Inilah Alasan Kaum Tsamud Membenci Nabi Shaleh
- Updated: April 28, 2026
![]()
Satu hal yang membuat kaum Tsamud tidak suka padanya, sejak kecil Nabi Shaleh membenci berhala.
“Wahai kaum Tsamud mengapa kalian tidak menyembah Allah?” seru Nabi Shaleh kepada kaumnya.
Kaum Tsamud tidak menghiraukan dakwah Nabi Shaleh.
📖 Printable Islamic & Educational eBook for Kids
✔ Bisa di-download
✔ Bisa di-print sendiri di rumah
✔ Cocok untuk belajar & aktivitas anak
“Sesungguhnya aku utusan Allah, Tuhan yang kalian dustakan.”
Karena tidak didengarkan oleh kaumnya, Nabi Shaleh mendatangi patung berhala.
Ia berdakwah di depan penyembah berhala.
Namun mereka malah menantang Nabi Shaleh, “Buktikanlah kalau engkau seorang Nabi. Tunjukkah mukjizat Allah pada kami.”
Lalu Nabi Shaleh berdoa kepada Allah.

Mengapa Kaum Tsamud Membenci Nabi Shaleh?
50 Q&A Mengungkap Akar Kesombongan dan Kezaliman Mereka
Q1:
Apakah benar kaum Tsamud langsung membenci Nabi Shaleh sejak awal?
A1:
Tidak langsung seperti itu.
Awalnya, Nabi Shaleh adalah salah satu dari mereka.
Beliau dikenal jujur dan terpercaya.
Tapi ketika beliau mulai berdakwah,
mengajak menyembah Allah saja,
para pemuka kaum mulai berubah sikap.
Mereka tidak suka karena merasa “diganggu”
dengan cara hidup mereka yang sudah nyaman.
Hikmah:
Kebencian sering lahir bukan karena kesalahan orang lain,
tapi karena hati yang tidak mau menerima kebenaran.
Q2:
Apa alasan pertama yang membuat kaum Tsamud membenci Nabi Shaleh?
A2:
Alasan pertama adalah karena beliau hanya manusia biasa.
Mereka berkata dengan sombong:
“Apakah kita akan mengikuti seorang manusia biasa di antara kita?”
(QS Al-Qamar: 24)
Mereka menganggap kenabian harus datang dari malaikat,
bukan dari orang yang makan dan minum seperti mereka.
Mereka lupa bahwa semua nabi adalah manusia.
Hikmah:
Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran
hanya karena datang dari orang yang “sama” seperti dirinya.
Q3:
Mengapa mereka berkata bahwa Nabi Shaleh “terkena sihir”?
A3:
Itu adalah tuduhan klasik para pendusta nabi.
Ketika Nabi Shaleh menunjukkan mukjizat,
mereka tidak bisa membantah dengan akal.
Maka mereka berkata:
“Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir.”
(QS Asy-Syu’ara: 153)
Dengan tuduhan ini, mereka berusaha meyakinkan orang lain
bahwa Nabi Shaleh tidak layak diikuti.
Hikmah:
Ketika tidak bisa membantah kebenaran dengan ilmu,
orang zalim akan menyerang pribadi pembawa kebenaran.
Q4:
Siapa sebenarnya motor utama kebencian terhadap Nabi Shaleh?
A4:
Mereka adalah para pemuka dan penguasa kaya (Al-Mala’).
Allah menyebut mereka:
“Pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya
dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat
dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia.” (QS Al-Mukminun: 33)
Mereka adalah orang-orang kaya
yang hidup penuh kemewahan
dan takut kehilangan posisi mereka.
Hikmah:
Kekayaan tanpa syukur adalah sumber kebencian
terhadap siapa pun yang mengingatkan tentang akhirat.
Q5:
Mengapa para penguasa kaya Tsamud sangat membenci Nabi Shaleh?
A5:
Karena mereka takut kehilangan kekuasaan.
Nabi Shaleh mengajak semua orang menyembah Allah.
Itu berarti berhala-berhala tidak lagi disembah.
Para pemuka adalah “penjaga” berhala itu.
Mereka mendapat keuntungan dari sesembahan itu.
Jika rakyat meninggalkan berhala,
pengaruh dan kekayaan mereka akan hilang.
Maka mereka memusuhi Nabi Shaleh .
Hikmah:
Kepentingan ekonomi dan politik sering menjadi akar
kebencian terhadap agama dan kebenaran.
Q6:
Apakah iri hati (dengki) berperan dalam kebencian mereka?
A6:
Sangat besar perannya.
