Kenapa Rasulullah Saw Mengagumi Orang yang Tangannya Kapalan?

Loading

baca buku online 52 kisah Terbaik Nabi Muhammad penuh hikmah teladan29 Kenapa Rasulullah Saw Mengagumi Orang yang Tangannya Kapalan
Download full ebook dengan donasi "52 Kisah Terbaik Nabi Muhammad Penuh Hikmah Teladan" karya Kak Nurul Ihsan (ebookanak.com).
Download full ebook “52 Kisah Terbaik Nabi Muhammad Penuh Hikmah Teladan” karya Kak Nurul Ihsan (ebookanak.com).

Download ebook Ensiklopedia Puasa Ramadhan dan Ensiklopedia Idul Fitri: 1001+ Pertanyaan dan Jawaban Lengkap Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis Sahih, Sunnah Nabi, dan Empat Mazhab.
Download ebook Ensiklopedia Puasa Ramadhan dan Ensiklopedia Idul Fitri: 1001+ Pertanyaan dan Jawaban Lengkap Berdasarkan Al-Qur’an, Hadis Sahih, Sunnah Nabi, dan Empat Mazhab.

Tiada makanan yang baik bagi Anak Adam kecuali yang ia dapat dari tangannya sendiri.

Seperti Nabi Daud as. makan dari hasil tangannya sendiri.

Suatu ketika Rasulullah Saw. melihat seorang pekerja yang tangannya kapalan.

Beliau mengangkat tangan pekerja itu seraya berkata, “Api neraka tidak akan membakar tangan ini. Inilah tangan yang disukai Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hidup dari jerih payahnya sendiri, niscaya Allah melihatnya dengan pandangan rahmat (kasih sayang).”

Rasulullah mengajarkan agar manusia bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun ketika menjadi kaya, maka dia harus mengasihi yang miskin dengan cara menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka.

(Tamat)

KEUTAMAAN BEKERJA

  • Termasuk sifat mulia yang dimiliki oleh para nabi dan rasul serta orang-orang soleh.
  • Mereka mencari nafkah yang halal dengan usaha mereka sendiri, tapi tanpa melalaikan mereka dari amal shaleh lainnya, seperti berdakwah di jalan Allah Swt. dan menuntut ilmu agama.

Download Ebook dengan Donasi Infak

Pesan Ebook: 0815 6148 165

baca buku online 52 kisah Terbaik Nabi Muhammad penuh hikmah teladan

Tangan yang Dicium Rasulullah: Kisah Pekerja Keras dan Tangan Kasar

Assalamu’alaikum, adik-adik yang shalih dan shalihah!

Apakah tangan kalian pernah menjadi kasar atau melepuh? Mungkin setelah membantu orang tua berkebun, memegang tali ayunan terlalu lama, atau bahkan saat latihan menulis. Biasanya, tangan yang kasar kita jaga agar kembali halus, ya? Tapi tahukah kalian, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mencium tangan seseorang yang justru sangat kasar, kapalan, dan melepuh?

Baca juga:  Apa Pesan Terakhir yang Disampaikan Rasulullah Saw Sebelum Wafat?

Kisah ini sungguh nyata, dan mengajarkan kita pelajaran yang sangat berharga tentang kemuliaan sebuah usaha.

Pertemuan di Bawah Terik Matahari

Suatu hari, sepulang dari perjalanan, Rasulullah ﷺ bertemu dengan seorang sahabatnya di sudut kota Madinah. Sahabat itu bernama Sa’ad bin Mu’adz atau Sa’id al-Khudri (terdapat riwayat yang menyebutkan dua nama sahabat dengan kisah serupa).

Saat itu, sang sahabat sedang bekerja keras. Dia adalah seorang tukang pemecah batu. Pekerjaannya sangat berat: mengangkat palu besar dan memukulkannya ke batu-batu keras di bawah sengatan matahari yang terik. Sudah bertahun-tahun dia melakukan pekerjaan ini.

Tubuhnya penuh debu dan keringat. Tapi, yang paling mencolok adalah tangannya. Tangannya hitam, kasar, penuh kapalan, dan ada bagian yang melepuh karena terus-menerus menggenggam alat kerja yang keras.

Salam Penuh Kehormatan dan Pertanyaan Nabi

Ketika Rasulullah ﷺ hendak bersalaman, sahabat itu pun merasa malu. Dia menarik tangannya perlahan. “Wahai Rasulullah, tanganku melepuh dan kotor karena pekerjaanku ini,” katanya.

Dengan penuh kasih, Rasulullah ﷺ justru menggenggam tangan sahabatnya itu. Beliau bertanya, “Apakah yang menyebabkan tanganmu menjadi seperti ini?”

Dengan suara rendah, sahabat itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku bekerja dengan tali dan penyodok tanah (alat-alat berat) untuk menafkahi keluargaku.” Artinya, semua kerja keras dan kekasaran tangan itu adalah bukti usahanya mencari nafkah yang halal untuk istri dan anak-anaknya.

Baca juga:  Bagaimana Sikap Rasulullah Saw Ketika Sujud Diduduki Cucunya?

Kecupan Mulia yang Menggetarkan Hati

Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ tidak berkata panjang. Beliau langsung membawa tangan yang kasar dan kapalan itu ke mulutnya, lalu menciumnya dengan penuh penghormatan!

Subhanallah! Bayangkan betapa terharunya sahabat itu. Tangan yang ia malu-malukan, justru dicium oleh manusia teragung, kekasih Allah. Beliau pun kemudian bersabda:

“Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.”

Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda:

“Tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya.”

Apa Makna Kisah Ini untuk Kita?

Kisah ini bukan sekadar kisah haru. Ada banyak sekali pelajaran berharga di dalamnya:

  1. Kerja Keras adalah Ibadah yang Mulia
    Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa bekerja keras untuk mencari nafkah yang halal adalah perbuatan yang sangat dicintai Allah. Bahkan, beliau menyebut orang yang bekerja untuk menghidupi anak-anaknya atau orang tuanya yang sudah tua, sama seperti orang yang sedang “jihad di jalan Allah”. Jadi, ayah yang pergi pagi pulang petang untuk bekerja, atau ibu yang mengurus rumah dengan telaten, itu semua adalah pejuang-pejuang hebat!
  2. Kejujuran dan Kemandirian Lebih Berharga
    Kekasaran tangan itu adalah tanda kejujuran. Itu adalah bukti bahwa orang itu tidak mau meminta-minta atau mengemis. Nabi ﷺ sangat menyukai orang yang mandiri. Beliau bersabda, seseorang yang mengambil tali, pergi mencari kayu bakar, lalu menjualnya untuk membeli makanan, itu jauh lebih baik daripada meminta-minta.
  3. Allah dan Rasul-Nya Mencintai Pekerja
    Lihatlah, Rasulullah ﷺ tidak mencium tangan seorang raja, saudagar kaya, atau pemimpin suku saat itu. Beliau justru memberi penghormatan tertinggi kepada seorang pekerja kasar. Ini menunjukkan bahwa di mata Allah, kemuliaan seseorang bukan pada pangkat atau kekayaannya, tetapi pada ketakwaan, kejujuran, dan kerja kerasnya.
Baca juga:  Mengenal Ciptaan Allah

Teladan Para Nabi dan Sahabat

Ternyata, bekerja keras adalah kebiasaan orang-orang hebat sejak dulu!

  • Rasulullah ﷺ sendiri di masa muda pernah menggembala kambing dan berdagang.
  • Nabi Daud ‘alaihissalam adalah seorang nabi dan raja, namun beliau makan dari hasil jerih payahnya sendiri, yaitu membuat baju besi.
  • Nabi Zakariya ‘alaihissalam adalah seorang tukang kayu.
  • Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah, tangannya juga kasar karena rajin menggiling gandum untuk keluarganya.

Aktivitas Seru: “Karyaku yang Membanggakan”

  1. Diskusi Keluarga: Tanyakan kepada ayah dan ibu, “Apa pekerjaan Ayah/Ibu? Ceritakan bagaimana rasanya bekerja?” Dengarkan dengan saksama dan berikan mereka senyuman serta pelukan sebagai tanda terima kasih.
  2. Praktek Kemandirian: Mulailah dengan pekerjaan kecil yang bisa kalian lakukan sendiri, seperti merapikan tempat tidur, menyiram tanaman, atau membereskan mainan. Itu semua adalah bentuk “kerja keras” kalian.
  3. Hafalkan Hadis: Hafalkanlah hadis singkat Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bekerja dengan terampil dan profesional.” (HR. Baihaqi)

Kesimpulan

Jadi, adik-adik, jangan pernah malu atau rendah diri dengan pekerjaan yang baik dan halal. Kekasaran tangan karena membantu orang tua, atau lelahnya badan setelah belajar dan berlatih, bisa jadi adalah tanda kemuliaan di mata Allah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah. Selama niat kita ikhlas untuk beribadah kepada Allah dan menolong keluarga, maka setiap tetes keringat kita akan dicatat sebagai amal shalih.

Semoga kita bisa menjadi anak-anak yang rajin, mandiri, dan dicintai Allah seperti para sahabat Nabi. Aamiin.


Sumber Kredibel: Kisah ini diriwayatkan dalam banyak kitab hadis, termasuk riwayat dari Anas bin Malik yang disebutkan dalam artikel dengan referensi yang jelas. Hikmah tentang kemuliaan bekerja juga didukung oleh banyak riwayat lain dari Nabi ﷺ dan kisah para Nabi terdahulu

Loading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

💳 Donasi via PayPal 🤲 Dukung via Kitabisa
?
Promo IKEA di Shopee
Furniture estetik harga hemat
Lihat
Spesial Belanja Pertama (1)
lynk.id nurulihsan baner