Sebaiknya Mengantarkan Tamu Sampai ke Pintu Pagar Rumah
- Updated: Februari 16, 2026
![]()
Keluarga Plester bertamu ke rumah keluarga si kembar, Peci dan Kerudung.
Ketika keluarga Plester pulang, keluarga Peci dan Kerudung tak lupa mengantarkan keluarga Plester ke depan pintu.
“Terimakasih sudah berkunjung ke rumah kami,” kata Abi.
“InsyaAllah, minggu depan giliran kami yang bersilaturahmi ke rumah keluarga Plester!” tambah Ummi.
Hadits Rasulullah SAW:
“Rasulullah SAW bersabda, ‘sungguh termasuk sunah yaitu seseorang keluar mengantarkan tamunya hingga sampai pintu (pagar) rumahnya.”
(HR Ibnu Majah)
[CALISTA] TOPLES AESTHETIC CALISTA LILY SET 6PCS TOPLES KUE KERING LEBARAN ESTETIK KEDAP UDARA
👉 Beli Sekarang Sebelum Kehabisan di Shopee 🛒

Tanya Jawab Lengkap: Mengantarkan Tamu Sampai ke Pintu Pagar Rumah (25 Pertanyaan)
Daftar Pertanyaan
A. Pertanyaan Dasar (1-7)
- Mengapa kita harus mengantar tamu sampai pintu? Adakah perintahnya dalam Islam?
- Adakah contoh dari Nabi Muhammad SAW atau para nabi terdahulu tentang hal ini?
- Lalu, bagaimana cara mengantar tamu yang benar sesuai adab Nabi?
- Apa sih hikmah atau manfaatnya mengantar tamu sampai pintu pagar?
- Apakah ada batasan waktu dalam menjamu tamu?
- Bagaimana jika tamu datang saat kita sedang sibuk atau punya banyak pekerjaan?
- Apakah anak-anak juga perlu diajarkan untuk ikut mengantar tamu?
B. Pertanyaan tentang Adab dan Praktik (8-15)
- Doa apa yang bisa kita baca saat mengantar tamu pulang?
- Bolehkah kita langsung menutup pintu setelah tamu melangkah keluar?
- Apakah kita harus mengantar tamu sampai kendaraannya jalan?
- Bagaimana adabnya jika tamu datang membawa anak kecil?
- Apa yang harus dilakukan jika ada tamu yang kurang sopan atau merepotkan?
- Bolehkah kita menolak kedatangan tamu jika sedang tidak enak badan?
- Apakah ada perbedaan adab antara tamu laki-laki dan perempuan yang bukan mahram?
- Bagaimana jika tamu menginap? Apa saja yang perlu diperhatikan?
C. Pertanyaan tentang Dalil dan Kisah Teladan (16-22)
- Adakah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kemuliaan memuliakan tamu?
- Selain hadis tentang iman, adakah hadis lain yang membahas tentang tamu?
- Bagaimana kisah Abu Thalhah dalam memuliakan tamu?
- Adakah kisah dari ulama saleh tentang kebiasaan mengantar tamu?
- Apa hubungannya memuliakan tamu dengan memuliakan Allah dan Rasul-Nya?
- Bagaimana pendapat Imam Al-Ghazali tentang adab meninggalkan rumah setelah bertamu?
- Mengapa tamu tidak boleh menginap lebih dari tiga hari?
D. Pertanyaan Praktis dan Kekinian (23-25)
- Bagaimana cara mengajarkan anak agar terbiasa mengantar tamu sampai pintu?
- Apa yang harus dilakukan jika tamu pamit pulang di tengah hujan deras?
- Apakah mengantar tamu sampai pintu termasuk sedekah atau ibadah yang berpahala?
Jawaban Lengkap
Pertanyaan 1: Mengapa kita harus mengantar tamu sampai pintu? Adakah perintahnya dalam Islam?
Jawaban:
Tentu ada, baik dalam Al-Qur’an, hadis, maupun contoh teladan dari para ulama saleh. Tindakan ini adalah bagian dari memuliakan tamu, dan memuliakan tamu adalah ciri orang yang beriman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nah, mengantarkan tamu sampai pintu adalah salah satu wujud nyata dari “memuliakan tamu” itu. Ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya baik saat mereka di dalam rumah, tetapi juga hingga mereka benar-benar meninggalkan kita. Imam Al-Ghazali dalam kitab terkenalnya,ย Ihya’ ‘Ulumuddin, bahkan menyebutkan bahwaย mengantar tamu sampai pintu keluar adalah bagian dari kesunahanย (sesuatu yang dianjurkan) ketika ada tamu yang hendak pulang.
Toples Rusa Gold Transparan Aistethic

Pertanyaan 2: Adakah contoh dari Nabi Muhammad SAW atau para nabi terdahulu tentang hal ini?
Jawaban:
Meskipun tidak ada hadis spesifik yang menceritakan detail Rasulullah SAW mengantar tamu hingga pagar, sikap beliau dalam melayani tamu adalah teladan terbaik. Beliau dikenal sebagai pribadi yang paling mulia dan paling baik dalam menjamu tamunya.
