Nabi Ibrahim Mencari Tuhan

11,499,382 kali dilihat, 7,102 kali dilihat hari ini

“Aku hanya akan bertuhan kepada yang menjadikan langit dan bumi dengan ikhlas. Aku tidak akan pernah mempersekutukan-Nya.”

Sejak itu, setiap hari, orangtua Nabi Ibrahim menengok Nabi Ibrahim kecil di dalam gua. 

Orangtua Nabi Ibrahim datang pagi dan baru pulang sore. 

Orangtua Nabi Ibrahim, tetap merasa takjub menyadari Nabi Ibrahim kecil dapat tinggal sendirian di dalam gua.

Orangtua Nabi Ibrahim merahasiakan hal itu.

Orangtua Nabi Ibrahim tidak berani membawa Nabi Ibrahim kecil pulang ke kampung halamannya, sebelum peraturan Raja Namruz dihapuskan.

Nabi Ibrahim tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang cerdas.

Sewaktu Nabi Ibrahim mulai  besar dan sudah mengerti sesuatu, dia bertanya kepada orangtuanya, ”Wahai Ibu, Ayah, siapakah yang menjadikan aku?”

Orangtuanya menjawab, “Yang menjadikan engkau adalah kami karena engkau lahir ke dunia ini sebab kami.”

“Lalu, siapa yang menjadikan Ibu dan Ayah?” tanya Nabi Ibrahim penasaran.

“Tentu saja kakek dan nenekmu, karena kami lahir disebabkan oleh mereka,” jawab ayahnya.

“Lalu, siapakah yang pertama-tama menjadikan kita semua?” tanya Nabi Ibrahim lagi.

Orangtuanya tidak dapat menjawab pertanyaan Nabi Ibrahim, karena mereka tidak mengenal Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta.

Nabi Ibrahim selalu menanyakan, siapakah yang menciptakan alam semesta ini.

Namun, tidak seorang pun yang dapat menunjukkan dan mengajarkan kebenaran kepadanya.

Pada malam hari, Nabi Ibrahim sering melihat bintang-bintang, lalu dia berkata, “Inikah Tuhanku?”

Kemudian, Nabi Ibrahim melihat bintangnya menghilang di balik awan hitam.

Lalu, Nabi Ibrahim berkata lagi, “Aku tidak akan bertuhan kepada sesuatu yang dapat menghilang.”

Sesudah itu, Nabi Ibrahim melihat bulan purnama yang bersinar cemerlang. “Inikah Tuhanku?”

Namun, beberapa saat kemudian, bulan purnama itu lenyap.

“Kalau Tuhanku tidak memberiku petunjuk, tentu aku menjadi sesat.”

Pada waktu siang, Nabi Ibrahim melihat matahari yang lebih besar dan lebih bercahaya dibandingkan dengan semua yang pernah dia lihat sebelumnya.

“Oh, inilah Tuhanku yang sebenarnya, inilah yang paling besar.”

Namun, pada waktu malam matahari itu terbenam.

Nabi Ibrahim pun berkata, “Aku tidak akan bertuhan kepada matahari yang dapat terbenam.”

“Aku hanya akan bertuhan kepada yang menjadikan langit dan bumi dengan ikhlas. Aku tidak akan pernah mempersekutukan-Nya.”

(QS. Al-An’am: 74-79)

(www.ebookanak.com)

Kontributor:

  • Penulis: Rani Yulianti
  • Penyunting: Nurul Ihsan
  • Ilustrator: Dini Tresnadewi dan Aep Saepudin
  • Desainer dan layouter: Jumari, Nurul Ihsan
  • Penerbit: Erlangga For Kids (Jakarta, Indonesia)

Jasa pracetak penerbitan buku dan media promosi

Social Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •  

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *