Bagaimana Cara Merawat Bisul?

Loading

gambar ada anggota tubuh yang bengkak

Download ebook anak karya Kak Nurul Ihsan

Inilah bacaan doa saat ada anggota tubuh bengkak

Alloohumma mushoghghirol kabiiri wamukabbirosh shoghiiri shoghghir maa bii

Ya Allah, Zat yang mengecilkan yang besar dan membesarkan sesuatu yang kecil, kecilkanlah apa yang bengkak pada diriku.

(Hr Ibnu Sunni)

Cara mengobati bisul

  • Kompres pada bagian bisul dengan air hangat selama 30 menit 2 kali sehari.
  • Kemudian olesi bagian bisul itu dengan salep hitam.
  • Agar tidak terjadi infeksi biarkan bisul pecah sendiri. Tidak dianjurkan dipencet-pencet atau ditekan-tekan.
  • Jika bisul telah pecah, pastikan mata bisul dan semua nanahnya telah keluar.
  • Olesi salep antiseptik pada luka bekas bisul.

Ebook Anak Printable

📖 Printable Islamic & Educational eBook for Kids

✔ Bisa di-download
✔ Bisa di-print sendiri di rumah
✔ Cocok untuk belajar & aktivitas anak

👉 Lihat & Download Sekarang

Bima dan Kerajaan Kecil di Pipinya

Bab 1: Awal yang Gatal

Nama lengkapnya Bima Sakti. Bukan karena orang tuanya ingin ia menjadi astronot, tapi karena ayahnya dulu sangat suka melihat bintang-bintang jatuh di malam hari. Tapi Bima kecil lebih suka jatuhโ€”jatuh dari pohon jambu, jatuh saat berlari, atau jatuh dari impian-impian besarnya yang selalu berganti setiap minggu.

Hari Senin itu, Bima bangun dengan perasaan aneh di pipi kanannya.

“Gatal,” gumamnya sambil menggaruk pelan.

Tidak ada yang aneh di cermin. Hanya seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun dengan rambut acak-acakan dan sisa mimpi yang masih menempel di kelopak mata. Bima mengucek mata, lalu menggaruk pipinya lagi. Masih gatal.

Ia tidak terlalu memikirkannya. Ada sarapan yang lebih penting: roti bakar dengan selai stroberi, dan susu cokelat yang harus diminum sambil menonton kartun favoritnya, Petualangan Kapten Kuman. Ya, Bima suka sekali pada Kapten Kuman, seorang pahlawan super mikroskopis yang berkelahi melawan bakteri jahat di dalam tubuh manusia.

“Bu, pipiku gatal,” kata Bima sambil mengunyah roti.

Ibunya yang sedang menyiapkan bekal hanya melirik sekilas. “Mungkin digigit nyamuk, Nak. Nanti sore mama kasih salep.”

Bima mengangguk. Nyamuk memang sering menggigitnya. Tubuhnya seperti restoran berjalan untuk nyamuk-nyamuk di kompleks perumahan itu. Tapi kali ini, gigitan nyamuk terasa… berbeda. Lebih dalam. Lebih menggelitik dari dalam.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, Bima tidak bisa berhenti menyentuh pipinya. Ia bahkan sempat bertanya pada bayangannya di kaca jendela mobil, “Hei, kamu kenapa sih?”

Bayangan itu hanya tersenyum miring.

Bab 2: Benjolan Kecil yang Mulai Berbisik

Saat jam pelajaran Matematika dimulai, Bima sudah tidak bisa berkonsentrasi. Bukan karena pecahan desimal yang membosankan, tapi karena di pipi kanannya kini muncul benjolan kecil seukuran biji jagung.

“Kamu sakit, Bim?” bisik Dinda, teman sebangkunya.

“Enggak. Pipiku kayak ada yang numpang tinggal.”

Dinda memicingkan mata. “Coba lihat.” Ia mendekatkan wajahnya. “Wah, merah tuh. Kayak jerawat gede.”

“Jerawat? Aku kan masih kecil, Din. Jerawat buat ABG.”

Bu Guru Ratna, yang sedang menjelaskan rumus luas lingkaran, tiba-tiba berhenti. “Bima dan Dinda, ada yang ingin dibagi?”

“Bima punya jerawat di pipi, Bu!” seru Dinda polos.


Beli di Shopee

Seluruh kelas tertawa. Bima menunduk, pipinya bukan hanya merah karena benjolan, tapi juga karena malu. Tapi saat ia menyentuh benjolan itu lagi, ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada getaran kecil. Seperti ada suara samar yang hanya ia yang bisa mendengar.

“Dum… dum… dum…”

Detak? Masa sih benjolan punya detak jantung?

Bab 3: Malam yang Panjang

Sore harinya, benjolan itu sudah sebesar kelereng. Ibunya mulai khawatir.

Baca juga:  Adab Islam Ketika Berziarah Kubur

“Ini bukan gigitan nyamuk, Bim,” kata mama sambil mengamati dengan senter kecil. “Ini kayaknya bisul.”

“Bisul?” Bima belum pernah mendengar kata itu. Kedengarannya seperti nama monster di film horor. Atau seperti minuman bersoda yang aneh.

“Iya, bisul. Infeksi di akar rambut. Nanti kalau sudah matang, bisa pecah sendiri.”

“Pecah?!” Bima langsung membayangkan pipinya meledak seperti balon air. “Enggak mau! Pipiku meledak dong!”

Mama tertawa. “Enggak meledak, Nak. Cuma keluar nanahnya. Tapi sekarang jangan dipencet ya. Nanti malah tambah parah.”

Tapi Bima anak yang keras kepala. Setelah mama pergi ke dapur, ia diam-diam mengambil cermin saku dan memeriksa musuhnya. Benjolan itu sekarang tampak angkuh di sana. Merah menyala seperti api kecil yang siap menyambar.

“Kamu siapa?” bisik Bima pada benjolan itu di cermin.


Beli di Shopee

Ia hampir yakin benjolan itu bergerak. Sedikit. Seperti ada sesuatu di dalamnya yang menggeliat.

Malam itu Bima susah tidur. Benjolan itu berdenyut-denyut. Setiap denyut terasa seperti ada yang mengetuk dari dalam pipinya. Tok… tok… tok… seperti ada tetangga baru yang sedang pindahan dan ingin berkenalan.

“Tolong, aku mau tidur,” rintih Bima sambil memeluk bantal gulingnya.

Tapi tetangga barunya tidak peduli.

Bab 4: Dunia di Dalam Bisul

Saat jarum jam menunjukkan pukul 00.00, Bima yang hampir tertidur merasakan sensasi aneh. Seluruh tubuhnya terasa ringan. Lalu, seperti tersedot ke dalam pusaran, ia terjatuh… ke dalam pipinya sendiri.

“WUAAAAA!” pekik Bima saat ia mendarat di atas sesuatu yang empuk dan kenyal.

Ia membuka mata. Di sekelilingnya bukan kamar tidur. Bukan pula rumahnya. Ia berada di sebuah gua berwarna merah muda dengan dinding yang berdenyut. Seperti berada di dalam perut monster, tapi lebih… merah.

“Selamat datang di Kerajaan Folikel!” suara bergema dari segala arah.

Bima menoleh. Dari balik lipatan dinding merah muda, muncullah sesosok makhluk kecil, sekitar seukuran jari kelingkingnya. Makhluk itu berkepala botak, bertubuh bulat, dan memiliki enam kaki kecil yang menggemaskan. Ia memakai jubah dari lendir berwarna keemasan.

“Aku namamu?” tanya Bima bingung.

“Bukan. Aku Mikro, Penjaga Folikel 002. Dan kamu, Bima Sakti, sedang berada di dalam bisul yang tumbuh di pipi kananmu.”

Bima mengerjapkan mata. “Di dalam bisul? Berarti aku… aku lagi sakit?”

“Kamu lagi diserang, tepatnya,” kata Mikro dengan ekspresi serius. “Ikuti aku. Kita tidak punya banyak waktu.”

Mikro melompat dan mulai berjalan di sepanjang dinding berdenyut. Bima mengikutinya, kakinya terasa aneh saat menginjak lantai yang terbuat dari jaringan lunak.

“Jadi begini ceritanya,” Mikro memulai. “Folikel rambut itu seperti istana kecil. Di dalamnya ada Ratu Sel, para prajurit imun, dan pasokan minyak alami. Tempatmu nyaman, damai, semua bahagia.”

“Terus kenapa jadi bisul?”

“Karena ada penyusup.”

Mikro berhenti di depan sebuah gerbang besar yang tampak rusak. Di sekeliling gerbang, ada bekas-bekas pertempuran. Lendir berwarna hijau kehitaman menempel di mana-mana.

Pasukan Staphylococcus aureus menyerang tiga hari yang lalu,” lanjut Mikro. “Mereka datang dari goresan kecil saat kamu menggaruk pipi setelah bermain kotor. Kita tidak sempat menutup gerbang.”

“Staphylo… apa?”

“Bakteri jahat, Bima. Mereka sangat kecil, sangat rakus, dan sangat licik. Mereka masuk ke folikel, lalu mulai berkembang biak. Setiap satu bakteri bisa menjadi dua, lalu empat, lalu delapan… dalam hitungan jam.”

Bima membayangkan hal itu. “Wah, kayak koloni semut jahat.”

“Lebih jahat dari semut. Mereka memakan sel-selmu, Bima. Mereka merusak dinding istana. Tubuhmu lalu panik, mengirim pasukan imunโ€”sel darah putihโ€”untuk melawan. Pertempuran itu yang menyebabkan kemerahan, panas, dan bengkak.”

“Jadi sakitku ini karena perang di dalam tubuhku?”

“Tepat sekali. Dan sekarang, bisul ini adalah medan perang.”

Bab 5: Medan Perang yang Bernanah

Mikro membawa Bima ke sebuah tebing yang menjorok. Dari ketinggian itu, Bima bisa melihat seluruh kerajaan.

Pemandangan itu mengerikan sekaligus menakjubkan.

Di satu sisi, terlihat pasukan berwarna putih berseragam rapiโ€”merekalah sel darah putih. Mereka bertempur dengan gagah melawan gerombolan bakteri berbentuk bulat-bulat kecil, berwarna kuning keemasan, berkumpul dalam koloni seperti buah anggur.

“Staphylococcus aureus namanya karena bentuknya seperti anggur (staphylo) dan warnanya keemasan (aureus),” jelas Mikro.

Baca juga:  Khat Bacaan Doa Bagi yang Memberi Minuman

“Tapi kenapa banyak sekali bakteri? Kok kayak tidak pernah habis?”

“Karena mereka berkembang biak sangat cepat. Dalam kondisi ideal, satu bakteri bisa menjadi 8 juta dalam waktu 12 jam. Tubuhmu kesulitan mengimbangi.”

Bima melihat para sel darah putih mulai kewalahan. Beberapa dari mereka jatuh. Yang lain terus maju, tapi jumlah bakteri terus bertambah.

“Lalu bagaimana cara mengalahkan mereka?” tanya Bima cemas.

“Ada tiga cara,” jawab Mikro. “Pertama, sistem imunmu belajar dan menghasilkan antibodi khusus. Itu butuh waktu. Kedua, kamu datang ke tabibโ€”maksudku, dokterโ€”yang akan memberi pasukan tambahan berupa antibiotik.”

“Dan ketiga?”

Mikro menarik napas panjang. “Bisul ini akan… matang. Dinding pertahanan akan meleleh dan membentuk rongga berisi nanah. Nanah itu adalah tumpukan bakteri mati, sel darah putih yang gugur, dan jaringan yang rusak. Saat bisul pecah, semua kotoran itu akan keluar.”

“Berarti nanah itu kayak… sampah perang?”

“Kurang lebih begitu.”

Bima terdiam. Ia melihat ke arah pusat pertempuran. Di sana, di tengah kawah yang menggelembung, tampak sesosok bakteri berukuran tiga kali lebih besar dari yang lain. Ia bertopi mahkota kecil dari lendir.

“Itu Jenderal Staphy,” bisik Mikro. “Pemimpin pasukan penyerang. Selama dia masih hidup, koloni tidak akan pernah menyerah.”

Bab 6: Pertemuan dengan Jenderal Jahat

Sebelum Bima sempat berkata apa pun, tiba-tiba sekelompok bakteri mengepung mereka dari belakang. Dalam sekejap, Bima dan Mikro sudah terikat oleh benang-benang lendir lengket.

“Jangan bergerak,” kata seorang bakteri dengan suara mendesis. “Jenderal ingin bertemu dengan tamu istimewa.”

Mereka digiring ke tengah kawah. Jenderal Staphy duduk di singgasana yang terbuat dari sel-sel mati. Tubuhnya keemasan, mengkilap, dan matanyaโ€”jika bakteri punya mataโ€”penuh kesombongan.

“Manusia kecil,” sapa Jenderal Staphy. “Kamu berani datang ke wilayahku?”

“Aku tidak sengaja, Jenderal,” jawab Bima, berusaha tidak terdengar takut. “Aku cuma… numpang lewat.”

Jenderal Staphy tertawa. Suaranya seperti gemerincing koin. “Kamu tahu kenapa kita menyerang folikel ini? Bukan karena kita jahat. Tapi karena kita ingin bertahan hidup. Tubuhmu adalah rumah bagi triliunan bakteri. Beberapa baik, beberapa jahat. Kami yang jahat hanya berusaha mencari tempat yang nyaman.”

“Tapi kalian membuatku sakit!”

“Kami tidak peduli dengan sakitmu. Kami peduli dengan koloni kami. Selama ada makananโ€”sel-sel tubuhmuโ€”kami akan terus berkembang. Itu hukum alam, Bima kecil.”

Bebelac Terbaik Nutri Great
👉 Klik untuk Beli di Shopee

Bima mengepalkan tangan. “Tapi aku tidak mau kalah. Aku tidak mau punya bisul besar di pipi. Teman-temanku akan menertawakanku!”

“Ah, gengsi,” Jenderal Staphy menggeleng. “Kalian manusia selalu peduli dengan omongan orang lain. Padahal, sakit itu bukan aib. Sakit itu pertanda tubuhmu sedang berperang. Dan perang, sayangku, adalah hal yang paling alami di dunia ini.”

Saat Jenderal Staphy sedang asyik berpidato, Bima melihat gerakan samar di balik singgasana. Mikro telah melonggarkan ikatannya. Mikro memberi kode pada Bima untuk bersiap lari.

“Dan karena kamu sudah datang ke sarangku…” Jenderal Staphy mengangkat tangannya. “…kuharus pastikan kamu tidak akan pernah kembali ke dunia atas untuk membawa obat-obatan yang membunuh kami.”

“SEKARANG, BIMA!” teriak Mikro.

Bima melompat sekencang-kencangnya. Ia berlari menembus kerumunan bakteri yang kaget. Mikro melepaskan bom asap dari lendirโ€”sebenarnya hanya lendir biasa yang berkilauanโ€”tapi cukup untuk membingungkan pasukan Staphy.

Mereka berlari menuju tebing. Di ujung tebing, ada pintu bercahaya.

“Lompat!” perintah Mikro.

Bima memejamkan mata dan melompat.

Bab 7: Kembali ke Dunia Nyata

Bima terbangun di tempat tidurnya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Ia meraba pipi kanannya.

Benjolan itu masih ada. Tapi kali ini, terasa lebih… menggelembung. Ada titik putih kecil di puncaknya.

“Mama!” teriak Bima.

Mama datang sambil membawa waslap hangat. “Pipi kamu sudah matang, Bim. Sebentar lagi pecah sendiri.”

“Tapi Mama, tadi aku mimpi aneh. Aku masuk ke dalam bisul dan ketemu Jenderal Staphy!”

Mama tersenyum. “Itu alam bawah sadarmu, Nak. Tubuhmu sedang melawan infeksi. Dan yang terbaik yang bisa kamu lakukan sekarang adalah membantu tubuhmu.”

“Caranya?”

“Pertama, kompres hangat. Membantu mempercepat pematangan. Kedua, jangan pernah memencet bisul. Biarkan ia pecah alami. Ketiga, jaga kebersihan. Cuci tangan sebelum menyentuh wajah. Keempat, kalau besok tidak kunjung pecah atau malah tambah besar, kita ke dokter.”

Baca juga:  Khat Bacaan Doa Ketika Ziarah Kubur

Bima mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia melihat bisulnya bukan sebagai musuh yang menjijikkan, tapi sebagai tanda bahwa tubuhnya sedang berjuang. Ada perang saudara di dalam pipinya, dan ia adalah panglima tertinggi yang harus memutuskan strategi.

Bebelac Pencernaan Sehat
👉 Klik untuk Beli di Shopee

Malam itu, Bima tidak tidur. Ia menemani bisulnya berdenyut. Sesekali ia mengompres dengan waslap hangat pemberian mama. Ia berbicara pelan pada bisul itu, “Hei, kamu di dalam sana. Aku tahu kalian sedang berperang. Tapi tolong, menanglah. Aku percaya sama sel darah putihku.”

Lalu, sekitar pukul tiga dini hari, terdengar bunyi “krek” sangat pelan.

Bima meraba pipinya. Basah.

Bisul itu pecah. Cairan putih kekuningan mengalir perlahan. Mama yang terbangun segera membersihkannya dengan kapas steril dan povidone-iodine.

“Selamat, Bim. Pertempuran sudah selesai.”

Bab 8: Pelajaran dari Bisul

Tiga hari kemudian, bekas bisul di pipi Bima mengering dan mulai memudar. Ia kembali ke sekolah dengan cerita baru. Bukan cerita tentang matematika atau kartun, tapi tentang petualangannya di Kerajaan Folikel.

Teman-temannya terpesona. Bahkan Bu Guru Ratna ikut mendengarkan.

“Jadi kesimpulannya,” kata Bima di depan kelas saat pelajaran bercerita, “bisul itu bukan karena kita kotor atau jorok. Bisa terjadi pada siapa saja. Yang penting, kita harus tahu cara merawatnya.”

Bu Guru Ratna tersenyum. “Bagus, Bima. Ada pesan edukasi yang sangat baik. Boleh kamu jelaskan?”

Bima mengangkat jari satu per satu.

Pertama, jangan pernah memencet bisul. Nanti infeksinya malah menyebar ke dalam.
Kedua, kompres hangat membantu bisul matang lebih cepat.
Ketiga, kalau bisul di wajah (apalagi segitiga bahaya dari hidung ke mulut), harus hati-hati karena bisa memengaruhi otak.
Keempat, kalau demam atau bisul membesar dalam 2 minggu, harus ke dokter.
Kelima, cuci tangan dan jaga kebersihan kulit untuk mencegah bisul muncul lagi.

Dinda yang duduk di depan bertepuk tangan. “Wah, Bima jadi dokter cilik!”

Bima tersipu. Pipinya yang kanan masih agak merah, tapi tidak lagi sakit. Bekas bisul itu seperti medali kehormatan atas pertempuran kecil yang berhasil ia menangkan.

Bab 9: Surat untuk Jenderal Staphy

Malam harinya, sebelum tidur, Bima menulis surat di buku hariannya.

“Untuk Jenderal Staphy di dalam bisulku yang sudah pecah.

Aku tahu kamu hanya ingin bertahan hidup. Tapi maaf, tubuhku bukan tempat untukmu. Aku harus melindungi diriku sendiri. Tapi terima kasih sudah mengajarkan aku bahwa sakit bukanlah akhir dari segalanya. Sakit adalah awal dari perjuangan.

Salam,
Bima Sakti, Panglima Kerajaan Tubuh Manusia.”

Ia tersenyum, lalu memejamkan mata. Bisulnya mungkin sudah pergi, tapi pelajaran darinya akan tinggal selamanya.

Pesan Edukasi dari Cerita Ini:

  1. Bisul (furunkel) adalah infeksi pada folikel rambut yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.
  2. Tanda-tanda bisul: benjolan merah, nyeri, panas di kulit, dan akhirnya berisi nanah (pus).
  3. Jangan pernah memencet bisul, karena dapat menyebarkan infeksi ke jaringan sekitarnya atau ke aliran darah.
  4. Kompres hangat (3โ€“4 kali sehari, 15โ€“20 menit) membantu mempercepat pematangan dan drainase alami bisul.
  5. Segera ke dokter jika:
    1. Bisul di wajah (risiko komplikasi ke otak).
    1. Disertai demam >38ยฐC.
    1. Ukuran >5 cm.
    1. Tidak membaik dalam 2 minggu.
    1. Muncul banyak bisul (karbunkel).
    1. Penderita diabetes atau imun lemah.
  6. Antibiotik hanya diperlukan jika infeksi menyebar atau pasien memiliki kondisi medis tertentu.
  7. Pencegahan: cuci tangan, mandi teratur, tidak berbagi handuk atau pakaian, serta menjaga daya tahan tubuh.
  8. Bisul bukan karena โ€œdarah kotorโ€ atau โ€œsantetโ€ โ€” ini adalah kondisi medis nyata dengan penjelasan ilmiah.

Epilog: Bima dan Bintang Jatuh

Seminggu kemudian, Bima berdiri di halaman rumahnya pada malam hari. Ia menengadahkan kepala ke langit, menanti bintang jatuh.

“Ayah bilang, kalau lihat bintang jatuh, boleh minta apa saja.”

Lalu, tepat di atas kepalanya, sebuah bintang melesat cepat. Bima memejamkan mata.

“Aku ingin… tubuhku selalu kuat melawan kuman jahat.”

Saat ia membuka mata, ia meraba pipi kanannya. Bekas bisul itu sudah hampir tidak terlihat. Seperti bintang jatuh, bisul itu datang, menyakiti, lalu pergi. Tapi jejaknyaโ€”dalam bentuk cerita dan pelajaranโ€”akan tetap bersinar.

Bima tersenyum. “Terima kasih, bisul. Kamu guru yang menyebalkan, tapi baik.”

Dan dari kejauhan, di dalam alam mikroskopis yang tak kasat mata, pasukan sel darah putih di tubuh Bima bersiap untuk pertempuran berikutnya. Karena perang melawan kuman tidak pernah benar-benar berakhir. Tapi dengan pengetahuan, kebersihan, dan keberanianโ€”Bima, dan semua anak di dunia, bisa menjadi panglima yang hebat bagi kerajaan kecil mereka sendiri.

Tamat.

(Nurul Ihsan/Penerbit Ikhlas Media)

Supported by: Penerbit Thursina Bandung

Loading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

๐Ÿ’ณ Donasi via PayPal ๐Ÿคฒ Dukung via Kitabisa
error: Content is protected !!
Kolmarket Produk Mainan Anak Edukatif