Sajak Pembentuk Pulau (101 Cerita Nusantara dari Maluku)
- Updated: April 20, 2026
![]()
📖 Printable Islamic & Educational eBook for Kids
✔ Bisa di-download
✔ Bisa di-print sendiri di rumah
✔ Cocok untuk belajar & aktivitas anak

Oleh: Kak Nurul Ihsan
Di pulau Ternate, memerintah seorang sultan bernama Jafar Nuh.
Permaisuri Sultan Jafar Nuh berasal dari kahyangan yang terkenal paling cantik di seluruh negeri.
Suatu hari, adik Permaisuri bernama Gajadean datang dari kahyangan mengunjungi sultan.
Sultan kemudian mengangkat Gajadean menjadi penguasa wilayah Tobelo yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Ternate.
Sultan berpesan apabila Gajadean menjadi penguasa di Tobelo, ia harus rutin menyerahkan upeti berupa segala bentuk hasil bumi dari Tobelo.
Gajadean menyanggupinya.
Di sana pula Gajadean membangun keluarganya dan dikaruniai dua orang anak.
Dibawah kekuasaan Gajadean, Tobelo berkembang menjadi daerah subur makmur.
Tidak lupa pula, Gajadean rajin mengirim upeti pada Sultan Jafar.
Namun entah kenapa, Sultan Jafar tiba-tiba jadi iri dan membencinya.
Suatu hari, Sultan Jafar menyuruh pengawalnya menyembunyikan terompah atau sepatu Gajadean dari kahyangan yang amat indah.
Karena diperlakukan seperti itu, Gajadean kemudian mengirimkan upeti berupa guci-guci yang berisi kotoran.
Tak lama kemudian terjadilah perang saudara antara Sultan Jafar dengan Gajadean.
Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Sultan jafar.
Pada perang itu, Gajadean hilang tanpa jejak.
Kemudian suatu hari, putri Sultan Gajadean melantunkan sebuah sajak untuk ayahnya, โPapa Ua nyao delo โฆ Kabunga manyare-nyare โฆ Toma buku molitebu โฆ Betapa sedihnya orang tak punya keluarga โฆ bagaikan ikan terdampar di pantai โฆ di tepi pantai di kaki gunung โฆโ
Selesai bersajak demikian, secara ajaib tiba-tiba muncullah gugusan pulau-pulau baru di wilayah Maluku dari Mede hingga ke seberang Tobelo, Halmahera, Bacan, sampai Tidore.
Pesan Moral
Pandai-pandailah memelihara persaudaraan jangan sampai retak.

Eksplorasi Komprehensif Cerita Rakyat Maluku: “Sajak Pembentuk Pulau” (Kajian 25 Tanya Jawab Ilmiah)
Oleh: Tim Ebookanak.com
Kategori: Cerita Rakyat Nusantara | Legenda Asal-usul | Mitologi
Kata Kunci: Cerita Rakyat Maluku, Legenda Pulau, Sajak Pembentuk Pulau, Mama Ua, Sultan Gajadean, Tobelo, Asal-usul Halmahera, Kearifan Lokal Maluku Utara
[Bagian 1] Pendahuluan: Warisan Lisan dari Timur Nusantara
Indonesia adalah negeri yang kaya akan khazanah cerita rakyat (folklore). Dari Sabang hingga Merauke, ribuan kisah diwariskan secara turun-temurun, menjadi medium pendidikan karakter, pelestarian budaya, dan penjelasan atas fenomena alam. Salah satu cerita yang sarat makna dan keunikan berasal dari Maluku, tepatnya dari wilayah Tobelo, Maluku Utara .
Cerita yang dikenal dengan judul “Sajak Pembentuk Pulau” atau dalam versi lain disebut “Legenda Terompah Sultan Gajadean” serta “Tumbuhnya Pulau-pulau di Depan Tobelo” ini merupakan sebuah legenda etiological (penjelasan asal-usul) yang menghubungkan kesedihan seorang anak, pengkhianatan politik, dan kekuatan magis syair hingga melahirkan gugusan pulau-pulau di Maluku.
Dalam artikel super mendalam ini, kita tidak hanya akan membaca ringkasan cerita, tetapi juga membedah tuntas latar belakang sosial budaya Maluku, analisis struktural Alur, Tokoh, Amanat, hubungannya dengan sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore, hingga menyajikan 25 Tanya Jawab ilmiah yang diharapkan bisa menjadi rujukan utama di mesin pencarian. Sumber-sumber yang digunakan berasal dari dokumentasi resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jurnal sastra, serta buku-buku cerita rakyat terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978.
[Bagian 2] Sinopsis dan Latar Cerita “Sajak Pembentuk Pulau”
Sebelum kita membedah lebih dalam, mari kita simak alur cerita dari naskah asli yang telah terdokumentasi dalam berbagai sumber .
Latar Belakang Cerita (Premis)
Pada zaman dahulu, Pulau Ternate diperintah oleh seorang raja bernama Sultan Jafar. Sang Sultan memiliki permaisuri yang merupakan bidadari kahyangan, sehingga memiliki paras yang cantik jelita. Suatu hari, adik sang permaisuri yang bernama Gajadean turun dari kahyangan untuk berkunjung.
Sultan Jafar menyambut baik kedatangan Gajadean. Dalam perbincangan, Sultan Jafar menawarkan wilayah Tobelo kepada Gajadean dengan syarat ia harus rutin mengirimkan upeti. Gajadean menerima tawaran tersebut dan diangkat menjadi Sultan di Tobelo .
Alur Cerita (Plot Summary)
- Tahap Perkenalan (Exposition):ย Gajadean memerintah Tobelo dengan bijaksana, dibantu dua pembantu setianya,ย Malimaduboย danย Metaloma. Ia menikah dan dikaruniai dua orang anak:ย Kobubuย danย Mama Ua. Di bawah kepemimpinannya, Tobelo berkembang menjadi daerah yang makmur dan terkenal. Ia pun tidak pernah terlambat mengirim upeti kepada Sultan Jafar di Ternateย .
- Tahap Konflik Awal (Rising Action):ย Kesuksesan dan ketenaran Gajadean menimbulkanย rasa iriย dari Sultan Jafar, kakak iparnya sendiri. Sultan Jafar merasa tersaingi. Diam-diam, Sultan Jafar mengutus anak buahnya untuk mencuri dan menyembunyikanย Terompahย (sandal) milik Gajadean. Terompah ini terkenal memiliki kesaktian karena berasal dari kahyanganย .
- Tahap Balas Dendam (Climax Preparation):ย Gajadean menyadari siapa dalang pencurian terompahnya. Sebagai balasan, ia mengirimkan upeti berisiย kotoranย kepada Sultan Jafar. Tentu saja, Sultan Jafar marah besar atas penghinaan tersebut.
- Tahap Klimaks (Climax):ย Sultan Jafar menyatakan perang dan menyerang wilayah Tobelo. Dalam peperangan yang terjadi,ย Sultan Gajadean tiba-tiba menghilangย tanpa jejak. Beruntung, kedua anaknyaโKobubu dan Mama Uaโberhasil diselamatkan oleh Malimadubo dan Metalomaย .
- Tahap Penyelesaian (Resolution):ย Setelah pasukan Ternate pergi, Kobubu diangkat menjadi pemimpin menggantikan ayahnya. Namun, Mama Ua (adik Kobubu) sangat merindukan sosok ayahnya. Untuk melepas rasa rindunya, Mama Ua menyanyikan sebuahย sajak/syair:
“Papa Ua nyao delo. Kubunga Menyere-nyere. Toma buku molitebu.”
Artinya: “Sedihnya orang tidak punya keluarga. Bagaikan ikan yang terdampar di pantai dan di kaki gunung.”
Saat syair kesedihan ini selesai dinyanyikan, terjadilah peristiwa dahsyat: gugusan pulau-pulau muncul dari wilayah Mede hingga ke seberang Tobelo. Gugusan pulau inilah yang kemudian dikenal sebagai daerah kepulauan di Maluku, seperti Halmahera, Bacan, Makian, Moti, dan Tidore .
[Bagian 3] Analisis Unsur Intrinsik Cerita (Kajian Sastra)
Untuk memahami cerita ini secara ilmiah, kita harus memecah unsur-unsur pembangunnya. Analisis ini merujuk pada teori unsur intrinsik yang lazim digunakan dalam kajian sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah .
1. Tema
Tema utama cerita ini adalah “Pengkhianatan dan Kesedihan yang Melahirkan Keagungan”. Cerita ini mengangkat beberapa subtema:
- Dendam dan Iri hati:ย Sultan Jafar yang iri menghancurkan hubungan kekeluargaan.
- Kesedian yang membawa berkah:ย Tangisan dan sajak Mama Ua justru melahirkan daratan baru (pulau-pulau).
- Asal-usul (etiology):ย Menjelaskan secara mitologis terbentuknya gugusan pulau di Maluku.
2. Alur (Plot)
Menggunakan alur maju (progresif) karena peristiwa berjalan kronologis. Secara struktural, cerita ini memiliki rangkaian sebab-akibat yang kuat: Ketenaran โ Iri Hati โ Pencurian โ Penghinaan โ Perang โ Hilangnya Ayah โ Kesedihan โ Mukjizat (terbentuk pulau).
Cerita ini termasuk tragedi karena berakhir dengan hilangnya tokoh utama (Gajadean) meskipun ada keajaiban alam yang menyertainya.
3. Penokohan dan Perwatakan
Ini adalah elemen penting dalam cerita ini. Terdapat oposisi biner antara tokoh protagonis dan antagonis, serta tokoh simbolis.
| Tokoh | Peran (Protagonis/Antagonis) | Karakter/Watak | Analisis Mendalam |
| Sultan Gajadean | Protagonis (pemeran utama positif) | Bijaksana, Pandai Memerintah, Berwibawa, namun juga pembalas (mengirim kotoran sebagai protes) | Tokoh dari kahyangan (bidadari/keturunan dewa) yang membawa kemakmuran. Kesaktiannya terletak pada terompah dan statusnya. Ia adalah simbol pemimpin ideal yang difitnah. |
| Sultan Jafar | Antagonis (tokoh antagonis) | Iri hati, Serakah, Licik, Pengkhianat, Sombong | Ia adalah kakak ipar yang seharusnya melindungi, malah mencelakakan. Ia mewakili sifat buruk hubris (kesombongan penguasa) yang merusak tatanan. |
| Mama Ua | Protagonis (Simbolis) | Polos, Penuh Kasih, Setia, Ekspresif | Meskipun seorang anak, ia adalah tokoh kunci. Kesediannya yang tulus melahirkan pulau. Ia simbol bahwa emosi murni (rindu pada orang tua) dapat menghasilkan keajaiban. |
| Kobubu | Figuran (Pendukung) | Bertanggung jawab, Pemimpin | Sebagai kakak, ia melanjutkan kepemimpinan. Tokoh yang stabil. |
| Malimadubo & Metaloma | Figuran (Pendukung) | Setia, Loyal, Penyelamat | Mereka adalah abdi yang setia menyelamatkan generasi penerus. |
4. Latar (Setting)
- Latar Tempat:ย Kerajaan Ternate, Kerajaan Tobelo (Maluku Utara), wilayah Mede hingga seberang Tobelo, “Kahyangan” (sebagai asal-usul Gajadean).
- Latar Waktu:ย Zaman dahulu, era kejayaan Kesultanan Ternate dan Tidore (sekitar abad 13-16 M).
- Latar Sosial:ย Struktur masyarakat feodal dengan sistem kerajaan (sultan), sistem upeti, perang antarkerajaan, dan kepercayaan terhadap hal-hal gaib (bidadari, terompah sakti).
5. Sudut Pandang
Menggunakan sudut pandang orang ketiga (serba tahu). Narator mengetahui semua kejadian: iri hati Sultan Jafar, strategi balas dendam Gajadean, perang, hingga perasaan sedih Mama Ua.
6. Gaya Bahasa (Majas)
- Personifikasi:ย Alam “menjawab” sajak Mama Ua dengan munculnya pulau.
- Hiperbola:ย Kemunculan gugusan pulau secara tiba-tiba sebagai respons terhadap syair.
- Simbolik:ย Terompah melambangkan kekuasaan dan kesaktian; Sajak melambarkan doa dan energi spiritual.
7. Amanat (Pesan Moral)
- Jangan Iri pada Keberhasilan Orang Lain:ย Iri hati Sultan Jafar membawa kehancuran hubungan dan peperangan.
- Kesedihan yang Tulus Dapat Menjadi Kekuatan:ย Mama Ua mengajarkan bahwa mengekspresikan kesedihan itu manusiawi, dan terkadang dari kesedihan lahir sesuatu yang besar (dalam hal ini, daratan baru).
- Pengkhianatan dalam Keluarga adalah Luka Terdalam:ย Cerita ini mengingatkan bahwa konflik internal keluarga (ipar) seringkali lebih berbahaya daripada musuh dari luar.
[Bagian 4] Analisis Unsur Ekstrinsik (Nilai Budaya, Sejarah & Geografi)
Cerita “Sajak Pembentuk Pulau” tidak dapat dipisahkan dari realitas sejarah dan geografis Maluku.
1. Kondisi Geografis Kepulauan Maluku
Secara ilmiah geologi, Kepulauan Maluku terbentuk akibat pertemuan tiga lempeng tektonik besar (Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik). Proses ini menghasilkan aktivitas vulkanik yang melahirkan pulau-pulau seperti Halmahera, Ternate (Gunung Gamalama), Tidore (Gunung Kie Matubu), dan Bacan .
Cerita ini secara puitis “membaca” fenomena geologis tersebut sebagai “mukjizat” atau “kehendak alam” yang direspons oleh kekuatan spiritual.
2. Sejarah Persaingan Kesultanan Ternate dan Tidore
Dalam sejarah nyata, Maluku Utara dikenal dengan sistem “Jalur Rempah” dan persaingan ketat antara Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Cerita ini (dengan tokoh Sultan Jafar dari Ternate dan Sultan Gajadean dari Tobelo) mencerminkan dinamika politik double kingdoms yang sering bersekutu sekaligus bersaing .
- Tobeloย secara historis adalah wilayah di bawah pengaruh Ternate.
- Konflik dalam cerita ini (pencurian terompah, pengiriman upeti kotoran) adalah metafora dari hubunganย suzerain-vassalย (hubungan penguasa-bawahan) yang seringkali tidak harmonis.
3. Nilai Budaya “Pela Gandong” vs “Konflik”
Masyarakat Maluku terkenal dengan ikatan persaudaraan Pela Gandong (hubungan darah antar desa). Namun, cerita ini juga mengakui adanya potensi konflik internal (seperti yang terjadi antara Sultan Jafar dan Gajadean). Ini menunjukkan bahwa budaya Maluku mengakui dualitas: persaudaraan itu kuat, tetapi iri hati bisa merusaknya.
4. Kekuatan Sastra Lisan (Syair/Sajak)
Bagian paling unik dari cerita ini adalah sajak Mama Ua yang menjadi “pemicu” terbentuknya pulau. Ini mencerminkan keyakinan masyarakat Maluku (dan Nusantara umumnya) terhadap kekuatan mantra/tabuhan.
Dalam tradisi lisan, syair bukan sekadar kata-kata, tetapi memiliki energi magis (mantera). Syair Mama Ua yang berisi metafora “ikan terdampar” menggambarkan perasaan terbuang dan kehilangan, yang kemudian “dijawab” oleh alam dengan memberikan “temat tinggal baru” (pulau-pulau) .
[Bagian 5] 25 Tanya Jawab (Q&A) Super Lengkap untuk Rujukan SEO
Bagian ini adalah inti artikel. Disusun untuk menjawab segala kemungkinan pertanyaan pencari informasi tentang cerita “Sajak Pembentuk Pulau” (Legenda Terompah Sultan Gajadean).
Kategori A: Identitas & Asal Usul Cerita
1. Q: Apa judul asli cerita rakyat “Sajak Pembentuk Pulau”?
A: Cerita ini memiliki beberapa judul alternatif. Dalam buku Cerita Rakyat Daerah Maluku (terbitan Depdikbud 1978), judulnya adalah “Asal-usul nama Danau Lina serta Tumbuhnya Pulau-pulau di depan Tobelo” . Dalam buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Nusantara karya Marina Asril Reza, judulnya adalah “Legenda Terompah Sultan Gajadean” . Nama “Sajak Pembentuk Pulau” lebih merujuk pada inti peristiwa magis dalam cerita ini.
2. Q: Dari daerah mana asal cerita rakyat ini?
A: Cerita ini berasal dari Provinsi Maluku Utara, secara spesifik dari wilayah Tobelo (pantai timur Pulau Halmahera) dan terkait dengan Kesultanan Ternate .
3. Q: Apakah cerita ini termasuk legenda, mite, atau dongeng?
A: Cerita ini termasuk Legenda (legend) karena dikaitkan dengan tokoh sejarah (Sultan) dan menjelaskan asal-usul suatu tempat (gugusan pulau). Namun, karena mengandung unsur dewa/bidadari (Gajadean dari kahyangan), ia juga memiliki unsur Mite (myth) .
4. Q: Siapa penulis pertama cerita rakyat ini?
A: Sebagai cerita rakyat (folklore), ia bersifat anonim. Namun, versi tertulisnya terdokumentasi dalam Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978 . Versi populer lainnya ditulis oleh Marina Asril Reza dalam bukunya 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara .
5. Q: Apakah ada versi lain dari cerita asal-usul pulau di Maluku?
A: Ada. Selain legenda ini, terdapat legenda “Burung Garuda Berkepala Dua” yang menjelaskan asal-usul Pulau Maitara di Maluku Utara. Legenda lain menyebutkan tentang “Tolire Gam Jaha” (Negeri Tenggelam) yang juga menjelaskan fenomena alam di Maluku . Ini menunjukkan kekayaan tradisi lisan Maluku dalam membaca bentang alamnya.
Kategori B: Analisis Tokoh & Karakter (Penokohan)
6. Q: Siapa protagonis dan antagonis dalam cerita ini?
A: – Protagonis (Tokoh Utama Positif): Sultan Gajadean dan Mama Ua (anaknya). Gajadean digambarkan sebagai pemimpin yang bijaksana dan membawa kemakmuran, sementara Mama Ua adalah simbol kesucian hati .
- Antagonis (Tokoh Negatif):ย Sultan Jafar (kakak ipar Gajadean). Ia digambarkan iri hati, licik, dan pengkhianat.
7. Q: Apa keistimewaan Sultan Gajadean sehingga ia bisa menjadi penguasa Tobelo?
A: Sultan Gajadean adalah keturunan bidadari kahyangan (adik permaisuri Sultan Jafar). Ia membawa terompah sakti dari kahyangan. Selain itu, ia memiliki kemampuan memerintah yang hebat sehingga Tobelo menjadi makmur .
8. Q: Siapa Mama Ua dan mengapa ia penting?
A: Mama Ua adalah anak bungsu Sultan Gajadean. Ia penting karena sajak/syair yang dinyanyikannya saat merindukan ayahnya yang hilang menjadi penyebab langsung munculnya gugusan pulau-pulau. Ia adalah tokoh katalis dalam cerita ini .
9. Q: Siapa saja pembantu setia Sultan Gajadean?
A: Dua pembantu setia Sultan Gajadean bernama Malimadubo dan Metaloma. Mereka berhasil menyelamatkan kedua anak Gajadean (Kobubu dan Mama Ua) saat perang berlangsung. Ini menunjukkan nilai kesetiaan (loyalty) .
10. Q: Apa penyebab utama konflik antara Sultan Jafar dan Sultan Gajadean?
A: Penyebab utamanya adalah rasa iri hati (jealousy). Sultan Jafar merasa tersaingi oleh ketenaran dan kemakmuran Tobelo di bawah kepemimpinan Gajadean. Iri hati ini memicu tindakan pengkhianatan (pencurian terompah) yang berujung perang .
Kategori C: Analisis Alur & Peristiwa Penting
11. Q: Apa fungsi Terompah Sultan Gajadean dalam cerita?
A: Terompah adalah pusaka sakti yang dibawa Gajadean dari kahyangan. Terompah ini melambangkan kekuasaan, kesaktian, dan legitimasi. Pencurian terompah oleh Sultan Jafar adalah simbol perampasan martabat dan kekuasaan .
12. Q: Mengapa Sultan Gajadean mengirim upeti berisi kotoran?
A: Itu adalah bentuk protes dan penghinaan terhadap tindakan tidak hormat Sultan Jafar (mencuri terompah). Dalam sistem upeti, isi upeti mencerminkan rasa hormat. Dengan mengirim kotoran, Gajadean secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak lagi menghormati Sultan Jafar .
13. Q: Apa yang terjadi pada Sultan Gajadean di akhir perang?
A: Sultan Gajadean tiba-tiba menghilang (lenyap) secara misterius. Tidak disebutkan ia meninggal atau pergi ke mana. Ini menambah unsur mistis cerita, seolah-olah ia “pulang” ke asalnya (kahyangan) .
14. Q: Bagaimana bunyi sajak/syair Mama Ua yang “membentuk pulau”?
A: Bunyi sajaknya adalah:
“Papa Ua nyao delo. Kubunga Menyere-nyere. Toma buku molitebu.”
Artinya: “Sedihnya orang tidak punya keluarga. Bagaikan ikan yang terdampar di pantai dan di kaki gunung.”
15. Q: Pulau-pulau apa saja yang “lahir” dari sajak Mama Ua?
A: Menurut cerita, muncul gugusan pulau dari wilayah Mede hingga ke seberang Tobelo, yang kemudian dikenal sebagai Halmahera, Bacan, Makian, Moti, Tidore, dan pulau-pulau lainnya di sekitar Maluku .
Kategori D: Nilai Moral & Pendidikan Karakter (Pedagogi)
16. Q: Apa pesan moral utama dari cerita “Sajak Pembentuk Pulau”?
A: Pesan moral utamanya ada tiga:
- Jangan iri hati pada keberhasilan orang lain, karena iri hati membawa kehancuran.
- Kesedihan yang tulus dapat menjadi kekuatanย yang melahirkan kebaikan.
- Pengkhianatan dalam keluarga adalah luka terdalamย yang sulit disembuhkan.
17. Q: Sifat buruk apa yang dicontohkan oleh Sultan Jafar yang tidak boleh ditiru?
A: Sultan Jafar menunjukkan sifat iri hati (hasad), licik, khianat, dan serakah. Ia rela menghancurkan keluarga demi mempertahankan gengsi dan kekuasaannya .
18. Q: Nilai karakter (Profil Pelajar Pancasila) apa saja yang ada dalam cerita ini?
A: Cerita ini mengusung nilai:
- Bernalar Kritis:ย Memahami bahwa iri hati adalah akar konflik.
- Kreatif:ย Mama Ua mengekspresikan kesedihan melalui syair yang indah.
- Berkebhinekaan Global:ย Memahami kekayaan budaya dan legenda asal-usul pulau di Indonesia timur.
- Mandiri:ย Kobubu melanjutkan kepemimpinan setelah ayahnya hilang.
19. Q: Apakah cerita ini cocok untuk pembelajaran sastra di sekolah?
A: Sangat cocok. Cerita ini kaya akan unsur intrinsik dan ekstrinsik (tema, alur, latar, penokohan, nilai budaya, sejarah). Cocok untuk materi Bahasa Indonesia kelas VII dan XI khususnya tentang Cerita Rakyat, Legenda, dan Analisis Unsur Pembangun Cerita .
20. Q: Apa perbedaan cerita ini dengan fabel atau mite lainnya?
A: Berbeda dengan fabel yang tokohnya binatang, cerita ini tokohnya manusia (Sultan) dan makhluk gaib (bidadari). Berbeda dengan mite yang semata-mata menjelaskan alam gaib, cerita ini memiliki latar sejarah yang jelas (Kesultanan Ternate), sehingga tergolong legenda .
Kategori E: Hubungan dengan Sejarah & Budaya Maluku (Ekstrinsik)
21. Q: Apakah Sultan Jafar dan Sultan Gajadean adalah tokoh sejarah nyata?
A: Dalam sejarah Maluku, nama “Sultan Jafar” tidak setenar Sultan Babullah atau Sultan Khairun. Namun, secara kultural, cerita ini mencerminkan dinamika hubungan antara Kesultanan Ternate dengan wilayah taklukannya (seperti Tobelo). Gajadean mungkin adalah representasi dari penguasa lokal (Momole) yang diangkat oleh Ternate .
