf sin) berarti makanan atau minuman yang disantap saat sahur. Sedangkan As-Suhuur (dengan dhammah pada huruf sin) adalah aktivitas atau perbuatan makan sahur itu sendiri.
Pembahasan:
Para ulama fiqih membedakan kedua istilah ini untuk menjelaskan objek dan subjek keberkahan. Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa keberkahan bisa terdapat pada materi makanannya (sahuur) dan juga pada aktivitas bangun di akhir malamnya (suhuur).
Dalil:
Terdapat dalam berbagai riwayat hadis tentang sahur yang menunjukkan penggunaan kedua istilah tersebut secara bergantian, seperti dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً” (Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat berkah). Kata السَّحُورِ di sini bermakna aktivitas sahur.
Q2: Apa hukum makan sahur bagi orang yang akan berpuasa Ramadan?
Jawaban:
Hukum makan sahur adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan kewajiban. Jika seseorang tidak sahur, puasanya tetap sah, tetapi ia kehilangan keutamaan besar.
Pembahasan:
Ulama sepakat bahwa sahur merupakan anjuran yang sangat ditekankan. Bahkan, para ulama mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali) menegaskan bahwa meninggalkan sahur tanpa uzur syar’i berarti meninggalkan keutamaan.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095).
Q3: Apakah ada perbedaan antara puasa umat Islam dengan ahli kitab terkait sahur?
Jawaban:
Ya, makan sahur adalah pembeda utama antara puasa umat Islam dengan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).
Pembahasan:
Umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa, namun mereka tidak disyariatkan makan di waktu sahur. Mereka berhenti makan jauh sebelum fajar. Islam datang dengan kemudahan, memperbolehkan makan hingga terbit fajar dan bahkan menganjurkannya.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim No. 1096).
Download ebook “100 Tanya Jawab Lengkap tentang Makan Sahur di Bulan Puasa Ramadan” di sini

Q4: Apakah sahur hanya khusus untuk puasa wajib Ramadan?
Jawaban:
Tidak. Anjuran sahur berlaku untuk semua jenis puasa, baik puasa wajib (Ramadan, qadha, nazar) maupun puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, Syawal, dll).
Pembahasan:
Meskipun konteksnya sering dikaitkan dengan Ramadan, keumuman hadis menunjukkan bahwa setiap orang yang ingin berpuasa dianjurkan untuk sahur.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ
“Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur dengan sesuatu.” (HR. Ahmad No. 11086, dishahihkan oleh Syu’aib Al-Arnauth).
Q5: Apakah sahur harus dengan makanan, atau cukup dengan minuman?
Jawaban:
Sahur cukup dengan seteguk air putih. Meski hanya minum, seseorang tetap terhitung telah melakukan sunnah sahur dan mendapatkan keberkahannya.
Pembahasan:
Anjuran ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Islam. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sahur karena keterbatasan makanan. Bahkan, seteguk air pun sudah menjadikan kita termasuk golongan yang mutasahhirin (orang-orang yang bersahur).
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Sahur adalah makanan berkah, maka janganlah kalian tinggalkan walau salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad No. 11086, Ibnu Hibban No. 3476).
Q6: Apakah niat puasa termasuk bagian dari sahur?
Jawaban:
Niat puasa dan makan sahur adalah dua hal yang terpisah, namun dianjurkan untuk menyatukan keduanya di waktu sahur. Waktu sahur adalah momen paling utama untuk berniat puasa.
Pembahasan:
Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari (sebelum fajar). Maka, waktu sahur adalah kesempatan emas untuk melafalkan niat dalam hati sambil menikmati hidangan, sehingga keduanya mendapatkan keberkahan.
Dalil:
Nabi SAW bersabda: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud No. 2454, Tirmidzi No. 730, dishahihkan oleh Al-Albani).
Q7: Benarkah ada istilah “imsak” sebagai batas berhenti makan?
Jawaban:
Imsak dalam penghentian makan 10-15 menit sebelum Subuh adalah ijtihad ulama sebagai langkah kehati-hatian, bukan syariat yang harus ada.
Pembahasan:
Di Indonesia, jadwal imsak dikenal sebagai penanda waktu untuk bersiap-siap. Namun secara fiqih, batas berhenti makan adalah ketika terbit fajar shadiq (masuk waktu Subuh). Para sahabat masih diperbolehkan makan hingga mendengar adzan Bilal, selama adzan itu belum menandakan masuknya Subuh.
Dalil:
Allah SWT berfirman: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Q8: Apakah tidur setelah sahur itu makruh?
Jawaban:
Tidur setelah sahur tidak dihukumi makruh secara mutlak, namun akan lebih baik jika setelah sahur digunakan untuk ibadah (shalat malam, dzikir, baca Al-Qur’an) hingga waktu Subuh tiba.
Pembahasan:
Yang dikhawatirkan adalah jika tidur setelah makan berat dapat membahayakan kesehatan atau menyebabkan seseorang meninggalkan shalat Subuh berjamaah. Para ulama menganjurkan untuk tetap terjaga setelah sahur guna mengisi waktu mustajab dengan doa.
Dalil:
Dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya di malam itu ada suatu saat, tidaklah seorang muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat bertepatan dengan saat itu, melainkan Allah akan memberikannya. Dan itu terjadi setiap malam.” (HR. Muslim No. 757).
Q9: Bolehkah sahur setelah junub?
Jawaban:
Boleh. Sahur tidak disyaratkan harus dalam keadaan suci. Seseorang yang junub tetap dianjurkan untuk makan sahur.
Pembahasan:
Kewajiban mandi junub adalah untuk melaksanakan shalat, bukan untuk makan. Jika seseorang bangun dalam keadaan junub, ia tetap boleh makan dan minum, kemudian mandi setelahnya untuk menunaikan shalat Subuh.
Dalil:
Dari Aisyah RA dan Ummu Salamah RA: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
“Bahwa Rasulullah SAW pernah memasuki waktu fajar dalam keadaan junub karena berhubungan dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari No. 1925, Muslim No. 1109).
Q10: Apakah sahur termasuk rukun puasa?
Jawaban:
Tidak. Sahur bukan rukun puasa. Rukun puasa hanya dua: niat dan imsak (menahan diri) dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Pembahasan:
Sahur adalah penyempurna dan sunnah, bukan penentu sah atau tidaknya puasa. Puasa seseorang tetap sah meskipun ia tidak sahur.
Dalil:
Hadits riwayat Anas bin Malik: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Kami pernah sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian beliau berdiri untuk shalat.” (HR. Bukhari No. 1921). Ini menunjukkan kebiasaan (sunnah), bukan kewajiban.
Q11: Siapa saja yang mendapat keringanan untuk tidak sahur?
Jawaban:
Semua orang yang berpuasa dianjurkan sahur. Namun, uzur yang membolehkan meninggalkannya antara lain: sakit, sangat lapar/kenyang berlebihan, atau kelelahan sehingga dikhawatirkan membahayakan.
Pembahasan:
Rukhshah (keringanan) dalam ibadah sunnah diberikan jika ada masyaqqah (kesulitan) yang nyata.
Dalil:
Allah SWT berfirman: يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Q12: Apakah anak kecil yang berpuasa dianjurkan sahur?
Jawaban:
Sangat dianjurkan, terutama untuk melatih mereka berpuasa sejak dini. Orang tua hendaknya membangunkan anak-anak mereka untuk sahur.
Pembahasan:
Membiasakan anak dengan sunnah sahur menanamkan kecintaan terhadap ibadah dan mengajarkan kedisiplinan. Secara medis, sahur juga penting untuk pertumbuhan dan energi mereka seharian.
Dalil:
Keumuman hadits “تَسَحَّرُوا” (Bersahurlah kalian) mencakup seluruh kaum muslimin yang berpuasa, baik dewasa maupun anak-anak yang telah mumayyiz dan kuat berpuasa. (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095).
Q13: Apakah hukumnya jika kita ragu apakah sudah masuk waktu Subuh atau belum saat makan?
Jawaban:
Diperbolehkan makan dan minum selama kita belum yakin bahwa fajar telah terbit. Hukum asal malam adalah gelap, dan kita tidak boleh keluar dari hukum asal tanpa keyakinan.
Pembahasan:
Ini adalah prinsip penting dalam fiqih. Jika ada keraguan, kita berpegang pada keyakinan bahwa malam masih berlaku.
Dalil:
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
“Jika salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedang bejana (makan/minum) masih di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menyelesaikan hajatnya.” (HR. Abu Daud No. 2350, Ahmad No. 10511, dishahihkan oleh Al-Hakim).
Q14: Apakah membaca basmalah saat sahur itu wajib?
Jawaban:
Membaca basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebelum makan sahur hukumnya sunnah, bukan wajib. Ini berlaku untuk setiap aktivitas makan dan minum.
Pembahasan:
Membaca basmalah mendatangkan keberkahan dalam makanan dan menjauhkan setan yang ikut makan jika kita tidak menyebut nama Allah.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
“Jika salah seorang dari kalian makan, hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Jika ia lupa di awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah fi awwalihi wa akhirihi’ (Dengan nama Allah di awal dan akhirnya).” (HR. Tirmidzi No. 1858, Abu Daud No. 3767, dishahihkan oleh Al-Albani).
Q15: Benarkah sahur adalah waktu dimana Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan malaikat?
Jawaban:
Benar. Waktu sahur (sepertiga malam terakhir) adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, dan saat itu adalah waktu istimewa bagi hamba yang bangun untuk beribadah dan bersahur.
Pembahasan:
Para ulama sufi dan mufassirin menyebut bahwa Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang bangun di waktu sunyi untuk menawarkan ampunan dan memenuhi permintaan mereka.
Dalil:
Hadits Qudsi: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟
“Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu pada sepertiga malam yang akhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni?'” (HR. Bukhari No. 1145, Muslim No. 758).
Q16 – Q30: Keutamaan dan Berkah Sahur
Q16: Apa saja keberkahan yang terkandung dalam sahur?
Jawaban:
Keberkahan sahur meliputi aspek duniawi dan ukhrawi. Secara ukhrawi: mengikuti sunnah, mendapat shalawat Allah dan malaikat, dan waktu mustajab untuk berdoa. Secara duniawi: menguatkan badan, menstabilkan gula darah, dan memudahkan ibadah siang hari.
Pembahasan:
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari merinci setidaknya 5 poin utama keberkahan sahur: (1) Mengikuti sunnah, (2) Menyelisihi Ahli Kitab, (3) Kekuatan ibadah, (4) Kesempatan berdoa, (5) Menambah semangat.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095).
Q17: Apakah benar Allah dan malaikat bershalawat kepada orang yang bersahur?
Jawaban:
Benar. Ini adalah keutamaan luar biasa yang menunjukkan tingginya derajat orang yang bersahur di sisi Allah.
Pembahasan:
Shalawat dari Allah berarti rahmat dan pujian, dari malaikat berarti doa istighfar. Ini adalah pahala yang mengalir hanya karena kita bangun dan makan di waktu sahur.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Sahur adalah makanan berkah, maka janganlah kalian tinggalkan walau salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad No. 11086, Ibnu Hibban No. 3476, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib No. 1067).
Q18: Bagaimana sahur bisa menjadi sebab diampuninya dosa?
Jawaban:
Bukan aktivitas makannya yang langsung mengampuni dosa, tetapi karena waktu sahur adalah waktu turunnya ampunan dan dianjurkannya istighfar. Mereka yang bangun sahur biasanya akan membaca istighfar, dan istighfar inilah yang menjadi sebab ampunan.
Pembahasan:
Allah memuji orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur. Ini menunjukkan bahwa waktu sahur adalah momentum tepat untuk bertaubat.
Dalil:
Allah SWT berfirman: وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
“Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17). Juga firman-Nya: وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan di waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18).
Q19: Apakah sahur termasuk akhlak para nabi?
Jawaban:
Ya, mengakhirkan sahur (mendekati Subuh) disebut sebagai salah satu akhlak para nabi.