Salah satu contoh nyata adalah ketika Rasulullah SAW menerima tamu dari kalangan sahabatnya. Diriwayatkan bahwa beliau selalu menyambut dengan wajah ceria dan memberikan pelayanan terbaik. Bahkan dalam kisah lain, diceritakan bagaimana beliau secara pribadi ingin melayani tamu-tamu dari Raja Najasyi, karena mereka pernah berjasa kepada sahabat-sahabat beliau yang hijrah ke Habasyah. Beliau bersabda:
“Tidak, mereka dahulu sudah baik ke sahabat-sahabatku (yang berhijrah ke Habasyah), dan sekarang saya ingin membalas kebaikan mereka.”
Teladan yang lebih gamblang datang dari Nabi Ibrahim AS. Kisahnya pun diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah tamu Ibrahim yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salamun’, Ibrahim menjawab, ‘Salamun’, (kepada) orang-orang yang belum dikenalnya. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, ‘Silakan kamu makan.'” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 24-27)
Lihatlah betapa luar biasanya penghormatan Nabi Ibrahim. Beliau melayani tamu dengan sepenuh hati, bahkan menyembelihkan anak sapi gemuk untuk dijamu. Ini mengajarkan kita tentang totalitas dalam menghormati tamu, yang tentu saja mencakup momen kedatangan dan kepergian mereka.
Pertanyaan 3: Lalu, bagaimana cara mengantar tamu yang benar sesuai adab Nabi?
Jawaban:
Mengantar tamu itu tidak sekadar berjalan keluar lalu langsung membanting pintu. Ada beberapa adab yang bisa kita praktikkan agar tamu merasa dihargai dan pulang dengan kesan yang baik :
- Antarkan hingga ke luar rumah. Minimal sampai teras atau halaman. Akan lebih baik lagi jika sampai ke pintu pagar. Ini menunjukkan ketulusan kita.
- Tunggu hingga tamu menjauh. Jangan langsung berbalik masuk. Pandangilah ia sejenak hingga kendaraannya melaju atau hingga punggungnya tidak terlihat lagi. Ini pertanda kita ikhlas melepas kepergiannya.
- Ucapkan salam dan doa. Akhiri perjumpaan dengan mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum.” Jangan lupa ucapkan terima kasih atas kunjungannya, misalnya, “Terima kasih ya sudah mampir, lain kali ke sini lagi ya.”
- Sampaikan permintaan maaf. Ini adalah sikap rendah hati yang sangat dianjurkan. Ucapkan, “Maaf kalau tadi ada salah kata atau jamuannya kurang ya.”
- Jangan langsung menutup pintu keras-keras. Tutuplah pintu dengan perlahan setelah tamu benar-benar pergi. Suara pintu dibanting bisa diartikan kita tidak ikhlas atau bahkan sedang kesal.
- Antarkan dengan payung jika hujan. Jika hujan turun, antarkan tamu dengan payung dari rumah hingga ke kendaraannya .
Pertanyaan 4: Apa sih hikmah atau manfaatnya mengantar tamu sampai pintu pagar?
Jawaban:
Banyak sekali hikmah yang bisa kita petik dari kebiasaan sederhana ini:
- Tanda Keimanan dan Akhlak Mulia: Ini membuktikan bahwa kita adalah muslim yang beriman dan berakhlak mulia, karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
- Melanjutkan Silaturahmi: Perpisahan yang hangat akan meninggalkan kesan baik di hati tamu. Mereka akan merasa dihargai dan kelak akan kembali dengan senang hati. Ini membuat tali silaturahmi terus terjalin.
- Mendapat Doa Tamu: Saat kita antar, sering kali tamu akan mendoakan kita. “Semoga dibalas kebaikannya, ya,” begitu kira-kira. Doa dari orang yang kita muliakan adalah kebaikan untuk kita.
- Mendapat Pahala: Semua perbuatan baik, sekecil apa pun, jika diniatkan ikhlas karena Allah, akan menjadi pahala. Mengantar tamu adalah perbuatan baik yang sangat dianjurkan.
- Menjaga Diri dari Sifat Sombong: Tindakan ini melatih kita untuk rendah hati (tawadhu’). Kita tidak merasa “lebih tinggi” hanya karena menjadi tuan rumah, tetapi kita “turun” mengantar tamu hingga ke pintu.
- Mendapat Keberkahan Rumah: Rumah yang sering didatangi tamu dan dijamu dengan baik akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
Pertanyaan 5: Apakah ada batasan waktu dalam menjamu tamu?
Jawaban:
Ya, dalam Islam ada batasan waktu yang diajarkan Rasulullah SAW untuk menjamu tamu. Tamu tidak boleh menginap lebih dari tiga hari, kecuali jika tuan rumah dengan ikhlas mempersilakan lebih lama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jamuan hak tamu berjangka waktu tiga hari. Lebih dari itu, jamuan adalah sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan dua hal penting:
- Bagi tamu: Jangan sampai kehadiran kita memberatkan tuan rumah. Jika lebih dari tiga hari, kita sudah dianggap meminta sedekah, bukan sekadar bertamu.
- Bagi tuan rumah: Kewajiban memuliakan tamu secara khusus adalah selama tiga hari. Setelah itu, jika tetap melayani, itu adalah sedekah dan kebaikan hati tuan rumah .
Pertanyaan 6: Bagaimana jika tamu datang saat kita sedang sibuk atau punya banyak pekerjaan?
Jawaban:
Ketika ada tamu datang, meskipun kita sedang sibuk, tetaplah menyambutnya dengan baik. Namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Sambut dengan wajah ceria. Tersenyumlah dan ucapkan salam dengan hangat. Ini sudah menjadi sedekah dan bagian dari memuliakan tamu .
- Sampaikan dengan jujur namun sopan. Jika memang sedang sangat sibuk, katakan dengan baik-baik, “Maaf, saya sedang ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi silakan duduk dulu, nanti saya temani setelah pekerjaan ini selesai.”
- Jangan tinggalkan tamu terlalu lama. Jika terpaksa meninggalkan tamu karena ada keperluan mendesak, sampaikan alasannya dengan baik dan jangan terlalu lama .
- Suguhkan minuman terlebih dahulu. Jika makanan belum siap, setidaknya hidangkan minuman sebagai tanda penghormatan .
Ingatlah bahwa tamu membawa berkah dan rezekinya sendiri. Kehadiran mereka jangan dianggap sebagai gangguan, tetapi justru sebagai kesempatan meraih pahala.
Pertanyaan 7: Apakah anak-anak juga perlu diajarkan untuk ikut mengantar tamu?
Jawaban:
Sangat perlu! Mengajarkan anak untuk ikut mengantar tamu adalah pendidikan adab yang sangat berharga. Ini cara melatih mereka sejak dini untuk memiliki akhlak mulia .
Beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak:
- Mengenal tamu yang datang. Perkenalkan anak kepada tamu, sebutkan nama dan hubungan keluarga.
- Menyapa dengan sopan. Ajarkan anak untuk menyapa tamu, mengucapkan salam, dan bersalaman.
- Ikut mengantar sampai pintu. Saat tamu pamit pulang, ajak anak untuk ikut mengantar sampai luar rumah atau halaman.
- Tunggu sampai tamu tidak terlihat. Ajarkan anak untuk tidak langsung masuk, tetapi menunggu sampai tamu benar-benar pergi .
- Mendoakan tamu. Ajarkan doa sederhana seperti “Hati-hati di jalan ya, Om/Tante.”
Dengan membiasakan hal ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menghormati orang lain dan memahami pentingnya silaturahmi.
Pertanyaan 8: Doa apa yang bisa kita baca saat mengantar tamu pulang?
Jawaban:
Saat mengantar tamu yang akan pulang, kita dianjurkan untuk mendoakan keselamatan dan kemudahan dalam perjalanannya. Ada doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika mengantar seseorang yang hendak bepergian:
Arab:
ุงููููููู
ูู ุงุทููู ูููู ุงููุจูุนููุฏู ููููููููู ุนููููููู ุงูุณููููุฑู
Latin:
Allahummathwi lahul ba’ฤซda wa hawwin ‘alayhis safara
Artinya:
“Ya Allah, dekatkan jarak tempuhnya yang jauh dan mudahkanlah perjalanan baginya.”
Doa ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW membaca doa ini untuk seorang sahabat yang hendak bepergian .
Selain doa tersebut, kita juga bisa mengucapkan dengan bahasa sehari-hari seperti:
- “Hati-hati di jalan, ya.”
- “Semoga selamat sampai tujuan.”
- “Terima kasih atas kunjungannya.”
- “Maaf kalau ada salah kata atau jamuan yang kurang.”
Pertanyaan 9: Bolehkah kita langsung menutup pintu setelah tamu melangkah keluar?
Jawaban:
Sebaiknya tidak langsung menutup pintu begitu tamu melangkah keluar. Ini adalah salah satu adab yang sering dilupakan .
Yang dianjurkan adalah:
- Tutup pintu setelah tamu benar-benar pergi. Tunggulah hingga tamu menjauh, kendaraannya melaju, atau hingga punggungnya tidak terlihat lagi.
- Tutup pintu dengan perlahan. Jangan membanting pintu karena suara bantingan pintu bisa diartikan kita tidak ikhlas melepas kepergian tamu atau bahkan sedang kesal .
- Pandanglah tamu hingga ia menjauh. Ini menunjukkan ketulusan hati dan penghormatan kita.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa termasuk kesunahan saat tamu hendak pulang adalah mengantarnya sampai pintu keluar . Jika kita sudah mengantar sampai pintu, lalu langsung menutup pintu keras-keras seolah-olah kita buru-buru ingin tamu pergi, tentu mengurangi nilai penghormatan tersebut.
Pertanyaan 10: Apakah kita harus mengantar tamu sampai kendaraannya jalan?
Jawaban:
Idealnya, kita mengantar tamu hingga kendaraannya benar-benar jalan dan meninggalkan rumah. Ini adalah bentuk penghormatan yang sempurna .
Beberapa tingkatan dalam mengantar tamu:
- Tingkat minimal: Mengantar sampai pintu rumah atau pagar.
- Tingkat sedang: Mengantar sampai halaman atau tepi jalan.
- Tingkat sempurna: Mengantar sampai kendaraan, menunggu hingga tamu naik, dan melihatnya hingga kendaraan berlalu.
Dalam beberapa budaya Islam, bahkan ada kebiasaan mengantar tamu berjalan beberapa langkah atau sampai ke ujung jalan sebagai tanda penghormatan. Yang terpenting adalah niat tulus untuk memuliakan tamu, bukan sekadar formalitas.
Jika tamu datang dengan kendaraan dan memarkir di halaman tetangga, kita juga dianjurkan mengucapkan terima kasih kepada tetangga yang sudah meminjamkan halamannya dan mendoakan mereka .
Pertanyaan 11: Bagaimana adabnya jika tamu datang membawa anak kecil?
Jawaban:
Jika tamu datang membawa anak kecil, ada beberapa adab tambahan yang perlu diperhatikan:
- Sambut anak kecil dengan ramah. Jangan hanya fokus pada orang tuanya. Sapa anak kecil tersebut, tersenyumlah padanya .
- Ajarkan anak kita untuk menyapa. Jika kita memiliki anak, ajarkan mereka untuk menyapa tamu kecil tersebut. Lebih baik lagi jika mereka mau mengajak bermain bersama .
- Sediakan makanan atau minuman yang ramah anak. Jika memungkinkan, sediakan camilan atau minuman yang disukai anak-anak.
- Jaga keamanan anak. Perhatikan area rumah yang mungkin berbahaya bagi anak kecil, seperti kolam, tangga curam, atau barang-barang mudah pecah.
- Bersabar dengan tingkah anak. Anak kecil wajar jika rewel atau aktif. Bersabarlah dan jangan menunjukkan rasa tidak nyaman.
- Saat mengantar, perhatikan juga anak kecilnya. Pastikan mereka aman saat hendak pulang, misalnya membantu memakaikan sepatu atau mengantar hingga ke kendaraan.
Rasulullah SAW sendiri sangat menyayangi anak-anak. Beliau selalu menyapa dan bersikap lembut kepada mereka. Kita pun harus meneladani sikap beliau ini.
Pertanyaan 12: Apa yang harus dilakukan jika ada tamu yang kurang sopan atau merepotkan?
Jawaban:
Menghadapi tamu yang kurang sopan atau merepotkan memang butuh kesabaran ekstra. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
- Tetap jaga kesabaran. Ingatlah bahwa memuliakan tamu adalah perintah Rasulullah SAW. Jangan sampai perilaku tamu membuat kita kehilangan pahala.
- Jangan dikeluhkan. Setelah tamu pulang, jangan jadikan perilaku tamu sebagai bahan pembicaraan atau keluhan. Khawatirnya, keluhan itu bisa mengurangi pahala memuliakan tamu .
- Hadapi dengan bijak. Jika tamu meminta sesuatu yang memberatkan, katakan dengan sopan sesuai kemampuan. Misalnya, “Maaf, untuk makanan itu kami tidak punya, tapi ada makanan lain yang bisa kami hidangkan.”
- Niatkan ibadah. Ingatkan diri sendiri bahwa melayani tamu, termasuk yang merepotkan, adalah ladang pahala.
- Ambil hikmah. Mungkin Allah sedang menguji kesabaran kita atau memberi kita kesempatan untuk berlatih bersabar.
Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar, memberikan nasihat indah tentang menjamu tamu:
“Jika saudaramu bertamu mengunjungimu, janganlah engkau mengatakan, ‘Mau makan? Mau saya ambilkan sesuatu?’. Akan tetapi hidangkan saja, jika dia makan (maka itu baik) jika tidak maka angkat (lagi nanti).”
Nasihat ini mengajarkan kita untuk tidak membuat tamu merasa sungkan, meskipun tamu tersebut mungkin kurang sopan.
Pertanyaan 13: Bolehkah kita menolak kedatangan tamu jika sedang tidak enak badan?
Jawaban:
Dalam kondisi tertentu, kita diperbolehkan untuk tidak menerima tamu jika ada uzur (halangan) yang syar’i, seperti sakit parah atau kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Namun, ada adabnya:
- Sampaikan dengan sopan. Jika ada yang mengetuk pintu, sampaikan dengan baik-baik, “Maaf, saya sedang kurang enak badan. Mohon doanya ya, lain kali kita bertemu lagi.”
- Jika terpaksa menerima, batasi waktunya. Jika tamu adalah kerabat dekat dan sudah terlanjur datang, terimalah dengan baik tapi sampaikan kondisi kita. “Maaf, saya sedang kurang sehat, jadi mungkin hanya bisa sebentar menemani.”
- Minta wakil. Jika ada anggota keluarga lain yang sehat, mintalah mereka yang menemani tamu.
- Jangan berbohong. Sampaikan kondisi yang sebenarnya dengan jujur namun tetap sopan.
Dalam Islam, memuliakan tamu memang sangat dianjurkan, tapi Islam juga tidak menyuruh kita menyiksa diri. Ada kondisi di mana kita diberi keringanan. Yang terpenting adalah tetap menjaga hubungan baik dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
Pertanyaan 14: Apakah ada perbedaan adab antara tamu laki-laki dan perempuan yang bukan mahram?
Jawaban:
Ya, ada perbedaan adab ketika menerima tamu yang berbeda jenis kelamin dan bukan mahram. Ini penting untuk menjaga kehormatan dan menghindari fitnah .
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Tempat penerimaan. Terimalah tamu lawan jenis yang bukan mahram di ruang tamu, bukan di ruang pribadi atau area yang tertutup.
- Waktu bertemu. Batasi waktu pertemuan, jangan berduaan terlalu lama apalagi hingga larut malam.
- Pintu terbuka. Jika tidak ada halangan (misalnya hujan atau angin kencang), biarkan pintu rumah terbuka selama menerima tamu lawan jenis yang bukan mahram. Ini untuk menghindari tuduhan atau fitnah .
- Temani dengan mahram. Jika memungkinkan, ditemani oleh mahram (suami/istri atau keluarga yang tidak bisa dinikahi).
- Jaga pandangan. Baik tuan rumah maupun tamu, sama-sama wajib menjaga pandangan.
- Saat mengantar. Saat mengantar tamu lawan jenis sampai pintu, tetap jaga jarak yang wajar dan hindari bersentuhan.
Adab ini bukan berarti kita tidak boleh memuliakan tamu lawan jenis. Justru dengan menjaga batasan syariat, kita sedang memuliakan mereka dengan cara yang benar dan diridhai Allah.
Pertanyaan 15: Bagaimana jika tamu menginap? Apa saja yang perlu diperhatikan?
Jawaban:
Jika tamu menginap, ada beberapa adab tambahan yang perlu diperhatikan baik oleh tuan rumah maupun tamu :
Bagi tuan rumah:
- Siapkan tempat yang nyaman. Sediakan tempat tidur atau alas yang layak, bantal, dan selimut sesuai kemampuan.
- Jaga privasi tamu. Berikan ruang pribadi bagi tamu, jangan mengganggu saat mereka istirahat.
- Sediakan kebutuhan dasar. Pastikan tamu punya akses ke kamar mandi, air minum, dan kebutuhan dasar lainnya.
- Perhatikan batas waktu. Ingat bahwa kewajiban menjamu secara khusus adalah tiga hari. Setelah itu, tamu sebaiknya tidak memberatkan tuan rumah .
Bagi tamu:
- Jangan memberatkan. Jangan meminta ini dan itu di luar kemampuan tuan rumah .
- Jaga perilaku. Jaga sikap, jangan seenaknya di rumah orang.
- Hargai aturan rumah. Ikuti kebiasaan dan aturan yang berlaku di rumah tuan rumah.
- Tawarkan bantuan. Jika memungkinkan, tawarkan bantuan seperlunya, meskipun biasanya tuan rumah akan menolak.
- Perhatikan waktu menginap. Usahakan tidak lebih dari tiga hari, kecuali tuan rumah dengan ikhlas mempersilakan lebih lama .
Dengan saling menjaga adab, insya Allah menginap menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mempererat silaturahmi.
Pertanyaan 16: Adakah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kemuliaan memuliakan tamu?
Jawaban:
Ya, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang secara tidak langsung maupun langsung menjelaskan tentang kemuliaan memuliakan tamu. Salah satunya adalah kisah Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 24-27:
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah tamu Ibrahim yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salamun’, Ibrahim menjawab, ‘Salamun’, (kepada) orang-orang yang belum dikenalnya. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, ‘Silakan kamu makan.'” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 24-27)
Ayat ini mengajarkan kita beberapa adab memuliakan tamu:
- Menjawab salam tamu dengan salam yang lebih baik
- Menyiapkan jamuan terbaik (dalam kisah ini, anak sapi gemuk)
- Menghidangkan dengan sopan dan mempersilakan tamu menikmati jamuan
Ayat lain yang berkaitan adalah Surat Al-Hasyr ayat 9 yang turun berkaitan dengan kisah Abu Thalhah dalam menjamu tamu. Ayat ini memuji kaum Anshar yang mengutamakan tamu (kaum Muhajirin) di atas diri mereka sendiri meskipun dalam kondisi kekurangan .
Pertanyaan 17: Selain hadis tentang iman, adakah hadis lain yang membahas tentang tamu?
Jawaban:
Ya, ada banyak hadis yang membahas tentang kemuliaan memuliakan tamu. Berikut beberapa di antaranya:
Hadis tentang kemuliaan memuliakan tamu:
Rasulullah SAW bersabda:
“Hai umat manusia, syiarkanlah salam, hubungkanlah silaturahim, menjamu makanlah dan salat (malamlah) kamu pada waktu orang (lain) tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera.” (HR. Turmudzi)
Hadis tentang hak tamu:
Rasulullah SAW bersabda:
“Jamuan hak tamu berjangka waktu tiga hari. Lebih dari itu, jamuan adalah sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tentang doa malaikat untuk tuan rumah:
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di dalam rumah terdapat malaikat yang mendoakan bagi siapa yang memuliakan tamunya, selama tamu itu berada di dalam rumah tersebut.” (HR. Thabrani)
Hadis-hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap adab bertamu dan menerima tamu, hingga dijanjikan pahala yang besar, bahkan doa dari malaikat.
Pertanyaan 18: Bagaimana kisah Abu Thalhah dalam memuliakan tamu?
Jawaban:
Kisah Abu Thalhah adalah salah satu kisah paling inspiratif tentang memuliakan tamu. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dan menjadi sebab turunnya ayat Al-Qur’an .
Kisah lengkapnya:
Suatu hari, seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin datang kepada Nabi SAW untuk bertamu. Nabi kemudian mendatangi para istrinya untuk menyiapkan jamuan, tetapi mereka menjawab tidak memiliki apa-apa kecuali air. Nabi pun bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang sanggup menjamu tamuku ini?”
Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al-Anshari menjawab, “Aku siap menjamu tamu tersebut ya Rasul.”
Abu Thalhah pulang dan berkata kepada istrinya, “Jamulah tamu nabi ini.” Istrinya menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki makanan kecuali sisa makan malam untuk anak-anak.
Abu Thalhah berkata, “Kalau begitu, siapkan saja makanan tersebut, kemudian matikan penerangan rumah, dan tidurkan anak-anak jika mereka mau makan.”
Sang istri melaksanakan instruksi suaminya. Ketika makanan siap, ia menidurkan anak-anaknya, lalu berdiri seolah-olah membetulkan lampu yang rusak, padahal ia justru mematikannya. Dalam keadaan gelap, mereka menjamu tamu tersebut. Abu Thalhah dan istrinya berpura-pura ikut makan dengan membunyikan peralatan makan, padahal mereka tidak makan agar tamu merasa cukup.
Keesokan harinya, Abu Thalhah bertemu Nabi SAW dan beliau bersabda, “Wahai Zaid, Allah sangat bangga dan ridha dengan apa yang kamu lakukan semalam.”
Kisah ini kemudian menjadi sebab turunnya Surat Al-Hasyr ayat 9 yang memuliakan kaum Anshar yang mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri.
Pertanyaan 19: Adakah kisah dari ulama saleh tentang kebiasaan mengantar tamu?
Jawaban:
Ya, banyak ulama saleh yang memiliki kebiasaan mulia dalam memuliakan tamu, termasuk mengantarnya sampai pintu. Berikut beberapa kisahnya:
Kisah Imam Al-Junaid Al-Baghdadi:
Dikisahkan bahwa Imam Al-Junaid Al-Baghdadi selalu diundang oleh seorang anak untuk datang ke rumahnya. Setiap kali datang, ayah sang anak meminta Imam Al-Junaid untuk pergi. Ini terjadi sampai empat kali. Namun Imam Al-Junaid tetap datang dan pergi dengan lapang dada. Beliau berkata bahwa ia datang untuk menyenangkan sang anak, dan pergi untuk juga menyenangkan jiwa ayah anak tersebut .
Kisah ini mengajarkan bahwa kerendahan hati dan kesabaran dalam urusan bertamu adalah akhlak mulia.
Kisah KH Ahmad Abdul Haq Watucongol:
Beliau adalah seorang kyai terkenal. Diceritakan bahwa beliau rela menunggu seorang anak kecil yang datang dari jarak jauh hanya untuk bersalaman. Mengapa? Karena anak kecil belum berdosa, dan bersalaman dengan mereka bisa menjadi wasilah membersihkan dosa .
Kisah ini mengajarkan bahwa memuliakan tamu tidak pandang usia. Bahkan anak kecil pun harus dihormati dan dilayani dengan baik.
Para ulama saleh biasanya memiliki kebiasaan mengantar tamu hingga ke pintu, bahkan ada yang mengantar hingga ke ujung jalan sebagai bentuk penghormatan. Sayangnya, detail spesifik tentang kebiasaan ini jarang tercatat karena dianggap sebagai hal biasa yang mereka lakukan sehari-hari.
Pertanyaan 20: Apa hubungannya memuliakan tamu dengan memuliakan Allah dan Rasul-Nya?
Jawaban:
Hubungan antara memuliakan tamu dengan memuliakan Allah dan Rasul-Nya sangat erat. Bahkan ada hadis yang secara tegas menyatakan hal ini.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memuliakan tamu, maka sungguh dia telah memuliakanku. Dan barang siapa memuliakanku, maka sungguh dia telah memuliakan Allah. Dan barang siapa membenci tamu, maka sungguh dia telah membenciku. Dan barang siapa membenciku, maka sungguh dia telah membenci Allah.”
Hadis ini menunjukkan tingkatan yang sangat tinggi dalam memuliakan tamu:
- Memuliakan tamu = memuliakan Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW adalah orang yang paling memuliakan tamu, maka siapa yang mengikuti sunnahnya berarti memuliakan beliau.
- Memuliakan Rasul = memuliakan Allah. Karena Rasul adalah utusan Allah, memuliakan utusan berarti memuliakan yang mengutus.
- Sebaliknya, membenci tamu = membenci Rasul = membenci Allah. Ini peringatan keras agar kita tidak meremehkan tamu.
Jadi, ketika kita mengantarkan tamu sampai pintu pagar dengan penuh penghormatan, sebenarnya kita sedang memuliakan Rasulullah SAW dan Allah SWT. Subhanallah, betapa besar nilai ibadah dari perbuatan yang terlihat sederhana ini.
Pertanyaan 21: Bagaimana pendapat Imam Al-Ghazali tentang adab meninggalkan rumah setelah bertamu?
Jawaban:
Imam Al-Ghazali, ulama besar yang sangat terkenal dengan kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, membahas secara lengkap tentang adab bertamu, termasuk adab ketika meninggalkan rumah setelah bertamu .
Menurut Imam Al-Ghazali, ada tiga adab penting saat meninggalkan rumah setelah bertamu:
- Tamu ikut keluar bersama tuan rumah sampai pintu utama. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa menjadi kesunahan bagi tuan rumah untuk mengantar tamu sampai pintu keluar. Dasarnya adalah keumuman hadis “muliakanlah tamumu” .
- Tamu hendaknya merasa senang dengan apa yang dilakukan tuan rumah, meskipun mungkin ada kekurangan. Sikap ini adalah representasi kerendahan hati (tawadhu’) dan akhlak yang baik .
- Tidak pamit kecuali pemilik rumah mempersilahkan atau meridhoinya. Selama di rumah tuan rumah, seorang tamu harus benar-benar menjaga perasaan tuan rumah .
Yang menarik, Imam Al-Ghazali tidak hanya membahas adab dari sisi tuan rumah, tetapi juga dari sisi tamu. Ini menunjukkan bahwa adab bertamu adalah hubungan timbal balik yang harus dijaga kedua belah pihak.
Pertanyaan 22: Mengapa tamu tidak boleh menginap lebih dari tiga hari?
Jawaban:
Larangan tamu menginap lebih dari tiga hari didasarkan pada hadis Rasulullah SAW:
“Jamuan hak tamu berjangka waktu tiga hari. Lebih dari itu, jamuan adalah sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ada beberapa hikmah mengapa dibatasi tiga hari:
- Tidak memberatkan tuan rumah. Setelah tiga hari, biasanya persediaan makanan mulai menipis dan tuan rumah mulai lelah melayani. Jika tamu terus menginap, bisa jadi memberatkan .
- Menjaga privasi tuan rumah. Tuan rumah juga punya urusan pribadi dan keluarga yang perlu waktu sendiri. Tamu yang terlalu lama bisa mengganggu privasi ini.
- Membedakan kewajiban dan sedekah. Tiga hari pertama adalah hak tamu yang wajib dipenuhi tuan rumah. Setelah itu, jika tuan rumah tetap melayani, itu adalah sedekah dan kebaikan hati, bukan lagi kewajiban .
- Mengajarkan kemandirian. Tamu yang baik akan menjaga diri agar tidak terlalu lama merepotkan orang lain.
- Menjaga silaturahmi. Justru dengan tidak terlalu lama, hubungan baik akan terjaga. Tamu yang terlalu lama berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman yang bisa merusak hubungan.
Pertanyaan 23: Bagaimana cara mengajarkan anak agar terbiasa mengantar tamu sampai pintu?
Jawaban:
Mengajarkan anak untuk terbiasa mengantar tamu sampai pintu bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan tidak memaksa. Berikut langkah-langkah praktisnya :
- Jadilah teladan. Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika mereka melihat orang tua selalu mengantar tamu sampai pintu, mereka akan menirunya.
- Ajarkan sejak dini. Mulailah mengajak anak saat mereka masih kecil. Ajak mereka ikut serta saat mengantar tamu.
- Jelaskan alasannya. Beri penjelasan sederhana mengapa kita harus mengantar tamu. Misalnya, “Kita antar Tante sampai pintu ya, supaya Tante senang dan mau main lagi ke sini.”
- Lakukan dengan gembira. Buat kegiatan mengantar tamu sebagai momen yang menyenangkan, bukan beban. Ajak anak melambai dan mengucapkan “Hati-hati di jalan.”
- Berikan pujian. Setelah anak mau ikut mengantar, berikan pujian. “Wah, pintar sekali Nak sudah mau antar tamu.”
- Ajarkan doa sederhana. Ajarkan doa “hati-hati di jalan” atau doa dalam bahasa Arab yang sederhana.
- Ceritakan kisah teladan. Ceritakan kisah Nabi Ibrahim yang memuliakan tamu atau kisah Abu Thalhah dengan bahasa yang mudah dipahami anak .
- Kaitkan dengan pahala. Untuk anak yang lebih besar, jelaskan bahwa mengantar tamu adalah ibadah berpahala.
Dengan pendekatan yang tepat, insya Allah anak akan tumbuh dengan kebiasaan mulia ini.
Pertanyaan 24: Apa yang harus dilakukan jika tamu pamit pulang di tengah hujan deras?
Jawaban:
Jika tamu pamit pulang di tengah hujan deras, ada beberapa adab yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan penghormatan :
- Tawarkan untuk menunggu hingga hujan reda. Ucapkan dengan tulus, “Daripada kehujanan di jalan, lebih baik tunggu sampai hujan reda dulu.”
- Pinjamkan payung atau jas hujan. Jika tamu tetap ingin pulang, pinjamkan payung atau jas hujan yang kita miliki.
- Antarkan dengan payung. Antarkan tamu dari rumah hingga ke kendaraannya dengan payung, agar ia tidak kehujanan .
- Bantu membawakan barang. Bantu tamu membawakan barang bawaannya agar ia lebih leluasa berlindung dari hujan.
- Perhatikan keselamatan. Ingatkan tamu untuk berhati-hati di jalan yang mungkin licin atau banjir.
- Tawarkan tumpangan. Jika memungkinkan dan kondisi memungkinkan, tawarkan untuk mengantarkan tamu pulang dengan kendaraan kita.
- Doakan keselamatan. Jangan lupa mendoakan tamu agar selamat sampai tujuan meskipun dalam kondisi hujan.
Tindakan-tindakan kecil ini menunjukkan bahwa kita benar-benar peduli pada keselamatan dan kenyamanan tamu, tidak hanya saat mereka di rumah kita, tetapi juga hingga mereka sampai di rumah mereka sendiri.
Pertanyaan 25: Apakah mengantar tamu sampai pintu termasuk sedekah atau ibadah yang berpahala?
Jawaban:
Ya, mengantar tamu sampai pintu termasuk ibadah yang berpahala. Dalam Islam, setiap perbuatan baik yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai ibadah dan mendatangkan pahala .
Mengapa bernilai ibadah?
- Mengikuti sunnah Rasulullah. Mengantar tamu termasuk dalam keumuman perintah “muliakanlah tamumu” yang disabdakan Rasulullah SAW .
- Termasuk sedekah. Tersenyum dan berbuat baik kepada orang lain adalah sedekah. Mengantar tamu dengan wajah ceria dan hati tulus termasuk sedekah.
- Mendapat doa malaikat. Rasulullah SAW bersabda bahwa malaikat mendoakan tuan rumah yang memuliakan tamunya selama tamu itu berada di rumahnya . Bayangkan, setelah tamu pulang pun, kebaikan kita masih terus didoakan.
- Mempererat silaturahmi. Menjalin dan memelihara silaturahmi adalah perintah Allah yang berpahala besar. Mengantar tamu sampai pintu adalah bagian dari memelihara silaturahmi karena tamu akan merasa dihargai dan ingin kembali berkunjung.
- Melatih kerendahan hati. Mengantar tamu melatih kita untuk tidak sombong. Kita rela “turun” mengantar sampai pintu meskipun kita tuan rumah. Kerendahan hati ini sangat dicintai Allah.
Jadi, jangan pernah merasa rugi dengan waktu dan tenaga yang kita keluarkan untuk mengantar tamu. Setiap langkah kaki kita mengantar tamu, setiap senyum yang kita berikan, setiap ucapan salam dan doa yang kita lantunkan, insya Allah dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Kesimpulan
Dari 25 pertanyaan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa mengantarkan tamu sampai ke pintu pagar rumah bukanlah sekadar tradisi atau kebiasaan biasa. Ini adalah ajaran Islam yang mulia, bersumber dari Al-Qur’an dan hadis sahih, serta dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para nabi terdahulu, dan ulama saleh.
Adab ini mengajarkan kita tentang:
- Keimanan – memuliakan tamu adalah tanda orang beriman
- Ketulusan – mengantar hingga tamu tidak terlihat menunjukkan keikhlasan
- Silaturahmi – perpisahan yang baik akan mengundang pertemuan kembali
- Pahala – setiap langkah dan ucapan bernilai ibadah
Mari kita ajarkan adab indah ini kepada keluarga, anak-anak, dan orang-orang di sekitar kita. Karena dengan menyempurnakan akhlak, kita menyempurnakan iman. Dan dengan memuliakan tamu, kita sedang memuliakan Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Kak Nurul Ihsan: Kreator 500 Judul Buku Anak
Berkarya sejak 1991 hingga saat ini, sudah lebih dari 500 buku anak dan buku pendidikan yang dihasilkan Kak Nurul Ihsan dan tim CBM Studio. Profil dan karya buku Kak Nurul Ihsan dan tim CBM Studio dapat dilihat di sini.
Spesifikasi
Judul: Seri Hadits Kecil: Berakhlak Baik, Yuk!
Penulis: Kak Nurul Ihsan
Ilustrator: Dini Tresnadewi
Desain layout: Herlan Ahmad
Harga buku cetak:
Cover: Softcover
Jumlah Halaman: 32
Tanggal Terbit:
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Syaamil Kids
Sumber dan Kontributor Konten:
PT Sygma Examedia Arkanleema
Jl. Babakan Sari 1 No.71, Babakan Sari
Kec. Kiaracondong,
Kota Bandung,
Jawa Barat 40283
Telp. (022) 7203791
www.sdi.id
Cloud Hosting Partner:
PT Dewaweb
AKR Tower 16th Floor
Jl. Panjang no.5, Kebon Jeruk
Jakarta 11530
Email: sales@dewaweb.com
Phone: (021) 2212-4702
Mobile: 0813-1888-4702
www.dewaweb.com
DOWNLOAD FULL EBOOK:
WA 0815 6148 165




















