22. Q: Apa hubungan cerita ini dengan sistem “upeti” dalam sejarah Nusantara?
A: Sistem upeti (tribute system) adalah praktik nyata dalam kerajaan-kerajaan Nusantara. Daerah taklukan wajib mengirim upeti sebagai tanda tunduk. Cerita ini menunjukkan bagaimana upeti bisa menjadi alat kontrol sekaligus sumber konflik jika tidak dikelola dengan hormat .
23. Q: Apa makna filosofis di balik “pulau yang muncul dari sajak”?
A: Secara filosofis, ini adalah alegori tentang kekuatan kata-kata dan emosi. Masyarakat tradisional percaya bahwa alam semesta responsif terhadap getaran batin manusia. Kesedihan Mama Ua yang tulus “dijawab” oleh alam dengan menciptakan daratanโseolah-olah alam memberi “pelukan” berupa pulau-pulau sebagai tempat baru untuk berpijak .
24. Q: Apakah ada ritual atau tradisi di Maluku yang terkait dengan cerita ini?
A: Meskipun tidak ada ritual khusus yang secara eksplisit merujuk pada cerita ini, masyarakat Maluku memiliki tradisi “Pasah” dan “Legu” (syair/tarian) yang sering dibawakan dalam upacara adat. Syair Mama Ua bisa dikategorikan sebagai bentuk Legu (syair ratapan) .
25. Q: Di mana saya bisa membaca versi lengkap “Sajak Pembentuk Pulau” secara online?
A: Anda dapat membaca versi lengkap dan terpercaya di situs Ebook Anak (ebookanak.com) serta merujuk pada arsip digital Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (Depdikbud 1978) yang tersimpan di perpustakaan digital seperti MMTC Yogyakarta . Juga dapat ditemukan dalam buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Nusantara .
[Bagian 6] Kesimpulan
“Sajak Pembentuk Pulau” (Legenda Terompah Sultan Gajadean) adalah lebih dari sekadar dongeng pengantar tidur. Dari perspektif ilmiah dan edukatif, cerita ini adalah sebuah etiological legend yang menjelaskan secara puitis tentang terbentuknya gugusan kepulauan di Maluku.
Secara struktur sastra, cerita ini memiliki alur yang kuat dengan konflik yang dibangun dari iri hati (jealousy) sebagai motor penggerak cerita. Tokoh-tokohnya merepresentasikan dualitas manusia: kebaikan (Gajadean, Mama Ua) versus kejahatan (Sultan Jafar). Unsur magis (terompah sakti, sajak pembentuk pulau) menjadi ciri khas cerita rakyat Nusantara yang tidak bisa dilepaskan dari sistem kepercayaan lokal.
Dari sisi pendidikan karakter, cerita ini mengajarkan bahwa iri hati adalah bibit kehancuran, sementara kesedihan yang diekspresikan secara tulus dapat berubah menjadi kekuatan kreatif. Bagi masyarakat Maluku, cerita ini juga menjadi pengingat akan hubungan historis antar kerajaan dan pentingnya menjaga kehormatan (sasi) dalam hubungan keluarga dan politik.
Cerita ini layak untuk terus dilestarikan, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bahan ajar sastra yang kaya akan nilai-nilai luhur bangsa.
[Bagian 7] Pesan Moral Penutup
“Jadilah seperti Mama Ua, yang ketika kehilangan, tidak terjebak dalam kepahitan, tetapi melahirkan syair keindahan. Jangan pernah menjadi Sultan Jafar, yang iri hati pada kesuksesan saudaranya sendiri. Karena iri hati hanya akan melahirkan perang, sementara cinta dan kesetiaanโseperti yang ditunjukkan Malimadubo dan Metalomaโakan menyelamatkan generasi.”
Mari kita lestarikan cerita rakyat Nusantara, karena di dalamnya tersimpan jiwa dan sejarah bangsa!
[Bagian 8] Daftar Pustaka (Sumber Kredibel & Valid)
Referensi disusun berdasarkan standar akademik dari sumber-sumber terpercaya yang dapat diakses oleh pembaca untuk verifikasi.
- Reza, Marina Asril.ย (2015).ย 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara: Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. โย Sumber primer cetak untuk Legenda Terompah Sultan Gajadeanย .
- Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.ย (1978).ย Cerita Rakyat Daerah Maluku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. โย Sumber primer resmi yang memuat “Asal-usul nama Danau Lina serta Tumbuhnya Pulau-pulau di depan Tobelo”ย .
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.ย (2017).ย Cerita Rakyat Maluku Utara: Asal Usul Sejumlah Jere. Jakarta: Kemdikbud. โย Dokumentasi cerita rakyat Maluku Utaraย .
- Kementerian Agama RI – Moraref.ย (2017).ย Jurnal Totobuang: Kajian Sastra Bandingan Cerita Rakyat Maluku. Ambon: Kantor Bahasa Maluku. โย Sumber akademik untuk analisis unsur intrinsik cerita rakyat Malukuย .
- Jangkara Media.ย (2022).ย Burung Garuda Berkepala Dua Jadi Asal Muasal Terbentuknya Pulau Maitara Provinsi Maluku Utara. โย Sumber pembanding legenda asal-usul pulau lain di Malukuย .
- Good News From Indonesia.ย (2024).ย Legenda Terompah Sultan Gajadean yang Menjadi Asal Usul Kemunculan Gugusan Pulau di Maluku. Jakarta: GNFI. โย Sumber digital populer yang merangkum cerita dengan baikย .
- Muliani, Siti.ย (2019).ย Upaya membangun perdamaian dalam novel maluku kobaran cintaku karya sarumpaet dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. โย Sumber akademik tentang pembelajaran unsur intrinsik sastra di sekolahย .
- StudyX AI.ย (2024).ย Analisis Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen Maluku. โย Panduan analisis unsur cerita untuk pembelajaranย .
- Nusantara62 Media.ย (2024).ย Cerita Rakyat Maluku Utara, Asal Usul Sejumlah Jere atau Tempat Keramat, Kejadian Aneh. โย Sumber dokumentasi cerita rakyat Maluku lainnyaย .
- Nusantaranews.co.ย (2018).ย Sajak Delapan Bintang – Puisi Nuriman N.Bayan. โย Referensi tambahan tentang tradisi sajak di Maluku Utara kontemporerย .
Artikel ini adalah hak cipta Ebook Anak untuk keperluan pendidikan dan referensi online. Silakan disebarluaskan untuk tujuan pendidikan dengan mencantumkan sumber.
Poems Forming Islands (101 Archipelago Stories from the Moluccas)
On the island of Ternate, ruled a sultan named Jafar Nuh.
Empress Sultan Jafar Nuh comes from heaven who is known as the most beautiful in the whole country.
One day, the Empress’ younger brother named Gajadean came from heaven to visit the sultan.
The Sultan then appointed Gajadean to become the ruler of the Tobelo region which was still under the authority of the Ternate kingdom.
The Sultan advised that if Gajadean becomes ruler in Tobelo, he must routinely pay tribute in the form of all kinds of agricultural products from Tobelo.
Gajadean agreed.
It was also there that Gajadean built his family and was blessed with two children.
Under Gajadean rule, Tobelo developed into a prosperous fertile area.
Also not forgetting, Gajadean diligently sent tribute to Sultan Jafar.
But for some reason, Sultan Jafar suddenly became jealous and hated him.
One day, Sultan Jafar ordered his guards to hide the gajadean sandals or shoes from a very beautiful heaven.
Due to being treated like that, Gajadean then sent tribute in the form of jars filled with excrement.
Not long after, there was a civil war between Sultan Jafar and Gajadean.
The war was finally won by Sultan Jafar.
During that war, Gajadean disappeared without a trace.
Then one day, the daughter of the Sultan of Gajadean recited a poem for her father, โPapa Ua nyao deloโฆ The flowers are manyare-nyareโฆ Toma Buku molitebuโฆ How sad it is for people to have no familyโฆ like a fish washed up on the beach.. .. by the sea at the foot of the mountainโฆโ
After saying this rhyme, miraculously suddenly a new group of islands appeared in the Maluku region from Mede to across Tobelo, Halmahera, Bacan, to Tidore.
Moral message
Be good at maintaining brotherhood, don’t crack it.























































