Kumpulan 10 Cerita Rakyat Cina Paling Terkenal Sepanjang Masa – Dongeng Legendaris Penuh Hikmah dan Keajaiban

Loading

Kumpulan 10 Cerita Rakyat Cina Paling Terkenal Sepanjang Masa
lynk.id nurulihsan baner
Download 200+ Ebook Anak Bergambar + Printable

1. Legenda Ular Putih

Legenda Ular Putih adalah salah satu cerita rakyat China yang paling terkenal dan merupakan salah satu dari “Empat Cerita Rakyat Terbesar” China. (ebookanak.com)

Legenda Ular Putih adalah salah satu cerita rakyat China yang paling terkenal dan merupakan salah satu dari “Empat Cerita Rakyat Terbesar” China. Kisah ini mengisahkan cinta terlarang antara seorang manusia dan siluman ular yang telah berevolusi selama ribuan tahun. Berawal dari seekor ular putih bernama Bai Suzhen yang telah berlatih selama seribu tahun hingga bisa berubah wujud menjadi wanita cantik. Ia turun ke dunia fana bukan untuk mengganggu manusia, melainkan untuk membalas budi seorang pemuda bernama Xu Xian yang pernah menyelamatkannya di kehidupan lampau. Ditemani oleh saudari seperguruannya, Xiao Qing yang merupakan siluman ular hijau, Bai Suzhen sengaja menciptakan pertemuan di Danau Barat yang indah. Pertemuan yang diiringi hujan itu menumbuhkan benih cinta, dan mereka pun menikah, hidup bahagia sebagai pasangan manusia biasa dan menjalankan usaha obat-obatan .

Namun, kebahagiaan mereka terusik oleh seorang biksu dari Kuil Jinshan bernama Fa Hai. Fa Hai adalah seorang pendeta dogmatis yang percaya bahwa hubungan antara manusia dan siluman adalah pelanggaran kodrat yang harus dihentikan. Ia berulang kali memperingatkan Xu Xian bahwa istrinya bukanlah manusia, hingga pada suatu hari saat Festival Perahu Naga, Bai Suzhen secara tidak sengaja memperlihatkan wujud aslinya yang membuat Xu Xian terkejut dan meninggal. Untuk menyelamatkan suaminya, Bai Suzhen dengan berani menjelajah ke alam dewa untuk mencari ramuan ajaib. Meskipun berhasil menghidupkan Xu Xian, konflik dengan Fa Hai semakin memuncak. Puncaknya adalah ketika Fa Hai menculik Xu Xian dan mengurungnya di Kuil Jinshan, membuat Bai Suzhen sangat marah. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan gaibnya, ia memicu banjir dahsyat yang menenggelamkan kuil tersebut, sebuah tindakan yang melanggar hukum langit .

Akibat perbuatannya, Bai Suzhen akhirnya ditangkap oleh Fa Hai dan dipenjara di bawah Pagoda Leifeng setelah melahirkan putranya. Ia dikutuk untuk terpisah dari keluarganya selama bertahun-tahun. Kisah ini mencapai akhir yang mengharukan ketika putra mereka tumbuh dewasa dan berhasil menjadi seorang sarjana terkemuka. Ia kemudian datang ke pagoda untuk melakukan ritual dan membebaskan ibunya, menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah. Legenda Ular Putih telah mengalami transformasi besar dari sekadar cerita peringatan moral tentang bahaya siluman menjadi sebuah epik cinta yang universal, mengajarkan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan cinta yang mampu melampaui segala batasan. Kisah ini terus diadaptasi ke dalam berbagai bentuk seni, mulai dari opera tradisional hingga film dan serial televisi modern.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Legenda Ular Putih mengajarkan kita tentang kekuatan cinta sejati yang mampu melampaui segala batasan, termasuk perbedaan spesies, status, dan bahkan aturan kosmis. Bai Suzhen, meskipun seekor siluman, menunjukkan kemanusiaan yang lebih luhur daripada banyak manusia. Pengorbanannya untuk Xu Xian, seperti mempertaruhkan nyawa mencari ramuan ajaib, adalah cerminan dari kasih sayang tanpa pamrih. Kisah ini juga mengkritik sikap dogmatis dan prasangka buta yang diwakili oleh biksu Fa Hai. Ia bertindak atas nama moralitas, namun justru menghancurkan kebahagiaan makhluk hidup. Filosofi yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kebaikan hati tidak ditentukan oleh asal-usul atau wujud fisik, melainkan oleh tindakan dan niat seseorang. Pada akhirnya, cerita ini mengajarkan bahwa kejahatan tidak akan menang selamanya, dan cinta serta pengabdian akan menemukan jalannya untuk bersatu kembali, seperti halnya Bai Suzhen yang akhirnya bebas dari pagoda.

Soal Kuis:

  1. Siapakah nama siluman ular putih yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini?
  2. Apa nama biksu dari Kuil Jinshan yang berusaha memisahkan pasangan tersebut?
  3. Mengapa Bai Suzhen turun ke dunia manusia?
  4. Apa yang terjadi pada Xu Xian saat Festival Perahu Naga?
  5. Di manakah Bai Suzhen dipenjara setelah melahirkan anaknya?

Kunci Jawaban:

  1. Bai Suzhen.
  2. Fa Hai.
  3. Untuk membalas budi Xu Xian yang pernah menyelamatkannya di kehidupan lampau.
  4. Ia terkejut melihat wujud asli Bai Suzhen hingga meninggal.
  5. Di bawah Pagoda Leifeng.

2. Kisah Liang Shanbo dan Zhu Yingtai

Kisah tragis ini adalah perwujudan dari cinta yang setia hingga maut. Pesan paling kuat adalah tentang kesetiaan dan pengorbanan. (ebookanak.com)

Kisah ini, yang sering dijuluki sebagai “Romeo dan Juliet”-nya China, adalah legenda cinta tragis yang telah menyentuh hati jutaan orang selama berabad-abad. Zhu Yingtai adalah seorang gadis cerdas dari keluarga kaya pada masa ketika perempuan tidak diperbolehkan bersekolah. Dengan tekad yang kuat, ia menyamar sebagai laki-laki agar bisa pergi ke sekolah di Hangzhou. Di sana, ia bertemu dan bersahabat dengan seorang pemuda miskin namun rajin dan rendah hati bernama Liang Shanbo. Mereka belajar bersama selama tiga tahun, dan dalam masa itu, Yingtai diam-diam jatuh cinta pada Shanbo. Meskipun sering bersama, Shanbo sama sekali tidak menyadari bahwa sahabat karibnya itu adalah seorang perempuan karena kepandaian Yingtai dalam menjaga penyamarannya .

Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka berpisah dengan berat hati. Sebelum pulang, Yingtai berulang kali memberi kode-kode rahasia kepada Shanbo tentang perasaannya, misalnya dengan mengibaratkan dirinya sebagai “pasangan” jika Shanbo mau menikah dengannya. Namun, Shanbo yang polos tidak pernah memahami maksud tersirat itu. Yingtai kemudian berpamit dan berpesan agar Shanbo mengunjungi keluarganya. Ketika Shanbo akhirnya datang berkunjung, ia terkejut sekaligus bahagia mengetahui bahwa sahabatnya itu ternyata seorang perempuan cantik. Mereka berjanji untuk setia dan Shanbo bertekad untuk melamar Yingtai. Namun, takdir berkata lain. Orang tua Yingtai, tanpa sepengetahuannya, telah menjodohkannya dengan putra seorang pejabat kaya bernama Ma Wencai .

Shanbo yang datang terlambat untuk melamar hanya bisa merasakan patah hati yang mendalam. Ia jatuh sakit akibat duka dan tak lama kemudian meninggal dunia. Yingtai, yang mendengar kabar duka tersebut, hancur hatinya. Pada hari pernikahannya yang dipaksakan, ia meminta rombongan pengantin untuk melewati makam Shanbo. Di depan makam itu, tiba-tiba badai dahsyat datang. Yingtai turun dari tandu, berlari ke makam Shanbo, dan berdoa. Seketika itu juga, makam Shanbo terbelah, dan Yingtai tanpa ragu melompat masuk ke dalamnya. Makam itu kemudian tertutup kembali. Setelah badai reda, sepasang kupu-kupu yang indah terbang keluar dari makam tersebut, dipercaya sebagai arwah Liang Shanbo dan Zhu Yingtai yang akhirnya bersatu untuk selamanya, bebas dari belenggu duniawi.

Paket Ebook Anak

Beli & Download

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Kisah tragis ini adalah perwujudan dari cinta yang setia hingga maut. Pesan paling kuat adalah tentang kesetiaan dan pengorbanan. Zhu Yingtai, yang rela menyamar demi mengejar pendidikan, menunjukkan semangat emansipasi wanita dan keberanian melawan norma sosial pada masanya. Namun, ironisnya, mereka justru dikalahkan oleh sistem patriarki dan adat perjodohan yang kaku. Filosofi di balik kisah ini adalah bahwa cinta yang tulus tidak bisa diukur dengan harta atau status sosial. Liang Shanbo yang miskin namun rendah hati lebih berarti bagi Yingtai daripada Ma Wencai yang kaya raya. Transformasi mereka menjadi kupu-kupu melambangkan pembebasan jiwa dari belenggu duniawi dan keabadian cinta. Pesan moralnya adalah bahwa meskipun tubuh fisik dapat dihancurkan oleh keadaan, semangat dan cinta sejati akan terus hidup dan bersatu dalam bentuk lain. Ini juga menjadi kritik sosial terhadap sistem feodal yang mengabaikan perasaan individu.

Soal Kuis:

  1. Mengapa Zhu Yingtai menyamar sebagai laki-laki?
  2. Siapa nama sahabat Zhu Yingtai di sekolah yang tidak menyadari penyamarannya?
  3. Kepada siapa orang tua Zhu Yingtai menjodohkannya secara paksa?
  4. Apa yang terjadi pada Liang Shanbo setelah mengetahui Yingtai akan dinikahkan dengan orang lain?
  5. Menjelma menjadi apakah arwah Liang Shanbo dan Zhu Yingtai pada akhir cerita?

Kunci Jawaban:

  1. Agar diperbolehkan bersekolah (karena perempuan tidak boleh sekolah pada masa itu).
  2. Liang Shanbo.
  3. Ma Wencai (putra seorang pejabat kaya).
  4. Ia jatuh sakit akibat patah hati dan meninggal dunia.
  5. Sepasang kupu-kupu.

3. Legenda Penggembala Sapi dan Putri Penenun

Niulang dan Zhinü, meskipun hanya bisa bertemu setahun sekali, tidak pernah melupakan cinta mereka. Ini mengajarkan bahwa cinta sejati tidak takut pada rintangan, bahkan rintangan selebar Bima Sakti sekalipun. (ebookanak.com)

Kisah romantis ini berkisah tentang cinta abadi antara seorang manusia biasa dan seorang bidadari, yang menjadi asal-usul perayaan Festival Qixi (Festival Ketujuh Bulan) di China. Alkisah, hiduplah seorang penggembala sapi miskin dan yatim piatu bernama Niulang. Suatu hari, ia melihat sekelompok bidadari turun ke bumi untuk mandi di sebuah danau. Niulang, atas petunjuk sapinya yang ajaib, mengambil dan menyembunyikan selendang milik salah satu bidadari termuda dan tercantik bernama Zhinü, yang juga merupakan Putri Penenun dari surga. Tanpa selendangnya, Zhinü tidak bisa terbang kembali ke surga. Ia pun bertemu dengan Niulang, dan atas perkenan dari sapi ajaib itu, mereka pun jatuh cinta dan menikah .

Baca juga:  Gerombolan Kucing Bermain di Dapur

Niulang dan Zhinü hidup bahagia di bumi. Zhinü, yang mahir menenun, mengajarkan keterampilannya kepada penduduk desa dan mereka pun dikaruniai dua orang anak. Namun, kebahagiaan mereka diketahui oleh Ibu Suri (Ratu Langit) yang marah besar karena seorang bidadari berani menikahi manusia biasa tanpa izin. Ibu Suri mengirim pasukan untuk membawa Zhinü kembali ke surga. Saat Zhinü dibawa paksa pergi, Niulang yang putus asa berusaha mengejarnya dengan bantuan kulit sapi ajaibnya, yang memungkinkannya terbang. Ia menggendong kedua anaknya dalam keranjang dan hampir saja berhasil menyusul Zhinü .

Melihat Niulang semakin mendekat, Ibu Suri mencabut jepit rambutnya dan menggoreskannya di langit, menciptakan sebuah sungai lebar yang bergolak, yang kita kenal sebagai Bima Sakti. Sungai itu memisahkan kedua kekasih tersebut untuk selamanya, Niulang di satu sisi dan Zhinü di sisi lainnya. Mereka hanya bisa saling memandang dari kejauhan dengan penuh duka. Merasa iba, sekelompok burung gagak dan murai membentuk jembatan dengan tubuh mereka di atas Bima Sakti. Ibu Suri akhirnya terharu dan mengizinkan mereka bertemu setahun sekali, tepatnya pada malam hari ketujuh bulan ketujuh penanggalan Imlek. Pada malam itu, dipercaya bahwa sepasang kekasih ini dapat bersatu di Jembatan Murai, dan tradisi ini kemudian dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang di China.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Kisah ini sarat dengan filosofi tentang cinta yang diuji oleh waktu dan jarak. Pesan utamanya adalah pengabdian dan kesabaran. Niulang dan Zhinü, meskipun hanya bisa bertemu setahun sekali, tidak pernah melupakan cinta mereka. Ini mengajarkan bahwa cinta sejati tidak takut pada rintangan, bahkan rintangan selebar Bima Sakti sekalipun. Legenda ini juga mengandung filosofi yin dan yang, keseimbangan alam semesta. Niulang (penggembala, duniawi) dan Zhinü (penenun, surgawi) mewakili dua dunia yang berbeda yang saling melengkapi. Pemisahan mereka dan pertemuan tahunan melambangkan siklus alam dan keseimbangan kosmis. Bagi masyarakat, cerita ini menjadi pengingat akan pentingnya kerja keras (seperti menenun dan bertani) dan bahwa kebahagiaan keluarga adalah anugerah yang harus dijaga. Pesan moralnya adalah jangan pernah menyerah pada cinta, karena kesetiaan dan harapan akan selalu membawa seberkas cahaya di tengah kegelapan.

Soal Kuis:

  1. Siapakah nama penggembala sapi dalam cerita ini?
  2. Apa profesi Zhinü di kayangan?
  3. Benda apa yang disembunyikan Niulang sehingga Zhinü tidak bisa kembali ke surga?
  4. Siapa yang murka dan menciptakan sungai Bima Sakti untuk memisahkan mereka?
  5. Kapan sepasang kekasih ini diizinkan bertemu setiap tahunnya?

Kunci Jawaban:

  1. Niulang.
  2. Putri Penenun (menenun awan).
  3. Selendang / jubah terbang milik Zhinü.
  4. Ibu Suri (Ratu Langit).
  5. Pada malam hari ketujuh bulan ketujuh penanggalan Imlek (Festival Qixi).

4. Nyonya Meng Jiang

Kisah Nyonya Meng Jiang adalah sebuah epik perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekejaman kekuasaan. Pesan moral yang paling menonjol adalah tentang kekuatan cinta dan kesetiaan seorang istri yang luar biasa. (ebookanak.com)

Kisah Nyonya Meng Jiang adalah salah satu dari “Empat Cerita Rakyat Terbesar” China, sebuah legenda tragis yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat perang dan kerja paksa di masa lalu. Cerita berlatar pada zaman Dinasti Qin, di mana Kaisar Qin Shi Huang memerintahkan pembangunan Tembok Besar China untuk menahan serangan musuh dari utara. Jutaan rakyat jelata dikerahkan secara paksa untuk bekerja dalam kondisi yang sangat kejam dan tidak manusiawi. Di tengah situasi ini, hiduplah seorang pemuda bernama Fan Xiliang yang sedang bersembunyi dari kejaran petugas kerja paksa. Ia bersembunyi di kebun milik keluarga Meng, dan secara tidak sengaja bertemu dengan putri keluarga itu, Meng Jiangnü. Karena Fan Xiliang adalah pemuda yang baik, keluarga Meng menerimanya dan bahkan menikahkannya dengan Meng Jiangnü.

Namun, kebahagiaan mereka hanya berlangsung sebentar. Pada malam pernikahan mereka, para petugas kerajaan menemukan persembunyian Fan Xiliang dan langsung menangkapnya untuk dikirim membangun Tembok Besar. Meng Jiangnü ditinggal sendirian, menanti kabar suaminya dengan penuh kecemasan. Musim dingin tiba, dan ia teringat bahwa suaminya tidak membawa pakaian hangat. Dengan tekad bulat, ia memutuskan untuk berjalan kaki ribuan kilometer menuju utara untuk mengantarkan pakaian hangat bagi suaminya. Perjalanannya penuh rintangan, namun cintanya yang besar padanya membuatnya pantang menyerah. Ketika akhirnya tiba di lokasi pembangunan tembok raksasa itu, ia mendapat kabar yang menghancurkan hati.

Meng Jiangnü diberitahu bahwa suaminya, Fan Xiliang, telah meninggal dunia karena kelelahan dan kekejaman kerja paksa, dan jenazahnya dikuburkan begitu saja di dalam fondasi tembok. Mendengar itu, Meng Jiangnü berteriak histeris dan menangis tersedu-sedu di kaki tembok. Tangisannya begitu pilu dan dahsyat hingga mengguncang alam. Selama tiga hari tiga malam ia menangis tanpa henti, hingga tiba-tiba langit gelap dan bumi berguncang. Bagian Tembok Besar sepanjang beberapa kilometer itu runtuh, memperlihatkan tumpukan tulang-belulang. Untuk mengenali suaminya, ia menusukkan jarinya hingga darah menetes ke tulang-tulang itu, percaya bahwa darahnya akan meresap ke tulang suaminya. Kaisar Qin Shi Huang yang mendengar kejadian ini datang melihat dan terpesona oleh kecantikan Meng Jiangnü, namun ia lebih memilih untuk bunuh diri agar dapat bersatu kembali dengan suaminya di alam baka.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Kisah Nyonya Meng Jiang adalah sebuah epik perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekejaman kekuasaan. Pesan moral yang paling menonjol adalah tentang kekuatan cinta dan kesetiaan seorang istri yang luar biasa. Perjalanan ribuan kilometer yang ditempuh Meng Jiangnü menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan dan pengorbanan tanpa batas. Air matanya yang mampu meruntuhkan Tembok Besar adalah simbol dari kekuatan emosi manusia yang murni—duka cita yang begitu dalam hingga mampu mengguncang alam dan kekuasaan. Secara filosofis, cerita ini mengkritik tirani dan kerja paksa di bawah pemerintahan Qin Shi Huang. Tembok Besar, yang seharusnya menjadi simbol kekuatan, justru runtuh oleh tangisan seorang wanita lemah. Ini mengajarkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan rakyat pada akhirnya akan rapuh. Pesan moralnya adalah bahwa cinta, kesetiaan, dan kebenaran memiliki kekuatan yang lebih besar daripada senjata dan tembok.

Soal Kuis:

  1. Pada masa dinasti manakah kisah Nyonya Meng Jiang berlatar?
  2. Siapa nama suami Meng Jiangnü yang ditangkap dan dipaksa kerja paksa?
  3. Untuk apa Meng Jiangnü melakukan perjalanan ribuan kilometer ke utara?
  4. Kabar apa yang diterima Meng Jiangnü setibanya di lokasi pembangunan Tembok Besar?
  5. Apa yang terjadi pada Tembok Besar akibat tangisan Meng Jiangnü?

Kunci Jawaban:

  1. Dinasti Qin.
  2. Fan Xiliang.
  3. Untuk mengantarkan pakaian hangat bagi suaminya.
  4. Bahwa suaminya telah meninggal dan jenazahnya dikubur di dalam tembok.
  5. Tembok Besar runtuh sepanjang beberapa kilometer.

5. Asal-Usul Monster Nian

Kedatangan lelaki tua mengajarkan bahwa ketakutan hanya bisa diatasi dengan menghadapinya, bukan melarikan diri. Ia menggunakan akal dan pengetahuan (warna merah, cahaya, suara keras) untuk mengalahkan musuh yang lebih besar. (ebookanak.com)

Ini adalah cerita rakyat yang paling populer terkait dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor monster buas bernama Nian (yang dalam bahasa China berarti “tahun”) yang tinggal di dasar laut. Nian memiliki kepala besar dengan tanduk tajam dan tubuh raksasa yang mengerikan. Setiap tahun, tepat pada malam pergantian tahun, monster ini akan naik ke darat dan menyerang desa-desa pesisir untuk mencari mangsa, baik ternak maupun manusia. Penduduk desa hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Setiap akhir tahun, mereka harus mengungsi ke pegunungan yang jauh untuk menyelamatkan diri dari keganasan monster Nian, meninggalkan desa mereka yang lengang .

Suatu tahun, ketika penduduk desa sedang bersiap-siap untuk mengungsi, datanglah seorang lelaki tua dengan rambut putih dan jubah merah. Ia meminta tempat tinggal di desa tersebut, namun semua orang sibuk mengungsi dan menyarankannya ikut pergi. Lelaki tua itu dengan tenang berkata bahwa ia tidak takut pada Nian dan yakin bisa mengusirnya. Tidak ada yang percaya, namun seorang wanita tua yang baik hati memberinya tempat berlindung. Ketika malam tiba dan Nian memasuki desa, monster itu melihat sesuatu yang berbeda. Rumah wanita tua itu dipenuhi cahaya lilin yang terang benderang. Di pintu rumahnya, lelaki tua itu menempelkan kertas merah besar. Nian berhenti, tampak bingung dan takut. Kemudian, lelaki tua itu keluar dengan mengenakan pakaian merah serba merah dan mulai membakar potongan bambu yang mengeluarkan bunyi letusan keras (cikal bakal petasan). Monster Nian sangat ketakutan oleh warna merah, cahaya terang, dan suara gemuruh itu, lalu segera melarikan diri ke dasar laut dan tidak pernah kembali lagi .

Keesokan harinya, ketika penduduk desa kembali dari pengungsian, mereka terkejut melihat desa masih utuh dan tidak ada tanda-tanda kerusakan. Wanita tua itu kemudian menceritakan apa yang dilakukan oleh lelaki tua misterius tersebut. Sejak saat itu, setiap malam Tahun Baru Imlek, masyarakat China mengadopsi tradisi untuk mengusir roh jahat dan nasib buruk. Mereka menempelkan kertas merah dan gulungan kaligrafi merah di pintu (kuplet), menyalakan lilin atau lampu sepanjang malam, dan membakar petasan. Tradisi ini kemudian dikenal sebagai “Guo Nian” yang berarti “Melewati Tahun” atau “Mengatasi Monster Nian”, dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek di seluruh dunia.

Baca juga:  Warnai Gambarnya dengan Bagus!

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Di balik cerita sederhana tentang monster yang takut warna merah dan suara keras, tersimpan filosofi yang dalam tentang keberanian dan inovasi dalam menghadapi ketakutan. Selama bertahun-tahun, penduduk desa hanya bisa lari dari monster Nian. Mereka hidup dalam ketakutan tanpa pernah mencoba melawan. Kedatangan lelaki tua mengajarkan bahwa ketakutan hanya bisa diatasi dengan menghadapinya, bukan melarikan diri. Ia menggunakan akal dan pengetahuan (warna merah, cahaya, suara keras) untuk mengalahkan musuh yang lebih besar. Ini adalah metafora bahwa masalah dan rintangan dalam hidup (dilambangkan oleh Nian) bisa diatasi dengan kreativitas, persatuan, dan keberanian. Tradisi Tahun Baru Imlek kemudian menjadi simbol kemenangan harapan dan keberanian atas ketakutan dan kemalangan. Pesan moralnya adalah bahwa dengan kebijaksanaan dan usaha bersama, bahkan monster terbesar pun bisa dikalahkan.

Soal Kuis:

  1. Di mana monster Nian tinggal?
  2. Kapan monster Nian biasa naik ke darat untuk menyerang desa?
  3. Apa yang dilakukan penduduk desa setiap tahun untuk menyelamatkan diri dari Nian?
  4. Tiga hal apa yang ditakuti oleh monster Nian?
  5. Tradisi apa yang lahir dari kisah ini dan masih dilakukan saat Imlek?

Kunci Jawaban:

  1. Di dasar laut.
  2. Setiap malam pergantian tahun (malam Tahun Baru Imlek).
  3. Mengungsi ke pegunungan yang jauh.
  4. Warna merah, cahaya terang/lilin, dan suara keras (petasan).
  5. Menempelkan kertas merah (kuplet), menyalakan lilin, dan membakar petasan.

6. Asal-Usul 12 Shio

Cerita ini penuh dengan nilai-nilai tentang kecerdikan, kerja sama, dan konsekuensi dari tindakan. Setiap binatang memiliki karakteristik unik yang membantunya mencapai garis finis. (ebookanak.com)

Cerita rakyat ini menjelaskan bagaimana dua belas binatang dipilih dan diurutkan menjadi lambang zodiak China yang kita kenal sekarang. Alkisah, Kaisar Giok (Jade Emperor), penguasa langit, ingin memilih dua belas binatang untuk menjadi penjaga waktu, masing-masing mewakili satu tahun dalam satu siklus. Ia mengumumkan sebuah perlombaan besar: semua binatang di seluruh penjuru dunia diundang untuk mengikuti sebuah kontes menyeberangi sungai. Dua belas binatang pertama yang berhasil mencapai garis finis di sisi lain sungai akan mendapatkan tempat dalam zodiak dan namanya akan diabadikan untuk satu tahun.

Semua binatang sangat antusias. Kucing dan tikus, yang pada saat itu adalah sahabat karib, sepakat untuk berangkat bersama. Namun, tikus yang cerdik namun licik, khawatir akan ketinggalan. Ia meminta kerbau yang baik hati untuk membawanya menyeberang karena ia tidak pandai berenang. Kerbau setuju, dan tikus pun naik ke punggungnya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan kucing yang hampir tenggelam. Tanpa sepengetahuan kerbau, tikus yang jahat malah mendorong kucing tersebut ke dalam air agar tidak bisa mendahuluinya. Kucing hamp saja mati tenggelam dan berhasil selamat namun terlambat, itulah mengapa kucing tidak termasuk dalam shio dan sejak itu membenci tikus.

Saat kerbau hampir mencapai garis finis dan akan menjadi yang pertama, tikus dengan sigap melompat dari punggung kerbau dan mendarat lebih dulu di tepi sungai. Karena itu, tikus menjadi urutan pertama dalam shio, diikuti oleh kerbau di urutan kedua. Setelah itu, binatang-binatang lain tiba satu per satu. Harimau yang perkasa tiba di urutan ketiga, kelinci yang gesit melompat-lompat di atas batu dan menjadi keempat, naga yang perkasa terbang dan menjadi kelima, tetapi ia terlambat karena sempat menolong beberapa makhluk lain di tengah jalan. Kemudian disusul oleh ular di urutan keenam, kuda di urutan ketujuh, kambing di urutan kedelapan, monyet di urutan kesembilan, ayam di urutan kesepuluh, anjing di urutan kesebelas, dan babi yang terakhir di urutan kedua belas. Sejak saat itu, kedua belas binatang ini dikenal sebagai shio yang membentuk siklus dua belas tahunan dalam budaya China.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Cerita ini penuh dengan nilai-nilai tentang kecerdikan, kerja sama, dan konsekuensi dari tindakan. Setiap binatang memiliki karakteristik unik yang membantunya mencapai garis finis. Kerbau mengajarkan tentang kebaikan hati dan kekuatan, namun ia dikalahkan oleh kecerdikan tikus. Tikus mengajarkan bahwa kecerdasan dan ketepatan waktu itu penting, tetapi kelicikannya juga membawa konsekuensi, yaitu permusuhan abadi dengan kucing. Filosofi di sini adalah bahwa keberhasilan bisa diraih dengan berbagai cara, baik melalui kekuatan, kecepatan, maupun kecerdikan. Namun, persaingan yang tidak sehat (seperti mencelakakan kucing) akan meninggalkan luka dan musuh. Urutan shio juga mengajarkan tentang siklus waktu dan harmoni. Masing-masing dari 12 binatang, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memiliki tempat dan waktunya sendiri dalam siklus yang tak terputus. Ini adalah pengingat bahwa dalam kehidupan, setiap makhluk memiliki peran dan kesempatannya masing-masing.

Soal Kuis:

  1. Siapa yang mengadakan perlombaan untuk memilih 12 binatang shio?
  2. Binatang apa yang menjadi urutan pertama dalam shio dan bagaimana caranya?
  3. Binatang apa yang menjadi sahabat tikus dan mengapa ia tidak termasuk dalam shio?
  4. Binatang apa yang berada di urutan kedua dan membantu tikus menyeberang?
  5. Binatang apa yang menjadi urutan terakhir (kedua belas) dalam shio?

Kunci Jawaban:

  1. Kaisar Giok (Jade Emperor).
  2. Tikus. Ia melompat dari punggung kerbau saat hampir mencapai garis finis.
  3. Kucing. Tikus mendorongnya ke air sehingga kucing hampir tenggelam dan terlambat.
  4. Kerbau.
  5. Babi.

7. Legenda Cai Shen, Dewa Kekayaan

Cai Shen adalah salah satu dewa yang paling populer dan dipuja dalam kepercayaan tradisional China, terutama saat perayaan Tahun Baru Imlek. (ebookanak.com)

Cai Shen adalah salah satu dewa yang paling populer dan dipuja dalam kepercayaan tradisional China, terutama saat perayaan Tahun Baru Imlek. Ada beberapa versi tentang siapa sebenarnya Cai Shen, tetapi salah satu yang paling terkenal adalah kisah tentang seorang saudagar kaya raya yang sangat dermawan. Alkisah, hiduplah seorang pria bernama Bi Gan, seorang pejabat jujur pada masa Dinasti Shang. Ia dikenal karena kebijaksanaan dan integritasnya. Namun, karena kelicikan selir kesayangan raja, ia difitnah dan dihukum mati dengan cara dadanya dibedah. Konon, setelah meninggal, ia diangkat menjadi dewa oleh Kaisar Giok karena hatinya yang bersih dan jujur, melambangkan bahwa ia tidak akan pernah bersikap tidak adil atau serakah dalam membagikan kekayaan.

Versi lain yang lebih populer di kalangan masyarakat adalah tentang seorang saudagar kaya bernama Shen Wansan pada masa Dinasti Ming. Ia memulai dari bawah dan melalui kerja keras serta kecerdasannya, ia berhasil mengumpulkan harta yang tak terhitung jumlahnya. Legenda mengatakan bahwa ia memiliki guci ajaib yang bisa melipatgandakan uang atau emas yang dimasukkan ke dalamnya. Meskipun kaya raya, ia tidak pernah pelit. Ia dikenal sangat dermawan, suka membantu orang miskin, membangun jembatan, dan memperbaiki jalan untuk kesejahteraan bersama. Karena kedermawanan dan kebaikan hatinya, setelah meninggal, masyarakat memujanya sebagai Cai Shen, Dewa Kekayaan .

Tradisi menyambut Cai Shen setiap tahun baru merupakan momen yang sangat penting. Umat Tionghoa percaya bahwa menyambut Cai Shen dengan penuh suka cita, membersihkan rumah, dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik akan mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran di tahun yang baru. Mereka akan memasang gambar Cai Shen di rumah atau tempat usaha, membakar dupa, dan mempersembahkan makanan. Cai Shen sering digambarkan sebagai sosok yang gagah dengan pakaian kebesaran berwarna emas dan merah, membawa batangan emas atau alat pemanggil kekayaan. Ia adalah simbol harapan akan kemakmuran, kebahagiaan, dan keberuntungan dalam hal finansial bagi masyarakat China di seluruh dunia.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Legenda Cai Shen (terutama versi Shen Wansan) memberikan filosofi yang sangat mendalam tentang hakikat kekayaan yang sebenarnya. Pesan moralnya bukanlah tentang bagaimana menjadi kaya, melainkan tentang apa yang harus dilakukan setelah kaya. Shen Wansan dihormati bukan hanya karena kekayaannya, tetapi karena kedermawanan dan kepeduliannya terhadap sesama. Ia menggunakan kekayaannya untuk membangun jembatan dan membantu orang miskin. Filosofi yang diajarkan adalah bahwa kekayaan sejati bukanlah akumulasi harta, melainkan keberkahan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Cai Shen menjadi dewa karena hatinya yang bersih dan dermawan, bukan karena guci ajaibnya. Ini mengajarkan bahwa rezeki dan keberuntungan akan datang kepada mereka yang rendah hati, jujur, dan suka berbagi. Dalam budaya China, menyembah Cai Shen adalah pengingat untuk selalu berusaha, berbisnis dengan jujur, dan menggunakan kekayaan untuk kebaikan bersama.

Soal Kuis:

  1. Apa nama saudagar kaya dan dermawan yang dipuja sebagai Cai Shen dalam salah satu versi cerita?
  2. Benda ajaib apa yang konon dimiliki oleh saudagar tersebut?
  3. Selain kaya raya, sifat baik apa yang membuat Shen Wansan dipuja sebagai dewa?
  4. Pada perayaan apa umat Tionghoa secara khusus menyambut kedatangan Cai Shen?
  5. Apa yang sering digambarkan di tangan Cai Shen sebagai simbol kekayaan?

Kunci Jawaban:

  1. Shen Wansan.
  2. Guci ajaib yang bisa melipatgandakan uang atau emas.
  3. Kedermawanan dan suka membantu orang miskin.
  4. Tahun Baru Imlek.
  5. Batangan emas.

8. Hou Yi Memanah Matahari

Dengan sekali tarikan, anak panah melesat cepat dan tepat mengenai salah satu matahari, meledakkannya menjadi percikan api. (ebookanak.com)

Ini adalah salah satu mitos tertua dan paling terkenal di China, berkisah tentang seorang pahlawan perkasa yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Pada zaman kuno, sepuluh matahari bersaudara muncul bersama-sama di langit. Mereka adalah putra dari Di Jun, dewa langit timur, dan biasanya bergantian memancarkan cahaya. Namun, suatu hari mereka memutuskan untuk melanggar aturan dan muncul bersamaan untuk bersenang-senang. Akibatnya, bumi menjadi neraka yang mengerikan. Panas yang dahsyat membakar tanaman, hutan, dan ladang hingga hangus. Sungai-sungai mengering, lautan mendidih, dan bebatuan meleleh. Manusia dan makhluk hidup lainnya menderita kelaparan dan kepanasan, nyaris punah. Binatang-binatang buas seperti ular raksasa dan monster mengerikan juga bermunculan dari kegelapan untuk memburu manusia yang lemah .

Baca juga:  Cerita Rakyat Nusantara Nanggroe Aceh Darussalam; Tujuh Anak yang Berbakti; Membawa Ketujuh Anaknya ke Hutan

Kaisar Langit, Kaisar Yao, yang menyaksikan penderitaan rakyatnya, sangat terpukul dan berdoa memohon pertolongan. Mendengar doa tulus Kaisar Yao, Dewa Langit memerintahkan seorang pemanah ulung bernama Hou Yi untuk turun ke bumi dan menolong umat manusia. Hou Yi, seorang kesatria sakti dengan busur dan panahnya yang tak pernah meleset, menerima tugas berat itu. Ia membawa serta istrinya, Chang’e, dan turun ke bumi. Ia segera melihat pemandangan mengerikan yang disebabkan oleh sepuluh matahari itu. Dengan penuh kemarahan dan tekad membela manusia, Hou Yi naik ke puncak gunung tertinggi. Ia membidikkan panahnya ke arah matahari-matahari tersebut.

Dengan sekali tarikan, anak panah melesat cepat dan tepat mengenai salah satu matahari, meledakkannya menjadi percikan api. Satu per satu, Hou Yi memanahkan matahari-matahari itu hingga sembilan matahari berhasil dijatuhkannya. Bumi mulai mendingin dan kehidupan mulai pulih. Ketika ia hendak memanah matahari yang terakhir, seorang tetua dan Kaisar Yao sendiri memintanya untuk berhenti. Mereka mengingatkan bahwa matahari yang terakhir diperlukan untuk menerangi dan menghangatkan bumi. Hou Yi mendengar nasihat itu dan membiarkan satu matahari terakhir tetap bersinar. Atas jasanya yang besar, Hou Yi dipuja sebagai pahlawan besar penyelamat umat manusia, sementara sembilan matahari yang mati berubah menjadi burung gagak emas.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Kisah Hou Yi adalah sebuah ode bagi keberanian, tanggung jawab, dan keseimbangan. Hou Yi adalah pahlawan yang tidak hanya gagah berani, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap sesama manusia. Ia turun ke bumi dan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Filosofi utamanya adalah tentang keseimbangan. Tindakannya memanah sembilan matahari adalah upaya mengembalikan keseimbangan alam yang telah rusak akibat keserakahan (sepuluh matahari yang muncul bersama). Namun, ia juga bijaksana untuk tidak memusnahkan semuanya. Ia menyisakan satu matahari karena menyadari bahwa matahari juga diperlukan untuk kehidupan. Ini mengajarkan bahwa dalam bertindak, kita harus memiliki rasa proporsional dan tidak boleh berlebihan. Kekuatan harus digunakan secara bijaksana, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memulihkan harmoni. Pesan moralnya adalah bahwa seorang pemimpin atau pahlawan sejati adalah mereka yang menggunakan kekuatannya untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan.

Soal Kuis:

  1. Berapa jumlah matahari yang ada di langit pada awal cerita?
  2. Apa akibatnya jika semua matahari itu muncul bersamaan?
  3. Siapakah pemanah ulung yang ditugaskan untuk menolong umat manusia?
  4. Berapa jumlah matahari yang berhasil dipanah oleh Hou Yi?
  5. Mengapa Hou Yi menyisakan satu matahari terakhir?

Kunci Jawaban:

  1. Sepuluh matahari.
  2. Bumi menjadi neraka: tanaman hangus, sungai mengering, manusia menderita.
  3. Hou Yi.
  4. Sembilan matahari.
  5. Karena satu matahari masih diperlukan untuk menerangi dan menghangatkan bumi.

9. Nuwa Menciptakan Manusia

Nuwa adalah dewi agung dalam mitologi China, dikenal sebagai pencipta umat manusia dan juga penyelamat dunia dari kehancuran. (ebookanak.com)

Nuwa adalah dewi agung dalam mitologi China, dikenal sebagai pencipta umat manusia dan juga penyelamat dunia dari kehancuran. Setelah langit dan bumi terpisah oleh Pangu, dunia sudah terbentuk dengan gunung, sungai, dan tumbuhan. Namun, Nuwa merasa dunia ini terasa sepi dan sunyi. Saat ia berjalan-jalan di tepi sungai, ia melihat bayangannya sendiri di air. Ia pun mendapat ide untuk menciptakan makhluk yang bisa bergerak dan berpikir seperti dirinya. Ia mengambil segenggam tanah liat kuning, mencampurnya dengan air, dan mulai membentuk patung kecil menyerupai dirinya. Begitu patung itu diletakkan di tanah, keajaiban terjadi: patung itu hidup dan mulai melompat-lompat riang. Nuwa sangat gembira dan terus menciptakan lebih banyak lagi patung .

Namun, menciptakan satu per satu dengan tangan membutuhkan waktu yang sangat lama. Nuwa ingin mengisi seluruh dunia dengan makhluk-makhluk ini dengan lebih cepat. Ia kemudian mengambil sebatang tanaman rambat, mencelupkannya ke dalam lumpur, lalu mengibaskannya ke segala arah. Percikan-percikan lumpur yang jatuh ke tanah segera berubah menjadi manusia-manusia baru. Dengan cara ini, ia berhasil menciptakan banyak sekali manusia dalam waktu singkat. Konon, manusia yang diciptakan dari tanah liat dengan tangan menjadi bangsawan dan orang kaya, sementara manusia yang tercipta dari percikan lumpur menjadi rakyat biasa dan orang miskin. Manusia-manusia ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi dan menghuni dunia.

Sayangnya, kedamaian itu tidak bertahan lama. Terjadi bencana besar ketika dewa api dan dewa air bertarung, hingga menyebabkan salah satu pilar langit patah. Langit roboh di satu sisi, bumi terbelah, dan banjir bandang serta api berkobar di mana-mana. Monster-monster laut juga keluar meneror manusia. Melihat ciptaannya terancam punah, Nuwa bekerja keras menyelamatkan dunia. Ia mengumpulkan lima batu berwarna-warni, meleburnya menjadi bubur untuk menambal lubang di langit. Ia kemudian memotong kaki kura-kura raksasa untuk dijadikan pilar baru penyangga langit. Ia juga membunuh monster besar dan membendung banjir dengan abu alang-alang. Setelah usahanya yang gigih, dunia akhirnya kembali aman dan manusia bisa hidup bahagia. Nuwa pun dihormati sebagai dewi pelindung umat manusia hingga kini.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Kisah Nuwa mengandung filosofi tentang asal-usul, tanggung jawab, dan cinta seorang pencipta. Nuwa menciptakan manusia bukan karena perintah, melainkan karena rasa kesepian dan kasih sayang. Ia ingin berbagi keindahan dunia dengan makhluk lain. Ini mengajarkan bahwa tindakan mencipta lahir dari cinta. Ketika ciptaannya terancam, ia tidak tinggal diam. Ia melakukan segala daya untuk memperbaiki langit dan menyelamatkan manusia. Ini adalah simbol dari tanggung jawab seorang pemimpin atau orang tua terhadap yang dilindunginya. Filosofi lain adalah tentang kesetaraan dan keragaman. Meskipun ada perbedaan cara penciptaan (tangan vs percikan), pada akhirnya semua manusia adalah ciptaan yang sama, berasal dari bahan yang sama (tanah liat). Ini adalah pesan kuat tentang persamaan derajat semua manusia. Nuwa, sebagai figur ibu, mewakili kekuatan feminin (yin) yang menciptakan dan memelihara kehidupan, serta keberanian untuk memperbaikinya ketika rusak.

Soal Kuis:

  1. Apa yang dirasakan Nuwa saat berjalan-jalan di dunia yang baru terbentuk?
  2. Bahan apa yang digunakan Nuwa untuk membuat manusia pertama?
  3. Alat apa yang digunakan Nuwa untuk menciptakan manusia dalam jumlah banyak dengan cepat?
  4. Bencana besar apa yang terjadi setelah manusia menghuni bumi?
  5. Bagaimana cara Nuwa memperbaiki langit yang roboh?

Kunci Jawaban:

  1. Kesepian (karena dunia terasa sunyi).
  2. Tanah liat kuning dan air.
  3. Tanaman rambat yang dicelupkan ke lumpur lalu diibaskan.
  4. Langit roboh, bumi terbelah, banjir dan api di mana-mana.
  5. Mengumpulkan lima batu berwarna-warni, meleburnya, dan menambal langit.

10. Legenda Kuplet Musim Semi

Tradisi menempelkan kuplet atau sajak musim semi di pintu setiap perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari sebuah legenda kuno. (ebookanak.com)

Tradisi menempelkan kuplet atau sajak musim semi di pintu setiap perayaan Tahun Baru Imlek juga berasal dari sebuah legenda kuno. Cerita ini bermula dari kepercayaan akan pohon persik raksasa yang tumbuh di sebuah gunung di dunia hantu. Pohon persik ini konon membentang sangat luas hingga ribuan kilometer. Di cabang timur laut pohon tersebut, terdapat sebuah lubang yang menjadi pintu masuk bagi hantu-hantu untuk keluar masuk ke dunia manusia. Di pintu masuk ini, berdirilah dua orang penjaga sakti bernama Shentu dan Yulei. Mereka bertugas untuk mengawasi semua hantu yang lewat. Jika ada hantu yang kedapatan keluar dan mengganggu atau menyakiti manusia, mereka akan segera menangkap hantu tersebut, mengikatnya dengan tali dari batang rami, dan memberikannya kepada harimau untuk dimakan .

Oleh karena itu, semua hantu sangat ketakutan pada kedua penjaga ini. Masyarakat zaman dulu kemudian percaya bahwa untuk melindungi rumah mereka dari gangguan makhluk halus dan nasib buruk, mereka bisa menempatkan gambar atau patung kedua penjaga ini di pintu rumah. Awalnya, mereka membuat patung dari kayu persik, lalu menuliskan nama kedua dewa penjaga tersebut di papan kayu persik yang disebut “taofu”. Papan kayu persik ini digantung di pintu sebagai jimat penolak bala. Tradisi ini berlangsung selama berabad-abad .

Memasuki masa Dinasti Song (960-1279 Masehi), tradisi ini mulai berkembang. Orang-orang tidak hanya menuliskan nama dewa penjaga, tetapi mulai menuliskan dua baris sajak atau kalimat indah yang mengandung harapan dan keberuntungan di atas papan kayu persik tersebut. Mereka menuliskan harapan-harapan baik untuk tahun yang akan datang, seperti kemakmuran, kebahagiaan, dan umur panjang. Seiring berjalannya waktu, kayu persik yang mahal dan sulit diukir perlahan-lahan digantikan dengan kertas merah yang lebih praktis dan meriah. Warna merah dalam budaya China melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan juga dipercaya dapat menakuti roh jahat. Hingga saat ini, menempelkan kuplet musim semi di pintu telah menjadi tradisi abadi yang dilakukan oleh masyarakat China di seluruh dunia setiap menyambut Tahun Baru Imlek, sebagai simbol harapan dan penyambutan keberuntungan.

Pesan Moral dan Nilai Filosofis:

Legenda ini mengajarkan tentang evolusi keyakinan dan kekuatan harapan. Awalnya, tradisi menempelkan gambar dewa di pintu lahir dari rasa takut terhadap hal-hal gaib (hantu). Masyarakat mencari perlindungan dari kekuatan eksternal. Namun, seiring waktu, praktik ini bertransformasi. Manusia tidak lagi hanya memohon perlindungan dari roh jahat, tetapi mulai menuangkan harapan dan aspirasi mereka sendiri ke dalam kuplet-kuplet indah. Ini adalah pergeseran filosofis yang besar: dari ketakutan menuju harapan. Warna merah yang awalnya berfungsi sebagai penolak bala, berubah menjadi simbol keberuntungan dan kebahagiaan. Filosofi ini mengajarkan bahwa budaya dan tradisi bersifat dinamis. Manusia memiliki kemampuan untuk mengubah makna dan praktik lama menjadi sesuatu yang lebih positif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Pesan moralnya adalah bahwa kekuatan terbesar untuk melindungi diri bukanlah jimat dari luar, melainkan harapan dan optimisme yang kita tanamkan dalam hati dan lingkungan kita.

Soal Kuis:

  1. Siapa nama dua orang penjaga sakti di pohon persik yang menangkap hantu jahat?
  2. Apa nama papan kayu persik yang digunakan sebagai jimat untuk menolak bala?
  3. Pada masa dinasti apakah tradisi menulis sajak di papan kayu persik mulai berkembang?
  4. Bahan apa yang kemudian menggantikan kayu persik karena lebih praktis?
  5. Apa warna kertas yang digunakan untuk kuplet dan apa maknanya dalam budaya China?

Kunci Jawaban:

  1. Shentu dan Yulei.
  2. Taofu.
  3. Dinasti Song.
  4. Kertas merah.
  5. Merah, melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan dipercaya dapat menakuti roh jahat.

Loading

💳 Donasi via PayPal 🤲 Dukung via Kitabisa
error: Content is protected !!
Shopee Gebyar Ramadan Sale 2026