Pembahasan:
Hal ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari jalan hidup orang-orang pilihan Allah. Mereka selalu menyempatkan diri untuk bangun di akhir malam, baik untuk makan maupun beribadah.
Dalil:
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ الرُّسُلِ: تَعْجِيلُ الْإِفْطَارِ، وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ، وَوَضْعُ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ
“Tiga hal yang termasuk akhlak para rasul: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas kiri dalam shalat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath No. 5383, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ No. 3038).
Q20: Apakah sahur bisa menjadi penambah pahala sedekah?
Jawaban:
Bisa, jika sahur dilakukan bersama keluarga atau orang lain, atau jika kita menyediakan makanan sahur untuk orang lain.
Pembahasan:
Memberi makan orang yang berpuasa untuk sahur termasuk sedekah yang sangat utama. Apalagi jika kita membantu orang tua atau saudara kita untuk bangun dan menyiapkan makanan.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi No. 807, Ibnu Majah No. 1746, dishahihkan oleh Al-Albani). Keumuman ini mencakup makan sahur karena memberi makan untuk sahur juga membantu orang berpuasa.
Q21: Apa keutamaan bangun sahur selain untuk makan?
Jawaban:
Bangun sahur memungkinkan seseorang untuk melaksanakan shalat malam (tahajud), membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa di waktu yang sangat mustajab.
Pembahasan:
Waktu sahur identik dengan sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu paling utama untuk bermunajat kepada Allah. Orang yang bangun sahur otomatis mendapatkan kesempatan emas ini.
Dalil:
Dari Amr bin Abasah RA, Rasulullah SAW bersabda: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ
“Keadaan yang paling dekat antara Rab dan hamba adalah pada pertengahan malam yang akhir. Jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu, maka lakukanlah.” (HR. Tirmidzi No. 3579, dishahihkan oleh Al-Albani).
Q22: Apakah sahur memberikan kekuatan fisik untuk beribadah?
Jawaban:
Ya. Ini adalah salah satu hikmah terbesar sahur secara medis dan spiritual. Dengan sahur, tubuh memiliki cadangan energi untuk menjalankan aktivitas dan ibadah di siang hari.
Pembahasan:
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa keberkahan zahir sahur adalah menguatkan badan, menjadikan puasa terasa ringan, dan meningkatkan semangat ibadah.
Dalil:
Hal ini dipahami dari keumuman perintah sahur yang bertujuan memberi bekal bagi orang yang berpuasa, sebagaimana firman Allah: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197). Secara analogi, sahur adalah bekal fisik untuk mencapai takwa.
Q23: Mengapa sahur disebut sebagai waktu mustajab untuk berdoa?
Jawaban:
Karena waktu sahur bertepatan dengan sepertiga malam terakhir, saat Allah SWT turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan.”
Pembahasan:
Ini adalah janji langsung dari Allah. Umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya mengisi sahur dengan aktivitas makan, tetapi juga memanjatkan doa-doa terbaik untuk dunia dan akhirat.
Dalil:
Hadits Qudsi: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟
“Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu pada sepertiga malam yang akhir… Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari No. 1145, Muslim No. 758).
Q24: Apakah sahur bisa menghindarkan seseorang dari sifat malas saat puasa?
Jawaban:
Bisa. Dengan asupan nutrisi yang cukup saat sahur, tubuh memiliki energi yang lebih stabil sehingga tidak mudah lemas dan malas.
Pembahasan:
Rasa malas sering timbul karena hipoglikemia (kadar gula darah rendah). Sahur yang baik mencegah kondisi ini. Kekuatan fisik ini kemudian memudahkan seseorang untuk tetap produktif dan rajin beribadah.
Dalil:
Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (7/206) menjelaskan: “فِي السَّحُورِ بَرَكَةٌ” أَيِ الْبَرَكَةُ فِيهِ حَاصِلَةٌ مِنْ جِهَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ… وَمِنْهَا أَنَّهُ يُقَوِّي عَلَى الصِّيَامِ
“Sabda Nabi ‘Dalam sahur itu terdapat berkah’ maksudnya berkah itu didapat dari berbagai aspek… di antaranya adalah bahwa sahur itu menguatkan untuk berpuasa.”
Q25: Apakah orang yang bersahur mendapat pahala seperti orang yang berjuang di jalan Allah?
Jawaban:
Secara spesifik tidak ada dalil yang menyamakan pahala sahur dengan jihad. Namun, kesulitan bangun di malam hari untuk taat kepada Allah termasuk amalan yang berat dan berpahala besar.
Pembahasan:
Meninggalkan tempat tidur yang hangat untuk bangun sahur adalah bentuk perjuangan melawan hawa nafsu (jihadun nafs). Ini termasuk amalan yang dicintai Allah karena keikhlasan yang dibutuhkan sangat tinggi.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذَاتِ اللَّهِ
“Mujahid (pejuang) sejati adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya karena Allah.” (HR. Tirmidzi No. 1621, dishahihkan oleh Al-Albani).
Q26: Apakah sahur termasuk ibadah yang paling utama di bulan Ramadan?
Jawaban:
Sahur bukan ibadah paling utama (yang paling utama adalah puasa itu sendiri dan shalat malam), namun sahur adalah kunci pembuka keberhasilan ibadah puasa.
Pembahasan:
Para ulama menyebut sahur sebagai ‘uddatush shaim (perbekalan orang berpuasa). Tanpa bekal yang cukup, perjalanan ibadah seharian bisa terasa berat.
Dalil:
Hadits tentang perbedaan puasa kita dengan Ahli Kitab menunjukkan bahwa sahur adalah identitas ibadah umat ini: فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim No. 1096).
Q27: Apakah benar setan menjauh dari orang yang bersahur?
Jawaban:
Tidak ada dalil shahih spesifik yang menyatakan setan menjauh karena sahur. Namun, secara umum, aktivitas ketaatan dan dzikir akan menghalangi godaan setan.
Pembahasan:
Sahur yang diiringi dengan doa dan istighfar akan membuat hati seorang mukmin lebih terjaga dari bisikan setan sepanjang hari.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan berjalan dalam diri anak Adam melalui aliran darah.” (HR. Bukhari No. 2038, Muslim No. 2174). Dengan berdzikir dan makan yang halal, kita mempersempit jalan setan.
Q28: Apakah pahala sahur sama dengan pahala puasa?
Jawaban:
Tidak sama. Pahala puasa adalah untuk menahan diri (imsak), sedangkan pahala sahur adalah karena menjalankan sunnah Nabi. Keduanya berbeda namun saling melengkapi.
Pembahasan:
Pahala sahur adalah bonus tersendiri dari Allah bagi hamba-Nya yang bangun di waktu sulit. Ini adalah tambahan rahmat di luar pahala pokok puasa.
Dalil:
Hadits tentang shalawat Allah kepada orang yang bersahur menunjukkan adanya ganjaran khusus: فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad No. 11086).
Q29: Mengapa orang yang bersahur disebut sebagai orang yang mendapatkan “malam penuh keberkahan”?
Jawaban:
Karena mereka yang bangun sahur biasanya menghidupkan malam dengan ibadah, dan malam itu adalah Lailatul Qadar atau malam-malam penuh berkah lainnya.
Pembahasan:
Malam-malam Ramadan, terutama 10 malam terakhir, adalah waktu pencarian Lailatul Qadar. Bangun sahur berarti ikut serta dalam menghidupkan malam-malam tersebut.
Dalil:
Allah SWT berfirman: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Juga sabda Nabi: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari No. 2020, Muslim No. 1169).
Q30: Apakah ada jaminan masuk surga bagi orang yang rutin sahur?
Jawaban:
Tidak ada jaminan spesifik hanya dengan sahur, namun istiqamah dalam sunnah termasuk tanda husnul khatimah.
Pembahasan:
Amalan yang dilakukan secara rutin, meskipun kecil, sangat dicintai Allah. Sahur adalah salah satu sunnah yang jika dijaga, akan menjadi saksi ketaatan seorang hamba.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari No. 6464, Muslim No. 783).




















































