Ebook Anak

Muhammad bin Wasi’ dan Bongkahan Emas Sebesar Kepala Banteng

 11,779,766 total views,  2,462 views today

Qutaibah ingin mengetahui apa yang akan dilakukkan oleh Muhamad bin Wasi’ dengan hadiah pemberiannya itu. Selang beberapa waktu, orang suruhan Qutaibah melaporkan apa yang dilihatnya pada Qutaibah.

Muhammad bin Wasi’ adalah salah seorang prajurit perang yang dikenal sangat soleh, sehingga dihormati sahabat-sahabatnya, bahkan dicintai pimpinannya.

Belum pernah ada dalam pasukan manapun, ketika para panglima saling berebut memiliki seorang prajurit bukan karena kekuatannya, tetapi justru karena doanya.

Itulah Muhammad bin Wasi’.

Padahal di waktu itu usianya pun telah lanjut dan fisiknya terlihat lemah.

Bila pasukan muslim menyerang, Muhammad bin Wasi’ akan berseru, “Wahai, pasukan Allah! Naiklah! Naiklah!”

Maka pasukan pun akan maju ke medan tempur seperti orang haus mendatangi air.

Dunia Dihargai Bagai Sebutir Debu

Suatu hari, sang pemimpin pasukan, Qutaibah,  mengumpulkan seluruh pasukan perangnya, kecuali  Muhammad bin Wasi’.

Qutaibah berseru, “Akan kutunjukkan kepada kalian seseorang yang baginya dunia ini, tidak lebih dari sebutir debu.”

“Begitu cintanya dia kepada kehidupan akhirat, sehingga kecintaannya itu yang menjadi energi dan pembakar semangat jihadnya,” lanjut Qutaibah. 

Lalu Muhammad bin Wasi’ dipanggil untuk menghadap Qutaibah.

Tanpa diduga, tiba-tiba Qutaibah memberi Muhammad bin Wasi’ sebuah bongkahan emas sebesar kepala banteng.

Hadiah itu didapatkannya dari harta rampasan perang.

Bongkahan Emas Diberikan Pada Pengemis

Setelah Muhammad bin Wasi’ dipersilakan untuk pergi, Qutaibah menyuruh salah seorang anak buahnya untuk memata – mati Muhammad bin Wasi’.

Qutaibah ingin mengetahui apa yang akan dilakukkan oleh Muhamad bin Wasi’ dengan hadiah pemberiannya itu.

Selang beberapa waktu, orang suruhan Qutaibah melaporkan apa yang dilihatnya pada Qutaibah.

“Ternyata sepulang dari menghadap Anda, Muhammad bin Wasi’ memberikan bongkahan emas  itu kepada pengemis pertama yang ditemuinya di jalan.”

Mengurangi Makan  

Muhammad bin Wasi’  berpesan, bahwa siapa saja yang sedikit makannya, akan paham dan bisa memahami orang lain.

Hatinya akan suci dan lembut.

Sesungguhnya, banyak makan akan membuat orang berat melakukan banyak hal yang ia inginkan.

Muhammad bin Wasi’ amat rendah hati dengan amalannya.

“Aku bangun pagi ini dalam keadaan telah dekat ajalku, jauh angan-anganku dan buruknya amalanku.”

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Nurul Ihsan
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Uci Ahmad Sanusi
  • Desainer dan layouter: Yuyus Rusamsi
  • Penerbit: Qultum Media (Jakarta, Indonesia)
  • Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

jasa ilustrasi, komik, layout/setting, dan desain grafis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *