Tiga Ksatria dari Dagho: Kisah Perang Saudara 3 Bersaudara
- Updated: Agustus 3, 2026
![]()
Sinopsis Buku Tiga Ksatria dari Dagho
Identitas Buku
- Judul: Tiga Ksatria dari Dagho
- Penulis: M. Abdul Khak
- Penyunting: Kity Karenisa
- Ilustrator: Dewi Mindasari
- Penerbit: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Tahun Terbit: 2016 (cetakan ulang; edisi pertama terbit tahun 2002)
- ISBN: 979-685-229-2
- Target Pembaca: Siswa SMP (SLTP)
Awal Kisah: Negeri yang Dihantui Perampok
Negeri Dagho di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sering diganggu oleh gerombolan perampok dari Pulau Mindanau, Filipina Selatan. Namun, penduduk Dagho tidak tinggal diam. Negeri ini dikaruniai tiga kulanoโsebutan untuk kesatriaโyang sangat perkasa, yaitu tiga bersaudara: Angsualika, Wangkoang, dan Wahede .
Suatu hari, pasukan perampok kembali menyerang. Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan pimpinan ketiga ksatria ini berhasil menggempur dan mengusir para perampok setelah berjuang selama sehari semalam .
Tiga Ksatria dengan Kelebihan Unik
Ketiga bersaudara ini bukanlah ksatria biasa. Masing-masing memiliki keistimewaan yang membuat mereka disegani musuh :
| Ksatria | Keistimewaan |
| Angsualika (Sulung) | Seorang raksasa dengan badan tinggi, kekar, dan berotot. Senjata andalannya adalah baraโpedang khas masyarakat Dagho. Ia memiliki pasukan yang terdiri atas para raksasa. |
| Wangkoang (Tengah) | Seorang kesatria yang sangat pemberani. Mahir menggunakan berbagai senjata, baik bara maupun panah. Keberaniannya di medan perang tidak diragukan lagi. |
| Wahede (Bungsu) | Ahli strategi perang. Pandai mengatur siasat dan menciptakan jenis senjata baru. Banyak musuh yang terjebak dan kalah karena kepandaiannya. |
Konflik: Perebutan Tahta dan Perang Segitiga
Setelah negeri kembali aman, hidup pun berjalan tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu saat dalam perbincangan santap pagi, Angsualika menyatakan bahwa dirinyalah yang paling tua dan paling perkasa, sehingga berhak menjadi raja .
Wangkoang menentang. Ia merasa keberaniannya di medan perang lebih pantas untuk memimpin. Wahede pun bersikukuh bahwa kepandaiannya dalam mengatur siasat perang menjadikannya calon raja yang paling layak. Pertengkaran hebat terjadi di antara ketiga bersaudara itu .
Untuk mengakhiri perselisihan, Angsualika mengajukan sebuah usul yang berbahaya: perang segitiga. Masing-masing akan membawa pasukannya sendiri, saling berhadapan dan berperang. Siapa yang menang akan menjadi raja .
Persiapan Perang: Tiga Pasukan, Tiga Strategi
Setelah sepakat, mereka diberi waktu satu minggu untuk mempersiapkan pasukan masing-masing .
- Pasukan Angsualika terdiri dari para raksasa yang terus mengasah bara mereka. Mereka siap menyerbu dari daratan.
- Pasukan Wangkoang menyiapkan perahu-perahu perang dan panah-panah berapi. Ia memilih medan perang di laut.
- Pasukan Wahede bersembunyi di dalam gua di puncak gunung. Mereka memasang ketapel-ketapel raksasa di depan mulut gua, sebagai senjata andalan baru ciptaannya.
Puncak Pertempuran: Bara, Panah, dan Batu Bergemuruh
Tepat pada tengah hari, perang segitiga dimulai .
Dari kejauhan, panah-panah berapi pasukan Wangkoang beterbangan ke daratan dan pegunungan. Beberapa anggota pasukan raksasa terbakar dan mengerang kesakitan. Sebagian panah tepat masuk ke gua pasukan Wahede, membuat mereka keluar tunggang langgang .
Di sisi lain, dari puncak gunung, batu-batu besar yang dilontarkan ketapel raksasa berdesing ke dataran rendah, mengenai beberapa raksasa. Sementara batu-batu kecil melayang ke laut, menusuk lambung perahu pasukan Wangkoang hingga bocor dan tenggelam .
Tidak ada yang unggul. Setiap pasukan menyerang dan bertahan dengan sengit. Pasukan raksasa marah besar dan menyerbu ke laut maupun ke gunung. Pasukan Wahede yang tertimbun di gua tetap bertahan dari balik gunung. Penduduk Negeri Dagho menyaksikan perang saudara yang mengerikan itu dari kejauhan .
Pesan Moral: Kekerasan Bukanlah Jalan Keluar
Meskipun hasil akhir pertempuran tidak digambarkan secara rinci dalam bagian cerita ini, buku Tiga Ksatria dari Dagho menyampaikan pesan moral yang kuat .
Kekuatan dan kekerasan tidak dapat menyelesaikan konflik. Perselisihan yang diselesaikan dengan peperangan hanya akan menimbulkan kehancuran, bahkan di antara saudara kandung sendiri. Pada akhirnya, ketiga ksatria itu menyadari bahwa kerja sama dan saling menghormati adalah kunci untuk membangun negeri yang damai dan makmur .
Latar Belakang dan Tujuan Penerbitan
Cerita Tiga Ksatria dari Dagho merupakan saduran dari kumpulan cerita rakyat Tiga Kulano dari Dagho: Kumpulan Cerita Sangir Talaud yang ditulis oleh Paul Nebath pada tahun 1983 . Buku ini diterbitkan sebagai upaya memperkenalkan cerita-cerita rakyat dari wilayah Indonesia Timurโyang masih sangat sedikit diangkat dalam buku-buku bacaan anakโkepada generasi muda Nusantara .


















































