Ebook Anak

Fatimah binti Abdul Malik Permaisuri Cantik yang Sederhana

 11,777,262 total views,  3,943 views today

Kemudian semua perhiasan Fatimah binti Abdul Malik itu diserahkan ke Baitulmal, tempat menyimpan kekayaan milik negara.

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dan dididik dengan pendidikan keagamaan dan ilmu Al-Qur’an.

Ayahnya adalah seorang khalifah, Abdul Malik bin Marwan, dan di kemudian hari suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz.

Keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid, Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam.

Umar bin Abdul Aziz menikahi Fatimah binti Abdul Malik sebelum ia diangkat menjadi khalifah.

Sebagai putri khalifah, pernikahan Fatimah pun dirayakan secara besar-besaran.

Ruangan pengantinnya dihiasi dengan perhiasan emas mutu-manikam yang tiada ternilai indah dan harganya.

Bahkan, pesta pernikahannya itu termasuk yang paling mewah tiada bandingannya untuk saat itu.

Satu di antara Dua Pilihan

Namun setelah pesta perkawinan mereka usai, dan sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin.

Umar bin Abdul Aziz, tiba-tiba tanpa diduga mengajukan dua pilihan kepada istrinya, Fatimah binti Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz berkata dengan penuh kelembutan kepada Fatimah binti Abdul Malik.

“Isteriku sayang. Aku harap engkau memilih satu di antara dua pilihan yang aku ajukan ini.”

“Memilih antara perhiasan kekayaan dunia, seperti emas berlian yang kau pakai selama ini. Atau Umar bin Abdul Aziz,  sebagai suami yang mendampingimu,” lanjut Umar bin Abdul Aziz.

Karena Fatimah binti Abdul Malik adalah seorang istri yang sabar dan taat pada suami.

Maka dengan cepat, Fatimah binti Abdul Malik pun menetapkan pilihannya.

“Demi Allah. Aku tidak memilih pendamping yang lebih mulia daripadamu.”

“Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku,” jawab Fatimah binti Abdul Malik sambil menyerahkan semua harta benda dan emas perhiasan pada suaminya.

Kemudian semua perhiasan itu diserahkan ke Baitulmal, tempat menyimpan kekayaan milik negara.

Sejak itu, Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya hidup dengan amat sederhana, dan melepaskan semua kenikmatan duniawi.

Mereka rela makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

Setelah Umar bin Abdul Aziz wafat, ia lalu digantikan oleh adik iparnya, Yazid bin Abdul Malik.

Pada suatu hari, Yazid bin Abdul Malik memanggil Fatimah binti Abdul Malik, “Fatimah, aku tahu suamimu telah merampas semua perhiasanmu dan memasukkannya ke Baitulmal.”

“Kalau engkau mau, maka akan kukembalikan lagi perhiasan itu kepadamu,” kata Yazid bin Abdul Malik.

Namun, dengan tegas Fatimah binti Abdul Malik menolaknya.

Fatimah binti Abdul Malik ingin tetap hidup sederhana, jauh dari kenikmatan duniawi, yang bisa mengurangi kecintaannya pada Allah Swt.

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Uci Ahmad Sanusi
  • Desainer dan layouter: Yuyus Rusamsi
  • Penerbit: Qultum Media (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *