Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat (Cerita Rakyat Sumatera Selatan Bilingual)

Loading

Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat

Ada dua pendekar yang gagah perkasa, bernama si Pahit Lidah dan si Mata Empat. Sayangnya, mereka selalu bersaing dan merasa dirinya yang paling hebat.

Hingga suatu hari, mereka bertarung untuk menentukan siapa yang paling hebat. Pertarungan itu berimbang. Untuk menentukan siapa yang menang, akhirnya mereka memutuskan salah seorang dari mereka untuk bertelungkup di bawah pohon aren dan lawannya akan menjatuhkan tandan bunga aren dari atas pohon secara bergantian. Dan siapa yang terkena tandan bunga aren dinyatakan kalah.

Si Mata Empat mendapat giliran pertama. Si Mata Empat memiliki empat mata, yaitu dua di depan dan dua di belakang kepalanya.

Dengan gesit, si Pahit Lidah memanjat pohon aren dan berhasil memotong bunganya. Sementara, si Mata Empat bertelungkup di bawah pohon aren. Karena memiliki empat mata, si Mata Empat pun berhasil menghindari bunga aren yang dijatuhkan dari pohon oleh si Pahit Lidah. Selamatlah si Mata Empat.

Kini, giliran si Mata Empat untuk memanjat pohon aren. Sedangkan, si Pahit Lidah bertelungkup di bawah pohon aren. Dengan cepat si Mata Empat memotong bunga aren dan menjatuhkannya ke tubuh Si Pahit Lidah. Si Pahit Lidah tidak bisa menghindar. Akibatnya, tubuh si Pahit Lidah terkena bunga aren yang tajam. Seketika itu juga ia tewas.

Baca juga:  Download Kartu Pintar Membaca Suku Kata Alfabetis: Dipan, Dasi, Domba, Duyung

Kini, Si Mata Empat menjadi pendekar paling sakti. Namun, si Mata Empat masih penasaran dengan lidah yang dimiliki si Pahit Lidah. Apakah lidahnya benar–benar pahit seperti namanya?

Dibukalah mulut si Pahit Lidah. Kemudian ia tempelkan telunjuknya ke lidah si Pahit Lidah. Lalu, ia jilat jari telunjuknya yang telah terkena liur si Pahit Lidah itu.

“Ups! Benar-benar rasanya sangat pahit.” Memang benar rasa pahit itu adalah racun mematikan yang ada di lidah si Pahit Lidah. Akhirnya, si Mata Empat pun tewas seketika.

Kini, tidak ada lagi pendekar yang terkenal saat itu. Mereka tewas sia-sia akibat kesombongannya sendiri.

The Bitter Tongue and the Four Eyes (South Sumatra Folklore)

There were two brave warriors, named Bitter Tongue and Four Eyes. Unfortunately, they always compete and think they are the best.

Baca juga:  Alexander Yang Agung, Panglima Terbesar Sepanjang Sejarah

Until one day, they fought to determine who was the greatest. The fight was even. To determine who won, they finally decided that one of them would lie face down under a palm tree and his opponent would take turns dropping bunches of palm flowers from the top of the tree. And whoever is hit by the palm flower bunch is declared the loser.

Four Eyes got the first turn. The Four Eyes has four eyes, namely two at the front and two at the back of its head.

With agility, Bitter Tongue climbed the sugar palm tree and managed to cut the flowers. Meanwhile, Four Eyes was lying face down under a palm tree. Because he has four eyes, Four Eyes managed to avoid the palm flowers that were dropped from the tree by Pahit Tongue. Good luck Four Eyes.

Now, it was Four Eyes’ turn to climb the sugar palm tree. Meanwhile, Pahit Lidah was lying face down under a palm tree. Four Eyes quickly cut the palm flower and dropped it on Si Bitter Tongue’s body. Bitter Tongue couldn’t escape. As a result, Pahit Tongue’s body was hit by sharp palm flowers. Immediately he died.

Baca juga:  Cerita Rakyat Sumatera Barat: Lebai Malang (Cerita Rakyat Provinsi Sumatera Barat)

Now, Four Eyes is the most powerful warrior. However, Four Eyes was still curious about the tongue that Bitter Tongue had. Is his tongue really as bitter as its name?

Bitter Tongue’s mouth opened. Then he put his index finger on Bitter Tongue’s tongue. Then, he licked his index finger which had been stained with Bitter Tongue’s saliva.

“Oops! It really tastes very bitter.” It is true that the bitter taste is a deadly poison on the tongue of the Bitter Tongue. Finally, Four Eyes died instantly.

Now, there are no longer any famous warriors at that time. They died in vain due to their own arrogance.

Loading

download ebook anak pdf paket ramadhan