Ebook Anak

Gaun Pesta Putri Amelia

 12,075,772 total views,  367 views today

Mereka ingin mencari calon istri bagi putra mahkota, Pangeran Nafis.

Raja dan Ratu mengadakan pesta dansa untuk para gadis di kerajaan. Mereka ingin mencari calon istri bagi putra mahkota, Pangeran Nafis.

Seluruh perempuan di kerajaan menyambut undangan Raja itu dengan gembira. Siapa yang tidak ingin menjadi istri Pangeran Nafis yang tampan dan baik hati?

Para gadis mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mereka menjahit pakaian yang paling indah, berdandan, dan berlatih dansa.

Putri Amelia tidak sabar lagi menantikan pesta dansa itu. Ia telah menyiapkan gaun pesta yang istimewa.

Gaun peninggalan ibunya itu terbuat dari sutra qasamah yang sangat langka. Warnanya kuning keemasan dengan hiasan permata yang berkilau cemerlang.

Gaun itu akan terlihat sangat indah ketika dikenakan oleh Putri Amelia yang cantik.

Namun, menjelang pesta dansa, terjadi longsor di desa Permai. Banyak penduduk kehilangan rumah akibat bencana itu.

Putri Amelia amat sedih. Banyak temannya tinggal di desa itu. Mereka pasti kesusahan, pikir sang Putri. Aku harus menolong mereka, katanya dalam hati.

Putri Amelia tidak memiliki banyak barang berharga. Dengan berat hati, ia menjual gaun pestanya kepada Putri Dalila yang kaya-raya.

Uang hasil penjualan gaun itu ia gunakan untuk menolong penduduk desa Permai. Dengan bantuan itu, para penduduk dapat membangun kembali rumah mereka yang hancur. Mereka sangat berterima kasih kepada Putri Amelia.

Putri Amelia datang ke pesta dansa dengan perasaan sedih. Ia merasa kalah cantik dari para gadis yang datang ke istana. Mereka begitu cantik dengan gaun yang indah.

Putri Dalila yang mengenakan gaun sutranya tampil sangat cantik. Pangeran pasti akan memilihnya, pikir Putri Amelia.

Putri Amelia keliru. Pangeran Nafis justru sangat senang bertemu dengan Putri Amelia. Sang Pangeran telah mendengar tentang kedermawanan sang Putri dan bermaksud menjadikannya istri.

Betapa bahagianya Putri Amelia. Ternyata, Pangeran Nafis lebih menghargai kebaikan hatinya daripada kecantikan dan kemewahan gaun yang dikenakan para putri. (Tamat)

Pesan moral: Kecantikan hati lebih utama dibandingkan dengan kecantikan fisik.

Kontributor:

  • Penulis: Mitha Yanuarti
  • Ilustrator: Nonoy
  • Desainer dan layouter: Yuyus Rusamsi
  • Penerbit: Transmedia Pustaka, Jakarta, Indonesia

 1,491 total views,  1 views today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *