Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu

11,467,402 kali dilihat, 2,083 kali dilihat hari ini

Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu

Zaman dahulu, hidup seorang putri raja yang cantik bernama Dayang Sumbi.

Suatu hari, pintalan benang Dayang Sumbi terjatuh entah ke mana.

Dayang Sumbi berucap, “Siapa pun yang bisa mengambilkan benang itu, jika ia perempuan akan aku jadikan saudara, dan jika ia laki-laki akan aku jadikan suami.”

Tanpa terduga, seekor anjing hitam bernama Tumang mengambil pintalan benang yang terjatuh dan mengantarkannya pada Dayang Sumbi.

Ups! Dayang Sumbi pun teringat dengan ucapannya.

Jika ia tidak menepatinya, para Dewa pasti akan marah dan menghukumnya.

Maka, Dayang Sumbi pun menikah dengan Tumang yang ternyata seorang titisan Dewa yang dikutuk menjadi seekor anjing dan dibuang ke bumi.

Dayang Sumbi akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang.

Tapi, Sangkuriang tidak mengetahui bahwa Tumang adalah ayahnya.

Suatu hari, bencana besar terjadi.

Sangkuriang yang sedang marah membunuh Si Tumang.

Tentu saja Dayang Sumbi amat marah dan memukul kepala Sangkuriang dengan gayung hingga terluka.

Sangkuriang diusirnya dari istana.

Sepeninggal Sangkuriang, Dayang Sumbi melakukan pertapaan.

Para Dewa kemudian memberinya kecantikan yang abadi.

Beberapa waktu kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan.

Sangkuriang kembali ke kampung halamannya dan meminang seorang gadis cantik, yang sebenarnya adalah ibunya sendiri.

Akhirnya, Dayang Sumbi menyadari kalau calon suaminya itu adalah anaknya.

Agar pernikahannya gagal, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang untuk membendung Sungai Citarum dan membuat sampan yang besar untuk menyeberangi sungai.

Dayang Sumbi memohon pertolongan para Dewa agar Sangkuriang tidak dapat menyelesaikan tugasnya itu.  

Sangkuriang pun kesal.

Sangkuriang gagal menyelesaikan tugasnya tepat waktu, sehingga ia gagal meminang Dayang Sumbi.

Akhirnya, bendungan yang sudah hampir selesai itu Sangkuriang jebol.

Banjir besar pun melanda seluruh desa, sedangkan perahu besar yang sudah jadi pun Sangkuriang tendang sehingga terlempar jauh dan terbalik.

Perahu besar yang terbalik itu lama kelamaan menjadi sebuah gunung, dan diberi nama Tangkuban Perahu yang berarti perahu terbalik.

Hingga kini, gunung Tangkuban Perahu masih dapat dinikmati keindahannya di daerah Bandung.

Pesan Moral
Agama melarang seorang anak menikahi orangtuanya.

(Cerita dan Dongeng Rakyat Provinsi Jawa Barat)

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Rachman
  • Desainer dan layouter: Kamil Supriatna
  • Penerbit: Transmedia Pustaka (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

Jasa penerbitan buku dan self publishing

Social Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *