Kisah Rabi’ah Al-Adawiyah yang Menyuruh Pencuri Shalat Dua Rakaat
- Updated: Maret 3, 2026
![]()
Download 200+ Ebook Anak Bergambar Islami dan Edukazsi Printable PDF

25 Soal Benar atau Salah: Kisah Rabi’ah Al-Adawiyah
Petunjuk: Tentukan apakah setiap pernyataan berikut ini BENAR atau SALAH berdasarkan kisah otentik Rabi’ah Al-Adawiyah.
1. Rabi’ah Al-Adawiyah lahir di kota Basrah, Irak, sekitar abad ke-8 Masehi.
BENAR. Sumber-sumber kredibel menyebutkan bahwa Rabi’ah diperkirakan lahir antara tahun 713-717 M (95-99 H) di kota Basrah, Irak .
2. Nama “Rabi’ah” diberikan karena ia adalah anak satu-satunya di keluarganya.
SALAH. Nama “Rabi’ah” berarti “yang keempat” karena ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dalam keluarganya .
3. Ayah Rabi’ah, Ismail, adalah seorang saudagar kaya raya di Basrah.
SALAH. Keluarga Rabi’ah hidup dalam kemiskinan yang sangat parah. Ayahnya hanya seorang pengangkut penumpang dengan perahu di Sungai Dajlah .
4. Saat malam kelahiran Rabi’ah, keluarganya tidak memiliki minyak untuk lampu penerang dan kain untuk membungkus bayinya.
BENAR. Kondisi kemiskinan keluarga sangat ekstrem hingga tidak ada setetes minyak untuk lampu dan tidak ada kain untuk menyelimuti bayi Rabi’ah yang baru lahir .
5. Ayah Rabi’ah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang memberinya kabar gembira tentang masa depan putrinya.
BENAR. Beberapa hari setelah kelahiran Rabi’ah, ayahnya, Ismail, bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi itu, Nabi menyampaikan bahwa Rabi’ah akan menjadi wanita mulia yang akan menjadi perantara syafaat bagi banyak orang .
6. Setelah orang tuanya wafat, Rabi’ah dan saudari-saudarinya mewarisi harta yang melimpah.
SALAH. Setelah kedua orang tuanya wafat, Rabi’ah dan ketiga saudarinya hanya mewarisi sebuah perahu milik ayahnya. Rabi’ah kemudian bekerja menarik perahu untuk menyeberangkan orang di Sungai Dajlah .
7. Rabi’ah diculik oleh sekelompok penyamun dan kemudian dijual sebagai budak di pasar gelap.
BENAR. Saat berkelana karena bencana kekeringan di Basrah, Rabi’ah terpisah dari saudari-saudarinya. Ia kemudian diculik oleh penyamun dan dijual sebagai budak seharga enam dirham .
8. Majikan Rabi’ah memerdekakannya karena ia pandai menyanyi dan menari sehingga mendatangkan banyak keuntungan.
SALAH. Majikannya memerdekakan Rabi’ah setelah menyaksikan kejadian ajaib: saat Rabi’ah sedang shalat malam dan berdoa, ia melihat cahaya terang bagaikan lentera di atas kepala Rabi’ah yang menerangi seluruh rumah, tanpa ada tali yang menggantungnya .
9. Rabi’ah menerima tawaran majikannya untuk tetap tinggal dan menjamin semua kebutuhannya setelah dimerdekakan.
SALAH. Setelah dimerdekakan, majikannya menawari Rabi’ah untuk tetap tinggal dan ia akan menanggung semua kebutuhan Rabi’ah. Namun karena kezuhudannya, Rabi’ah menolak tawaran tersebut dan memilih pergi untuk mengabdikan hidupnya hanya kepada Allah .
10. Rabi’ah dikenal sebagai pelopor mazhab cinta (mahabbah) dalam dunia tasawuf.
BENAR. Rabi’ah Al-Adawiyah adalah tokoh sufi pertama yang mencetuskan konsep mahabbah (cinta ilahi) sebagai corak baru dalam tasawuf, yang sebelumnya didominasi oleh rasa takut (khauf) dan harap (raja’) .
11. Rabi’ah mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah sebaiknya dilandasi harapan untuk masuk surga dan takut siksa neraka.
SALAH. Justru Rabi’ah mengajarkan sebaliknya. Ia mengkritik orang yang beribadah hanya karena takut neraka atau mengharap surga. Ia menegaskan bahwa ibadah haruslah dilandasi cinta murni kepada Allah semata .
12. Doa terkenal Rabi’ah berbunyi: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, jauhkanlah aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu semata, maka jangan palingkan wajah-Mu yang indah dariku.”
BENAR. Ini adalah doa dan syair Rabi’ah yang sangat masyur, menggambarkan kemurnian cintanya kepada Allah SWT yang tidak tercampuri oleh pamrih duniawi maupun ukhrawi .
13. Hasan Al-Bashri adalah salah seorang yang pernah melamar Rabi’ah.
BENAR. Meskipun terdapat perbedaan pendapat tentang tahun wafatnya, banyak sumber klasik, termasuk kitab ‘Uqudullujain, meriwayatkan bahwa Hasan Al-Bashri pernah melamar Rabi’ah. Rabi’ah menolak lamaran tersebut dengan mengajukan empat pertanyaan tentang hal-hal gaib yang tidak mampu dijawab oleh Hasan Al-Bashri .
14. Alasan Rabi’ah menolak menikah adalah karena ia merasa dirinya telah “menikah” dengan cintanya kepada Allah dan takut tidak bisa berlaku adil kepada suami dan anak-anaknya.
BENAR. Rabi’ah memilih tidak menikah karena hati dan perhatiannya telah sepenuhnya tercurahkan kepada Allah. Ia sadar bahwa pernikahan adalah sunah, namun ia khawatir tidak bisa memenuhi hak suami dan anak-anaknya kelak karena kecintaannya yang total kepada Allah .
15. Rabi’ah mengajarkan bahwa orang yang benar-benar mencintai Allah akan merasa bahagia saat mendapat musibah sama seperti saat mendapat nikmat.
BENAR. Ketika ditanya Sufyan Ats-Tsauri tentang kapan seorang hamba disebut ridha, Rabi’ah menjawab, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat” .
16. Kisah seorang pencuri yang masuk ke kamar Rabi’ah menunjukkan bahwa Allah SWT selalu menjaga para kekasih-Nya, bahkan saat mereka sedang tidur.
BENAR. Dalam kisah tersebut, seorang pencuri yang mencoba mencuri pakaian Rabi’ah tidak dapat menemukan pintu keluar selama masih membawa barang curian. Sebuah suara gaib (hatif) berseru, “Meskipun seorang pecinta (muhibb) sedang tidur, namun Yang Dicintainya (Mahbub) tetap terjaga.” Pencuri itu pun bertobat dan meninggalkan barang curiannya .
17. Rabi’ah tidak pernah mempersiapkan kain kafan untuk dirinya sendiri.
SALAH. Rabi’ah telah menyiapkan kain kafannya sendiri jauh-jauh hari dari harta yang halal. Kain itu ia letakkan di dekat tempat sujudnya sebagai pengingat akan kematian .
18. Rabi’ah wafat pada tahun 801 Masehi dalam usia sekitar 80-87 tahun dan dimakamkan di kota Basrah, Irak.
BENAR. Rabi’ah diperkirakan wafat pada tahun 801 M (185 H) pada usia sekitar 83-87 tahun. Ia dimakamkan di kota kelahirannya, Basrah, Irak .
19. Rabi’ah dikenal sangat zuhud sehingga ia tidak pernah merasa malu untuk meminta-minta kepada orang lain.
SALAH. Justru karena kezuhudannya, Rabi’ah enggan meminta bantuan kepada siapa pun. Ia pernah berkata, “Sungguh aku malu untuk meminta harta dunia pada sang pemiliknya (Allah), bagaimana mungkin aku memintanya pada manusia yang bukan pemiliknya” .
20. Rabi’ah memiliki majelis yang dikunjungi oleh banyak murid dan ulama besar seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq al-Balkhi.
BENAR. Setelah bebas dan hidup menyendiri untuk beribadah, Rabi’ah memiliki majelis yang dikunjungi banyak murid. Tokoh-tokoh sufi seperti Malik bin Dinar, Sufyan Ats-Tsauri, dan Syaqiq al-Balkhi tercatat pernah mengunjungi majelisnya .
21. Ajaran Rabi’ah tentang mahabbah tidak berpengaruh terhadap para sufi setelahnya.
SALAH. Ajaran Rabi’ah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan tasawuf selanjutnya. Ia dijuluki “the mother of the grand master” (ibu para sufi besar) dan ajarannya memengaruhi tokoh-tokoh seperti Dzun Nun al-Misri, Abu Thalib al-Makki, dan Imam Al-Ghazali .
22. Rabi’ah pernah menjadi penyanyi dan penari di istana Bani Abbasiyah di Baghdad.
BENAR. Menurut beberapa sumber, karena suara merdu dan kemampuannya menari, Rabi’ah semasa menjadi budak sempat menjadi penyanyi dan penari di istana Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad sebelum akhirnya bertaubat dan dibebaskan .
23. Rabi’ah adalah seorang sufi wanita beraliran Sunni yang hidup pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.
BENAR. Rabi’ah adalah sufi wanita beraliran Sunni yang hidup pada masa akhir Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyah .
24. Rabi’ah mengajarkan bahwa istighfar orang-orang istimewa (khawash) adalah karena dosa-dosa besar yang mereka lakukan.
SALAH. Rabi’ah memiliki pandangan yang dalam tentang istighfar. Ia berkata, “Istighfar kita masih perlu di-istighfari lagi,” karena menurutnya, orang-orang istimewa beristighfar bukan karena dosa, tetapi karena ketidaksempurnaan ibadah mereka di hadapan Allah .
25. Saat sakit menjelang wafat, Rabi’ah menolak tawaran untuk meringankan sakitnya karena ia ridha dengan ketentuan Allah.
BENAR. Ketika usianya mencapai 80 tahun dan sakit hingga tubuhnya kurus, ada yang menawarkan bantuan untuk meringankan sakitnya. Rabi’ah menjawab, “Jika sakit ini kehendak Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan tolak?” Ini menunjukkan keridhaannya yang total atas takdir Allah .
💖 Jangan Sampai Ketinggalan Diskonnya di Shopee

Suatu malam yang sunyi, seorang pencuri masuk ke dalam rumah Rabiatul Adawiyah yang kecil dan sederhana.
Rabiatul Adawiyah adalah seorang wanita sufi yang terkenal kesalehannya.
Setelah tidak menemukan satu pun benda berharga di rumah itu, kecuali sebuah kendi jelek untuk berwudhu.
Maka dengan kesal, si pencuri itu pun berniat keluar dari rumah tersebut.
Namun, tiba-tiba Rabiatul Adawiyah bangun dan menegur si pencuri, “Hei, jangan keluar dulu sebelum engkau mengambil sesuatu yang berharga dari rumahku ini.”
Si pencuri terkejut karena ia tak menyangka di rumah itu ada penghuninya.
Ia juga heran mengapa sang pemilik rumah mengizinkannya untuk mengambil barang miliknya.
“Silakan, ambil kendi jelek itu dan bawalah ke kamar mandi. Berwudhulah menggunakan kendi itu. Setelah itu, shalatlah 2 rakaat. Dengan demikian, engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga di rumah ini,” kata Rabiatul Adawiyah.
Mendengar kata-kata itu, si pencuri langsung gemetar.
Hatinya yang selama ini keras, mendadak berubah lembut.
Terpesona dengan kata-kata Rabiatul Adawiyah.
Si pencuri pun mengambil kendi jelek itu dan membawanya ke kamar mandi.
Ia berwudhu dan menunaikan shalat 2 rakaat.
Setelah itu, ia merasakan ketenangan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelumnya. *** (Kak Nurul Ihsan)
Menanamkan nilai-nilai ibadah dan akhlak sangat penting dilakukan sejak dini.
Bila sejak anak-anak mereka telah mengenal dan dilatih untuk beribadah serta melakukan kebiasaan baik, tidak sulit bagi kita untuk membentuk karakter unggul dalam diri mereka.
Salah satu cara menanamkan nilai-nilai tersebut adalah melalui bacaan.
Buku ini berisi tentang kisah-kisah Islami yang menakjubkan tentang sikap dan perilaku yang bisa menjadi teladan sehari-hari.
Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan 50 langkah membentuk karakter anak muslim.
Mulai dari cara beribadah sampai cara bergaul dengan sesama teman.
Oleh karena itu, tidak hanya anak-anak yang bisa belajar dari kisah-kisah teladan di dalamnya, orangtua juga bisa mengetahui langkah-Iangkah praktis membentuk karakter anak agar menjadi saleh dan cerdas.
Spesifikasi Ebook
- Kode Ebook PDF: 079
- File PDF: Download by email
- Donasi Pilihan: Rp 100 ribu/ Rp 150 ribu/ nominal lainnya
- Seri: Kisah dan Pengetahuan Islam
- Judul: 50 Kisah Menakjubkan; Plus 50 Langkah Membentuk Karakter Anak Muslim
- Penulis: Kak Nurul Ihsan
- Ilustrator: Dwiprihartono/Innerchild
- Ukuran: 21 x 20 cm
- Isi: full warna
- Tebal: 108 hlm
- Penerbit: Qultum Media
- ISBN: 979-017-91-2
Cara download full ebook pdf: 50 Kisah Menakjubkan; Plus 50 Langkah Membentuk Karakter Anak Muslim karya Kak Nurul Ihsan
- Donasi terbaik ke norek: Bank Syariah Mandiri (BSI): 7113717337 an. Yayasan Sebaca Indonesia.
- Infokan judul/paket ebook, alamat email, dan bukti transfer donasi ke WA 0815 6148 165.
- 1 x 24 jam file ebook PDF diemailkan ke alamat email donatur.
- Donasi digunakan sepenuhnya untuk operasional dan pembuatan konten ebook anak Program Sosial Edukasi Cerdas Literasi Gerakan Indonesia Berbagi Buku Anak Digital di ebookanak.com

25 Q&A tentang Rabi’ah Al-Adawiyah: Sufi Perempuan Pencetus Mazhab Cinta
Profil dan Latar Belakang

1. Siapa itu Rabi’ah Al-Adawiyah?
Rabi’ah Al-Adawiyah adalah seorang sufi perempuan terkenal dari kota Basrah, Irak. Ia dikenal sebagai pelopor mazhab cinta (mahabbah) dalam dunia tasawuf, di mana ia mengajarkan konsep mencintai Allah SWT semata-mata karena Allah, bukan karena takut neraka atau mengharap surga . Ia dijuluki sebagai “Ibu para sufi besar” karena pengaruh spiritualnya yang sangat mendalam .
2. Kapan dan di mana Rabi’ah Al-Adawiyah lahir?
Rabi’ah diperkirakan lahir antara tahun 713-717 Masehi (atau 95-99 Hijriah) di kota Basrah, Irak. Ia wafat sekitar tahun 801 M (185 H) pada usia sekitar 83-87 tahun .
3. Mengapa beliau diberi nama “Rabi’ah”?
Nama “Rabi’ah” secara bahasa berarti “yang keempat”. Ia dinamakan demikian karena merupakan anak keempat dari keluarganya. Ia memiliki tiga orang saudara perempuan lainnya .
4. Bagaimana kondisi keluarga Rabi’ah Al-Adawiyah?
Ia dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin dan bersahaja, tetapi dikenal taat beragama. Ayahnya, Ismail, adalah seorang yang zuhud dan enggan meminta-minta. Kondisi kemiskinan keluarganya digambarkan sangat memprihatinkan, bahkan saat Rabi’ah lahir, tidak ada kain untuk membungkusnya dan tidak ada minyak untuk lampu penerang .
Kisah Hidup dan Perjalanan Spiritual
5. Apa yang terjadi pada masa kecil Rabi’ah?
Setelah orang tuanya wafat, Rabi’ah kecil yatim piatu. Ia kemudian terpisah dari saudara-saudarinya dan tertangkap oleh tangan-tangan jahat, lalu dijual sebagai budak di pasar gelap. Ia hidup dalam masa-masa sulit sebagai budak sebelum akhirnya dimerdekakan .
6. Bagaimana kisah Rabi’ah Al-Adawiyah bisa merdeka dari perbudakan?
Suatu malam, saat sedang beribadah, tuannya melihat cahaya di atas kepala Rabi’ah yang menerangi ruangan. Tersentuh oleh kejadian ajaib itu dan mendengar doa Rabi’ah yang tulus hanya ingin mengabdi kepada Allah, sang majikan merasa tak pantas memiliki wanita suci seperti dia. Ia pun memerdekakan Rabi’ah .
7. Apa bukti kemuliaan Rabi’ah sejak bayi menurut sebuah kisah?
Ayahnya pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Janganlah engkau bersedih karena putrimu akan menjadi wanita yang mulia, sehingga banyak orang akan mengharapkan syafaatnya.” Nabi juga menyuruh ayahnya untuk menyampaikan surat kepada Gubernur Basrah yang lupa bershalawat, sebagai tebusan atas kelalaiannya. Gubernur pun memberikan 400 dinar kepada keluarga Rabi’ah .
8. Mengapa Rabi’ah Al-Adawiyah memilih untuk tidak menikah?
Sepanjang hidupnya, Rabi’ah mendapat banyak lamaran dari para ulama dan orang saleh, termasuk dari Sufyan Ats-Tsauri dan Hasan Al-Bashri. Namun, ia menolak semua lamaran tersebut karena merasa dirinya telah “menikah” dengan cintanya kepada Allah. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah terbagi dengan makhluk lain di dunia ini .
Ajaran dan Konsep Mahabbah (Cinta Ilahi)
9. Apa intisari ajaran Rabi’ah Al-Adawiyah?
Intisari ajaran Rabi’ah adalah konsep mahabbah atau cinta ilahi. Ia mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah haruslah dilandasi cinta yang tulus dan murni, bukan karena takut neraka atau ingin masuk surga, melainkan semata-mata karena Allah adalah satu-satunya yang layak dicintai .
10. Apa doa terkenal Rabi’ah yang menggambarkan cintanya yang murni?
Doa terkenalnya adalah: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, jauhkanlah aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu semata, maka jangan palingkan wajah-Mu yang indah dariku.” .
11. Bagaimana syair Rabi’ah tentang cinta yang melampaui surga dan neraka?
Dalam sebuah syair yang terkenal, Rabi’ah mengatakan:
“Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka…
Atau mereka menempati surga, lalu mendapatkan istana…
Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka.
Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti.” .
12. Apa kritik Rabi’ah Al-Adawiyah terhadap “pecinta palsu”?
Rabi’ah mengkritik orang yang hanya mengaku cinta kepada Allah tetapi masih bermaksiat. Ia berkata dalam sebuah syair:
“Kau bermaksiat kepada Tuhan, tetapi (mulut)mu mengungkapkan cinta//Hal ini dalam ukuran sungguh mengherankan/Andai cintamu benar, niscaya kau menjadi hamba yang taat//Karena pecinta itu sungguh taat kepada kekasihnya.” .
13. Apa makna istighfar yang diajarkan Rabi’ah Al-Adawiyah?
Rabi’ah mengajarkan bahwa orang-orang istimewa (khawashul khawash) beristighfar bukan hanya karena dosa, tetapi karena ketidaksempurnaan ibadah mereka. Ia berkata, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” (Istighfar kita masih perlu di-istighfar-i lagi), karena ibadahnya dirasa masih tercampur dengan kelalaian .
14. Kapan seorang hamba dikatakan ridha menurut Rabi’ah Al-Adawiyah?
Ketika ditanya oleh Sufyan Ats-Tsauri tentang kapan seorang hamba disebut ridha, Rabi’ah menjawab, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat.” .
Interaksi dengan Tokoh Sufi Lain
15. Bagaimana hubungan Rabi’ah dengan Hasan Al-Bashri?
Hasan Al-Bashri, seorang ulama besar di masanya, sangat menghormati Rabi’ah. Banyak riwayat menyebutkan bahwa ia sering meminta nasihat kepada Rabi’ah dan mengakui ketinggian spiritual Rabi’ah melebihi dirinya. Dalam sebuah dialog, ia bertanya bagaimana Rabi’ah mencapai kedekatan dengan Allah, dan dijawab dengan konsep cinta tanpa pamrih .
16. Apa teguran Rabi’ah kepada Sufyan Ats-Tsauri?
Sufyan Ats-Tsauri pernah berdoa di dekat Rabi’ah, “Ya Allah, berikanlah ridha-Mu padaku.” Rabi’ah segera menegurnya, “Apakah kau tidak malu kepada Allah dengan meminta ridha-Nya, sedangkan dirimu sendiri tidak ridha atas ketentuan-Nya?” Teguran ini menunjukkan bahwa untuk mendapat ridha Allah, seseorang harus ridha dulu dengan takdir-Nya .
Karamah dan Kisah Spiritual
17. Apa kisah terkenal tentang Rabi’ah dan seorang pencuri?
Suatu ketika, seorang pencuri masuk ke kamar Rabi’ah dan mengambil pakaiannya. Namun, ia kebingungan karena tidak menemukan pintu keluar. Setiap kali ia meletakkan barang curian, pintu itu tampak. Begitu ia mengambilnya lagi, pintu itu lenyap. Akhirnya terdengar suara gaib (hatif) berkata, “Meskipun seorang pecinta (muhibb) sedang tertidur, namun Yang Dicintainya (Mahbub) tetap terjaga.” Pencuri itu pun bertobat dan meninggalkan barang curiannya .
18. Bagaimana cara Rabi’ah mempersiapkan kematiannya?
Memasuki usia 80-an, fisik Rabi’ah melemah hingga tempat sujudnya selalu basah oleh air mata. Ia telah menyiapkan kain kafannya sendiri jauh-jauh hari dari harta yang halal. Kain itu ia letakkan di depan tempat sujudnya sebagai pengingat akan kematian .
Relevansi dan Warisan Pemikiran
19. Apa pengaruh Rabi’ah Al-Adawiyah dalam dunia tasawuf?
Rabi’ah adalah peletak dasar mazhab cinta (mahabbah) dalam tasawuf. Sebelumnya, tasawuf lebih didominasi oleh rasa takut (khauf) dan harap (raja’). Ia mengubah paradigma tersebut menjadi hubungan cinta yang intim antara hamba dan Tuhannya, yang kemudian memengaruhi para sufi setelahnya .
20. Mengapa ajaran Rabi’ah dianggap penting bagi perempuan masa kini?
Di tengah masyarakat patriarkis abad ke-8, Rabi’ah membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi spiritual yang sama tinggi dengan laki-laki. Ia menjadi guru bagi para sufi besar. Keberaniannya memilih jalan hidup dan kemurnian cintanya menginspirasi perempuan masa kini untuk mengejar nilai tertinggi, yaitu kemurnian hati dan pengabdian kepada Tuhan .
21. Bagaimana pandangan ulama tentang status Rabi’ah?
Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Syaikh Abdul Wahhab As-Sya’rani menempatkan Rabi’ah pada tingkatan spiritual tertinggi, yaitu khawashul khawash (istimewa di antara yang istimewa). Pandangan dan kisahnya banyak dikutip dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin dan Risalatul Qusyairiyah .
22. Apa bukti bahwa Rabi’ah mencintai Nabi Muhammad SAW?
Meskipun cintanya total kepada Allah, Rabi’ah tetap mengagungkan Nabi. Ia memahami bahwa cinta sejati kepada Allah otomatis menjadikan seseorang mencintai Rasul-Nya. Dalam sufisme, ini disebut fana’ fi rasul, di mana kecintaan kepada Nabi menyatu dalam kecintaan kepada Allah .
23. Apa yang dimaksud dengan “Mazhab Cinta” ala Rabi’ah?
“Mazhab Cinta” adalah jalan spiritual yang menjadikan cinta (mahabbah) sebagai landasan utama dalam berhubungan dengan Tuhan. Cinta ini bersifat spiritual dan tanpa pamrih, bukan cinta fisik. Tujuannya adalah untuk mencapai ma’rifah (mengenal Allah) dan kedekatan abadi dengan-Nya .
24. Di mana kita bisa belajar lebih dalam tentang Rabi’ah Al-Adawiyah?
Kisah dan ajaran Rabi’ah dapat ditemukan dalam literatur klasik seperti At-Thabaqatul Kubra karya As-Sya’rani, Risalatul Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi, dan Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Banyak juga buku modern dan artikel di situs-situs Islam terpercaya yang membahasnya .
25. Apa pesan terpenting dari kehidupan Rabi’ah Al-Adawiyah?
Pesan terpenting dari Rabi’ah adalah bahwa cinta sejati kepada Tuhan harus dibuktikan dengan ketaatan dan ketulusan, bukan sekadar klaim. Ia mengajarkan bahwa nilai tertinggi seseorang di sisi Allah bukanlah status sosial, jenis kelamin, atau harta, melainkan kemurnian hati dan seberapa dalam cintanya kepada Sang Pencipta .
Pembuatan konten 1 ebook anak berkualitas dan legal di www.ebookanak.com membutuhkan proses yang cukup panjang dengan mencurahkan segenap ide, tekad, kemampuan, kreativitas, tenaga, pikiran, biaya jutaan rupiah, dan waktu berbulan-bulan.
Oleh karena itu dukung kami dengan donasi terbaik sahabat literasi di www.ebookanak.com.
Insya Allah termasuk sedekah amal jariyah yang pahalanya akan terus-menerus mengalir kepada donatur tanpa terputus hingga sampai di alam barzah (alam kubur) karena semua donasi tersebut digunakan untuk mendukung Program Sosial Edukasi Cerdas Literasi Gerakan Indonesia Berbudi Berbagi Buku Anak Digital dalam upaya pembuatan ebook anak terbaru lainnya sebanyak mungkin dan pengembangan situs www.ebookanak.com yang terus dapat dibaca dan bermanfaat untuk umat dan masyarakat Indonesia & Global
Download Ebook Dengan Donasi Terbaik: WA 0815 6148 165
Mari dukung Program Sosial Edukasi Cerdas Literasi Gerakan Indonesia Berbudi Berbagi Buku Anak Digital di ebookanak.com dengan donasi terbaik dan bantu terus kemajuan dunia penerbitan dan perbukuan Indonesia dengan belanja buku cetak berkualitas hanya di Penerbit Qultum Media.
Kak Nurul Ihsan adalah Kreator 500 buku anak, Founder www.ebookanak.com, dan ketua Yayasan Sebaca Indonesia yang sudah berkarya di bidang penerbitan buku anak sejak 1991 hingga sekarang bersama tim kreatif CBM Studio Bandung. Selain sebagai penulis, komikus, ilustrator, desainer, dan pegiat literasi, saat ini Kak Nurul Ihsan juga menjadi inisiator Program Sosial Edukasi Cerdas Literasi dalam Gerakan Indonesia Berbudi: Berbagi Buku Anak Digital di www.ebookanak.com. Profil dan karya buku Kak Nurul Ihsan dan tim CBM Studio dapat dilihat di sini.
Sumber dan Kontributor
Redaksi Qultum Media
Jl. H. Montong No. 57
Ciganjur Jagakarsa
Telp. 021 78883030
Faks. 021 7270996
email: redaksi@qultummedia.com.
https://qultummedia.com
Cloud Hosting Partner:
PT Dewaweb
AKR Tower 16th Floor
Jl. Panjang no.5, Kebon Jeruk
Jakarta 11530
Email: sales@dewaweb.com
Phone: (021) 2212-4702
Mobile: 0813-1888-4702
www.dewaweb.com
![]()






















































