Perjuangan Melawan VOC di Batavia
Kehadiran VOC di Batavia semakin lama semakin dianggap sebagai ancaman bagi Mataram Islam. Kekuasaan Mataram saat itu telah membentang dari Pasuruan hingga Cirebon, sementara VOC menguasai Batavia sejak merebut Jayakarta pada tahun 1619. Sultan Agung menilai keberadaan VOC dapat membahayakan hegemoni Mataram di Jawa sekaligus menghambat penyebaran agama Islam yang tengah ia perjuangkan.
Sebagai langkah awal, Sultan Agung menerapkan strategi ekonomi dengan melarang penjualan beras ke Batavia mulai tahun 1626, agar pasokan pangan VOC di sana terganggu.
Serangan Pertama (1628)
Pada 27 Agustus 1628, pasukan Mataram yang dipimpin Tumenggung Bahureksa, Bupati Kendal, tiba di Batavia. Pasukan kedua menyusul pada bulan Oktober di bawah pimpinan Pangeran Mandurareja. Total kekuatan yang dikerahkan diperkirakan mencapai 10.000 prajurit. Pertempuran besar terjadi di Benteng Hollandia, dan pasukan Mataram sempat berhasil merebutnya.
Namun, serangan ini akhirnya gagal karena kurangnya dukungan logistik. Pihak VOC berhasil membakar lumbung persediaan pangan pasukan Mataram, sehingga bala tentara kehabisan bekal dan tidak mampu mempertahankan posisi mereka.
⚠️
Konsekuensi kekalahan: Menanggapi kegagalan ini, pada Desember 1628 Sultan Agung mengambil tindakan tegas terhadap para pemimpin pasukan yang gagal membawa pulang kemenangan.
Serangan Kedua (1629)
Setahun kemudian, Sultan Agung kembali mengirim pasukan ke Batavia dengan kekuatan yang lebih besar, diperkirakan sekitar 14.000 prajurit. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur, berangkat pada Mei 1629, disusul pasukan kedua di bawah Adipati Juminah pada Juni 1629.
Belajar dari kegagalan sebelumnya, Mataram lebih dahulu mendirikan lumbung-lumbung beras cadangan di Karawang dan Cirebon. Sayangnya, strategi ini diketahui oleh pihak VOC melalui mata-mata, sehingga lumbung tersebut kembali dihancurkan.
Meski demikian, pasukan Mataram menerapkan siasat lain yang cukup berdampak, yaitu membendung dan mengotori aliran Sungai Ciliwung yang menjadi sumber air bagi Batavia. Langkah ini diduga memicu wabah penyakit di kota tersebut, yang menurut sejumlah sumber sejarah turut merenggut nyawa Gubernur Jenderal VOC, J.P. Coen.
- Serangan 1628: dipimpin Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, gagal karena lumbung pangan dibakar VOC.
- Serangan 1629: dipimpin Adipati Ukur dan Adipati Juminah, disertai strategi membendung Sungai Ciliwung.
- Kedua serangan tidak berhasil merebut Batavia sepenuhnya, namun menegaskan keberanian Mataram menantang dominasi VOC.
Walaupun tidak berhasil mengusir VOC dari Batavia, perjuangan Sultan Agung menjadi bukti bahwa raja-raja Nusantara tidak tinggal diam menghadapi kongsi dagang asing yang mulai memperluas kekuasaannya secara sepihak di tanah Jawa.