Mereka berkata dengan penuh iri:
“Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita?” (QS Al-Qamar: 25)
Mereka heran kenapa kenabian tidak diberikan
kepada salah satu dari mereka yang kaya dan berkuasa.
Mengapa harus kepada Nabi Shaleh yang “biasa”?
Iri hati inilah yang membakar api kebencian.
Hikmah:
Iri hati adalah api yang membakar akal sehat
dan menghalangi seseorang menerima kebenaran.
Q7:
Bagaimana para pemuka kaya ini mempengaruhi rakyat biasa?
A7:
Mereka menggunakan pengaruh dan kekayaan.
Orang biasa di Tsamud bergantung pada para penguasa
untuk pekerjaan, air, dan perlindungan.
Para pemuka berkata:
“Jangan kalian ikuti dia!
Dia hanya ingin merebut kekuasaan kita.”
Mereka menyebarkan fitnah bahwa Nabi Shaleh pembohong.
Rakyat yang awam pun ikut-ikutan membenci .
Hikmah:
Penguasa zalim selalu punya cara
untuk membuat rakyat membenci kebenaran.
Q8:
Apakah kaum Tsamud mengakui bahwa Nabi Shaleh orang jujur?
A8:
Ironisnya, mereka tahu beliau jujur.
Tapi mereka tetap menolak.
Seperti firman Allah dalam QS Hud: 62,
“Sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan
terhadap apa yang kamu serukan kepada kami.”
Mereka bimbang secara hati,
tapi karena takut kehilangan status,
mereka memilih tetap kafir.
Hikmah:
Keraguan yang tidak ditindaklanjuti dengan pencarian kebenaran
hanya akan berubah menjadi penolakan keras.
Q9:
Mengapa mereka meminta mukjizat unta jika akhirnya membencinya?
A9:
Itu adalah bentuk ujian dan keangkuhan.
Mereka pikir Nabi Shaleh tidak akan mampu.
Mereka tantang: “Keluarkan unta dari batu itu!”
Ketika mukjizat benar-benar terjadi,
mereka tidak punya alasan untuk menolak.
Tapi karena hati mereka sudah keras,
mereka berkata: “Itu sihir!”
Mereka lebih memilih membenci daripada mengaku kalah .
Hikmah:
Orang yang sudah berniat membenci
akan tetap membenci meskipun bukti kebenaran ada di depan mata.
Q10:
Apa reaksi mereka saat unta mukjizat benar-benar keluar dari batu?
A10:
Mereka terkejut dan ketakutan.
Sebagian kecil dari mereka beriman.
Tapi para pemuka justru semakin marah.
Mereka merasa “dipermalukan”
karena tantangan mereka ternyata bisa dijawab.
Mereka tidak mau mengakui kebenaran di depan rakyat.
Maka mereka menyebarkan isu
bahwa itu semua hanya trik sulap belaka .
Hikmah:
Kekuasaan sering membuat seseorang
lebih memilih kebohongan daripada mengakui kesalahan.
Q11:
Mengapa mereka sangat tidak suka aturan berbagi air dengan unta?
A11:
Karena aturan itu merendahkan harga diri mereka.
Bayangkan, unta itu harus minum satu hari penuh.
Mereka hanya boleh minum di hari berikutnya.
Mereka yang biasa berkuasa atas segalanya
kini harus berbagi dengan seekor hewan.
Mereka merasa terhina.
Padahal, itu adalah ujian dari Allah .
Hikmah:
Keengganan berbagi adalah tanda hati yang sakit
dan sombong terhadap aturan Allah.
Q12:
Siapa nama tokoh paling benci di balik pembunuhan unta?
A12:
Namanya Qidar bin Salif.
Dia adalah orang yang paling jahat di antara mereka.
Dia dipanggil oleh para pembenci lainnya
untuk mengeksekusi unta tersebut.
Allah menyebutnya “ orang yang paling celaka” (QS Al-Lail: 12) .
Dengan tangannya sendiri, dia memanah dan membunuh unta itu.
Hikmah:
Satu orang jahat bisa membawa seluruh kaum ke dalam kehancuran.
Q13:
Apakah ada wanita yang ikut menghasut kebencian?
A13:
Ya, ada riwayat yang menyebutkan.
Seorang wanita kaya dan berpengaruh
berniat jahat terhadap unta tersebut.
Namanya Ummu Ghannan (menurut beberapa sumber).
Dia menghasut para pemuda untuk membunuh unta.
Dia bahkan menjanjikan hadiah dan seorang wanita cantik
kepada siapa pun yang berani melakukannya.
Inilah bukti betapa besar peran hasutan.
Hikmah:
Harta dan hawa nafsu sering menjadi alat
untuk membakar api kebencian terhadap kebenaran.
Q14:
Mengapa mereka tega membunuh unta yang menjadi sumber air dan susu?
A14:
Karena kebencian mereka buta.
Unta itu memberi mereka susu yang melimpah.
Air mereka terjamin berkat aturan berbagi.
Tapi mereka lebih memilih mati
daripada hidup dalam aturan yang “merendahkan” mereka.
Mereka berkata: “Kami tidak sudi berbagi dengan binatang!”
Mereka bunuh untu itu sebagai bentuk protes .
Hikmah:
Kebencian yang tidak terkendali
membuat seseorang merusak nikmatnya sendiri.
Q15:
Berapa jumlah konspirator utama pembunuhan unta?
A15:
Ada sembilan orang tokoh utama.
Mereka adalah para pemuka yang paling keras membenci.
Allah berfirman:
“Dan ada sembilan orang di kota itu
yang berbuat kerusakan di muka bumi,
dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS An-Naml: 48)
Mereka bersumpah atas nama Allah
untuk membunuh Nabi Shaleh dan keluarganya di malam hari .
Hikmah:
Kebencian berkelompok lebih berbahaya
daripada kebencian individu.
Q16:
Apakah mereka hanya membenci atau juga berencana membunuh Nabi Shaleh?
A16:
Mereka berencana membunuh.
Setelah membunuh unta,
mereka berkumpul dan merencanakan pembunuhan.
Mereka berkata:
“Mari kita bunuh Shaleh dan keluarganya di malam hari.
Lalu kita katakan kepada keluarganya:
Kami tidak tahu siapa pembunuhnya.
Kami orang-orang yang jujur.” (QS An-Naml: 49)
Tapi Allah menggagalkan rencana itu .
Hikmah:
Rencana jahat orang kafir
tidak akan pernah bisa mengalahkan perlindungan Allah.
Q17:
Mengapa mereka memilih membunuh di malam hari?
A17:
Karena mereka pengecut.
Mereka tidak berani melawan di siang hari.
Mereka takut jika ketahuan.
Mereka ingin membunuh secara sembunyi-sembunyi.
Ini menunjukkan bahwa kebencian mereka
tidak disertai keberanian.
Hanya ada kedengkian yang tersembunyi .
Hikmah:
Kebencian orang zalim selalu berlapis kepengecutan.
Q18:
Apakah Allah membalas rencana jahat mereka?
A18:
Allah membalas dengan sempurna.
Ketika mereka hendak membunuh Nabi Shaleh di malam hari,
Allah menimpakan azab kepada mereka.
Mereka justru binasa di waktu pagi.
Allah berfirman:
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi.”
(QS Al-Hijr: 83)
Balasan yang setimpal.
Hikmah:
Orang yang merencanakan kejahatan di malam gelap
tidak akan selamat dari terangnya azab Allah.
Q19:
Apakah kebencian mereka juga karena faktor “takut mati muda”?
A19:
Bukan takut mati muda,
tapi mereka takut kehilangan kenikmatan dunia.
Mereka sangat mencintai hidup mewah.
Allah berfirman bahwa mereka “ di-mewah-kan” (atrafna).
Mereka takut jika mengikuti Nabi Shaleh,
mereka harus hidup sederhana.
Bagi mereka, surga terlalu abstrak,
sementara istana batu sangat nyata .
Hikmah:
Cinta dunia adalah pangkal kebencian terhadap akhirat
dan rasul yang mengingatkannya.
Q20:
Apa yang membuat hati mereka tertutup total?
A20:
Kesombongan atas kemampuan memahat gunung.
Mereka berkata dalam hati:
“Kami yang membuat rumah-rumah megah ini.
Kami yang mengatur air ini.
Kami tidak butuh Tuhan.”
Allah berfirman:
“Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan mereka.” (QS Al-Fushilat: 15)
Keangkuhan inilah yang mengunci hati mereka .
Hikmah:
Keterampilan dan kecerdasan tanpa iman
hanya akan menjadi alat kesombongan menuju neraka.
Q21:
Apakah Nabi Shaleh pernah membalas kebencian mereka dengan kebencian?
A21:
Tidak sama sekali.
Nabi Shaleh tetap lembut dan sabar.
Beliau berkata:
“Hai kaumku, mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum kebaikan?
Mengapa kamu tidak meminta ampun kepada Allah,
agar kamu diberi rahmat?” (QS An-Naml: 46)
Beliau tidak marah, tapi justru kasihan.
Hikmah:
Orang mulia membalas kebencian dengan kebaikan
dan doa keselamatan.
Q22:
Mengapa mereka meminta azab disegerakan?
A22:
Karena mereka sangat sombong dan meremehkan.
Mereka berkata dengan nada menantang:
“Hai Shaleh, datangkanlah azab itu
jika benar engkau seorang rasul.” (QS Al-A’raf: 77)
Mereka pikir ancaman azab hanya omong kosong.
Mereka tidak menyangka bahwa Allah sangat serius.
Mereka justru mempercepat kehancuran mereka sendiri.
Hikmah:
Jangan pernah menantang Allah.
Setiap ancaman-Nya adalah keniscayaan.
Q23:
Apa perbedaan sikap orang beriman dan kafir di Tsamud?
A23:
Orang beriman (pengikut Nabi Shaleh) rendah hati.
Mereka mau berbagi air dengan unta.
Mereka tidak iri dengan kenabian Nabi Shaleh.
Orang kafir (pemuka) sombong, kikir, dan iri.
Allah membagi mereka menjadi “dua golongan yang bertengkar” (QS An-Naml: 45) .
Satu golongan benar, satu golongan salah.
Hikmah:
Kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikut,
tapi dari ketundukan pada Allah.
Q24:
Apakah faktor “tradisi nenek moyang” membuat mereka membenci?
A24:
Mereka berkata:
“Kami mendapati nenek moyang kami menyembah berhala ini.”
Mereka tidak mau perubahan.
Mereka bangga dengan tradisi warisan, meskipun salah.
Nabi Shaleh mengajak mereka berpikir.
Tapi mereka malah membenci karena dianggap “merusak tradisi”.
Inilah penyakit umat sepanjang zaman .
Hikmah:
Tradisi bukanlah alasan untuk menolak kebenaran,
jika kebenaran itu datang dari Allah.
Q25:
Mengapa mereka menyebut Nabi Shaleh sebagai “pendusta sombong”?
A25:
Itu adalah proyeksi psikologis.
Mereka sendiri adalah pendusta dan sombong.
Mereka menuduh Nabi Shaleh dengan sifat buruk mereka.
Allah berfirman mereka berkata:
“Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.”
(QS Al-Qamar: 25)
Ini adalah tuduhan tanpa bukti,
hanya untuk membenarkan kebencian mereka.
Hikmah:
Orang zalim sering menuduhkan kesalahannya sendiri
kepada orang yang benar.
Q26:
Apakah para pengikut Nabi Shaleh juga dibenci oleh kaum kafir?
A26:
Mereka dihina dan dilecehkan.
Para pengikut Nabi Shaleh kebanyakan adalah orang lemah.
Mereka tidak punya kekuasaan dan harta.
Para pemuka kaya memandang rendah mereka.
Mereka berkata:
“Masa kita yang kaya dan terpandang
harus ikut orang-orang miskin ini?”
Kebencian kelas sosial ini sangat terasa.
Hikmah:
Kekayaan sering membuat seseorang lupa
bahwa kemuliaan di sisi Allah adalah takwa, bukan harta.
Q27:
Mengapa mereka tidak takut dengan azab yang dijanjikan?
A27:
Karena mereka sudah sangat jauh dari Allah.
Mereka pikir hidup hanya di dunia ini.
Mereka mendustakan hari akhirat.
Allah berfirman mereka adalah orang-orang yang “mendustakan akan menemui hari akhirat” (QS Al-Mukminun: 33) .
Jika tidak percaya akhirat,
mereka tidak takut siksaan.
Mereka anggap ancaman itu hanya cerita.
Hikmah:
Orang yang tidak percaya akhirat
akan berani berbuat jahat tanpa rasa takut.
Q28:
Apa yang membuat hati mereka semakin keras setiap hari?
A28:
Semakin lama melihat mukjizat,
semakin keras mereka.
Setiap hari unta itu berjalan di depan mereka.
Setiap hari mereka ingat itu adalah bukti kebenaran.
Tapi mereka tetap membenci.
Allah berfirman:
“Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat)
yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta itu.”
(QS Al-Isra: 59)
Mereka menganiaya dengan kebencian.
Hikmah:
Melihat kebenaran terus-menerus tanpa menerimanya
hanya akan menambah kekerasan hati.
Q29:
Apakah faktor “gengsi” berperan dalam kebencian mereka?
A29:
Gengsi adalah faktor nomor wahid.
Mereka tidak mau mengaku salah di depan umum.
Mereka sudah terlanjur menuduh Nabi Shaleh sebagai pembohong.
Jika mereka beriman di tengah jalan,
mereka akan kehilangan muka.
Mereka lebih memilih binasa
daripada mengakui bahwa selama ini mereka salah.
Inilah kebodohan gengsi .
Hikmah:
Gengsi adalah jebakan setan
yang membawa seseorang ke neraka.
Q30:
Bagaimana Nabi Shaleh menghadapi kebencian mereka setiap hari?
A30:
Dengan kesabaran luar biasa.
Beliau terus menasihati dengan lembut.
Beliau mengingatkan mereka tentang nikmat Allah:
kebun, mata air, pohon kurma, dan gunung.
(QS Asy-Syu’ara: 146-149)
Beliau tidak pernah lelah,
meskipun hatinya sakit melihat kebencian itu.
Hikmah:
Orang yang benar tidak akan berhenti mengajak kebenaran,
meskipun dibenci dan dicaci.
Q31:
Apakah ada momen ketika mereka hampir beriman?
A31:
Tidak banyak yang tercatat.
Hanya segelintir orang yang beriman di awal.
Kebanyakan mereka justru semakin keras.
Dalam QS Hud: 62, mereka berkata:
“Sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan.”
Itu adalah momen kritis.
Tapi mereka memilih untuk tetap dalam keraguan
daripada mencari kepastian kebenaran.
Hikmah:
Keraguan adalah jalan menuju hidayah.
Tapi jika dibiarkan, menjadi kebinasaan.
Q32:
Apa bentuk kebencian paling keji yang mereka lakukan?
A32:
Membunuh unta mukjizat di depan mata Nabi Shaleh.
Mereka tidak cukup membencinya di dalam hati.
Mereka tunjukkan dengan aksi nyata.
Mereka panggil Qidar bin Salif,
lalu dia memanah kaki unta itu hingga roboh.
Mereka menyembelihnya dengan bangga.
Mereka bagi-bagi dagingnya sebagai bentuk pesta kemenangan.
(QS Asy-Syu’ara: 157)
Hikmah:
Kebencian yang diekspresikan dalam tindakan merusak
adalah puncak kesesatan.
Q33:
Apakah mereka menyadari konsekuensi membunuh unta itu?
A33:
Mereka tahu, tapi tidak peduli.
Nabi Shaleh sudah memperingatkan:
“Jangan kamu ganggu unta itu dengan gangguan apa pun
yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.”
(QS Hud: 64)
Mereka dengar peringatan itu.
Tapi kebencian mereka lebih kuat dari rasa takut.
Mereka pikir azab itu tidak akan terjadi.
Hikmah:
Peringatan Allah bukanlah mainan.
Mendengar tapi tidak mengindahkan
adalah bentuk kebodohan tertinggi.
Q34:
Mengapa mereka berani membunuh unta setelah peringatan tegas?
A34:
Karena mereka sudah kehilangan akal sehat.
Mereka terhasut oleh setan dan gengsi.
Salah satu dari sembilan konspirator itu berkata:
“Bunuh saja! Biar kita lihat apakah azab itu benar-benar datang!”
Mereka membunuh unta itu sebagai bentuk “tantangan terbuka”
kepada Allah dan Nabi Shaleh.
Ini adalah puncak kesombongan .
Hikmah:
Setan bisa membuat seseorang
begitu bodoh hingga menantang Tuhannya sendiri.
Q35:
Apakah mereka menyesal setelah membunuh unta itu?
A35:
Tidak ada penyesalan.
Yang ada justru perasaan lega karena “beban berbagi air” hilang.
Tapi di hari kedua, ketika muka mereka mulai kuning,
mereka mulai gemetar ketakutan.
Penyesalan datang terlambat,
ketika azab sudah di depan mata .
Hikmah:
Penyesalan setelah azab datang
tidak akan pernah diterima Allah.
Q36:
Mengapa Allah memberi tenggang waktu 3 hari sebelum azab?
A36:
Itu adalah rahmat dan kesempatan terakhir untuk bertobat.
Tiga hari itu adalah masa bagi mereka merenung.
Wajah mereka berubah warna:
hari pertama kuning, hari kedua merah, hari ketiga hitam.
Itu adalah tanda peringatan visual.
Tapi mereka tetap tidak mau bertobat .
Allah memberi waktu, tapi mereka menyia-nyiakannya.
Hikmah:
Setiap musibah yang tertunda adalah kesempatan bertaubat.
Jangan sia-siakan.
Q37:
Apa yang dilakukan Nabi Shaleh di tiga hari tenggang itu?
A37:
Nabi Shaleh bersama pengikutnya meninggalkan kota.
Beliau pergi ke daerah lain (Syam) sambil menangis.
Beliau sudah menyampaikan.
Beliau sudah memperingatkan.
Sekarang tinggal menunggu keputusan Allah.
Beliau tidak tinggal untuk melihat azab,
karena beliau sangat sedih dengan nasib kaumnya .
Hikmah:
Terkadang, meninggalkan orang yang menolak kebenaran
adalah bentuk kasih sayang kepada diri sendiri.
Q38:
Apakah mereka sempat meminta ampun di hari-hari terakhir?
A38:
Tidak ada yang bertobat.
Mereka justru semakin ketakutan.
Mereka mengurung diri di rumah masing-masing.
Mereka tidak berdoa kepada Allah.
Mereka hanya menunggu kematian dengan kepanikan.
Hati mereka sudah keras.
Lidah mereka tidak bisa lagi mengucap istighfar .
Hikmah:
Hati yang keras tidak akan bisa beristighfar
meskipun maut sudah di depan mata.
Q39:
Apa azab yang menimpa mereka sebagai balasan kebencian?
A39:
Allah menimpakan suara keras yang mengguntur (ash-shaihah).
Disertai gempa dahsyat (ar-rajfah).
Dan sambaran petir (ash-sha’iqah).
Mereka mati bergelimpangan di rumah mereka.
Tidak ada satu pun yang selamat,
kecuali Nabi Shaleh dan pengikutnya yang beriman.
(QS Al-A’raf: 78, QS Hud: 67, QS Al-Fushilat: 17)
Hikmah:
Kebencian terhadap rasul berakhir dengan kebinasaan di dunia
dan neraka di akhirat.
Q40:
Mengapa azab mereka begitu dahsyat?
A40:
Karena kebencian mereka sangat besar
dan mukjizat yang mereka lihat sangat jelas.
Allah tidak mengazab kecuali setelah memberi peringatan.
Semakin besar bukti yang ditolak,
semakin dahsyat azab yang ditimpakan.
Mereka melihat unta keluar dari batu,
tapi tetap membenci.
Maka azab setimpal .
Hikmah:
Semakin dekat seseorang dengan bukti kebenaran,
semakin besar dosanya jika menolak.
Q41:
Apakah anak-anak mereka juga ikut binasa?
A41:
Mereka yang dewasa dan ikut membenci ikut binasa.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa
azab menimpa semua yang telah baligh dan kafir.
Mereka yang masih kecil dan belum mengerti
tidak terkena azab karena belum berdosa.
Tapi karena tidak ada yang selamat,
semua yang tinggal di kota itu mati .
Hikmah:
Dosa orang tua bisa menimpa anak-anak yang ikut
dalam lingkungan kemaksiatan.
Q42:
Apakah Nabi Muhammad SAW juga membenci mereka?
A42:
Nabi Muhammad tidak membenci sebagai pribadi.
Tapi beliau sangat mewaspadai tempat mereka.
Ketika lewat Madain Saleh, beliau berkata:
“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang zalim,
kecuali sambil menangis.
Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Bukhari)
Beliau tidak benci, tapi mengambil pelajaran.
Hikmah:
Kita tidak boleh membenci orang yang sudah mati,
tapi kita harus waspada agar tidak seperti mereka.
Q43:
Apa pelajaran terbesar dari kebencian kaum Tsamud?
A43:
Bahwa kekayaan dan kekuasaan adalah sumber kebencian terbesar.
Mereka membenci karena takut kehilangan posisi.
Mereka membenci karena iri.
Mereka membenci karena gengsi.
Semua itu berakar pada cinta dunia.
Jika cinta dunia sudah bersarang di hati,
kebencian terhadap kebenaran akan menyusul .
Hikmah:
Cinta dunia adalah akar segala kebencian
terhadap agama dan rasul.
Q44:
Apakah ada kaum Tsamud yang selamat dari kebencian?
A44:
Ada beberapa orang yang beriman.
Mereka tidak ikut membenci.
Mereka mengikuti ajaran Nabi Shaleh.
Mereka selamat bersama Nabi Shaleh
karena Allah menyelamatkan mereka.
Ini membuktikan bahwa tidak semua Tsamud itu jahat.
Ada yang beriman di tengah kebencian massal .
Hikmah:
Jangan ikut arus kebencian mayoritas
jika kebenaran bersama minoritas.
Q45:
Bagaimana dengan keturunan mereka hari ini?
A45:
Tidak ada keturunan langsung yang tersisa.
Mereka punah total sebagai suatu bangsa.
Yang tersisa hanya reruntuhan batu.
Tempat itu sekarang disebut Mada’in Shaleh
dan menjadi situs UNESCO.
Setiap orang yang lewat bisa melihat bekas kebencian mereka .
Hikmah:
Kebencian meninggalkan bekas lebih lama dari cinta.
Jadilah orang yang meninggalkan bekas kebaikan.
Q46:
Apa bedanya kebencian Tsamud dengan kebencian kaum kafir sekarang?
A46:
Bentuknya berbeda, tapi akarnya sama.
Dulu mereka membenci karena unta dan air.
Sekarang orang membenci karena media sosial dan politik.
Dulu mereka berkata: “Dia manusia biasa seperti kita.”
Sekarang orang berkata: “Kenapa dia yang dapat wahyu?”
Iri hati dan cinta dunia tetap sama .
Hikmah:
Setiap zaman punya versi kebencian sendiri,
tapi obatnya tetap satu: iman dan tawadhu.
Q47:
Apakah kita bisa tertular “virus kebencian” seperti Tsamud?
A47:
Bisa, jika kita tidak waspada.
Ketika kita membenci orang karena dakwahnya,
itu awal dari virus Tsamud.
Ketika kita sombong dengan harta dan jabatan,
kita sedang meniru mereka.
Ketika kita iri pada kesuksesan orang lain di bidang agama,
kita sedang sekarat dengan penyakit Tsamud .
Hikmah:
Periksa hatimu.
Jika ada benih kebencian pada orang shaleh,
segera cabut sebelum menjadi wabah Tsamud.
Q48:
Apa yang harus dilakukan jika melihat kebencian terhadap ulama?
A48:
Jangan ikut-ikutan membenci.
Belajar dari kisah Tsamud.
Mereka membenci nabi mereka sendiri.
Akibatnya, mereka binasa.
Kita harus membela kebenaran,
bukan membenci pembawa kebenaran.
Jika ada yang salah dari seorang dai,
koreksi dengan baik, bukan dengan kebencian .
Hikmah:
Membenci karena Allah itu terpuji,
tapi membenci karena ego dan dunia adalah kebinasaan.
Q49:
Bagaimana cara membersihkan hati dari kebencian seperti Tsamud?
A49:
Pertama, sadari bahwa kebencian itu berbahaya.
Kedua, perbanyak istighfar.
Ketiga, ingat mati dan akhirat.
Keempat, bergaul dengan orang-orang shaleh.
Kelima, jadikan Nabi Shaleh sebagai teladan kesabaran.
Beliau dibenci tapi tetap menyayangi.
Itulah akhlak mulia .
Hikmah:
Cara melawan kebencian adalah dengan cinta dan kesabaran,
bukan dengan kebencian balasan.
Q50:
Kesimpulan akhir: Mengapa kaum Tsamud membenci Nabi Shaleh?
A50:
Mereka membenci karena cinta dunia.
Mereka membenci karena takut kehilangan kekuasaan.
Mereka membenci karena iri dengan wahyu.
Mereka membenci karena gengsi mengaku salah.
Mereka membenci karena tradisi sesat nenek moyang.
Mereka membenci karena setan membisiki.
Tapi yang paling utama:
Mereka membenci karena hati mereka sudah terkunci.
Allah berfirman:
“Dan Kami balikkan hati dan penglihatan mereka,
sebagaimana mereka tidak beriman padanya pada kali pertama.”
(QS Al-An’am: 110)
Mereka tidak mau beriman,
maka Allah mengunci hati mereka.
Kebencian adalah pintu masuk menuju kekuncian hati.
Hikmah:
Jangan biarkan kebencian terhadap siapa pun mengakar di hati.
Karena kebencian adalah awal dari kekuncian hati
dan akhir dari keselamatan.
5 Fakta Menarik tentang Mengapa Kaum Tsamud Membenci Nabi Shaleh
1. Rencana Pembunuhan di GUA Rahasia
Sembilan konspirator utama berkumpul di sebuah gua rahasia.
Mereka bersumpah atas nama berhala mereka
untuk membunuh Nabi Shaleh di tengah malam.
Tapi Allah menghancurkan gua itu menimpa mereka .
2. Perubahan Warna Wajah Selama 3 Hari
Ini adalah peringatan unik dalam sejarah.
Wajah mereka berubah warna selama tiga hari berturut-turut:
kuning seperti kunyit,
merah seperti darah,
hitam seperti arang.
Tapi mereka tetap tidak bertobat !
3. Seorang Perempuan Kaya Menjadi Dalang
Seorang wanita bernama Ummu Ghannan (dalam riwayat)
menawarkan putrinya yang cantik
dan harta melimpah
kepada siapa pun yang berani membunuh unta tersebut.
Inilah bukti bahwa wanita pun bisa menjadi motor kebencian.
4. Rintihan Anak Unta Selama 3 Hari
Setelah induk unta dibunuh,
anak unta yang masih dalam kandungan (atau sudah lahir)
merintih mencari induknya selama tiga hari tiga malam.
Rintihan itu terdengar oleh seluruh kota.
Tapi hati mereka tetap membatu .
5. Nabi Muhammad SAW Melewatkan Tempat Ini dengan Menangis
Rasulullah melewati lembah Tsamud saat Perang Tabuk.
Beliau menutup kepala dengan kain
dan mempercepat langkah.
Beliau bersabda:
“Jangan minum air mereka.
Jangan makan roti dari adonan air mereka.
Masukilah sambil menangis.”
Ini adalah bentuk kehati-hatian tertinggi .
Pesan Moral Utama
“Kebencian terhadap kebenaran tidak pernah lahir dari hati yang bersih. Ia lahir dari cinta dunia, iri hati, gengsi, dan takut kehilangan kekuasaan. Jangan biarkan virus Tsamud menginfeksi hatimu. Jadilah seperti pengikut Nabi Shaleh yang rendah hati dan rela berbagi, meskipun hanya sedikit.”
Cara Download File PDF Buku Anak Digital (Ebook Anak)
- Semua buku anak digital (ebook anak) GRATIS DIBACA ONLINE?(free online)?di?katabaca.com?dan?ebookanak.com?.
- Untuk mendapatkan semua file PDF?(Portable Document Format) buku anak digital tersebut, bisa mengikuti program Donasi Infaq Download Buku Anak Digital (ebook anak).
- File PDF buku anak digital (ebook anak) dikirim dari redaksi?ebookanak.com?dan?katabaca.com?ke alamat email donatur untuk didownload.
- Setiap judul buku anak digital (ebook anak) dibuat dalam versi lengkap: full ebook, cover buku, seluruh halaman isi, dari halaman awal sampai halaman akhir.
- File PDF buku anak digital (ebook anak) bisa dibaca secara?off line?di komputer/desktop, smartphone, tablet, atau laptop dan filenya bisa diprint dalam bentuk?hardcopy.
- Nominal donasi infaq download buku anak digital (ebook anak):
- Download Paket 300 judul buku anak digital dengan donasi infaq Rp 500.000.
- Download Paket 175 judul buku anak digital donasi infaq Rp 400.000
- Download Paket 125 judul buku anak digital donasi infaq Rp 300.000
- Download Paket 75 judul buku anak digital donasi infaq Rp 200.000
- Dowload Paket 25 judul buku anak digital donasi infaq Rp 100.000
- Download Paket 10 judul buku anak digital donasi infaq Rp 50.000
- Download 1 judul buku anak digital donasi infaq Rp 10.000
- Dana donasi infak disumbangkan seluruhnya untuk mendukung?Gerakan Indonesia Berbagi 1 juta Buku Anak Digital Read Online Free?di?www.katabaca.com?dan?www.ebookanak.com.
- Daftar judul buku digital anak (ebook) dapat dilihat di:
- Kirim pemesanan buku anak digital (ebook), alamat email donatur, dan konfirmasi bukti transfer donasi infaq ke: WA 0815 6148 165 atau email: cbmagency25@gmail.com
- File PDF buku anak digital (ebook anak) dikirim 1 x 24 jam, terhitung sejak konfirmasi bukti transfer donasi infaq diterima redaksi.
- Donasi infaq ditransfer ke salah satu nomor rekening milik Yayasan Sebaca Indonesia (Sebaca Indonesia Foundation) sebagai berikut:
- Bank Mandiri, KCP Bandung Jamsostek 13112, atas nama Yayasan Sebaca Indonesia, nomor rekening: 131-00-1542858-6
- Bank Syariah Mandiri (BSM), Cabang Dago Bandung, atas nama Yayasan Sebaca Indonesia, nomor rekening: 7113717337
- Bank Central Asia (BCA), Cabang Dago Bandung, atas nama Rahayu Ummi Farida, nomor rekening: 7770520708
- Bank BRI, Unit Suci AH. Nasution Bandung, atas nama Rahayu Ummi Farida, nomor rekening: 0746-01-020040-533
- Semua konten yang ada di dalam ebook ini, dilarang keras untuk diperjualbelikan atau dikomersialkan kepada pihak lain, baik secara online atau offline maupun dalam bentuk file soft copy atau hard copy.
- Hampir semua konten yang ada di?ebookanak.com?dan?katabaca.com?adalah portofolio karya asli/orisinil Nurul Ihsan bersama tim di Studio Jasa Penerbitan Buku?cbmagency.com, yang kami sumbangkan untuk kepentingan sosial, sehingga legal secara hukum, tidak ada pelanggaran hak cipta milik orang/penerbit/institusi lain.





















































